NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Hamil

Hari-hari berikutnya, Aluna menjadi sangat patuh pada Gavin. Ia tidak pernah lagi mengunci pintu kamarnya.

Ia tidak lagi menolak setiap sentuhan intim dari Gavin. Aluna berubah menjadi sosok yang sangat pendiam, dan menyerupai boneka tak bernyawa yang pasrah dimanipulasi oleh orang lain.

Ruang musik di kediaman Gavin menjadi tempat yang paling sering ia kunjungi. Terkadang, ia bisa menghabiskan waktu seharian penuh di sana tanpa sepatah kata pun.

Siang ini, Gavin pulang dari kantor lebih awal. Begitu melangkahi pintu utama, samar-samar ia mendengar alunan piano yang bernada sedih sekaligus merdu dari arah ruang musik.

Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, mata Gavin menangkap sosok Aluna yang mengenakan gaun putih bersih, duduk tegak di bangku piano.

Pandangan gadis itu tertunduk, bibir merahnya terkatup rapat, sementara jemari rampingnya menari dengan cepat namun anggun di atas tuts-tuts hitam dan putih.

Bahkan di bawah siraman sinar matahari siang yang hangat sekalipun, nada-nada yang mengalun dari piano itu seolah sedang menangis dalam keheningan, membuat suasana di sekitar terasa begitu berat.

Aluna begitu larut dalam melodinya sendiri, sehingga dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Gavin yang berjalan mendekat dari arah belakang.

Tepat saat lagu berakhir, suara tepuk tangan pelan terdengar memecah kesunyian.

Gavin menunduk, memeluk tubuh Aluna dari belakang dan menempelkan dada bidangnya ke punggung gadis itu. Membuat Aluna seketika menegang dengan kaku.

Tangan kekar Gavin menangkup jari Aluna yang hendak terangkat dari atas tuts piano. Ibu jarinya mengusap kulit punggung tangan Aluna yang putih lembut beberapa kali, lalu menyandarkan dagunya di bahu gadis itu sembari berbisik lirih, "Permainan musikmu sangat indah."

Hembusan napas hangat Gavin yang menerpa belakang telinganya membuat tubuh Aluna sedikit bergetar. Ia menahan diri dengan mengerutkan bibir merahnya dan memilih untuk tetap membisu.

Melihat Aluna yang terus mengabaikannya, Gavin tidak menunjukkan tanda-tanda kesal. Dengan sebelah tangannya yang bebas, ia memetik beberapa tuts piano secara acak, menciptakan dentingan sumbang yang memecah keheningan.

"Kamu terlihat jauh lebih cantik saat sedang bermain piano, apa kamu tahu itu?"

Gavin melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping Aluna, sementara bibir tipisnya mengecup lembut cuping telinga gadis itu yang sensitif. "Mengapa kamu hanya diam?"

Alis halus Aluna langsung bertaut dengan rapat, sepasang matanya tidak mampu lagi menyembunyikan rasa sakit yang mendalam. Dengan nada dingin, ia menyahut, "Aku tidak tahu harus berkata apa."

Gavin terkekeh rendah. "Hari ini, aku sempat mengunjungi perusahaan ayahmu."

Mendengar hal itu, tubuh Aluna bergetar hebat. Gurat kemarahan akhirnya muncul memecah wajah datarnya. "Bagaimana... bagaimana keadaan mereka? Apa Ayah dan Kak Rendra baik-baik saja?"

Gavin menyahut dengan ketenangan yang mutlak, "Gedung kantornya sudah hampir kosong. Lebih dari separuh karyawan telah mengundurkan diri."

Paras Aluna seketika pias, rasa cemas mencuat memenuhi dadanya. "Lalu, kapan kamu akan—"

Sebelum Aluna menyelesaikan kalimatnya, Gavin memotong dengan tegas, "Aku masih mempertimbangkan apakah aku harus menyuntikkan modal untuk menutupi defisit arus kas mereka atau tidak."

Telapak tangan Gavin mulai bergerak mengusap punggung Aluna, membuat gadis itu tersentak. Dengan gerakan kaku, Aluna membalikkan tubuhnya dan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Gavin yang berada tepat di atasnya.

Ia mencengkeram erat bahu kemeja Gavin, menengadahkan kepalanya, lalu dengan kepanikan yang memuncak berusaha mencium bibir pria itu demi memohon belas kasihan. "Aku mohon..."

Brak!

Akibat gerakan yang terlalu mendadak, pinggang Aluna membentur tepi kayu piano di belakangnya dengan keras. Ia mendekap erat bahu Gavin, menahan ciuman pria itu yang mendadak berubah menjadi sangat kasar, menuntut, dan penuh dominasi.

Di tengah gema dentum piano yang berdenting kacau dan melengking akibat tekanan tubuh mereka, Aluna menggigit bibirnya kuat-kuat. Setetes air mata keputusasaan perlahan luruh, jatuh tepat di atas tuts piano terakhir yang baru saja disentuh oleh ujung jarinya.

Keesokan paginya, Aluna terbangun dengan sekujur tubuh yang dilanda rasa lelah yang luar biasa. Sisi ranjang di sebelahnya sudah mendingin; Gavin telah pergi entah sejak kapan.

Meskipun tubuhnya terasa sakit dan letih, ia bergerak dengan sangat hati-hati untuk membuka botol obat putih yang ia sembunyikan jauh di dalam laci meja nakas. Ia mengambil dua butir pil kontrasepsi darurat lalu menelannya dengan cepat. Pada label botol tersebut tertera jelas tulisan

"Suplemen Vitamin"—sebuah penutup yang ia buat agar Gavin tidak menaruh curiga. Aluna merasa langkahnya ini cukup aman.

Hari-hari pun berlalu, dan Aluna selalu meminum obat tersebut secara sembunyi-sembunyi setiap pagi tanpa ketahuan oleh Gavin.

Hingga suatu hari, sesaat setelah ia menikmati bubur sarapan paginya, rasa mual yang sangat kuat mendadak menghantam ulu hatinya. Hidangan di hadapannya masih sangat segar dan bersih; Aluna tahu bukan makanan itu yang menjadi penyebabnya.

Seketika, rasa cemas yang hebat langsung merayapi benak Aluna. Kecurigaan yang tiba-tiba muncul itu bagaikan sebongkah batu besar yang dilemparkan ke atas permukaan danau yang tenang, menghancurkan seluruh ketenangannya dalam sekejap.

Dengan tubuh yang gemetar, ia bergegas bangkit dari meja makan dan berlari menuju kamar tidur. Langkahnya terhenti di depan nakas; dengan jemari yang bergetar hebat, ia merogoh bagian paling dalam laci dan mengeluarkan sebuah kotak putih berisi alat tes kehamilan (testpack) yang selama ini ia sembunyikan.

Sambil terduduk di atas kloset kamar mandi, Aluna menggenggam alat tes tersebut dengan tangan yang terus gemetar. Di dalam hati, ia merapal doa dan memohon dengan sangat agar kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan.

Setelah melewati lima menit ketegangan yang menyiksa batin, dua garis merah samar perlahan muncul pada permukaan alat tes tersebut. Warna merah yang kontras itu tampak begitu nyata dan menyilaukan mata Aluna.

"Tidak... ini tidak mungkin. Alat ini pasti rusak," gumam Aluna dengan suara bergetar, menolak mati-matian kenyataan yang ada ddi depan matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!