Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kepergian Sementara
Udara pagi itu terasa dingin dan menusuk, seolah ikut merasakan kepedihan yang menyelimuti hati dua manusia yang berdiri berhadapan di pelataran rumah sederhana Bagas. Di sekeliling mereka, beberapa kardus berisi barang-barang keperluan sudah tersusun rapi, siap dimuat ke dalam mobil angkutan kecil yang akan membawa Bagas pergi jauh meninggalkan Jakarta. Ibunya sudah masuk ke dalam kendaraan, memberi ruang bagi anaknya untuk berbicara terakhir kali dengan wanita yang menjadi alasan segala perjuangannya.
Naya berdiri di sana, mengenakan gaun sederhana, wajahnya pucat, dan matanya bengkak karena semalaman menangis tak henti. Ia menggenggam kedua tangan Bagas dengan erat, seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, pemuda itu akan hilang selamanya dari pandangannya. Di matanya, tergambar rasa takut, rasa sedih, tapi juga rasa bangga yang mendalam.
Keputusan ini sudah diambil Bagas sejak beberapa hari lalu, tepat setelah ia menggagalkan rencana jahat Rian dan membuktikan ketulusannya di hadapan Pak Ardiansyah. Meski ayah Naya mulai luluh, meski pandangan orang-orang mulai berubah menjadi hormat, Bagas sadar betul, akar masalah yang memisahkan mereka belum benar-benar tercabut.
Bisik-bisik masih ada. Pandangan miring sebagian kalangan sosial masih tersisa. Di mata banyak orang, ia tetaplah "anak miskin yang beruntung", tetaplah "mantan OB", tetaplah orang yang "naik kelas karena dekat dengan orang kaya". Pak Ardiansyah pun, meski sudah berubah sikap, masih terselip keraguan kecil di sudut hatinya. Ragu apakah Bagas bisa berdiri tegak dan mandiri tanpa sandaran nama besar Artha Mas.
Bagas tidak mau hidup di bawah bayang-bayang nama orang lain selamanya. Ia tidak mau dikatakan sukses hanya karena "dianak-emaskan oleh ayah Naya". Ia ingin membuktikan sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih mutlak, dan tak terbantahkan oleh siapa pun, bahwa ia bisa menjadi besar dengan kekuatan tangannya sendiri, dengan keringat dan jerih payahnya sendiri, tanpa bantuan, tanpa belas kasihan, dan tanpa hubungan apa pun.
Ia ingin kembali bukan sekadar sebagai laki-laki yang pantas, tapi sebagai laki-laki yang setara, atau bahkan lebih hebat. Ia ingin berdiri di hadapan ayah Naya nanti bukan sebagai karyawan atau anak buah, tapi sebagai sesama pemilik usaha, sesama pebisnis sukses, dan sesama pemimpin yang dihormati dunia.
"Naya..." suara Bagas terdengar parau dan bergetar, matanya menatap lekat-lekat wajah wanita itu, menyimpan setiap detailnya dalam ingatan agar tak pudar oleh waktu dan jarak. "Aku harus pergi. Kalau aku tetap di sini, sehebat apa pun aku bekerja, sebesar apa pun jasaku. Orang akan selalu bilang aku hidup dari belas kasihan keluargamu. Ayahmu pun, meski sekarang berubah padaku, pasti masih ada rasa risau di hatinya.
Air mata kembali meluncur deras di pipi Naya. Ia menggeleng pelan, tak kuasa menahan rasa sakit yang merobek dadanya.
"Tapi kenapa harus pergi sejauh ini, Bagas? Kenapa tidak tetap di sini, membangun usahamu di Jakarta? Di sini ada aku.
Di sini ada orang-orang yang sudah kenal kemampuanmu..."
Bagas mengusap air mata itu dengan lembut, jemarinya menyentuh pipi yang sangat ia cintai itu dengan penuh kasih sayang dan kepedihan.
"Karena di sini bayang-bayang nama keluargamu terlalu besar, Sayang. Apa pun yang aku lakukan di sini, akan selalu dikaitkan denganmu, dikaitkan dengan ayahmu. Aku ingin membangun sesuatu dari nol, dari tanah kosong, dengan modal keringat dan otakku sendiri. Aku ingin nanti saat aku kembali, aku membawa nama besar yang aku bangun sendiri, sehingga tidak ada satu pun mulut yang berani meragukan atau menghina. Aku ingin saat aku melamarmu nanti, aku datang bukan sebagai pemuda yang berjuang mendapatkan kekayaan, tapi sebagai laki-laki yang sudah punya dunianya sendiri, dan datang untuk mempersembahkan kesetaraan harga diri."
Bagas berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menahan rasa haru yang meluap. Ia menatap lurus ke manik mata Naya, tatapan yang penuh janji dan keyakinan tak tergoyahkan.
