Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Malam pertama di apartemen mewah Bella beneran terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ruang tamu apartemen ini luasnya kebangetan. Lantainya terbuat dari marmer mahal yang mengkilap banget sampai gue bisa lihat pantulan wajah gue sendiri di sana. Bella sibuk membereskan barang barang gue yang cuma sedikit itu ke dalam kamar tamu yang ukurannya bahkan tiga kali lipat lebih besar dari kamar kosan gue yang dulu.
"Raka kamu istirahat dulu aja di sofa ya. Biar aku yang beresin sisa pakaian kamu. Kamu kan baru sembuh jadi jangan terlalu banyak gerak dulu," ucap Bella sambil tersenyum manis banget ke arah gue. Senyumnya itu beneran bikin hati gue meleleh seketika.
"Makasih banyak ya Bel. Gue beneran ngerasa jadi raja dadakan nih kalau lu layani begini," balas gue sambil membalas senyumannya.
"Sama sama Raka. Ini belum seberapa dibandingkan nyawa yang udah kamu selamatkan," jawab Bella lembut sebelum akhirnya masuk lagi ke dalam kamar tamu.
Gue merebahkan punggung gue di sofa kulit yang empuknya luar biasa. Layar hologram biru dari sistem mendadak muncul lagi tepat di depan wajah gue. Suara robotik sistem langsung menggema di dalam kepala gue.
"Misi Utama Tahap Satu Berhasil Diselesaikan Sempurna. Tuan Rumah telah resmi menempati apartemen Target Bella. Mencairkan hadiah berupa Keahlian Tarung Jalanan Level Maksimal dan Tambahan Saldo Uang Tunai Lima Puluh Juta Rupiah."
Seketika itu juga gue merasakan aliran energi panas menyengat mengalir cepat ke seluruh otot tubuh gue. Otot dada dan lengan gue terasa makin padat berisi. Ingatan tentang ratusan gaya pertarungan jalanan langsung masuk ke dalam otak gue secara paksa. Mulai dari cara memukul menendang mengunci lawan sampai cara menggunakan barang barang sekitar sebagai senjata mematikan. Tubuh gue sekarang punya refleks tarung yang setara dengan petarung jalanan profesional yang tidak pernah kalah. Otak gue sekarang penuh dengan insting bertarung mematikan.
Gue membuka aplikasi bank di ponsel gue yang layarnya retak retak. Saldo gue sekarang bertambah menjadi seratus lima puluh juta rupiah. Tangan gue sampai gemetar memegang ponsel. Uang sebanyak ini rasanya tidak masuk akal tapi ini semua nyata di depan mata gue. Kehidupan miskin gue benar benar sudah berakhir malam ini juga.
"Raka kamu mau makan malam apa malam ini. Biar aku pesankan lewat aplikasi saja ya supaya cepat datang," teriak Bella dari arah dapur yang mewah itu.
"Terserah lu aja Bel. Gue makan apa aja pasti masuk kok," jawab gue santai.
Gue duduk tegak dan mulai membuka menu katalog di toko sistem. Poin sistem gue sekarang ada seribu poin berkat penyelesaian beberapa pencapaian tersembunyi selama proses kepindahan tadi. Mata gue langsung tertuju pada satu barang yang menarik perhatian gue. Namanya Parfum Pemikat Sukma seharga delapan ratus poin. Deskripsi barang itu bilang kalau wangi parfum ini bisa membuat wanita mana pun yang menciumnya merasa sangat nyaman rileks dan menumbuhkan rasa ketertarikan seksual yang kuat kepada pemakainya.
