"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 16
“Aku cuma minta jangan buka hati buat orang lain.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Dinda bahkan setelah Ervin pergi meninggalkan rumahnya sore itu.
Wanita tersebut kini terduduk sendirian di tepi ranjang dengan pikiran yang semakin kacau. Jemarinya memainkan ujung selimut, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela kamar.
Hujan kembali turun. Rintiknya terdengar pelan menghantam genting rumah.
Namun suara hati Dinda jauh lebih berisik dibanding hujan malam ini. Ia membenci fakta bahwa dirinya masih goyah karena Ervin.
Padahal pria itu sudah menghancurkan kepercayaannya. Sudah menyakitinya sampai sehancur ini. Tapi tetap saja—Satu tangisan kecil dari Ervin mampu membuat pertahanannya melemah.
“Kenapa aku masih selemah ini...” lirihnya pelan.
Tok. Tok.
Pintu kamarnya diketuk perlahan.
“Belum makan malam?” tanya sang ibu sambil mengintip dari balik pintu.
Dinda menggeleng kecil. “Nggak lapar, Buk.”
Sang ibu langsung masuk dan duduk di samping putrinya. “Ervin tadi nangis lagi?”
Deg.
Dinda menoleh cepat. “Kok Ibuk tahu?”
“Ibuk lihat matanya merah waktu keluar rumah.” Untuk sesaat, Dinda hanya diam. Lalu tanpa sadar menghela napas panjang.
“Dia minta aku jangan buka hati buat orang lain.” Sang ibu terdiam mendengar itu.
“Maksudnya... Raka?” tebak ibunya. Dinda mengangguk pelan.
“Mas Ervin sadar kalau Raka masih perhatian sama aku.” paparnya sehingga membuat sang ibu mengangguk paham.
“Terus kamu gimana?” Pertanyaan itu langsung membuat Dinda kembali bingung sendiri.
Bagaimana?
Ia sendiri tidak tahu.
Karena sejak awal, dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk kembali dekat dengan Raka. Namun kehadiran pria itu di tengah hidupnya yang berantakan justru membawa rasa nyaman yang perlahan membuatnya tenang.
Dan itu yang membuat Dinda takut. Takut jika suatu saat dirinya benar-benar mulai membuka hati lagi.
“Aku nggak pengen mikirin hubungan apapun sekarang,” jawabnya lirih.
Sang ibu mengusap lembut rambut putrinya. “Nggak semua orang kedua datang buat nyakitin.”
Dinda tersenyum kecil. “Tapi aku masih belum selesai atas luka yang pertama.” Dan kalimat itu sukses membuat suasana berubah hening.
*****
Di sisi lain, Ervin baru saja tiba di apartemen Jenita dengan tubuh lelah. Begitu pintu terbuka, suara tangisan bayi langsung menyambut kedatangannya.
“Kak...” Jenita terlihat panik sambil menggendong bayi perempuan mereka. “Dia dari tadi rewel terus.”
Ervin menghela napas pelan sebelum mendekat. “Udah dibawa ke dokter?”
“Katanya cuma kembung.”
Pria itu memperhatikan bayi kecil tersebut cukup lama.
Wajah mungil itu kini sedang menangis sampai pipinya memerah. Tangannya yang kecil bergerak-gerak di udara, seolah mencari kenyamanan.
Dan anehnya—Saat melihat bayi itu, hati Ervin justru terasa semakin sesak. Karena bayangan Dinda kembali muncul di kepalanya.
Ia jadi teringat bagaimana istrinya dulu selalu tersenyum setiap kali melihat bayi orang lain.
“Mas, lucu ya kalau kita punya anak perempuan kayak gini.”
Kalimat itu kembali menghantam kepalanya tanpa ampun.
“Coba gendong, Kak,” pinta Jenita pelan, yang membuat Ervin tersadar dari lamunannya.
Dengan canggung, pria itu mulai menggendong bayi tersebut. Gerakannya terlihat kaku, membuat Jenita tersenyum tipis meski matanya masih sembab.
“Takut jatuh?” tanya Jenita.
“Aku belum biasa.” Ervin menyahut ketus.
Tangisan bayi itu perlahan mulai mereda saat berada dalam gendongannya. Untuk beberapa saat, suasana berubah tenang.
Namun ketenangan itu justru terasa menyiksa bagi Ervin. Karena semakin ia melihat anak ini—Semakin besar rasa bersalahnya pada Dinda.
“Kak...” panggil Jenita lirih.
“Hm?”
“Kakak masih cinta sama Kak Dinda ya?”
Pertanyaan itu membuat Ervin tertawa kecil hambar. “Pertanyaan macam apa itu?”
“Jawab aja.” Jenita menunduk sembari memelintir jarinya dengan baju yang ia kenakan.
