NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KATA YANG TERSELUBUNG

Perjamuan masih berlangsung meriah.

Cahaya lentera emas memantul di lantai marmer istana. Musik kecapi dan seruling mengalun lembut, menyatu dengan tawa para bangsawan yang duduk berkelompok sambil menikmati arak dan hidangan mewah.

Namun di balik kemewahan itu…

bisik demi bisik terus terdengar.

“Pangeran tak berguna dan putri panglima yang arogan… pasangan yang cocok.”

“Siapa sangka Kaisar benar-benar menjodohkan mereka?”

“Kurasa keluarga Gu juga tidak bisa menolak kali ini.”

Tawa kecil terdengar samar.

Seolah mereka sedang menikmati lelucon besar.

Di sisi aula, Gu Yanran duduk tenang sambil memegang cangkir teh. Wajahnya tetap dingin, seakan tidak mendengar apa pun.

Padahal…

setiap kata masuk jelas ke telinganya.

Di depannya, Mo Chen bersandar santai sambil memainkan gelas arak di tangannya. Penampilannya masih sama seperti rumor yang beredar.

Santai.

Tidak serius.

Tidak ambisius.

Pangeran buangan yang tidak tertarik pada perebutan tahta.

Namun di balik mata setengah malas itu…

ada sesuatu yang tidak bisa dibaca.

Tatapannya perlahan berhenti pada Gu Yanran.

Lalu ia berdiri.

Gerakannya membuat beberapa bangsawan diam-diam memperhatikan.

Mo Chen berjalan mendekat dengan langkah santai.

“Nona Gu.”

Gu Yanran mengangkat pandangan.

“Apakah kau berkenan berjalan-jalan sebentar?”

Nada suaranya ringan.

Namun matanya serius.

Gu Yanran terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Baik.”

Keduanya berjalan meninggalkan aula.

Tatapan para bangsawan mengikuti mereka hingga pintu tertutup.

Begitu keluar dari aula, suasana langsung berubah.

Udara malam terasa sejuk.

Cahaya bulan menerangi taman istana yang dipenuhi bunga-bunga musim semi. Kolam kecil memantulkan sinar bulan seperti cermin perak.

Angin malam berhembus pelan.

Sunyi…

namun tidak canggung.

Mereka berjalan berdampingan tanpa bicara cukup lama.

Hingga akhirnya Mo Chen membuka suara.

“Medan perang bukan tempat yang biasa untuk seorang wanita.”

Nada suaranya terdengar santai.

Namun ada makna tersembunyi di baliknya.

Gu Yanran tersenyum tipis.

“Dan istana bukan tempat yang cocok untuk seseorang yang berpura-pura lemah.”

Langkah Mo Chen tidak berhenti.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Berarti rumor tentangmu benar.”

“Rumor yang mana?”

“Bahwa Putri keluarga Gu memiliki lidah lebih tajam daripada pedang.”

Gu Yanran meliriknya sekilas.

“Dan rumor tentang Pangeran Ketiga juga tampaknya salah.”

“Oh?”

“Kudengar kau pemalas yang hanya tahu bersenang-senang.”

Mo Chen terkekeh pelan.

“Mungkin aku memang pemalas.”

“Orang malas tidak memiliki tatapan seperti milikmu.”

Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.

Untuk pertama kalinya…

mereka benar-benar saling menatap.

Tatapan tajam bertemu tatapan tenang.

Seolah masing-masing sedang mencoba melihat lebih dalam.

Mo Chen tersenyum samar.

“Menarik.”

Gu Yanran memalingkan wajahnya kembali ke depan.

“Lebih menarik lagi… seseorang yang seharusnya tidak ada di cerita.”

Langkah Mo Chen sedikit melambat.

Hanya sesaat.

Namun Gu Yanran menyadarinya.

“Cerita?” ulang Mo Chen pelan.

“Bukankah semua orang di sini sedang mengikuti alur yang sudah ditentukan?” jawab Gu Yanran tenang.

“Pangeran pertama menjadi pewaris.”

“Pangeran kedua membangun kekuatan politik.”

“Keluarga bangsawan saling memanfaatkan.”

