NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:776
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembatalan Rencana Pernikahan

Langit sore Kyoto diselimuti awan tipis yang tembus cahaya matahari lembut dan ringan. Angin membawa aroma khas kayu tua dari kuil-kuil, serta suara lonceng kecil dari toko teh tradisional sesekali terdengar. Pemandangan yang sangat Amaia dambakan selama ini.

Kini Amaia berjalan perlahan di samping Rakha, tangannya menggenggam kamera mirrorless yang tergantung di leher. Kamera yang sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Jepang.

“Tunggu bentar,” ujar Amaia menahan langkah sang calon suami sambil berhenti di ujung gang sempit di Distrik Gion, di mana deretan rumah kayu tradisional berdiri kokoh. “Coba kamu berdiri di bawah lentera itu. Biar aku foto dan kasih lihat ke kamu skill memotretku.”

Rakha tertawa kecil, tak sungkan menuruti permintaan itu. Dia berpose sesuai dengan suruhan Amaia. Lalu dalam beberapa jepretan, gadis itu berhasil mengoleksi foto Rakha dalam kameranya.

Setelah puas berkeliling Gion, keduanya naik kereta lokal ke Arashiyama. Momen ini juga merupakan yang paling Amaia tunggu, yaitu naik kereta. Terlihat sangat manis di film-film romantis. Sekarang ia merasa seperti seorang tokoh utama wanita dalam film romantis dan Rakha adalah pria pujaannya.

Malamnya, mereka kembali ke hotel. Hotel sederhana yang begitu kental dengan Jepang. Bahkan tempat tidurnya masih memakai futon—tempat tidur tradisional Jepang berupa matras tipis yang diletakkan di lantai, biasanya di atas tatami. Namun, itulah yang membuat Amaia merasa benar-benar berada di negeri sakura.

Udara malam di Kyoto terasa sejuk saat ia melangkah keluar dari kamar mandi. Yukata—pakaian tradisional Jepang, mirip kimono, tetapi lebih kasual dan ringan—putih dengan bordir lembut di pinggir lengan terikat longgar di pinggang, membentuk siluet tubuhnya di bawah cahaya redup kamar. Rakha ternyata sudah menunggunya di dekat futon yang telah digelar di lantai tatami—alas lantai tradisional Jepang, terbuat dari anyaman jerami yang dipadatkan.

Padahal seharusnya kamar pria itu ada di ruangan di sebelah. Tapi malam ini sepertinya Rakha ingin memiliki momen yang lebih romantis dan intim dengan sang calon istri. Kalau Rakha ingin melakukan hal yang lebih, Amaia harus mencegahnya.

"Duduk sini, Sayang," perintah Rakha agar Amaia duduk di atas pahanya.

Sepasang mata mereka bertemu saat Rakha mendongak karena posisi Amaia yang lebih tinggi. Waktu seperti berhenti sejenak, seiring degup jantung Amaia yang makin menggila.

“Mai ….” Suara berat Rakha terdengar.

“Ng … ya, Kak?” Amaia merasakan pinggangnya diusap dengan pelan, lalu bergerak ke punggung.

Rakha tersenyum memandangnya, lalu menarik tengkuk Amaia dan mencium bibirnya dengan lembut. Amaia mengalungkan lengan di atas pundak Rakha. Mendesah samar tatkala tangan Rakha ciuman itu makin menggila. Amaia nyaris tak bisa bernapas. Benturan napas berat mereka beradu di udara. Rakha berhenti dari ciuman saat lenguhan Amaia terdengar.

"K-Kak, sebentar ...." Amaia menahan lengan Rakha tatkala pria itu mencium lehernya dengan agresif.

"Kenapa, Mai?"

"Aku nggak bisa melakukan lebih dari ini." Amaia tertunduk. Dia tak mau patuh begitu saja menuruti nafsu Rakha. Meskipun dia sangat mencintai pria itu. "Kita udah sepakat, setelah menikah ... kita akan melakukannya setelah menikah."

Rakha menghela napas sembari memeluk pinggang Amaia. Pria berkacamata itu tersenyum tipis penuh kekecewaan.

"Baiklah. Tapi biar aku mencium kamu malam ini sebelum aku tidur," kata Rakha dan Amaia mengangguk setuju.

...*****...

Baru semalam Amaia diperlakukan seperti wanita yang paling bahagia di muka bumi. Semalam pula Rakha menciumnya dengan manis. Semalam juga Rakha dan dirinya berbincang tentang pernikahan. Namun, pagi ini dunia Amaia dijungkirbalikkan.

Sepucuk surat yang diletakkan oleh Rakha di atas meja pendek membuat langit-langit di atas kepala Amaia terasa runtuh. Nyeri menghantam rongga dadanya sehingga rasa sakit itu mencabik-cabik perasaan. Lelehan air mata Amaia terus mengalir seraya berusaha menghubungi sang calon suami.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...

