Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebusukan yang merenggut kebahagiaan
Jika pernikahan adalah sebuah istana, maka bagi Alana, istana itu mulai berderit sejak kehadiran Lisa.
Awalnya, semuanya tampak profesional.
Rendy memperkenalkan Lisa sebagai asisten pribadi yang "cekatan" dan "memahami seluk-beluk bisnis teknologi lebih baik dari siapapun".
Alana, dengan kenaifan yang bersumber dari rasa percaya yang buta, menyambut Lisa dengan tangan terbuka.
Ia bahkan sering membuatkan makan siang untuk dibawa Rendy ke kantor, selalu menyertakan porsi ekstra untuk Lisa sebagai bentuk keramahan.
Namun, keramahan itu perlahan berubah menjadi duri yang menusuk perlahan.
Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil. Rendy, yang biasanya pulang tepat pukul tujuh malam untuk makan malam bersama, mulai sering memberikan alasan "lembur". Ponselnya, yang dulu bebas diletakkan di atas meja makan, kini selalu berada dalam genggamannya atau diletakkan dengan layar menghadap ke bawah.
Suatu sore yang mendung, Alana memutuskan untuk memberikan kejutan. Ia datang ke kantor Rendy tanpa pemberitahuan, membawa kotak makanan berisi masakan kesukaan suaminya. Saat ia melangkah menuju ruang kerja CEO, ia dihentikan oleh sekretaris depan dengan wajah cemas.
"Nyonya, Pak Rendy sedang rapat penting dengan Ibu Lisa," ujar sekretaris itu terbata.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin menaruh makanan ini di mejanya," jawab Alana lembut.
Saat ia mendekati pintu kayu jati yang tebal itu, ia mendengar suara tawa. Bukan suara tawa formal bisnis, melainkan tawa manja yang sangat akrab. Alana tertegun. Ia mengintip sedikit dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Di sana, di balik meja kerja yang dibeli dengan uang warisan ayahnya, Rendy duduk bersandar sambil membiarkan Lisa berdiri di belakangnya, memijat bahunya dengan gerakan yang terlalu intim untuk seorang asisten. Lisa membisikkan sesuatu di telinga Rendy, dan Rendy menarik tangan Lisa, mencium punggung tangannya dengan tatapan yang sudah lama tidak Alana lihat.
Dunia Alana seakan berputar. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya. Ia ingin berteriak, ingin masuk dan menjambak wanita itu, namun tubuhnya lumpuh oleh syok. Ia mundur perlahan, meninggalkan kotak makanan itu di meja sekretaris, dan pergi dengan air mata yang mulai mengabur.
Malamnya, saat Rendy pulang, Alana mencoba mengonfrontasi. "Mas, tadi aku ke kantor. Kenapa Lisa memijat bahumu?"
Rendy tidak merasa bersalah. Ia justru menghela napas kasar, melepaskan dasinya dengan gerakan gusar. "Alana, aku lelah. Pekerjaanku sangat berat karena aku harus mengurus aset keluargamu yang berantakan itu. Lisa hanya membantu merelaksasi sarafku agar aku tidak stres. Jangan jadi istri yang picik dan pencemburu. Itu memuakkan."
Kata "memuakkan" itu seperti sembilu yang menyayat hati Alana. Sejak malam itu, dinamika di rumah mereka berubah total.
### Dominasi Lisa di Rumah Adiguna
Keberanian Rendy dan Lisa semakin menjadi-jadi. Tanpa persetujuan Alana, Rendy meminta Lisa untuk tinggal di salah satu kamar tamu di rumah mereka dengan alasan "efisiensi kerja".
"Proyek besar sedang berjalan, Alana. Aku butuh Lisa standby dua puluh empat jam untuk menyiapkan laporan. Jangan membantah, ini demi masa depan kita," tegas Rendy.
Sejak saat itu, Lisa bukan lagi tamu; ia adalah ratu bayangan. Lisa mulai mengkritik cara Alana mengelola rumah. Ia mengganti vas bunga pilihan Alana dengan alasan "kuno", ia mengatur menu makanan, bahkan berani memerintah pelayan rumah tangga di depan wajah Alana.
Puncaknya terjadi saat acara ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Alana telah menyiapkan gaun indah dan memesan tempat di restoran mewah.
Namun, Rendy justru pulang terlambat dan membawa Lisa bersamanya.
"Maaf, Alana. Aku lupa. Tadi ada kendala teknis di kantor dan Lisa membantuku menyelesaikannya. Kami sudah makan di luar tadi," ucap Rendy dingin tanpa melirik Alana yang sudah berdandan cantik.
Lisa, yang berdiri di samping Rendy, mengenakan kalung berlian yang sangat Alana kenali. Itu adalah kalung milik mendiang ibunya yang disimpan di brankas kamar utama.
"Mbak Alana, maaf ya. Mas Rendy bilang kalung ini tidak pernah Mbak pakai, jadi dia meminjamkannya padaku untuk acara relasi tadi. Cantik, kan?" Lisa tersenyum simpul, sebuah senyum yang penuh dengan racun kemenangan.
