NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Hujan malam itu tidak sekadar turun; ia menghantam bumi dengan kemarahan yang seolah-olah dipinjam dari hati Rahmad dan Sarah. Zara berjalan menyusuri trotoar, menyeret langkah kaki yang telanjang karena selop pengantinnya telah hanyut entah di selokan mana. Gaun putih yang beberapa jam lalu berharga puluhan juta rupiah kini menjelma menjadi kain kafan bagi masa lalunya—berat oleh air, robek di bagian bawah, dan menyapu lumpur jalanan.

​Setiap kali lampu sorot mobil dari arah belakang menerangi tubuhnya, Zara akan melempar pandangan ketakutan ke samping, mengira itu adalah kilatan kamera ponsel para tamu undangan yang mengejarnya. Dunia telah berubah menjadi jaring laba-laba raksasa yang siap menangkap dan meremukkan dirinya. Otaknya yang kedinginan terus memutar ulang kalimat kejam sang ayah: “Nama belakangmu akan kuhapus dari Kartu Keluarga. Hubungan kita terputus.”

​"Aku harus ke mana?" bisik Zara, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh deru mesin kendaraan yang sesekali melintas.

​Pikirannya kosong, namun kakinya entah bagaimana membawanya menjauh dari kawasan perumahan elit tempat ia dibesarkan, menuju ke area pemukiman padat di pinggiran kota. Di sana, di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, terdapat sebuah rumah kos berlantai dua dengan cat hijau yang sudah mengelupas. Tempat itu adalah kosan Dita—sahabat sekaligus rekan kerjanya di minimarket sebelum Zara memutuskan resign karena akan menikah dengan Reza.

​Dengan sisa tenaga yang menyerupai lilin di ujung sumbu, Zara menaiki tangga besi luar kosan menuju kamar nomor 207. Tangan yang gemetar hebat itu mengetuk pintu kayu tripleks di depannya.

​Tok... tok... tok...

​Tidak ada jawaban. Zara mengetuk lagi, kali ini dengan menyandarkan seluruh dahi dan tubuhnya pada pintu. "Dit... tolong aku, Dit..."

​Di dalam kamar, Dita yang baru saja selesai menyetrika seragam kerjanya mengernyitkan dahi. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Siapa yang bertamu sepagi ini di tengah badai? Dengan penuh kewaspadaan, Dita membuka slot kunci dan menggeser pintu sedikit.

​"Siapa—" Kalimat Dita terputus. Matanya membelalak sempurna.

​Di ambang pintu, berdiri sesosok wanita yang menyerupai hantu. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, matanya bengkak keunguan, riasan wajahnya luntur membentuk garis-garis hitam di pipi, dan ia mengenakan gaun pengantin yang basah kuyup serta ternoda darah kering di bagian lengan.

​"Z-Zara?!" pekik Dita, menutup mulutnya sendiri. "Ya Allah, Zar! Kamu kenapa?!"

​Zara tidak menjawab. Kedua lututnya menyerah sepenuhnya. Ia ambruk ke depan, tepat di pelukan Dita yang dengan sigap menangkap tubuh ringkih itu. Dinginnya tubuh Zara menjalar ke kulit Dita, seolah-olah sahabatnya itu baru saja keluar dari dalam lemari es.

​Dita dengan cepat mengunci pintu, mengabaikan lantai kosannya yang kini tergenang air hujan dari gaun Zara. Ia membantu Zara duduk di atas kasur lipatnya yang tipis, lalu bergegas mengambil handuk kering dan daster katun miliknya yang paling longgar.

​"Zar, ganti baju dulu. Kamu bisa mati hipotermia kalau terus pakai gaun ini," ujar Dita dengan suara bergetar panik.

