Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari jumat pagi tiba dengan cuaca yang sedikit mendung di langit ibu kota.
Sudah empat hari berlalu sejak kejadian penangkapan Pak Anton oleh tim audit pusat pada hari senin lalu.
Budi membuka matanya dengan perasaan yang sangat segar dan damai.
Kehidupannya di kantor selama empat hari terakhir terasa seperti surga tanpa adanya tekanan dari bos yang tiran.
Budi langsung duduk di tepi kasurnya dan memanggil sistem papan permainannya.
'Hari ini adalah penentuan, semoga saldonya sudah cukup untuk melunasi semuanya.'
Ting.
Layar hologram biru bercahaya terang muncul di hadapan Budi menembus udara pagi yang dingin.
Papan Monopoli itu terlihat semakin megah dengan tiga petak properti yang terus menyala.
Mata Budi langsung mengarah ke deretan angka di sudut kanan atas layar tersebut.
Saldo Sistem saat ini adalah tujuh belas juta delapan ratus dua puluh lima ribu rupiah.
Budi mengepalkan tangannya kuat kuat dan meninju udara dengan penuh semangat.
"Akhirnya target utamanya tercapai juga."
"Uang ini sudah lebih dari cukup untuk menutupi sisa utang pokok bapak ke rentenir itu."
Budi segera membuka menu penarikan tunai dari layar sistemnya.
Dia tidak mau menunggu sampai tiga bulan seperti janjinya kepada Bang Jali tempo hari.
Dia ingin melunasi sisa utang tujuh belas juta itu sore ini juga agar hidupnya benar benar merdeka.
"Sistem, aku ingin menarik uang tunai fisik sebesar tujuh belas juta rupiah sekarang."
Ting.
Permintaan penarikan tunai diterima oleh sistem.
Uang fisik sedang dimaterialisasi dan akan dimasukkan langsung ke dalam tas kerja pengguna untuk menghindari kecurigaan.
Sisa Saldo Sistem saat ini adalah delapan ratus dua puluh lima ribu rupiah.
Budi langsung menoleh ke arah tas selempangnya yang tergeletak di atas kursi plastik.
Tas yang tadinya kempes itu kini terlihat sangat menggelembung dan penuh.
Budi membuka ritsleting tasnya dan melihat tumpukan uang pecahan seratus ribu yang diikat rapi dengan karet gelang.
'Ini benar benar gila, sistem ini bisa mencetak uang asli dari udara kosong.'
Budi menutup tasnya kembali dengan hati hati dan bergegas mandi untuk berangkat ke kantor.
Sesampainya di ruang divisi administrasi, suasana kerja terasa sangat santai.
Reno sedang duduk di mejanya sambil memutar mutar bolpoin dengan wajah bosan.
Siska juga tidak banyak tingkah dan hanya fokus mengerjakan laporannya sendiri dalam diam.
"Pagi Bud, wajahmu cerah sekali padahal di luar sedang mendung."
Reno menyapa sahabatnya itu saat Budi baru saja meletakkan tasnya di meja.
"Pagi Ren, hari ini memang hari yang sangat spesial buatku."
Budi menjawab sambil tersenyum lebar dan menyalakan komputernya.
"Spesial bagaimana maksudmu Bud, kau mau dapat promosi jabatan menggantikan Pak Anton ya."
Reno bertanya dengan nada bercanda sambil tertawa kecil.
"Bukan urusan kantor Ren, tapi ini urusan kebebasan pribadiku."
"Hari ini aku akan melunasi seluruh sisa utang peninggalan bapakku secara lunas."
Mata Reno langsung membulat sempurna mendengar ucapan Budi barusan.
"Serius kau Bud, bukannya sisa utangmu itu masih belasan juta rupiah."
"Dari mana kau dapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat begini."
Budi sudah menyiapkan jawaban yang logis agar Reno tidak curiga terlalu jauh.
"Bos restoran tempatku mengerjakan pembukuan itu ternyata sangat dermawan Ren."
"Dia memberikan bonus proyek di muka karena pekerjaanku berhasil menyelamatkan pajaknya dari denda besar."
Reno menepuk punggung Budi dengan sangat keras saking senangnya.
Brak.
"Gila kau Bud, aku benar benar ikut merinding mendengarnya."
"Akhirnya kau bisa hidup tenang tanpa dikejar kejar preman berjaket kulit itu lagi."
"Terima kasih Ren, kau juga selalu mendukungku saat keadaanku sedang hancur."
Jam kerja hari jumat berjalan dengan sangat cepat dan damai.
Sore harinya Budi berpamitan lebih awal pada Reno karena tidak sabar ingin segera pulang.
Dia berjalan keluar dari gedung kantor dengan tangan yang terus memegangi tas selempangnya erat erat.
Perjalanan pulang di dalam bus kota terasa sangat mendebarkan bagi Budi.
Dia membawa uang tunai tujuh belas juta di dalam tasnya, jumlah yang tidak pernah dia pegang seumur hidupnya.
Saat turun di halte jalan utama, Budi memutuskan untuk mampir sebentar ke minimarket.
Dia mendorong pintu kaca minimarket itu dan lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
Ting tong.
Maya sedang berdiri di belakang mesin kasir merapikan beberapa bungkus permen.
Begitu melihat Budi masuk, senyum manis langsung merekah di wajah perempuan itu.
Senyum itu kini terasa jauh lebih hangat dan akrab setelah kencan makan malam mereka minggu lalu.
"Sore Mas Budi, pulangnya cepat sekali hari jumat ini."
Maya menyapa dengan nada yang sangat ceria.
"Sore Mbak Maya, iya kebetulan pekerjaan di kantor sudah beres semua jadi bisa pulang lebih awal."
Budi melangkah mendekati meja kasir tanpa mengambil barang belanjaan apa pun.
"Loh Mas Budi tidak beli minum atau camilan sore ini."
"Tidak Mbak, saya mampir cuma mau melihat senyum Mbak Maya saja sebelum pulang ke kosan."
Wajah Maya seketika berubah menjadi merah merona mendengar godaan langsung dari Budi.
"Mas Budi ini mulai pintar menggombal ya sejak kita jalan bareng minggu lalu."
Maya menutupi sebagian wajahnya dengan tangannya karena salah tingkah.
Budi tertawa renyah mengingat kencan manis mereka di Kedai Pak Mamat yang sukses besar.
"Saya bicara jujur kok Mbak Maya, rasanya capek kerja seharian langsung hilang kalau sudah mampir ke sini."
"Oh ya, hari minggu besok Mbak Maya kebetulan libur lagi tidak."
Maya menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Iya Mas, saya kebetulan dapat jadwal libur hari minggu lagi."
"Ada apa Mas Budi, kangen mau makan nasi goreng spesialnya Pak Mamat lagi ya."
Maya membalas godaan Budi dengan tawa kecil yang renyah.
"Nasi gorengnya memang enak, tapi saya sebenarnya punya alasan lain."
"Hari ini saya baru saja menyelesaikan masalah utang keluarga saya sampai lunas tak bersisa."
Mata Maya langsung berbinar bahagia mendengar kabar baik tersebut.
"Ya ampun Mas Budi, saya ikut senang mendengarnya."
"Syukurlah akhirnya beban Mas Budi bisa hilang semuanya."
"Karena itu saya mau mengajak Mbak Maya jalan jalan ke mal hari minggu besok untuk merayakannya."