“Dan semua orang berpura-pura hidup sesuai perannya.”

Ia berhenti sejenak.

“Kecuali… seseorang mulai keluar dari alur.”

Mo Chen menatapnya dalam.

“Dan menurutmu… siapa orang itu?”

Gu Yanran tersenyum tipis.

“Mungkin aku.”

“Cukup percaya diri.”

“Atau mungkin realistis.”

Mereka kembali berjalan.

Suara air kolam terdengar lembut di sekitar taman.

Mo Chen akhirnya berkata pelan,

“Kalau begitu… kau tampaknya tidak berniat mengikuti takdir yang sudah ditentukan.”

Gu Yanran menatap langit malam.

“Takdir hanyalah sesuatu yang diciptakan oleh orang kuat untuk mengendalikan yang lemah.”

“Kata-kata yang berbahaya.”

“Kau takut?”

Mo Chen tertawa kecil.

“Sudah lama tidak ada yang bertanya seperti itu padaku.”

“Dan jawabannya?”

Ia menoleh menatap Gu Yanran.

“Aku lebih penasaran daripada takut.”

Sunyi kembali menyelimuti mereka.

Namun kali ini…

sunyi itu terasa aneh.

Seolah keduanya sedang mengingat sesuatu yang sama.

Percakapan mereka tidak terdengar seperti pertemuan pertama.

Justru seperti dua orang lama yang kembali bertemu setelah waktu yang sangat panjang.

Mo Chen tiba-tiba berkata,

“Kau tahu…”

“Dulu aku pernah mendengar seseorang mengatakan hal yang hampir sama.”

Gu Yanran meliriknya.

“Di mana?”

“Aku tidak ingat.”

Mo Chen mengernyit pelan.

“Namun rasanya familiar.”

“Seperti mimpi?”

Mo Chen tersenyum tipis.

“Atau mungkin kehidupan lain.”

Kalimat itu membuat langkah Gu Yanran berhenti sesaat.

Angin malam kembali berhembus.

Rambut panjangnya bergerak perlahan diterpa angin.

Ia menatap Mo Chen lebih dalam.

“Pangeran Ketiga…”

“Hm?”

“Apakah kau percaya seseorang bisa hidup dua kali atau melintas waktu?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun bagi mereka…

maknanya jauh lebih besar.

Mo Chen tidak langsung menjawab.

Ia justru balik bertanya.

“Kalau aku menjawab iya… apa yang akan kau lakukan?”

Gu Yanran tersenyum samar.

“Mungkin aku akan mulai percaya bahwa aku tidak sendirian.”

Untuk pertama kalinya…

ekspresi santai Mo Chen sedikit runtuh.

Matanya menyipit tipis.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

“Jadi benar…” gumamnya pelan.

Gu Yanran menatapnya.

“Benar apa?”

Mo Chen tertawa kecil lalu menggeleng.

“Belum saatnya.”

“Kau curiga padaku?”

“Aku curiga pada semua orang di istana ini.”

“Jawaban yang aman.”

“Dan kau?”

Gu Yanran menjawab tanpa ragu.

“Aku juga.”

Mereka kembali berjalan perlahan.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Kecurigaan masih ada.

Tetapi di antara itu…

muncul rasa familiar yang sulit dijelaskan.

Seolah mereka akhirnya menemukan seseorang yang memahami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain.

Hingga suara berat terdengar dari kejauhan.

“Yanran.”

Gu Zhengyuan datang dari arah aula.

Aura tegas seorang panglima langsung memenuhi taman.

Tatapannya pertama kali jatuh pada putrinya.

Lalu berpindah pada Mo Chen.

Dingin.

Tajam.

“Ayah,” ucap Gu Yanran pelan.

Gu Zhengyuan mendekat lalu memberi salam singkat pada Mo Chen.

“Terima kasih untuk hari ini, Pangeran Ketiga.”

Nada suaranya sopan.

Namun tetap sedingin es.

Mo Chen tersenyum tipis.

“Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar.”

Gu Zhengyuan tidak langsung menjawab.

Tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia belum percaya sepenuhnya.

