NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. jaksa yang tegas dan berkharisma

Arka baru datang ke kantor kejaksaan keesokan hari saat sore, dia berjalan di koridor setelah keluar dari lift, menuju ruangan kerjanya dengan santai dan melepas maskernya, berbalut jas abu abu dengan kaos hitam, dan celana hitam, jaksa muda itu terlihat tetap tampan, meski tanpa pakaian rapi kemeja dan dasi seperti biasanya.

"Pak Arka tunggu!!" Dari pintu kaca Marcus Hotman Lubis baru saja keluar dan menyodorkan sebuah map tebal hitam ke pria itu. "Eoh? Apa nih, Marc?" Tanya Arka berhenti melangkah.

"Ini laporan lengkap hasil interogasi kepolisian terhadap Suhendra sejak pagi tadi. Selain itu... ada keluarga tersangka yang ingin bertemu sama loe juga," Jawab Marcus sambil menyeringai penuh arti.

"Di mana dia? Tsk~... dasar tak punya malu. Kenapa masih berani-beraninya mau menemuiku, hah?" Arka mendengus kesal.

"Dia sudah menunggu di ruangan loe bang. Ini kan kasus yang loe pegang penuh, jadi hak loe penuh untuk bertemu atau menolak. Oh ya, kasus Suherman—adiknya beserta seluruh komplotan mereka—sudah aku ambil alih dan  aku yang akan menangani selanjutnya," Jelas Marcus.

"Eum, oke deh baguslah kalau begitu. Siapa yang menungguku? Wanita?" Arkanendra mengernyitkan dahi, bergegas kembali melangkah menyusuri koridor menuju ruang tamu kantornya.

"Tadi petugas resepsionis bilang... tamu loe itu gadis muda, hehehe. Katanya sih cantik banget, kekekeke..." Marcus terkikik jahil sambil mengikuti langkah Arka dari belakang. "Aku rasa dia datang mau melakukan negosiasi soal kasus Suhendra ini. Siapa tahu ada tawaran menarik ke elo.."

"Ahh sudahlah, aku ke sana dulu. Lihat saja nanti" Arka mengibaskan tangannya tak acuh.

Marcus mengangguk lalu berhenti di tempat, membiarkan rekannya itu melangkah sendirian. Namun bibirnya yang penuh itu mengerucut sebal menatap punggung tegap Arka yang menjauh.

"Ck ck ck... Dia selalu saja dicari wanita cantik. Haish... kemarin si Hera yang genit itu, sekarang ini ada lagi. Huh... dasar bang Arka bikin iri saja," Gumam Marcus pelan sambil kembali masuk ke ruang kerjanya sendiri.

*

*

Baru saja Arkanendra melangkah masuk ke ruang kerjanya dan melihat sosok yang duduk menunggu di sana, matanya langsung membelalak terkejut. Namun secepat kilat dia menutupi reaksi itu, berusaha tetap menampilkan wajah dingin dan datarnya.

"Selamat sore, Pak Jaksa," Sapa wanita cantik itu dengan suara manja.

Arka mengangguk singkat, lalu memberi kode agar wanita itu duduk di sofa tamu, dia sendiri duduk di kursinya, menatap sosok wanita di hadapannya dengan pandangan datar tanpa emosi.

"Untuk kepentingan apa anda menemui saya?" Tanyanya langsung pada inti masalah.

"Mas Ar... maaf, sebenarnya aku----"

"Maaf, Nona. Tolong panggil saya dengan sebutan resmi. Katakan saja apa tujuan anda datang ke sini" Potong Arka tegas, tak memberi ruang keakraban sedikit pun.

Wanita cantik bernama Maya Widiasari itu meremas kedua tangannya yang lentik karena gugup sekaligus kesal.

"Pak Arka... saya mohon, tolong bebaskan ayah saya. Setidaknya berikan keringanan hukuman, tak masalah meskipun harus bayar mahal, Saya mohon, Pak Arka..." Suaranya berubah memelas.

"Tidak bisa. Semua penyelidikan dan proses hukum akan berjalan sesuai prosedur yang berlaku. Satu-satunya hal yang bisa membebaskan atau meringankan hukuman ayahmu hanyalah bukti-bukti baru yang kuat dan sah secara hukum. Di luar itu, tak ada jalan lain," Jawab Arka dingin dan pasti.

"Ku mohon, Pak Jaksa... hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Apapun syaratnya... Pak Arka boleh meminta apapun dari saya. Sekalipun anda meminta tubuhku, aku rela menyerahkannya demi bisa bebasnya ayahku," Ucap Maya dengan nada menggoda.