​Zara hanya mengangguk kaku, gerakannya seperti robot yang kehabisan daya. Dengan telaten, Dita membantu melepaskan kancing-kancing rumit di bagian belakang gaun pengantin itu. Ketika kain mewah itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara plop yang berat karena air, Dita tidak bisa menahan rona ngeri di wajahnya. Ada bekas memar kebiruan di pipi kiri Zara, dan punggung tangannya masih menyisakan darah yang mengering akibat jarum infus yang dicabut paksa.

​Setelah Zara mengenakan daster kering, Dita menyodorkan segelas teh manis hangat. Zara memegangnya dengan kedua tangan yang masih gemetar, menyeruputnya sedikit demi sedikit demi mengusir rasa beku di dadanya.

​"Zar..." Dita duduk di hadapan Zara, menatap sahabatnya dengan pandangan penuh simpati namun juga sarat akan pertanyaan. "Aku... aku sebenarnya sudah tahu kejadiannya."

​Zara mendongak cepat, matanya yang redup memancarkan ketakutan yang mendalam.

​"Video itu... tadi malam sekitar jam sebelas, viral di Twitter dan TikTok, Zar," lanjut Dita pelan, takut menyinggung luka. "Grup WhatsApp anak-anak minimarket juga heboh. Mereka billing pernikahanmu hancur karena... karena video itu. Tapi aku langsung maki-maki mereka! Aku bilang, aku kenal Zara. Zara tidak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu!"

​Mendengar pembelaan dari satu-satunya orang yang memercayainya, pertahanan Zara runtuh total. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir deras, membasahi daster Dita saat Zara memeluk sahabatnya itu dengan erat.

​"Bukan aku, Dit... Demi Allah, itu bukan aku!" isak Zara, dadanya kembang kempis karena sesak. "Ada orang yang jahat sama aku. Mereka pakai wajahku, mereka hancurkan pernikahanku! Mas Reza ceraikan aku di depan semua orang, Dit... Ibu mertuaku menampar aku... Dan yang paling sakit..." Zara mencengkeram dadanya sendiri, "Ayah dan Ibu mengusirku. Aku dibuang, Dit. Aku tidak punya keluarga lagi."

​Dita merasakan matanya memanas. Ia tahu betul bagaimana perjuangan Zara selama ini. Zara adalah gadis baik-baik yang bahkan sering melewatkan waktu makan demi mengirim uang untuk adiknya yang sekolah. Bagaimana mungkin orang-orang tega menuduhnya sebagai wanita pezina hanya karena sebuah video digital yang belum jelas keabsahannya?

​"Bajingan," umpat Dita pelan, air matanya ikut menetes. "Siapa pun yang melakukan ini, dia benar-benar iblis. Lalu sekarang orang tuamu di mana? Kenapa mereka tega mengusirmu di tengah hujan seperti ini?"

​"Ayah dipecat dari kantornya karena video itu. Keluarga Mas Reza menuntut ganti rugi dua miliar rupiah. Tabungan mereka habis," urai Zara di sela tangisnya. "Mereka malu, Dit. Mereka merasa aku pembawa sial. Aku... aku ingin mati saja rasanya. Kenapa aku harus bangun lagi di rumah sakit tadi? Kenapa Tuhan tidak cabut nyawaku saja saat aku pingsan?!"

​"Zar! Istigfar, Zar! Jangan bicara begitu!" Dita memegang kedua bahu Zara dengan kencang, mengguncangnya sedikit agar kesadaran sahabatnya kembali. Dita melihat kilat keputusasaan yang sangat berbahaya di mata Zara—kilat yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang sudah menyerah pada hidup dan berniat mengakhirinya.

​"Aku tidak kuat, Dit... ke mana pun aku pergi, orang-orang melihatku seolah aku ini sampah. Aku tidak punya masa depan lagi," rintih Zara, menatap tajam ke arah sudut kamar, seolah-olah sedang mencari tali atau benda tajam untuk mengakhiri penderitaannya.

​Melihat gelagat itu, ketakutan besar menjalar di hati Dita. Ia tidak boleh membiarkan Zara sendirian. Jika Zara keluar dari pintu kosan ini dalam keadaan sekacau ini, besok pagi Dita mungkin hanya akan mendengar berita penemuan mayat di sungai atau di kolong jembatan.