Alana gemetar hebat. "Mas ... itu kalung Ibu. Bagaimana bisa kau memberikannya pada orang asing?"
Rendy menatap Alana dengan mata gelap. "Orang asing? Lisa lebih berguna bagiku daripada kau yang hanya bisa menghabiskan uang dan mengeluh di rumah. Lagipula, semua barang di rumah ini adalah milikku sekarang. Aku bebas memberikannya pada siapa saja."
### Permainan Psikologis dan Pengkhianatan Terbuka
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka bagi Alana. Rendy dan Lisa tidak lagi menyembunyikan kemesraan mereka.
Alana sering menemukan mereka berduaan di ruang tengah saat tengah malam, menonton film dengan kepala Lisa bersandar di bahu Rendy. Jika Alana datang, mereka tidak akan menjauh, justru Rendy akan menatap Alana seolah-olah Alana-lah pengganggu di rumah itu.
Lisa mulai menggunakan taktik yang lebih kejam. Ia sering sengaja meninggalkan pakaian dalamnya di jemuran Alana atau menaruh parfumnya yang menyengat di bantal Rendy. Ia ingin Alana tahu bahwa ia telah menguasai segalanya termasuk ranjang suami Alana.
"Kenapa kau tidak pergi saja, Mbak?" tanya Lisa suatu siang saat Rendy sedang bekerja. Mereka berada di dapur. "Mas Rendy sudah tidak mencintaimu. Kau hanya beban sejarah baginya. Dia tetap bersamamu hanya karena status hukum, tapi hatinya? Hatinya sudah kucicipi setiap malam."
Alana menampar Lisa saat itu. Sebuah tamparan yang dipicu oleh rasa sakit yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, itu adalah kesalahan besar. Lisa tidak membalas. Ia justru tersenyum licik.
Sesaat kemudian, Rendy pulang. Lisa langsung menjatuhkan diri ke lantai, menangis terisak-isak sambil memegangi pipinya.
"Mas ... aku hanya ingin membantu Mbak Alana memasak, tapi dia tiba-tiba marah dan memukulku. Dia bilang aku wanita murahan ..." tangis Lisa pecah dengan akting yang sempurna.
Rendy meledak. Tanpa bertanya, ia menyeret Alana ke kamar dan menguncinya dari luar setelah memberikan satu dorongan keras yang membuat kepala Alana membentur pinggiran tempat tidur.
"Kau wanita gila! Lisa sudah banyak berkorban untuk perusahaan kita, dan kau memperlakukannya seperti ini? Jangan keluar dari kamar ini sampai kau bisa bersikap sopan!" teriak Rendy dari balik pintu.
### Rencana Pembuangan
Di dalam kamar yang gelap, Alana menangis hingga air matanya kering. Ia menyadari bahwa Rendy bukan lagi pria yang ia temui di perpustakaan. Pria itu telah mati, digantikan oleh monster yang haus akan harta dan kuasa.
Namun, pengkhianatan Rendy bukan sekadar tentang ranjang. Lewat sebuah dokumen yang tidak sengaja Alana temukan di laci meja kerja Rendy suatu malam ketika ia berhasil menyelinap keluar, Alana mengetahui kebenaran yang jauh lebih mengerikan.
Rendy telah memindahkan hampir seluruh aset perusahaan keluarga Adiguna ke atas nama perusahaan cangkang yang dipimpin oleh Lisa. Tabungan pendidikan yang dipersiapkan Alana, asuransi, hingga sertifikat rumah mewah yang mereka tinggali, semuanya telah berpindah tangan.
Rendy tidak hanya berselingkuh secara fisik, ia melakukan perampokan sistematis terhadap hidup Alana.
Keesokan harinya, Alana mencoba melarikan diri. Ia ingin pergi ke pengacara ayahnya, ingin menuntut keadilan. Namun, saat ia sampai di pintu gerbang, dua penjaga berbadan besar yang baru disewa Rendy menahannya.
"Maaf, Nyonya. Perintah Tuan, Nyonya tidak boleh keluar rumah tanpa izin," ucap salah satu penjaga dengan suara datar.
Alana terjebak. Ia menjadi tahanan di rumahnya sendiri. Dari jendela lantai atas, ia melihat Rendy dan Lisa masuk ke dalam mobil mewah milik ayahnya, tertawa bersama seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia, sementara di belakang mereka, bayang-bayang kehancuran Alana sudah di depan mata.
Perselingkuhan itu bukan lagi rahasia. Itu adalah sebuah proklamasi perang. Rendy dan Lisa telah memutuskan bahwa Alana adalah noda yang harus dihapuskan dari kanvas kehidupan mereka yang baru. Dan mereka tidak akan berhenti sampai Alana benar-benar lenyap baik secara mental, finansial, maupun fisik.
Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, Alana menyadari satu hal: ia tidak bisa lagi memohon cinta dari pria yang sudah menjual jiwanya pada iblis. Ia harus bertahan hidup, meski ia belum tahu bagaimana caranya keluar dari labirin penderitaan yang diciptakan oleh suaminya sendiri.