Perlahan Maya menggeser duduknya, berpindah mendekat hingga kini berada tepat di samping Arkanendra. Dia menggigit bibirnya dengan seksi, lalu perlahan tangan halusnya bergerak mengusap pipi dan rahang wajah tampan itu dengan tatapan memuja dan terpesona. Tak berhenti di situ, jari-jarinya bergerak turun mengusap leher dan jakun Arka dengan gerakan sangat sensual.

Sengaja atau tidak, Maya melepas dua kancing teratas gaunnya, membuat belahan dadanya yang penuh dan ranum terlihat jelas, berusaha sekuat tenaga menggoda jaksa muda itu. Dia berharap Arka akhirnya goyah, dan citra dingin serta kaku yang selalu dipajang pria itu sedikit saja luntur.

Arka langsung bangkit berdiri seketika. Tubuhnya memang terasa memanas karena godaan sentuhan wanita itu di leher dan wajahnya, namun rasa kesal dan marah lebih besar menguasai dirinya. Dia benci sekali ada orang yang bertindak tak sopan dan menyinggung hal-hal tidak senonoh di tempat kerjanya.

"Keluarlah dari sini sekarang! Dan pakai bajumu dengan benar, atau saya sendiri yang akan melemparmu keluar dari pintu ini!" Bentak Arka dingin namun berwibawa.

"Mas... kenapa kamu sekejam ini?! Setidaknya pertimbangkanlah masa lalu kita. Kita ini pernah saling mencintai, kita pernah jadi sepasang kekasih..." Seru Maya tak terima.

"Saya bilang keluarlah, Nona Maya!" Arka menunjuk pintu keluar dengan wajah keras dan berbalik memunggungi wanita itu.

"Wanita sialan! umpatnya dalam hati. Hampir saja aku lengah dan hanyut dengan rangsangan itu. Untung saja akal sehatku masih berfungsi baik saat ini" Geram Arka kesal

"KELUARLAH!!" Bentaknya sekali lagi saat Maya diam terpaku.

"Cih... dasar keras kepala! Ingat saja, aku takkan diam saja. Aku akan mengirimkan pengacara terbaik dan paling hebat untuk membebaskan ayahku!" Geram balik Maya makin kesal. "Terserah saja. Sekarang pergilah dari sini," Jawab Arka acuh tak acuh.

Dengan amarah yang meluap, Maya Widiasari menghentakkan sepatu berhak tingginya kesal. Dia berjalan keluar sambil membanting pintu kayu besar ruangan itu dengan dada yang sesak karena emosi tertahan.

Tak lama berselang, Maya kembali melangkah masuk, atau tepatnya berhenti di ambang pintu yang belum tertutup rapat.

"Hyaaa... Pak Jaksa, pembicaraan kita belum selesai!" Serunya lagi.

Arka hanya menanggapi dingin. Dia tetap berjalan tak menggubrisnya, dia sudah sangat muak dengan wanita yang tadi masuk ke ruangannya, merayu, menggoda dengan seluruh tubuhnya tanpa rasa malu, namun ditolak mentah-mentah olehnya, dan kini berakhir dengan kemarahan setengah mati.

"Pembicaraan apa lagi, Nona Maya? Soal urusan ayahmu, kita akan bertemu di pengadilan minggu depan saat persidangan dibuka. Dan soal pengacaramu, saya akan mengatur jadwal pertemuan dengannya lusa. Hari ini saya sibuk, tolong jangan mencari saya lagi," Jawab Arka tanpa menoleh sedikit pun.

Maya merengut kesal. Sia-sia saja semua usahanya merayu, berharap bisa membuat Arkanendra mau membantu meringankan hukuman ayahnya, meskipun untuk bebas bersyarat rasanya tak mungkin. Nyatanya, dia malah ditolak dengan kejam dan dipermalukan. "Dasar jaksa sialan!" Geramnya menghentak kaki nya.

Tanpa menoleh lagi, Arka berjalan santai meninggalkan kantornya. Dia berjalan menuju mobil Porsche putih miliknya yang terparkir di halaman depan gedung kejaksaan, lalu masuk dan melaju pergi tanpa peduli sedikit pun ada seseorang yang berdiri di area parkir dengan rasa frustrasi luar biasa karena sikap dinginnya.

"Dari tadi aku ikuti terus langkahmu sejak dari dalam gedung, tapi tetap saja keras kepala... Huh! Aku sangat menyesal meminta putus dulu! Jika saja sekarang aku masih jadi pacarmu, pasti takkan sesulit ini minta tolong padamu. Arghh... brengsek!" Umpat Maya sambil menghentakkan kakinya di aspal.

