Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gadis kecil itu
Tiga hari berlalu terlalu cepat baginya.
Maara sudah mengenal beberapa penghuni asrama. Meskipun belum terlalu akrab, tapi setidaknya dia memiliki teman.
Usai sholat subuh Maara kemudian bersiap-siap hendak berangkat ke yayasan.
Ini hari pertamanya mengajar setelah seminggu penuh libur karena akhir semester genap.
"Ra... Udah siap?" sapa Diana, salah satu rekan kerja Maara.
"Iya Dee.. Kita jalan kaki atau naik bis ke sekolah?" tanya Maara celingak-celinguk keluar rumah.
"Kita akan dijemput bis dari yayasan... Paling sebentar lagi Mang Ata sampai... Biasanya beliau selalu on time setengah tujuh sudah sampai...." seru Maya dari arah lorong sebelah kanan dimana kamarnya berada.
"Pagi Ra... Kamu manis banget dengan pakaian ini..." puji Maya menghampiri keduanya.
"Terima kasih" sahut Maara tersipu.
"Kamu memang selalu berpenampilan begini?" tanya Diana penasaran.
"Iya..."
"Nggak panas?"
"Alhamdulillah nggak... Justru aku merasa aman seperti ini..."
Wajar saja Diana bertanya demikian, mengingat dia tak mengenakan hijab pun dengan Maya. Mereka hanya mengenakan setelan mengajar berwarna coklat pastel dengan bawahan rok panjang dilengkapi dengan belahan hingga betis.
Selain mereka bertiga, terlihat beberapa rekan di satu yayasan yang sama sudah berkumpul di halaman termasuk staf laki-laki yang tinggal di paviliun belakang.
Semuanya akan berangkat bersama-sama nanti menuju sekolah yang jaraknya hampir 3 km dari tempat tinggal mereka atau sekitar 10 menit jika jalanan lancar mengingat rute yang memiliki jalanan menanjak dan berkelok.
Semua karyawan berasal dari daerah yang berbeda. Seperti Maya berasal dari Indonesia bagian Timur sementara Diana berasal dari salah satu kota di Sumatra yang terkenal dengan makanan khas Tempoyak Durian-nya. Namun mereka memiliki tekad yang sama yakni memberikan ilmu pada adik-adik di sekolah tempat mereka mengajar sekaligus mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Sama seperti di Bandung, yayasan yang diberi nama
Ilmu Sehati juga mencakup semua sisi mulai dari TK nol kecil hingga Sekolah Menengah Atas.
Kebanyakan dari murid-murid adalah anak-anak dari para petinggi di beberapa pabrik teh atau yang orangtuanya memiliki usaha penginapan atau tempat rekreasi di Lembang atau orang-orang yang memiliki keuangan yang cukup untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra putri mereka.
Tapi tak hanya itu, ada juga yang dari masyarakat yang kurang mampu, atau yang berprestasi dengan beasiswa yang diberikan langsung oleh kepala yayasan yang semua masyarakat mengenalnya wanita dengan hati yang dermawan.
Maara tetap mengejar di tingkat SMP seperti sebelumnya.
Suasana perjalanan menuju sekolah terasa begitu nyaman tapi tetap diwarnai oleh celoteh para guru atau staf yang sedang mencurahkan segala isi kepala mereka.
Maara lebih memilih menatap keluar jendela.
Udara pagi ini cukup sejuk sehingga dirinya sering kali merapatkan sweater rajut yang diberikan oleh Lisa sebelum dirinya pergi.
"Udara disini emang sejuk banget dan kadang berkabut... Kita akan selalu mengenakan syal, mantel tebal atau sweater rajut seperti ini saat pagi ataupun malam hari..." ujar Diana yang duduk disebelah Maara.
"Iya... Aku hanya belum terbiasa... Di Bandung seringnya hujan pada sore dan malam hari atau panas disiang hari...." sahut Maara.
"Lama-lama juga akan terbiasa... Aku juga dulu gitu... Maklumlah, daerahku keseringan panas dan panas banget... Hujan juga dibulan-bulan tertentu...."
"Eh... ngomong-ngomong, kamu kan dari yayasan di Bandung, pasti pernah ketemu dengan bu Rosa dong?" ucap Diana tiba-tiba bertanya soal pemilik yayasan.
Kening Maara berkerut. "Bu Rosa?" ulangnya menyebut nama Bu Rosa.
"Bu Rosa itu yang punya yayasan... Tapi kalau nggak salah di Bandung di urus oleh adiknya, bu Atik..dan nama yayasan berbeda. Benarkan?" Maya menimpali yang rupanya menguping pembicaraan keduanya karena posisi duduk tepat didepan mereka.
"Iya benar... Di Bandung memang bu Atik yang mengurus, sesekali aku pernah dengar sih nama bu Rosa disebut tapi belum pernah ketemu orangnya secara langsung... Kenapa memangnya?" tanya Maara penasaran.
Diana menunduk sedikit " Kabarnya bu Rosa itu punya putra sulung yang kerja sebagai pengacara dan dia itu duda tampan..." ucapnya dengan nada rendah.
Maara semakin tak mengerti arah pembicaraan Diana.