Hanya suara kaku operator yang menjawabnya.

Pagi ini Amaia terbangun dalam suasana hati yang sangat bahagia setelah kebersamaan semalam dengan Rakha. Untung saja Rakha tidak nekat memaksa mereka berhubungan badan dan melanggar kesepakatan bersama. Namun, Amaia justru tak menemukan Rakha di kamarnya. Ia hanya melihat sepucuk surat dan satu tiket menuju Indonesia tergeletak di atas meja.

"Kak Rakha, apa maksudnya ini semua?" Suara Amaia bergetar. Air mata kian mengalir deras dari pipinya.

Untuk ke sekian kali karena panggilannya tak dijawab, Amaia meraih kertas surat dengan gerakan lemah. Dibaca berkali-kali pun ia masih tak percaya. Rasanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Rasa sakit yang menginjak-injak hatinya sudah cukup untuk membuktikan bahwa kejadian mengecewakan pagi ini bukanlah mimpi belaka.

Dear, Amaia Rembulan....

Kamu pasti udah bangun saat membaca surat ini. Terima kasih karena kamu udah mau jadi tunanganku selama ini dan bersedia menikah menikah denganku. Kita saling mengenal sejak kecil dan mungkin karena urusan keluarga, kamu terpaksa menjalani semuanya denganku.

Mai, kurasa hubungan kita nggak bisa diteruskan. Setelah kamu baca surat ini, hubungan kita sudah berakhir. Rencana pernikahan kita akan aku batalkan.

Tertanda, Rakha Tedjakusuma.

"Terpaksa?" Amaia tertawa hambar.

Jadi selama bertahun-tahun bersama, Rakha menganggap Amaia terpaksa? Bagaimana dengan perasaan tulusnya? Bukankah selama ini Amaia sangat mencintai pria itu? Lantas mengapa anggapan Rakha begitu dangkal sekali?

Ruangan yang hening mendadak riuh oleh tawa dan tangis Amaia yang pecah memilukan. Ia tak menyangka hubungan bertahun-tahun dengan tunangan dan calon suaminya berakhir dengan begitu menyedihkan. Tak ada alasan yang jelas. Ia dicampakkan begitu saja setelah semalam dibuat bahagia.

Amaia mengusap air mata yang berjatuhan. Ia tak boleh diam saja. Ia harus segera terbang ke Indonesia untuk meminta penjelasan ... mungkin juga untuk menghajar Rakha yang telah kurang ajar menyakitinya. Hubungan yang selama ini mereka bangun begitu lama, mendadak hancur tanpa alasan jelas.

Dulu sekali saat usianya 17 tahun, Amaia sangat bahagia karena dijodohkan dengan lelaki yang sangat disukainya. Saat itu Rakha lebih dewasa dari Amaia, sehingga pertunangan mereka sempat ditunda. Meski gembar-gembor perjodohan sudah jauh-jauh hari dilantangkan oleh kedua belah pihak keluarga; Keluarga Tedjakusuma dan Keluarga Airlangga.

"Kamu keterlaluan, Kak Rakha," gumam Amaia sembari mengumpulkan pakaian ke dalam kopernya.

Ia tak bisa membayangkan reaksi keluarga Tedjakusuma dan ekspresi ibunya saat mengetahui tentang perbuatan Rakha. Andai saja Erwin—ayahnya masih ada—apa mungkin Rakha akan berani berbuat sejahat ini? Membayangkan wajah Rakha membuat Amaia kian tak sanggup membendung tangis.

Tangan perempuan itu terkepal erat. Ia tak sabar untuk pulang dan menyerapah pada Rakha. Tapi ia juga ingin mendengar alasan pria itu mencampakkan dirinya. Bagi Amaia, keputusan itu terlalu tak adil. Ia butuh sesuatu yang jelas. Mungkinkah ia punya salah? Mungkinkah Rakha bosan padanya? Atau .....

Amaia terhenyak. Ingatannya terlempar pada pembicaraan Rakha dengan seseorang di telepon beberapa hari lalu di saat acara makan malam. Jangan-jangan ... Amaia menggeleng, Rakha tak mungkin memiliki wanita lain, bukan?

Ponsel Amaia bergetar di tengah pikiran yang berisik menerka-nerka. Satu pesan masuk dari nomor Widitama membuat kemarahan dalam diri Amaia kian berkobar.

Mas Widitama: Bagaimana liburanmu? Apa berjalan lancar? Atau tidak? Mau saya susul ke Jepang dan bicarakan lagi tawaran saya waktu itu?

Amaia menggenggam erat ponsel sebelum melemparnya ke dekat futon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!