"Percayalah, kepergianku ini hanya sementara. Ini bukan perpisahan selamanya, ini ujian jarak dan waktu. Aku berjanji padamu, demi Tuhan dan demi cinta kita. Aku akan bekerja keras siang malam, membangun apa pun yang bisa kubangun, belajar apa pun yang belum aku tahu. Dan aku akan kembali saat aku sudah setara denganmu. Atau lebih dari itu. Saat aku sudah bisa menatap ayahmu dengan kepala tegak.
Kalimat itu begitu tegas, begitu berani, dan begitu menyayat hati. Di satu sisi Naya merasa bangga luar biasa memiliki laki-laki yang punya harga diri dan ambisi mulia setinggi itu. Tapi di sisi lain, rasa kehilangan itu terasa begitu nyata dan berat.
"Berapa lama?" tanya Naya lirih, suaranya hampir tak terdengar. "Berapa lama aku harus menunggu, Bagas?"
Bagas tersenyum getir, lalu mencium kening Naya dengan lembut dan hormat, menahan agar air matanya sendiri tidak jatuh.
"Aku tidak bisa pastikan waktunya. Bisa setahun, bisa dua tahun, bisa lebih lama lagi. Tapi ingat satu hal. Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, tidak peduli seberapa jauh jarak memisahkan. Hatiku tetap di sini, tetap milikmu, tetap menunggumu. Jarak hanya memisahkan raga, tapi tidak akan pernah bisa memisahkan rasa yang sudah kita ikat seerat ini."
Di kejauhan, terdengar suara mesin mobil yang mulai dinyalakan, tanda waktu keberangkatan semakin dekat.
Naya memeluk Bagas seerat-eratnya, membenamkan wajahnya di dada bidang yang selama ini menjadi tempatnya bersandar dan merasa aman. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua rasa takut, rindu, dan sedih yang tertahan. Ia tahu ia harus melepaskannya. Ia tahu kepergian ini adalah jalan satu-satunya untuk menyempurnakan cinta mereka, untuk merobohkan sisa-sisa tembok pemisah yang masih berdiri.
"Pergilah, Bagas..." isak Naya pelan, memaksakan dirinya melepaskan pelukan. Ia menatap wajah kekasihnya untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi. "Aku janji akan menunggu. Seberapa pun lamanya. Aku akan menjaga hatiku dan namaku, sampai hari kau kembali membawa kesuksesanmu, datang menjemputku dengan kepala tegak, dan membuktikan pada seluruh dunia bahwa cinta kita lebih kuat dari apa pun."
Bagas mengangguk, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap tegar. Ia mengecup punggung tangan Naya dengan penuh kasih sayang, lalu perlahan berbalik badan. Langkah kakinya terasa berat luar biasa, seolah ada rantai besar yang mengikatnya ke tempat itu, ke wanita yang dicintainya itu. Ia tidak berani menoleh lagi, karena ia tahu kalau ia menoleh, kekuatannya akan runtuh, dan ia akan batal pergi.
Ia naik ke dalam mobil. Pintu tertutup. Kendaraan itu perlahan bergerak maju, meninggalkan halaman rumah itu, meninggalkan Jakarta, meninggalkan segala kenangan manis dan pahit, meninggalkan wanita yang dicintainya yang kini berdiri sendirian di pinggir jalan, menangis sambil melambaikan tangan sampai mobil itu hilang di tikungan jalan.
Mobil itu melaju semakin jauh, menembus gerbang kota, menuju dunia baru yang penuh tantangan. Di dalamnya, Bagas duduk diam, menatap ke luar jendela yang berembun. Di dadanya, rasa sakit perpisahan bercampur dengan api semangat yang berkobar besar.
"Tunggu aku, Naya..." batinnya berjanji dalam hati,
"Aku akan menaklukkan dunia, dan mengubah nasibku sampai titik terakhir. Dan saat aku pulang nanti, aku pulang bukan lagi sebagai pemuda miskin yang harus berjuang mendapat izin, tapi sebagai laki-laki hebat yang pantas mendapatkan segalanya, termasuk kamu."
Perpisahan itu menyayat hati, penuh air mata dan rindu yang tertahan. Tapi perpisahan itu juga menjadi titik balik baru. Awal dari perjalanan panjang pembuktian diri, awal dari perjuangan untuk menyamakan derajat, dan awal dari penantian yang penuh harapan. Cinta mereka kini diuji oleh jarak dan waktu, tapi keduanya yakin, di ujung perjalanan yang panjang dan berat ini, ada pertemuan yang jauh lebih indah, jauh lebih mulia, dan jauh lebih abadi dari apa pun yang pernah mereka impikan.