NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:369.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 5

Sesuai perintah, pukul tujuh kurang lima menit. Inara sudah berdiri di depan meja kerja Mahesa. Setelan kerjanya hari ini berwarna kelabu, sewarna dengan hatinya yang mati rasa. Di atas meja, dia meletakkan map tebal berisi laporan keuangan proyek Pak Hadi yang dia lembur semalaman suntuk tanpa tidur.

Tak lama saat Inara akan keluar dari sana, pintu ruangan terbuka. Mahesa masuk, namun tidak sendiri. Clarissa berjalan di sampingnya, mengenakan blus sutra putih yang senada dengan warna kemeja yang dipakai Mahesa hari ini. Mereka tampak seperti pasangan serasi yang keluar dari majalah bisnis. Entah apa posisi Clarissa sebenarnya di kantor. Dia juga tak tahu fungsi dan tugas manta istri suaminya.

"Oh, sudah di sini?" Mahesa melirik Inara sekilas.

Digin dan tanpa dosa, seolah ciuman kasar dan makian semalam hanyalah angin lalu. Pria itu duduk di kursi kebesarannya, sementara Clarissa dengan santai duduk di lengan kursi kerja Mahes. Sebuah gestur yang sangat in-tim untuk ukuran rekan kerja.

Mahesa membuka map dari Inara, membolak-balik halamannya dengan kasar. Hanya butuh waktu dua menit sampai pria itu melemparkan map tebal itu ke lantai, tepat di bawah kaki Inara. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan.

"Sampah," desis Mahesa tajam. "Analisis risikomu dangkal. Apa saja yang kau lakukan semalaman, Inara? Oh, atau kau sengaja bekerja setengah hati karena mogok kerja setelah percakapan kita semalam? Jangan bawa drama rumah tangga ke kantor saya!"

Inara mematung, menatap lembaran kerja yang dia susun dengan air mata dan kepala pening semalaman kini berserakan di lantai.

"Saya sudah mengerjakannya sesuai standar akuntansi perusahaan, Pak Mahesa. Jika ada yang kurang ..."

"Jangan membantah!" potong Mahesa keras.

"Rapikan itu semua. Kerjakan ulang dari nol. Dan ingat, kamu harus selesaikan sebelum makan siang! Dan sebelum aku pergi berkas itu harus sudah ada di mejaku!"

Clarissa yang sedari tadi menyaksikan, tersenyum simpul. Dia turun dari lengan kursi, berjalan mendekati Inara, lalu dengan sengaja menginjak salah satu lembar kertas laporan yang ada di lantai dengan sepatu hak tingginya.

"Biar aku bantu rapikan ya, Inara," ucap Clarissa dengan nada manis yang dibuat-buat, namun matanya berkilat penuh ejekan. Saat dia membungkuk di dekat Inara, Clarissa berbisik,

"Suamimu bilang, sentuhannya semalam cuma buat mastiin kalau kamu masih tahu cara patuh. Kasihan ya, bibirmu sampai luka begitu."

Deg.

Mahesa menceritakan ciuman semalam pada Clarissa? Tubuh Inara gemetar hebat. Rasa mual yang luar biasa kembali menghantam ulu hatinya. Menyadari bahwa perlakuan Mahesa semalam padanya hanya dijadikan bahan lelucon di antara suaminya dan wanita lain. Apa serendah itu nilai Inara di mata Mahesa. Bahkan diantara mereka sudah tak ada rahasia sama sekali.

Pukul delapan pagi. Inara duduk di bilik kerjanya. Kubikelnya terletak di area terbuka, di mana beberapa staf lain bisa melihatnya. Lembar laporan yang sempat diinjak oleh sepatu hak tinggi Clarissa kini terbentang di mejanya, meninggalkan bekas noda tanah hitam yang seolah mengejek harga diri Inara.

Dia menyalakan komputer. Layar monitor yang terang membuat matanya yang bengkak dan kurang tidur terasa perih dan berair. Namun, Inara tidak punya waktu untuk mengeluh.

Kerjakan dari nol. Kalimat Mahesa terngiang seperti cambuk.

Jika laporan ini tidak selesai, dia punya alasan untuk menghentikan pembiayaan Ibu.

Jemari Inara mulai bergerak lincah di atas papan ketik. Ia membuka kembali data mentah korporasi, menyusun ulang matriks risiko, dan menghitung kembali proyeksi keuntungan dari proyek Pak Hadi.

Setiap angka yang ia masukkan terasa seperti berat beban hidupnya. Kepalanya berdenyut parah, memprotes perutnya yang kosong sejak kemarin malam. Rasa mual berkali-kali naik ke tenggorokan, memaksa Inara menyembunyikan minyak angin di balik telapak tangannya agar staf lain tidak curiga.

Di lantai atas, di balik dinding kaca riben ruang direksi yang besar dan kedap suara, berdiri sesosok pria tegap. Mahesa.