"Ck... Kamu ini gimana sih...? Maksud Diana tuh, kita bisa gaet dia, ya syukur-syukur bisa jadi mantu, kan lumayan buat rubah nasib..." seru Maya diiring tawanya yang khas.
Maara geleng-geleng kepala dengan isi pikiran kedua rekannya.
...********^*^********...
Bis sampai dihalaman sekolah yang masih sepi karena rata-rata murid yang belum tiba.
Hanya ada beberapa pekerja kebun yang berlalu-lalang menyelesaikan pekerjaan mereka.
Maara terlebih dahulu menghadap wakil kepala yayasan sesuai pesan dari bidang tata usaha sehari sebelumnya.
"Upss..." Maara meringis karena dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis kecil.
Bola mata indahnya menatap Maara tanpa berkedip.
"Tante bidadari? " panggilnya sehingga membuat Maara menoleh kesana-kemari.
"Tante... Tante lupa dengan Loli ya...?" ucap gadis itu.
"Kamu kenal aku? Kita ketemu dimana sebelumnya?" demi apapun, Maara lupa pernah mengenal gadis kecil ini dimana.
Gadis yang memanggil dirinya Loli itu cemberut.
"Tante sama kayak papa... Suka lupaan orangnya..." omelnya ceriwis.
Maara berjongkok guna menyamakan tinggi mereka.
"Demi Allah, tante lupa. Bisa kamu jelaskan kita pernah ketemu dimana, mungkin dengan begitu tante bisa ingat" bujuk Maara.
Loli bersidekap dengan bibir mengerucut..
"Jangan marah dong adik kecil... Tante sungguh lupa... Harap maklum ya karena udah mulai tua..."
"Iya deh... Loli maafkan... "
"Kita pernah ketemu di taman hiburan... Tante ingat nggak, Loli juga pernah tabrak tante sampai jilbab tante basah... Waktu itu Loli tersesat ditaman hiburan... " Loli memperhatikan perubahan wajah Maara.
"Oh iya benar... Wah ingatan kamu bagus ya... Maafin tante yang lupa sama kamu... Eh, ngomong-ngomong, kamu sekolah disini?" heran Maara karena seragam sekolah Loli yang sama persis dengan beberapa murid yang nampak sudah hadir.
"Hmmm... Loli kelas 2 SD.... Tante sendiri ngapain?" Loli balik bertanya.
"Tante kebetulan baru dipindahkan dan mengajar disini..." sahut Maara.
Wajah Loli nampak sumringah seketika.
"Asik... Berarti nanti tante ngajar di sekolah Loli dong..." serunya riang.
Maara meringis karena takut merusak mood gadis kecil ini.
Tangan Maara merapikan dasi Loli dan mengusap seragamnya sambil memberi sebuah pengertian agar Loli tak kecewa.
"Sayangnya tante nggak ngajar di tempat Loli, tapi tante mengajar di tempat kakak SMP..."
"Yaah.... Kok gitu...? Loli kan pengen ketemu tante terus... " des*h Loli murung.
"Tapi jangan khawatir, kita kan masih bisa ketemu. Kan kita masih di satu lingkungan yang sama... "
Senyum yang tadinya redup mulai cerah kembali.
"Janji ya... Loli masih bisa ketemu tante cantik ?"
Loli menyodorkan kelingkingnya untuk membuat janji.
"Janji... In sya Allah...." sahut Maara.
"Neng Loli... Ayo, kita ke kelas.." seru seseorang yang berjalan tergopoh-gopoh kearah mereka.
"Iya mang Budi..." sahut Loli "Daaa tante...Loli ke kelas dulu ya... Assalammualaikum...." pamit Loli.
"Da~~da... Waalaikumsallam...." Maara membalas lambaikan tangan Loli yang sudah berjalan menjauh di lorong menuju balik tembok yang merupakan sekolah dasar.
"Kamu Maara Hayuning?" panggil seorang paruh baya yang berhasil mengejutkan Maara.
"Ah iya... Maaf buk, saya tidak tahu kalau ibu berdiri disana" ringis Maara.
"Nggak pa-pa... Kamu sudah kebagian tata usaha untuk mendapatkan kartu pengenal dan juga tata tertib di yayasan ini?" tanya wanita itu melirik penampilan Maara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kemarin sudah diberitahu lewat pesan WA tapi ini saya mau menuju ruang tata usaha untuk mengambil ID card saya..."
"Ya sudah cepat...! Kamu ngapain disini kalau ada yang jauh lebih penting untuk dikerjakan.... Jangan mentang-mentang kamu guru kesayangan bu Atik, jadi bisa seenaknya disini...! Disini, semua karyawan dibawah pengawasan saya. Jika ada yang tidak sesuai dari segi apapun termasuk disiplin waktu, maka akan saya kenakan sanksi tegas! Paham kamu!" hardik wanita itu.
"Paham buk... Sekali lagi saya minta maaf... Saya permisi, assalamualaikum..." Maara bergegas meninggalkan wanita itu agar tak memancing perhatian orang-orang termasuk para murid yang mulai ramai berdatangan.
"Uuhhhh.... Dia galak banget" batin Maara mengelus dadanya.
bersambung...