NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Aiden Luther Stone bersandar pada kursi kulit hitam yang terletak di sudut lobi utama Rumah Sakit Stone.

Alih-alih menginjak pedal gas dan melesat kembali ke unit penthouse-nya atau pulang ke mansion untuk menghadapi tatapan menghakimi dari sang Daddy, ia memilih untuk tetap tinggal.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca kecil di sampingnya masih menampilkan pesan dari Marcus yang terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Penthouse nomor 202.

Informasi itu cukup untuk menahan kakinya di sini.

Terlebih lagi, sang Mommy tadi memintanya untuk menjemput satu jam lagi setelah operasi selesai.

Daripada pulang ke mansion dan kembali memicu perdebatan tentang masa depan bisnis, dunia balap, atau kebohongan sepihak mengenai mobil sport-nya yang melayang akibat taruhan sialan itu, menunggu sang mommy di lobi rumah sakit terasa jauh lebih aman bagi kesehatan mentalnya saat ini.

Ia menundukkan kepala, merenungi semua kegilaan yang terjadi sejak semalam.

Otaknya yang biasa bekerja taktis di atas sirkuit balap kini mendadak buntu.

Bagaimana bisa dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, hidupnya yang tertata rapi di bawah wejangan ketat kedua orang tuanya hancur berantakan?

Dia melanggar prinsip.

Dia merenggut kesucian seorang wanita. Dan sekarang, dia mengetahui fakta bahwa wanita itu tinggal hanya beberapa meter dari pintunya sendiri.

Di tengah lamunan yang menyesakkan itu, indra penglihatan Aiden yang tajam refleks menangkap sebuah pergerakan di dekat koridor apotek utama rumah sakit.

Seseorang sedang berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar kaca otomatis.

Tubuh Aiden menegang seketika.

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Sosok itu... meskipun dia mengenakan pakaian kasual yang sangat tertutup dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, Aiden tidak akan pernah salah mengenali proporsi tubuh itu.

Struktur bahu yang kecil, cara berjalannya yang anggun namun tampak lelah, dan sisa-sisa trauma visual semalam langsung mengunci fokus Aiden.

Itu dia. Sosok yang mirip sekali dengan 'Anne'.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Aiden berdiri dari kursinya.

Langkah kakinya yang panjang dan tegap bergerak cepat, memotong jarak di antara mereka sebelum wanita itu berhasil melangkah keluar ke pelataran lobi yang ramai oleh taksi.

Set.

Aiden menjangkau pergelangan tangan wanita itu, menariknya dengan sentuhan yang tegas namun tidak menyakitkan, menghentikan langkahnya secara paksa.

"Anne..." bisik Aiden, suaranya berat dan serak, sarat akan tuntutan dan rasa lega yang membuncah secara bersamaan.

Suzanne Klatten yang sedang terburu-buru untuk segera meninggalkan rumah sakit seketika tersentak.

Tubuhnya sedikit syok merasakan sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, siap untuk memaki siapa pun orang asing yang berani bersikap tidak sopan kepadanya.

Namun, begitu sepasang matanya di balik kacamata hitam bertabrakan dengan netra elang yang tajam milik remaja di hadapannya, lidah Suzanne mendadak kelu.

Dia tahu pria muda ini bernama Aiden—nama yang sempat ia lihat dari atribut seragam sekolahnya semalam—meskipun dia sama sekali tidak tahu nama besar "Luther Stone" yang melekat di belakang nama remaja tersebut.

"Kau... kau di sini?" tanya Aiden lagi, matanya menyapu wajah Suzanne dengan pandangan intens, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan dari ekspresi wanita di depannya.

Suzanne mencoba menguasai keterkejutannya dengan cepat.

Ia menarik tangannya dari cengkeraman Aiden, membetulkan posisi tas bahunya untuk menutupi rasa gugup.

"Aah... ya, aku di sini," jawab Suzanne dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin, meskipun suaranya masih terdengar sedikit parau karena kelelahan batin. "Aku baru saja menjenguk ayahku."

"Ayahmu?" tanya Aiden lagi, satu alisnya terangkat, mencoba mencerna informasi baru tersebut.