​"Zar, dengarkan aku," ucap Dita, mengubah nada suaranya menjadi sangat serius dan tegas. Ia menggenggam jemari Zara yang sedingin es. "Kalau kamu tetap di kota ini, kamu akan gila. Netizen, tetangga, bahkan keluarga Reza tidak akan membiarkan kamu tenang. Kamu harus pergi jauh dari sini. Pergi ke tempat di mana tidak ada satu orang pun yang mengenal wajahmu."

​Zara menatap Dita dengan bingung. "Pergi? Ke mana? Aku tidak punya uang sepeser pun. Koperku dilempar Ayah, isinya basah, dan aku tidak tahu harus ke mana."

​Dita terdiam sejenak, otaknya berputar cepat mencari solusi. Ia sendiri hanya seorang kasir minimarket dengan gaji pas-pasan, tidak mungkin bisa menyembunyikan Zara di kosannya terus-menerus. Pemilik kos pasti akan curiga, dan lambat laun keberadaan Zara akan tercium oleh orang luar.

​Tiba-tiba, sebuah kilatan ide muncul di kepala Dita.

​"Tasikmalaya," cetus Dita.

​"Hah? Tasikmalaya?" Zara mengernyitkan dahi.

​"Iya. Di sana, di daerah kaki gunung yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar, ada sebuah desa kecil. Di desa itu, pamanku—kakak kandung ibuku—memimpin sebuah pondok pesantren. Nama beliau Kyai Mukhlas. Pesantrennya tidak terlalu besar, tapi sangat tenang. Suasananya damai sekali, Zar," jelas Dita dengan mata berbinar penuh harapan.

​Zara menarik tangannya perlahan. "Pesantren? Tapi Dit... aku... aku sedang dalam kondisi kotor seperti ini. Aku dicap pezina oleh seluruh negeri. Bagaimana mungkin aku menginjakkan kaki di tempat suci seperti pesantren? Aku takut mengotori tempat pamanmu."

​Dita menggeleng keras. Ia memeluk Zara lagi, kali ini dengan kehangatan seorang saudara. "Zar, pesantren itu tempat untuk menyembuhkan jiwa, bukan tempat untuk orang-orang yang merasa dirinya paling suci. Paman Mukhlas itu orangnya sangat bijaksana. Beliau tidak pernah menghakimi orang dari apa yang terlihat di luar. Di sana, kamu bisa menenangkan pikiranmu. Kamu bisa belajar mengaji lagi, salat dengan tenang, dan yang paling penting: tidak akan ada sinyal internet yang mengganggumu di sana. Netizen tidak akan mencarimu sampai ke pelosok Tasikmalaya."

​Zara merenungkan kata-kata Dita. Tasikmalaya. Sebuah kota yang asing baginya. Jauh dari Jakarta, jauh dari pelaminan yang berdarah, jauh dari tatapan penuh kebencian dari Reza dan orang tuanya. Pemikiran untuk menghilang dari radar dunia luar mendadak terasa sangat menggiurkan.

​"Tapi, bagaimana aku bisa ke sana? Aku benar-benar tidak punya ongkos," bisik Zara lirih.

​Dita bangkit berdiri, melangkah menuju lemari pakaian kecilnya. Dari balik tumpukan baju, ia mengeluarkan sebuah celengan kaleng berbentuk ayam. Tanpa ragu, Dita menggunakan pisau dapur untuk memotong bagian bawah celengan tersebut. Lembaran uang puluhan ribu dan beberapa ratus ribu rupiah berhamburan di atas kasur.

​"Ini tabunganku untuk mudik nanti. Ada sekitar satu setengah juta rupiah. Ini cukup untuk ongkos bus ke Tasikmalaya dan bekal awalmu di sana," kata Dita sembari merapikan uang-uang tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop cokelat.