"Nona... bagaimana hasilnya? Apa ada jalan penyelesaian soal ini? Jaksa penuntutnya kan bisa diajak negosiasi kan?" Tanya Pak Harun, kuasa hukum yang disewa keluarganya, mendekat ragu-ragu.

"Besok saja, Pak Harun! Kita urus masalah itu besok saja. Aku mau pulang dulu!" Bentak Maya kesal tak mau dibantah.

Maya segera memakai kacamata hitamnya setelah melampiaskan kekesalannya pada pengacara tua itu, lalu masuk ke mobil Chevrolet putih miliknya. Hati dan pikirannya masih sangat panas dan kesal mengingat sikap dingin Arkanendra tadi.

*

*

Di balik kemudi mobil Porsche putihnya yang melaju mulus membelah jalanan ibukota, Arkanendra menyandarkan punggungnya dengan santai, namun pikirannya sama sekali tak tenang. Matanya menatap jalan raya di depannya, tapi bayangan wajah Maya Widiasari terus saja melintas di kepalanya.

"Maya..." Dia bergumam pelan.

Pria itu tak bisa menyangkal, wanita itu memang menjadi satu-satunya nama yang paling lekat dalam sejarah asmaranya. Maya adalah pacar terakhirnya, satu-satunya wanita yang pernah berhasil mengisi hatinya sebelum akhirnya Arka memutuskan untuk hiatus, dan menutup rapat pintu hatinya urusan asmara. Hubungan mereka berakhir sejak lima tahun lalu, setelah itu Arka tak pernah lagi memiliki kekasih hingga hari ini.

Kehadiran wanita itu tadi kembali mengusik ketenangannya, seolah ingin menariknya kembali ke masa lalu yang sudah dia kubur dalam-dalam.

"Dasar wanita sialan... berani-beraninya menawarkan diri," Gumam Arka pelan, bibirnya menyeringai sinis mengingat kejadian tadi di kantor. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat. "Tapi harus kuakui... dia tahu betul kelemahanku, kenangan kami mungkin masih sangat jelas"

Belum sempat Arka menyelesaikan lamunannya, tiba-tiba suara misterius bergema kembali terdengar jelas di telinganya, persis seperti dua malam sebelumnya. Suara yang mengaku utusan dari dunia Hades, suara yang selalu membuat darahnya mendidih campur bingung.

"Waktumu semakin menipis, Eko Arkanendra Widjaya..." Arka mengerutkan keningnya tajam, matanya menatap sekeliling kaca mobilnya dengan bingung dan kesal.

"Kamu lagi?! Di mana kau bersembunyi hah?! Muncul sini kalau berani, jangan cuma bersuara kayak hantu menakuti-nakuti!" Bentak Arka kesal, suaranya meninggi di dalam kabin mobil ini. Namun suara itu tak peduli, terus berbicara seolah mengabaikan kemarahan jaksa muda itu.

"Kamu mendengarkanku, kan? Dengar baik-baik... Sisa umurmu di dunia manusia ini hanya tinggal 38 hari lagi. Hitungan mundur sudah dimulai. Jika kamu tak segera melakukan apa yang kami perintahkan, kamu akan mati dan di hukum di neraka Tartarus!"

"Shit~" Arka menelan ludah, jantungnya berdegup kencang karena campuran rasa marah dan ketakutan yang aneh. Waktunya sisa 38 hari? Apa maksud omong kosong ini.

"Kamu harus segera bergerak mencari kepingan jiwa Dewi Athena. Intermediate itu berada di tubuh manusia, hidup di antara kalian bangsa manusia. Hanya dengan menemukannya, mendekatinya, dan menyerap energi murni dari jiwanya itulah kamu bisa mendapatkan kekuatan baru. Energi itulah yang akan menjaga nyawamu tetap ada." Arka mendengus frustasi.

"Hei mahluk aneh, apa yang kau bicarakan hah?! Dewi Athena?! Kepingan jiwa?! Gila kau!! Aku tak percaya omong kosongmu itu!!" Arka memekik marah, tangannya memukul setir mobilnya cukup keras. Dia merasa gila berbicara sendiri dengan suara tak kasat mata ini.

"Kamu akan tahu kebenarannya saat menemukan dia. Cari dia... gadis itu sedang mendekat. Sangat dekat..."

Dimana gadis itu berada sebenarnya?

1
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!