Anne—mengangguk perlahan.

"Ya, dia sedang dirawat di sini. Sekarang, jika tidak ada urusan lagi, aku harus pergi."

Melihat gelagat Anne yang kembali ingin menghindar, insting menggoda di dalam diri Aiden mendadak bangkit.

Sebuah senyum miring yang sarat akan kemenangan dan sarkasme tipis terukir di wajah tampannya.

Remaja itu memajukan tubuhnya satu langkah, mengunci ruang gerak Suzanne di dekat pilar lobi.

Ia mengingat kembali bagaimana wanita ini mengaku sudah menikah tadi pagi di atas ranjangnya, memperlihatkan cincin pernikahan seolah benda itu adalah benteng pertahanan yang tidak bisa ditembus.

"Menjenguk ayahmu sendirian?" Aiden bersedekap, menatap Suzanne dengan pandangan mengejek yang sangat kentara.

"Kenapa tidak diantar suamimu, Anne? Bukankah kau bilang tadi pagi kau punya suami? Di mana pria itu sekarang? Membiarkan istrinya yang kelelahan ke rumah sakit?"

Pertanyaan bertubi-tubi dari Aiden terdengar seperti sindiran tajam di telinga Suzanne.

Aiden merasa di atas angin; baginya, ini adalah bukti bahwa Anne memang berbohong padanya tadi pagi.

Jika wanita ini benar-benar sudah menikah, tidak mungkin suaminya membiarkannya berkeliaran sendirian dalam kondisi fisik yang jelas-jelas masih lelah setelah kejadian semalam.

Suzanne mengepalkan jemarinya di dalam saku mantelnya.

Kata-kata Aiden tanpa sengaja menghantam kenyataan pahit bahwa Willem Daendels memang tidak peduli, bahkan pria itu mungkin sedang menyusun rencana dengan Lydia Gonne.

Namun, Suzanne terlalu lelah untuk berdebat atau membela harga dirinya di depan seorang bocah SMA.

"Itu bukan urusanmu, Aiden," jawab Suzanne lelah, matanya melirik ke luar pintu kaca, mencari tanda-tanda taksi kosong yang bisa ia tumpangi.

Sayangnya, antrean lobi malam itu sangat padat, dan beberapa taksi tampak penuh.

Melihat gurat kelelahan yang sangat nyata di wajah Suzanne, rasa bersalah Aiden kembali mengambil alih ego mudanya.

Dia tidak tega melihat wanita yang telah ia klaim semalam harus bersusah payah di tempat umum seperti ini.

"Aku bawa mobil. Aku antar kau pulang," menawarkan diri Aiden, suaranya melembut drastis, berganti menjadi sebuah perintah bernada perhatian yang tulus.

Suzanne menatap antrean taksi yang mengular, lalu beralih menatap Aiden.

Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batas; rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya dan kurangnya tidur semalam membuatnya tidak memiliki energi lagi untuk bersikap keras kepala.

Menggunakan taksi dalam kondisi seperti ini hanya akan menyiksanya lebih lama di jalanan.

"Baiklah," jawab Suzanne akhirnya, mengiyakan tawaran tersebut dengan pasrah.

"Antar aku sampai ke Lobi apartemen saja."

Aiden tersenyum puas, sebuah binar kemenangan terpancar dari matanya.

Ia segera menuntun Suzanne menuju area parkir khusus di samping lobi, membukakan pintu SUV mewah milik ibunya untuk wanita itu dengan tingkat kesopanan seorang pria sejati, sebelum akhirnya melompat ke kursi kemudi dan menjalankan mobil membelah jalanan kota Chicago.

... * * * ...

Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara itu terasa begitu dinamis.

Aiden sesekali melirik ke arah Suzanne yang memilih untuk bersandar pada kaca jendela, menatap kosong ke luar arah jalanan yang basah.

Rasa penasaran yang membakar dada Aiden sejak pagi tidak bisa lagi ditahan.

Dia butuh informasi. Dia butuh tahu siapa wanita misterius yang telah merenggut seluruh fokus hidupnya ini.

"Kau... kuliah di mana, Anne?" tanya Aiden membuka percakapan, mencoba mengorek informasi dengan nada sesantai mungkin.