Tanpa pikir panjang gue langsung membeli parfum ajaib itu. Poin gue tersisa dua ratus. Tiba tiba sebuah botol kaca kecil elegan berwarna emas muncul begitu saja di dalam genggaman tangan kanan gue. Wanginya sangat harum dan maskulin tapi tidak menyengat hidung sama sekali. Gue menyemprotkan sedikit parfum itu ke leher dan pergelangan tangan gue. Aromanya menyebar cepat memenuhi ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Bella berjalan mendekat ke arah gue. Langkahnya tiba tiba melambat saat dia mencium aroma parfum itu. Mata indahnya menatap wajah gue dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya. Pandangannya terlihat lebih sayu dan napasnya sedikit lebih cepat.
"Raka wangi parfum kamu enak banget. Aku belum pernah mencium aroma maskulin senyaman ini sebelumnya," ucap Bella sambil duduk di sebelah gue. Jarak duduk kami sangat dekat sampai bahu kami bersentuhan langsung.
"Ah ini cuma parfum murah yang gue beli di pinggir jalan kok Bel. Syukurlah kalau lu suka wanginya," jawab gue pura pura merendah padahal dalam hati gue tertawa puas melihat efek instan parfum mematikan ini.
Bella menyandarkan kepalanya pelan ke bahu gue. Tingkat kasih sayang di layar sistem atas kepalanya langsung berkedip kedip naik menjadi sembilan puluh persen. Gila efek parfum ini benar benar mengerikan. Hanya dalam beberapa menit Bella sudah merasa sangat nyaman bersandar di bahu gue.
"Raka aku senang banget kamu ada di sini nemenin aku. Selama ini apartemen ini terasa sangat dingin dan sepi. Kehadiran kamu bikin tempat ini jadi terasa seperti rumah yang hangat," bisik Bella pelan di telinga gue. Hembusan napasnya membuat leher gue merinding kegirangan.
Gue menoleh menatap wajah cantiknya dari jarak sedekat ini. Bibir merahnya terlihat sangat menggoda. Jantung gue berdegup kencang seperti mau meledak. Suasana mendadak menjadi sangat intim dan romantis. Mata kami saling bertatapan mengunci satu sama lain. Tubuh Bella secara insting bergerak semakin merapat ke arah tubuh gue. Dia memejamkan mata pelan pelan menunggu sesuatu terjadi di antara kami berdua.
Gue menelan ludah kasar mempersiapkan mental. Namun tepat sebelum bibir kami bersentuhan suara bel apartemen berbunyi sangat nyaring memecah keheningan romantis kami. Ting tong ting tong. Bunyinya terus menerus ditekan tanpa jeda dengan sangat kasar.
Bella langsung membuka matanya dengan terkejut dan menarik tubuhnya menjauh dari gue. Wajahnya langsung memucat seketika berubah ketakutan. Suasana romantis hancur lebur dalam hitungan detik.
"Siapa yang datang malam malam begini Bel," tanya gue dengan nada kesal karena momen emas gue diganggu tamu tidak diundang.
"Aku tidak tahu Raka. Tapi perasaanku mendadak sangat tidak enak," jawab Bella dengan suara bergetar pelan.
Tiba tiba terdengar suara gedoran keras memukul pintu kayu jati depan. Gedorannya sangat kasar seperti orang sedang marah besar.
"Bella buka pintunya. Aku tahu kamu ada di dalam sama cowok gembel itu. Buka sekarang sebelum aku dobrak paksa pintu apartemen kamu," teriak seorang cowok dari luar pintu dengan nada suara mengancam penuh amarah.
Mata Bella terbelalak kaget. Dia memegang lengan gue sangat erat. Tubuhnya gemetar ketakutan menempel pada gue.
"Itu suara Kevin Raka. Dia senior arogan dari kampus kita anak dari penguasa bisnis properti paling besar di kota ini. Dia sudah lama terobsesi mau jadiin aku pacarnya tapi aku selalu menolak keras. Pasti ada mata mata dia yang melihat kita pulang berdua ke apartemen ini. Raka aku takut banget sama dia. Dia itu sering main fisik dan punya banyak preman bayaran," ucap Bella menangis panik di pelukan gue.