Pria itu memegang cangkir kopi hitamnya, menatap lurus ke bawah, tepat ke arah bilik kerja Inara. Dari posisinya, Mahesa bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh ramping istrinya itu sesekali menegang, memijat pelipisnya, lalu kembali mengetik dengan panik.

Ada kilat aneh yang melintas di mata Mahesa. Dia tahu Inara belum tidur semalaman. Dia tahu bibir wanita itu terluka karena ulah kasarnya semalam. Dan dia juga tahu, laporan yang dilemparkannya tadi pagi sebenarnya sudah mendekati sempurna. Mahesa hanya ingin mematahkan ego Inara. Dia ingin membuktikan bahwa di bawah kuasanya, Inara tidak lebih dari sekadar bidak yang bisa dia kendalikan sesuka hati.

"Mahesa, kenapa melamun di sana?" suara manja Clarissa memecah keheningan. Wanita itu berjalan mendekat, mencoba menggelayutkan tangannya di lengan Mahesa.

Namun, secara tidak sadar, Mahesa menarik lengannya sedikit, menghindari sentuhan Clarissa. Matanya masih tertuju pada Inara yang di bawah sana tampak nyaris ambruk ke meja kerja, namun kembali menegakkan tubuhnya dengan paksa.

"Bukan apa-apa," jawab Mahesa datar, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Hanya memastikan dia tidak bekerja asal-asalan lagi."

Clarissa mencibir, menyadari arah pandangan Mahesa.

"Kamu terlalu baik, Mas. Kalau aku jadi kamu, wanita pembawa sial seperti dia sudah aku mutasi ke cabang luar kota agar tidak mengganggu pandangan kita setiap hari."

Mahesa tidak menyahut. Di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyergap ketika dia melihat Inara mendadak mencengkeram dadanya sendiri sambil meletakkan pena dengan gemetar. Namun, ego pria itu terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dia mulai merasa keterlaluan.

"Pergilah ke ruanganmu! Dan bekerja dengan baik jangan membuat orang lain curiga dan ada yang melaporkan keberadaanmu sering berada di ruangannya kepada Papa!" perintah Mahesa dingin.

Dengan kesal dan sambil menghentakkan sepatunya ke lantai, Clarissa keluar dari ruangan Mahesa.

Waktu terus merayap menuju jam makan siang. Laporan setebal lima puluh halaman itu hampir selesai dikerjakan ulang oleh Inara. Namun, kondisi fisiknya sudah berada di ambang batas. Pandangannya mulai mengabur, membuat angka-angka di layar monitor tampak berbayang dan menari-nari.

Drrrrrtttttt

Drrrrrtttttt

l

Interkom di meja Inara berdering. Dia mengangkatnya dengan suara yang pelan dan lemas.

"Ya, selamat siang, dengan Inara."

"Bawa laporan revisi itu ke ruangan saya sekarang. Dan bersiaplah, kita berangkat makan siang dengan tim strategi lima menit lagi," suara Mahesa terdengar dingin dari seberang telepon, langsung mematikan sambungan sebelum Inara sempat mengiyakan.

Inara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang kian menipis. Dia mencetak lembaran dokumen baru tersebut, menjilidnya dengan rapi, lalu berdiri. Detik itu juga, kepalanya terasa dihantam godam besar. Dunianya berputar hebat.

Dengan berpegangan pada kubikel meja, Inara memaksakan kakinya melangkah menuju lift, membawa map baru yang bersih, siap menyerahkan dirinya kembali pada panggung penghinaan yang telah disiapkan oleh suaminya dan Clarissa.

1
Hadi Mulyono
akhir cerita yg menyedihkan ..tokoh yg berusaha menjadi lebih baik
Hadi Mulyono
Inara lebih baik di cintai dr pada kita yg mencintai sendiri
Hadi Mulyono
walau suami jahat .tp mertua sayang banget
Hadi Mulyono
bagus tinggalin Mahesa
Hadi Mulyono
aku skip bacanya lompat lompat ..tokoh wanitanya lembek kurang suka
Hadi Mulyono
Inara di sini lemah apa kuat sih ..
Abizar Abizar
kok belum ada org ke3 laki" yg jadi penyelamat Inara sih ini
Wirly Pena
karya yg bagus thor, semangat 💪

halo kakak2, jangan lupa mampir di " Aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
Puspa Sella
Bru ada penulis kuat nulis kebodohan yg modelnya Inara ini
Puspa Sella
astaghfirullah Aldzim bodoh nya Inara gak ketulungan
Puspa Sella
heran mata kmu Inara mintak di akui SDH terang"an orang gak mau
Dewa Nara
Jangan merendahkan dirimu lagi, Inara
Diny Julianti (Dy)
inarany payah, lemah
Suyati
mksh Thor ceritanya
Suyati
teruslah memperbaiki diri mahesa, nnti pasti ada jodohmu lg
Suyati
kemana aja mahesa, baru sadar y
Suyati
sukurin kau mahesa
Suyati
bagus inara gt dong
Suyati
inara emang g punya uang wat bl makan
Suyati
orang tua mahesa g tau si anaknya zalim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!