"Berapa umurmu? Jurusan apa yang kau ambil?"

Suzanne tidak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.

Wajahnya tetap datar di balik kacamata hitamnya. "Fokus saja mengemudi, Aiden. Jangan banyak bertanya," jawabnya singkat, dingin, dan penuh batasan kaku.

Aiden mengangguk, namun seulas senyum geli justru merekah di bibirnya.

Sifat dingin Anne justru membuatnya semakin tertantang.

Remaja Stone tidak pernah mundur hanya karena sebuah penolakan verbal yang hambar.

Ia berdehem pelan, mengetuk-ngetukan jarinya pada kemudi mobil sebelum kembali membuka mulutnya.

"Apa kau benar-benar masih kuliah, Anne? Aku menebak... kau mungkin berada di tingkat akhir. Usiamu... mungkin sekitar 21 atau 22 tahun? Benar, kan?" Aiden bertanya dengan nada percaya diri, menilai penampilan fisik Anne yang tampak begitu segar, mungil, dan memiliki kulit yang sangat terawat seperti gadis-gadis kuliahan di distrik elite.

Suzanne menghela napas panjang, merasa terganggu dengan tebakan asal remaja di sampingnya.

Ia memutar tubuhnya, melepas kacamata hitamnya, lalu menatap Aiden dengan pandangan mata yang sayu namun tajam.

"Empat-puluh-dua," jawab Suzanne datar.

"Hah?" Aiden mengernyitkan dahi, tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

"Dua puluh empat," koreksi Suzanne dengan suara yang lebih jelas dan tegas.

"Usiaku dua puluh empat tahun, Aiden."

CIIIITTTTTTTTTTT!!!

Detik itu juga, kaki Aiden refleks menginjak pedal rem dengan sentakan yang luar biasa keras.

Ban mobil SUV mewah itu berdecit hebat di atas aspal jalanan, menciptakan dorongan yang membuat tubuh mereka berdua sempat terlempar ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.

Mobil itu berhenti mendadak di tengah jalur lambat, memicu kemarahan instan dari pengendara mobil sedan merah di belakang mereka.

Bunyi klakson yang panjang dan nyaring bertalu-talu menggema di udara, diikuti oleh umpatan kasar dari seorang pemudi yang membuka jendelanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobil Aiden sebelum melesat pergi mendahului mereka.

Namun, Aiden sama sekali tidak memedulikan umpatan atau klakson tersebut. Pikirannya seolah meledak di tempat.

Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Suzanne, matanya melebar sempurna dengan ekspresi syok yang tidak bisa disembunyikan sama sekali dari wajah tampannya.

"Dua puluh empat?!" tanya Aiden dengan suara yang meninggi, sarat akan keterkejutan.

"Usimu dua puluh empat tahun, Anne?!"

Suzanne hanya menatap reaksi berlebihan remaja itu dengan alis yang bertaut. "Ya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?"

Aiden mematung di kursi kemudi, otaknya mendadak macet total melakukan kalkulasi matematis yang sederhana namun berdampak besar bagi mentalnya.

Dia benar-benar tidak pernah membayangkan perbedaan usia di antara mereka akan sejauh ini.

Dia baru menginjak usia delapan belas tahun beberapa bulan lalu—masih seorang pelajar high school yang status hukumnya baru saja menyentuh batas Remaja Dewasa—sementara wanita di sampingnya ini sudah berusia dua puluh empat tahun.

Seorang wanita matang yang matang secara hukum dan usia.

Namun, kejutan mental itu tidak berhenti sampai di sana. Di dalam benak Aiden, sebuah fakta internal keluarganya mendadak melintas, menghantam kesadarannya dengan cara yang sangat ironis.

Mommy Nora... dan Daddy Martin.

Aiden menelan ludahnya dengan susah payah.

Kisah ini... kenapa polanya mendadak terasa begitu mirip dengan kisah asmara kedua orang tuanya sendiri?

Sang Mommy, Nora Amelie Stone, menikah di usia dua puluh delapan tahun, sementara sang Daddy, Martin Luther, saat itu baru menginjak usia dua puluh dua tahun.