​"Dit... tidak, aku tidak bisa menerima ini. Ini uang mudikmu," tolak Zara, merasa semakin menjadi beban bagi orang lain.

​"Zara Amanta, dengarkan aku!" potong Dita dengan mata berkaca-kaca. "Uang bisa dicari lagi. Aku bisa lembur di minimarket bulan ini. Tapi nyawamu, harga dirimu, itu tidak ada gantinya. Aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku hanya karena kamu nekat terjun dari jembatan karena frustrasi! Tolong, terima uang ini, dan pergilah subuh ini juga."

​Air mata Zara menetes lagi, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Di tengah dunia yang mendadak mengutuknya, Tuhan masih menyisakan satu malaikat tak bersayap dalam wujud Dita.

​"Terima kasih, Dit... Terima kasih banyak. Aku berjanji akan mengembalikan uang ini suatu hari nanti," bisik Zara dengan suara tercekat.

​"Jangan pikirkan soal ganti rugi. Pikirkan saja bagaimana cara kamu bertahan hidup dan menyembuhkan hatimu," sahut Dita tersenyum tulus.

​Sisa malam itu dihabiskan Dita untuk mengeringkan beberapa potong pakaian Zara yang sempat diselamatkan dari koper basah yang dibawa Zara. Dita juga membuatkan surat pengantar pendek yang ditulis tangan untuk pamannya di Tasikmalaya, menjelaskan secara garis besar bahwa Zara adalah temannya yang sedang butuh tempat untuk menenangkan diri dari masalah keluarga, tanpa menyebutkan detail mengenai skandal video tersebut demi menjaga privasi Zara.

​Pukul empat subuh, azan terdengar berkumandang samar di antara sisa-sisa rintik hujan. Kota Jakarta masih enggan terbangun, namun bagi Zara, ini adalah waktu untuk melarikan diri sebelum matahari menelanjangi keberadaannya di bawah pandangan publik.

​Zara kini mengenakan gamis hitam polos milik Dita yang sedikit kelonggaran, lengkap dengan kerudung instan berwarna senada. Wajahnya yang bengkak tertutup masker medis—sebuah penyamaran yang sempurna untuk menyembunyikan identitas "pengantin viral" yang sedang dicari-cari.

​"Kamu naik ojek online yang sudah kupesankan ini langsung ke Terminal Kampung Rambutan," instruksi Dita sambil menyerahkan tas ransel kecil berisi pakaian kering dan amplop cokelat berisi uang. "Nanti di terminal, langsung cari bus jurusan Tasikmalaya. Bilang saja turun di terminal tipe A Tasikmalaya. Nanti dari sana, kamu naik angkot atau ojek lagi ke alamat pesantren Paman Mukhlas yang sudah kutulis di kertas ini."

​Zara mengangguk paham, memorinya necking setiap instruksi dengan cermat. "Kamu tidak ikut, Dit?"

​"Aku harus masuk sif pagi jam enam, Zar. Kalau aku bolos, manajer bisa curiga dan mungkin polisi atau keluarga Reza akan mencariku ke kosan ini jika mereka tahu kita berteman dekat. Lebih baik aku tetap di sini bertingkah biasa saja seolah tidak tahu apa-apa," jawab Dita rasional.

​Zara memeluk Dita untuk terakhir kalinya. Pelukan yang erat, menyalurkan seluruh rasa terima kasih yang tidak akan pernah cukup diwakili oleh kata-kata.

​"Jaga dirimu baik-baik di sana, Zar. Jangan pernah berpikir untuk menyerah pada hidup lagi. Ingat, badai pasti berlalu. Suatu saat, kebenaran akan terungkap," bisik Dita menyemangati.

​"Iya, Dit. Aku akan bertahan. Demi kamu yang sudah menolongku," janji Zara.

​Dengan langkah yang lebih mantap dari beberapa jam lalu, Zara melangkah keluar dari kamar kos Dita. Ia menuruni tangga besi, menyongsong udara subuh yang dingin dan menusuk tulang. Di ujung gang, sebuah motor dengan jaket hijau sudah menunggunya.

