Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusasaan Sang Jenius
Kabut hitam pekat yang menyelimuti seluruh penjuru hutan bambu itu terasa semakin mencekik leher Chu Yan dengan sangat kuat.
Udara dingin yang membawa aroma anyir darah dan daging busuk terus menerus menyusup masuk ke dalam pori-pori kulitnya tanpa henti.
Kepala wakil kapten Pasukan Eksekutor yang tergeletak di dekat ujung sepatunya masih meneteskan darah segar yang menggenang di atas tanah berbatu.
Sepasang mata dari kepala yang terpenggal itu melotot lebar ke arah Chu Yan, seakan-olah sedang menyalahkan sang tuan muda atas kematian tragis yang menimpanya.
Chu Yan menelan ludahnya dengan sangat susah payah hingga terdengar suara tegukan yang nyaring di tengah kesunyian mematikan tersebut.
Seluruh tubuhnya yang terbalut jubah sutra ulat es spiritual kini bergetar hebat tanpa bisa ia kendalikan sama sekali.
Kesombongan absolut yang selalu ia tunjukkan sebagai jenius nomor satu pelataran dalam kini telah hancur berkeping-keping menjadi debu yang tertiup angin.
Di hadapannya, berdiri sesosok dewa kematian berjubah abu-abu yang memancarkan aura penindasan dari puncak tahap ketujuh Alam Pengumpulan Qi.
Pemuda pucat itu adalah Lin Ye, tumpukan sampah yang belum lama ini ia perintahkan untuk disiksa dan dihancurkan dantiannya demi menutupi kejahatan kotornya.
"K-kau... kau tidak mungkin Lin Ye yang asli!" teriak Chu Yan dengan suara yang pecah dan melengking tinggi karena panik.
"Sampah itu sudah kehilangan dantiannya dan tidak mungkin bisa berkultivasi lagi, apalagi mencapai tahap ketujuh dalam waktu semalam!"
Chu Yan memundurkan langkahnya dengan gontai sambil terus menodongkan pedang spiritual berkualitas tingginya ke arah dada Lin Ye.
Ujung pedang biru es itu bergetar liar, mencerminkan ketakutan luar biasa yang sedang merobek-robek kewarasan di dalam otak sang tuan muda.
Lin Ye sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya dan terus berjalan maju mendekati Chu Yan dengan ritme yang sangat santai.
Setiap langkah kakinya menghancurkan ranting bambu yang berserakan, menciptakan suara retakan yang terdengar seperti irama kematian di telinga musuhnya.
"Kau benar, Chu Yan, Lin Ye yang lama memang sudah mati di dasar Jurang Kematian berkat kebaikan hatimu itu," jawab Lin Ye dengan nada suara yang sangat datar.
"Yang berdiri di hadapanmu saat ini adalah manifestasi dari seluruh kebencian dan keputusasaan yang telah kau ciptakan sendiri."
Tatapan mata Lin Ye sedingin bongkahan es abadi di puncak gunung tertinggi, menembus langsung ke dalam jiwa Chu Yan yang sedang ketakutan.
Di sebelah kaki Chu Yan, Tetua Liu masih berlutut di atas tanah berlumpur dengan tubuh yang menggulung seperti seekor trenggiling yang ketakutan.
Pria paruh baya yang biasanya sangat arogan dan kejam itu kini menangis tersedu-sedu hingga air matanya bercampur dengan ingus dan kotoran.
"T-Tuan Lin Ye! Ampuni nyawa anjing tua ini! Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana Tuan Muda Chu untuk menghancurkan dantian Anda!" ratap Tetua Liu memohon belas kasihan.
"Saya hanyalah bawahan rendahan yang harus menuruti setiap perintah dari pelataran dalam, saya bersumpah demi langit dan bumi!"
Tetua Liu membenturkan kepalanya ke atas bebatuan tajam berulang kali hingga dahinya robek dan darah segar mengalir membasahi wajahnya.
Ia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang penatua sekte asalkan ia bisa melarikan diri dari wilayah perburuan iblis ini dengan nyawa yang masih utuh.
Chu Yan menunduk menatap Tetua Liu dengan wajah yang memerah karena amarah bercampur dengan rasa malu yang luar biasa.
"Dasar anjing tua keparat! Beraninya kau merendahkan dirimu dan memohon ampun kepada seekor sampah aliran iblis di hadapanku?!" bentak Chu Yan dengan beringas.
Chu Yan mengangkat kaki kanannya dan menendang wajah Tetua Liu dengan kekuatan penuh yang dilapisi oleh energi spiritual biru es.