Hubungan legendaris keluarga Luther-Stone yang selalu dipuji karena keharmonisannya itu dibangun di atas fondasi perbedaan usia yang sama: sama-sama berbeda enam tahun dengan pihak wanita yang lebih tua.

Sebuah kekehan tak percaya lolos dari bibir Aiden.

Ia menyugar rambut hitamnya dengan tangan yang agak gemetar, menatap Suzanne dengan pandangan mata yang kini mencampurkan rasa tidak percaya dan binar geli yang aneh.

"Wah, sialan!" seru Aiden, suaranya bergetar menahan tawa getir sekaligus takjub atas takdir yang sedang mempermainkannya.

"Aku benar-benar berondongmu, Anne? Kita beda enam tahun!"

Suzanne memutar bola matanya malas, merasa bahwa isi kepala remaja delapan belas tahun ini benar-benar didominasi oleh fantasi romansa yang tidak realistis.

Ia kembali memakai kacamata hitamnya, bersedekap, dan menatap lurus ke depan jalanan.

"Tidak hanya berondong, Aiden," jawab Suzanne dengan suara yang pelan namun terdengar sangat dingin dan penuh penekanan yang mematikan.

"Kalau kau terus mengganggu hidupku dan menuntut tanggung jawab konyolmu itu... kau bahkan akan dikatakan sebagai seorang pebinor. Perebut bini orang."

Deg.

Senyum geli di wajah tampan Aiden seketika lenyap tanpa sisa.

Kalimat pendek namun sarat akan status hukum dari mulut Suzanne seolah menjadi siraman air es yang membekukan seluruh aliran darahnya.

Kata 'pebinor' menghantam ego dan moralitasnya sebagai seorang Stone hingga ke titik terdalam.

"Kau... kau benar-benar sudah menikah?" tanya Aiden lagi, kali ini suaranya merendah, dipenuhi oleh nada batin yang tersiksa dan tuntutan akan kebenaran yang tidak ingin ia dengar.

Matanya menatap lekat-lekat pada jari manis tangan kiri Suzanne yang sengaja ia sembunyikan di balik lipatan mantel.

Namun, Suzanne tidak berniat menjawab pertanyaan itu lagi.

Keheningan kembali menguasai kabin mobil seiring dengan Aiden yang kembali menjalankan kendaraan dengan kecepatan konstan, meskipun suasana di dalam mobil kini terasa jauh lebih berat dan mencekam dari sebelumnya.

Pikirannya berkecamuk hebat antara penyangkalan ego dan fakta kedewasaan usia Anne yang baru saja ia ketahui.

Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi SUV mewah itu untuk memasuki kawasan elite Gold Coast Chicago, berbelok perlahan menuju pelataran luar kompleks gedung penthouse mewah yang sama yang menjadi tempat tinggal mereka berdua.

Karena unit apartemen mereka berada di gedung eksklusif yang sama, mobil Aiden berhenti tepat di depan lobi utama yang dijaga ketat oleh petugas keamanan berseragam rapi.

Sebelum Aiden sempat mematikan mesin atau membuka sabuk pengamannya untuk menahan wanita itu lebih lama, Suzanne dengan gerakan yang sangat tangkas dan teratur sudah membuka kunci pintunya terlebih dahulu.

Ia melangkah keluar dari SUV mewah tersebut, berdiri di atas pelataran marmer lobi, lalu berbalik sejenak untuk menatap Aiden melalui kaca jendela yang terbuka.

Seulas senyum tipis, hampir tak terlihat namun menyiratkan rasa terima kasih yang tulus atas tumpangan darurat ini—terukir di bibir Suzanne.

"Terima kasih, Aiden cerewet," ucap Suzanne pendek, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah lebar memasuki lobi kaca otomatis gedung penthouse, meninggalkan Aiden yang hanya bisa duduk terpaku di kursi kemudi, menatap punggung Anne dengan kepalan tangan yang mencengkeram erat roda kemudi, menyadari bahwa misteri tentang wanita dua puluh empat tahun itu kini telah berubah menjadi sebuah obsesi berbahaya yang siap melanggar batas moralitasnya sendiri.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!