​Saat motor itu mulai melaju membelah jalanan ibu kota yang masih sepi, Zara menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak samar di balik kabut subuh. Kota ini telah memberinya segalanya, dan dalam semalam, kota ini pula yang merenggut seluruh kebahagiaannya.

​Selamat tinggal, Mas Reza. Selamat tinggal, Ayah, Ibu, batin Zara dengan hati yang mengeras bagai batu. Kalian memilih untuk memercayai sepotong video digital daripada anak dan istri kalian sendiri. Hari ini aku pergi sebagai sampah, tapi aku bersumpah, aku tidak akan mati sekonyol yang kalian pikirkan.

​Terminal Kampung Rambutan subuh itu sudah mulai menggeliat. Bau asap solar, teriakan para kenek bus, dan hilir mudik calon penumpang membuat kepala Zara yang masih pening semakin berdenyut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merapatkan maskernya hingga batas mata, dan berjalan cepat mengikuti petunjuk arah menuju jalur bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

​"Tasik! Tasik! Tasik! Langsung berangkat, Teh!" teriak seorang pria paruh baya berjaket kulit kusam, melambaikan tangannya ke arah Zara.

​Zara mendekat dengan ragu. "Ke Terminal Tasikmalaya, Pak?"

​"Iya, Teh. Bus Budiman, AC cepat. Lewat jalur Lingkar Gentong. Ayo langsung naik, bangku belakang masih ada yang kosong," ajak sang kenek dengan ramah.

​Zara membayar tiket dengan uang dari amplop Dita, lalu melangkah naik ke dalam bus yang berukuran besar tersebut. Ia memilih duduk di barisan paling belakang, tepat di dekat jendela. Di dalam bus yang remang-remang, ia bisa sedikit bernapas lega. Penumpang lain tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri—ada yang tidur berbantalkan tas, ada yang mendengarkan musik menggunakan earphone, dan syukurlah, tidak ada yang memperhatikan dirinya.

​Mesin bus menderu keras, lalu perlahan bergerak meninggalkan area terminal.

​Begitu bus memasuki jalan tol, Zara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Pemandangan luar berganti dari beton-beton ibu kota menjadi hamparan sawah dan perbukitan hijau seiring bus bergerak memasuki wilayah Jawa Barat. Namun, keindahan alam yang tersaji di luar tidak mampu mengusir mendung yang menggelayuti hati Zara.

​Setiap kali bus berguncang karena jalanan yang tidak rata, ingatan Zara terlempar kembali ke momen di atas pelaminan. Ia ingat bagaimana kasarnya tangan Reza saat menepis genggamannya. Pria yang selama dua tahun ini memujanya, pria yang berjanji akan menjaganya dalam suka dan duka di depan kitab suci, ternyata adalah orang pertama yang menancapkan belati ke jantungnya.

​“Janji itu batal, Zara. Aku tidak sudi berbagi ranjang dengan wanita menjijikkan seperti kamu.”

​Suara Reza terus terngiang, berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa. Zara memejamkan mata erat-erat, air matanya merembes dari sudut mata, membasahi kain masker yang ia kenakan. Rasa sakit akibat dikhianati oleh cinta sejatinya terasa jauh lebih perih daripada tamparan fisik yang ia terima dari sang ibu mertua.

​"Kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku, Mas?" bisik Zara dalam hati, meremas ujung gamisnya hingga kusut. "Kenapa sebuah video palsu bisa menghapus seluruh kenangan dan kepercayaan yang kita bangun selama bertahun-tahun?"

​Bus terus melaju membelah aspal, membawa Zara semakin jauh ke selatan, menuju sebuah tempat asing bernama Tasikmalaya. Sebuah tempat yang ia harapkan bisa menjadi pelabuhan bagi jiwanya yang telah karam, atau mungkin awal dari sebuah babak baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!