Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 019: Pertemuan Lama dan Kehadiran Orang Baru
Suasana di dalam kafe masih terasa tenang dan damai. Aldara tetap sibuk menunduk di depan laptopnya, sesekali mengetik dan sesekali berhenti seolah memikirkan susunan kalimat yang tepat. Berbeda dengannya, Dede Ara terlihat santai dan asyik mengobrol dengan Abang Chepot di meja yang sama.
“Ngomong-ngomong Dede, bagaimana kabar hubunganmu dengan Hiken? Apakah semuanya masih berjalan baik?” tanya Abang Chepot dengan nada penasaran. “Kok akhir-akhir ini kalian jarang terlihat berjalan berdua seperti biasanya.”
“Baik-baik saja kok, Bang. Cuma belakangan ini dia jadi semakin posesif kepadaku saja. Mulai dari cara berpakaian sampai ke mana saja aku pergi, semuanya selalu dia protes,” jawab Dede Ara dengan nada sedikit kesal.
Aldara yang masih fokus menulis pun tiba-tiba menyahut tanpa menoleh, “Itu juga salahmu sendiri, Dede. Pakaian yang kamu pakai itu kan kurang bahan. Wajar saja kalau pacarmu tidak terima melihatmu dipandang-pandang oleh laki-laki lain.”
“Betul kata Aldara itu,” sambung Abang Chepot setuju. “Penampilanmu memang terlalu terbuka. Sudah pasti Hiken merasa tidak tenang dan ingin menjagamu.”
Dede Ara hanya mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di dada. “Bodo amatlah, Bang. Sejak dulu memang penampilanku seperti ini, sudah tidak bisa diubah lagi. Kalau dia mau menerima aku, ya harus menerima aku apa adanya, bukan meminta aku berubah menjadi orang lain.”
“Sudahlah, suka-suka kamu saja. Aku hanya mengingatkan saja,” jawab Abang Chepot sambil mengangkat kedua tangan tanda pasrah. “Ngomong-ngomong, nanti malam kalian datang ke markas ya. Kebetulan nanti malam anak-anak juga akan berkumpul di sana.”
Mendengar itu, Aldara pun menghentikan jari-jarinya di atas papan ketik, lalu menatap Abang Chepot. “Ada acara apa di sana, Bang?” tanyanya penasaran.
“Tidak ada acara khusus kok. Cuma aku dapat kabar, Haru mau datang berniat mampir ke tempat kita. Kamu masih ingat Haru kan?” tanya Abang Chepot yang langsung diangguki Aldara. “Katanya dia juga ingin memperkenalkan pacar barunya kepada kita semua.”
“Baiklah, nanti aku pasti datang,” jawab Aldara setuju.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa matahari sudah terbenam dan malam pun tiba. Aldara bersiap-siap mengenakan pakaian sederhana: kaos oblong hitam yang dipadukan dengan kemeja luar dan celana jins panjang. Ia pun berangkat menuju markas tempat mereka biasa berkumpul.
Sesampainya di sana, ia melihat suasana sudah cukup ramai. Sudah ada Hafizah yang duduk sendirian tanpa didampingi Ikbal, juga Dede Ara yang datang sendiri tanpa Hiken. Di sudut ruangan, Abang Chepot sudah duduk santai sambil mengobrol dengan kedua gadis itu.
“Hai semuanya,” sapa Aldara ramah sambil melangkah mendekat.
“Wah, Kak Aldara sudah datang. Kok sendirian saja? Mana Aries?” tanya Dede Ara begitu melihat kedatangannya.
“Aries sedang ada tugas kerja di luar kota, jadi tidak bisa hadir malam ini,” jawab Aldara dengan senyum tipis, menyembunyikan kenyataan bahwa ia sendiri pun belum menerima kabar apapun dari kekasihnya seharian ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Haru pun masuk ke dalam ruangan ditemani oleh seorang wanita muda yang terlihat cantik dan anggun.
“Apa kabar, Ru? Lama sekali tidak bertemu,” sapa Abang Chepot sambil menjabat tangan Haru dengan akrab.
“Kabar baik, Bang. Alhamdulillah sehat semua,” jawab Haru ramah. Ia lalu menoleh menatap Aldara, Dede Ara, dan Hafizah. “Kalian semua bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik, Ru,” jawab Aldara duluan.
“Baiklah, Bapak,” sahut Dede Ara santai, memberi panggilan ‘Bapak’ meski usia Haru baru menginjak dua puluh enam tahun.
“Alhamdulillah sehat dan baik, Bang Haru,” tambah Hafizah.
“Baiklah, terima kasih. Oh iya, Kenalkan ini Cici, pacarku,” ucap Haru sambil menunjuk wanita yang berdiri di sampingnya.
Mereka pun memperkenalkan diri satu per satu: Aldara, Dede Ara yang menyebut dirinya sebagai yang paling cantik dan imut, serta Hafizah. Obrolan pun mengalir santai, sampai Haru menatap leher Aldara dan melihat kalung yang melingkar di sana.
“Kalung itu terlihat indah, ada ukiran A & A. Pasti ada makna khususnya ya?” tanya Haru penasaran.
“Wah, Bapak tidak tahu saja. A & A itu singkatan nama Kak Aldara dan Abang Aries, pacarnya Kak Aldara,” jawab Dede Ara dengan cepat.
“Kalau begitu, di mana Aries malam ini? Kenapa tidak ikut berkumpul?” tanya Haru lagi.
“Ada pekerjaan, jadi belum bisa bergabung dengan kita dulu,” jawab Aldara tenang, berusaha menjaga senyumnya agar tidak terlihat cemas meski di dalam hati rasa rindu dan kekhawatiran perlahan mulai tumbuh kembali.
HARU adalah pacar Cici yang berumur 26 tahun
CICI berumur 20 tahun