Pria tersebut terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak pernah berhenti cinta sama dia.”
Deg.
Meski sudah mengetahui jawabannya, tetap saja hati Jenita terasa nyeri mendengarnya secara langsung.
“Lalu aku apa?” bisiknya lirih.
Ervin menatap gadis itu cukup lama. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat jelas betapa lelahnya Jenita sekarang.
Gadis dua puluh tahun itu terlihat jauh lebih kurus dibanding sebelumnya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tubuhnya tampak rapuh setelah melahirkan.
Namun sayangnya—Rasa iba itu tidak bisa berubah menjadi cinta.
“Aku salah udah bawa kamu sejauh ini,” ucap Ervin pelan. Kalimat tersebut langsung membuat air mata Jenita jatuh.
“Aku tahu...” suaranya pecah. “Aku juga salah.”
Hening.
Bayi kecil itu kembali tertidur di pelukan Ervin. Sedangkan suasana di antara mereka terasa semakin menyedihkan.
“Kita sama-sama egois,” lanjut Jenita lirih. “Aku tahu Kakak punya istri, tapi aku tetap maksa bertahan.”
Ervin menundukkan kepalanya perlahan. “Dan aku laki-laki brengsek yang nggak bisa jaga rumah tangga sendiri.”
Tak ada yang membantah, karena itulah kenyataannya.
*****
Keesokan paginya, Dinda kembali bekerja di butik seperti biasa. Meski pikirannya masih kacau, setidaknya kesibukan mampu sedikit mengalihkan rasa sakit di dadanya.
“Ini revisi bagian pinggangnya udah cocok belum, Kak?” tanya salah satu pegawai sambil menunjukkan desain gaun.
Dinda langsung fokus memperhatikan layar iPad di depannya. “Kurang ramping sedikit.”
“Oke.”
Belum sempat wanita itu kembali bekerja, suara seseorang terdengar dari arah depan butik. “Permisi.”
Dinda refleks menoleh. Dan lagi-lagi tubuhnya sedikit membeku.
Raka—Pria itu berdiri santai dengan kemeja putih dan senyum kecil di wajahnya.
“Kamu lagi?” tanya Dinda heran.
Raka terkekeh pelan. “Gue ganggu ya?”
“Lumayan.” Jawaban jujur dari wanita itu, justru membuat pria tersebut tertawa kecil.
“Kejam.”
Meski begitu, Raka tetap berjalan mendekat. “Aku cuma mau ngajak makan siang.”
Namun, Dinda langsung menggeleng cepat. “Nggak usah.”
“Kenapa?” tanya Raka meminta penjelasan.
“Aku lagi nggak mood keluar.”
Raka memperhatikan wajah wanita itu beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Lo masih kepikiran Ervin?”
Pertanyaan tersebut sukses membuat Dinda terdiam. Dan diamnya wanita itu sudah cukup menjadi jawaban.
Raka tersenyum tipis. Namun senyum itu terlihat pahit. “Dia beruntung banget dicintai sama lo sedalam itu.”
Deg.
Seketika Dinda langsung menatap pria di hadapannya. Sedangkan Raka justru mengalihkan pandangannya ke arah luar butik.
“Dulu gue pikir kalau kita pisah, rasa gue bakal habis pelan-pelan.” Pria itu terkekeh kecil.
“Ternyata nggak segampang itu.”
Jantung Dinda langsung berdetak tak nyaman begitu mendengarnya.
“Ra...”
“Tenang aja.” Raka tersenyum lagi. “Gue nggak bakal maksa apa-apa.”
Namun, justru sikap tenang seperti itulah yang membuat Dinda semakin merasa bersalah.
Karena di saat rumah tangganya hancur, mantan dari masa lalunya justru datang membawa ketulusan yang dulu pernah ia tinggalkan.
*****
Sore harinya, ketika Dinda baru saja keluar butik, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Ervin turun dengan wajah datar.
Namun begitu melihat Raka berdiri tak jauh dari Dinda, sorot matanya langsung berubah tajam. Lagi, pria itu kembali datang di waktu yang salah.
“Kamu dijemput dia terus sekarang?” sindir Ervin dingin.
Dinda langsung mengernyit. “Mas ngapain kesini?”
“Aku mau ngajak kamu ngobrol.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Namun, sebelum Dinda menjawab, Raka justru melangkah mendekat ke arah mereka berdua.
“Dia keliatan capek.” Tatapannya lurus ke arah Ervin. “Nggak semua hal harus dipaksa sekarang.”
Dan ucapan itu langsung membuat emosi Ervin kembali tersulut. “Gue lagi ngomong sama istri gue.”
Raka tersenyum tipis. “Dinda masih jadi istri lo?”
Deg.
Seketika suasana kembali memanas.