Suara tulang hidung dan rahang yang retak terdengar sangat keras saat Tetua Liu terhempas sejauh beberapa meter hingga menabrak sebatang pohon bambu hitam.
Tetua Liu memuntahkan seteguk darah segar yang bercampur dengan belasan giginya yang rontok akibat tendangan brutal tersebut.
Ia mengerang kesakitan di atas tanah namun tidak berani mengeluarkan suara kutukan sedikit pun karena ketakutan yang menindas hatinya.
Chu Yan kembali memutar tubuhnya menghadap Lin Ye, napasnya memburu cepat dan matanya dipenuhi oleh urat-urat merah yang menyeramkan.
"Kau pikir hanya karena kau kebetulan mendapatkan warisan iblis rendahan, kau bisa menginjak-injak harga diri keluarga Chu di depanku?!" raung Chu Yan dengan suara serak.
"Aku adalah cucu dari Tetua Agung! Aku memiliki garis keturunan naga di dalam darahku dan sumber daya yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan!"
Chu Yan menggigit ujung lidahnya sendiri hingga berdarah untuk memaksakan kesadarannya agar tetap fokus dan menyingkirkan rasa takut dari pikirannya.
Ia mulai membakar esensi darah murninya sendiri, sebuah tindakan putus asa yang akan merusak fondasi kultivasinya secara permanen di masa depan.
Namun saat ini, bertahan hidup dan membunuh iblis di depannya adalah satu-satunya hal yang ada di dalam benak sang jenius pelataran dalam ini.
Aura di tubuh Chu Yan meledak dengan sangat dahsyat, menembus puncak tahap kesembilan Alam Pengumpulan Qi dan menyentuh ambang batas Alam Pembentukan Inti.
Energi spiritual berwarna biru es berkobar liar di sekeliling tubuhnya bagaikan kobaran api yang membekukan udara di dalam kabut hitam tersebut.
Pedang panjang di tangannya mengeluarkan suara dengungan yang sangat nyaring seolah merespons luapan energi yang tak terbatas dari tuannya.
"Mati kau, sampah keparat! Tebasan Naga Azure Penghancur Surga!" teriak Chu Yan sambil mengayunkan pedangnya dengan kekuatan yang bisa membelah sebuah gunung kecil.
Energi pedang itu bermanifestasi menjadi sesosok naga raksasa berwarna biru es yang melesat membelah kabut hitam dengan raungan yang memekakkan telinga.
Hawa dingin yang ekstrim dari naga es tersebut membekukan semua pepohonan bambu di jalurnya menjadi patung kristal yang rapuh.
Ini adalah teknik bela diri tingkat tinggi milik keluarga Chu yang tidak pernah diajarkan kepada murid pelataran luar mana pun.
Chu Yan menatap serangannya dengan mata melotot, menaruh seluruh sisa harapan hidupnya pada tebasan mematikan yang tidak pernah gagal membunuh musuhnya ini.
Namun, Lin Ye yang menjadi target dari serangan dahsyat itu hanya berdiri dengan sangat santai dan menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung.
Bahkan tidak ada sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya saat naga es raksasa itu berjarak kurang dari satu meter dari dahi pucatnya.
"Hanya ilusi cacing kecil yang berani menyebut dirinya sebagai seekor naga," cemooh Lin Ye dengan suara yang sangat dingin dan merendahkan.
Layar panel biru transparan dari Sistem Pengendali Hantu berkedip cepat memberikan notifikasi yang menegaskan supremasi energi kematian yang dimiliki Lin Ye.
"Mendeteksi fluktuasi energi elemen es tingkat menengah yang mencoba menyerang inang."
"Sistem mengonfirmasi bahwa energi Yin purba milik inang memiliki tingkat dominasi mutlak atas semua elemen suhu rendah."
Tepat ketika moncong naga es itu hendak menelan tubuh Lin Ye secara utuh, Lin Ye hanya mengangkat satu jari telunjuk dari tangan kanannya.
Ia menunjuk perlahan tepat ke arah dahi naga es spiritual raksasa yang sedang mengaum dengan buas ke arahnya tersebut.
"Hancur," perintah Lin Ye dengan satu kata yang mengandung hukum kematian absolut.
Seketika itu juga, pusaran energi Yin yang sangat pekat meledak dari ujung jari Lin Ye dan bertabrakan langsung dengan kepala naga es tersebut.
Suara ledakan yang sangat menggelegar tidak terjadi, melainkan hanya ada suara retakan kaca yang sangat halus namun bergema di seluruh penjuru hutan bambu.