“Ayo pulang,” katanya pada Gu Yanran.

Nada suaranya tenang.

Namun penuh ketegasan.

Gu Yanran mengangguk.

Namun sebelum pergi, ia bertanya pelan,

“Kenapa Ayah berterima kasih padanya?”

Gu Zhengyuan terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Dia membantu keluarga Gu keluar dari masalah politik kekaisaran.”

Gu Yanran mendengarkan dengan tenang.

“Jika kau dijodohkan dengan calon pewaris tahta…”

“Musuh keluarga Gu akan bertambah.”

“Dan istana akan semakin mengawasi kita.”

Ia menghela napas pelan.

“Aku tidak takut.”

“Tapi itu akan merepotkan.”

Gu Yanran tersenyum kecil.

“Jadi Ayah lebih memilih pangeran buangan?”

“Setidaknya dia tidak memiliki pendukung yang terlalu berbahaya.”

Gu Zhengyuan melirik Mo Chen sekilas.

“Untuk sekarang.”

Mo Chen hanya tertawa kecil mendengar itu.

Namun sebelum mereka benar-benar pergi, ia kembali bersuara.

“Besok.”

Gu Yanran berhenti melangkah.

“Bolehkah aku datang ke kediamanmu?”

Tatapannya serius kali ini.

“Ada sesuatu yang ingin kupastikan.”

Sunyi sesaat.

Gu Yanran menatapnya dalam.

Lalu mengangguk pelan.

“Baik.”

Ia berbalik.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata tanpa menoleh,

“Aku juga ingin memastikan sesuatu.”

“Apa itu?”

Gu Yanran tersenyum tipis.

“…tentang calon suamiku.”

Untuk pertama kalinya malam itu…

Mo Chen benar-benar terdiam.

Lalu perlahan senyum kecil muncul di wajahnya.

“Menarik.”

Dan malam itu…

dua orang yang seharusnya asing mulai saling mendekat.

Bukan karena cinta.

Melainkan karena rahasia yang sama.

Sisi Lain Istana

Di dalam aula utama…

suasana jauh berbeda.

Pangeran Pertama berlutut di hadapan Kaisar.

Semua pelayan dan bangsawan menunduk dalam.

Tidak ada yang berani bersuara.

Wajah Kaisar terlihat dingin.

Sangat dingin.

“Yang Mulia…”

Pangeran Pertama mengepalkan tangan.

“Hamba tidak dapat menerima pernikahan ini.”

Kaisar menatapnya tajam.

“Tidak dapat…”

“Atau tidak mau?”

Suasana langsung membeku.

“Ayahanda, hamba hanya”

BRAK!

Tangan Kaisar menghantam meja keras.

Gelas giok bergetar hebat.

“Diam!”

Semua orang menahan napas.

“Kau adalah Pangeran Pertama!”

“Kau calon pewaris tahta!”

“Namun kau menolak keputusan Kekaisaran hanya demi perasaanmu sendiri?!”

Pangeran Pertama menunduk.

Namun amarah terlihat jelas di matanya.

“Hamba tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai alat politik.”

Kaisar tertawa dingin.

“Lalu menurutmu…”

“Kerajaan ini dibangun dengan apa?”

Tidak ada jawaban.

“Kau terlalu lemah.”

Nada Kaisar rendah.

Namun justru lebih menekan.

“Dan kelemahan itu bisa menghancurkan kerajaan ini.”

Ia menatap ke arah pintu aula.

Tatapannya perlahan berubah gelap.

“Rencanaku hari ini gagal…”

“Karena ulahmu.”

Ia mengepalkan tangan.

“Dan karena Mo Chen ikut campur.”

Ruangan kembali sunyi.

Kaisar menyipitkan mata perlahan.

“Hari ini…”

“Mo Chen sedikit berbeda.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Namun maknanya jelas.

Pangeran Ketiga yang selama ini dianggap tidak berguna…

mulai menarik perhatian Kaisar.

Dan itu bukan pertanda baik.

Pangeran Pertama menunduk lebih dalam.

Namun matanya dipenuhi kebencian.

Sejak malam itu…

persaingan di antara para pangeran resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!