Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Pertemuan
Hari Pertemuan Keluarga
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Semua keluarga dari kedua pasangan calon pengantin berkumpul. Dari pihak Zara dan Citra, berhubung mereka adalah anak yatim piatu mereka di dampingi ibu panti serta kedua orang tua Maya karena kedekatan mereka. Tak lupa Dipta pun turut hadir.
Dari pihak Arsyad dan Agas ada kedua orang tua si kembar, kakek dan nenek serta paman dan bibi mereka tak lupa sepupu mereka pun hadir dalam acara tersebut.
“Maaf membuat menunggu lama,”
Raditya Arya Wijaya, sepupu dari si kembar. Arya adalah seorang CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti, meneruskan perusahaan ayahnya.
“Tak masalah kak, acaranya juga baru dimulai kok,” ujar Arsyad
Para orang tua kembali berbincang. Entah itu membahas persiapan pernikahan atau membahas sebuah gosip. Ya, seperti biasa jika ibu-ibu berkumpul tentu kurang afdol jika tak bergosip. Jika ibu sibuk bergosip, maka bapak-bapak sudah membahas pekerjaan dan masalah politik dalam dan luar negeri. Pembahasan yang berat, bukan? Namun, itulah yang terjadi. Bahkan Agas dan Arsyad serta Arya pun turut andil dalam pembicaraan itu.
Zara dan Citra melihat-lihat para tamu. Ada seseorang yang belum hadir. Melihat ke arah Maya, dia mengkode menanyakan Nala dan Dipta.
Maya yang tadinya sibuk memperhatikan putranya yang baru berusia 2 tahun itu teralihkan karena senggolan dari Citra yang duduk tepat di sampingnya.
“Nala mana?”
“Di rumah sakit. Dia lagi drop kemarin malam sehabis dari mall,” balasnya
“Hah!” teriak Citra tanpa sengaja. Hal itu membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Citra.
“Ada apa Citra?” tanya Gandari, ibu Arsyad dan Agas
“Iya, nak. Ada apa?” Ayu, ibu Maya, ikut bertanya saat melihat wajah khawatir Citra.
“Tidak ada apa-apa, ma, tan.”
Agas tak percaya dengan jawaban Citra. Wajah khawatir itu tampak sangat jelas. Jika tak terjadi sesuatu, mana mungkin dia segusar dan sekhawatir itu. Dengan sembunyi-sembunyi, Agas mengirimkan pesan ke Citra
Citra yang sedang khawatir dengan Nala, kembali mendekat ke arah Maya.
“Terus keadaan dia gimana sekarang?”
“Kalau dilihat dari keadaan dia tadi pagi, udah mendingan ya. Sekarang Bang Dipta yang jaga. Ya meskipun panasnya belum turun sih.”
Zara yang penasaran langsung menjawil lengan Citra.
“Ada apa?” bisik Zara
“ Jangan teriak, ya! Nala sakit, dia demam dan lagi di rumah sakit. Bang Dipta lagi jaga dia.”
“Beneran?” Zara tak percaya saat mendengar kabar tersebut. Pasalnya, kemarin saat mereka main bareng dia tampak baik-baik saja. Dan sekarang di lagi di rumah sakit? Siapa yang akan percaya mendengar kabar itu.
Melihat jam di tangannya, Maya melirik ke arah orang tuanya.
“Pa, Ma. Aku harus ke rumah sakit dulu. Waktunya shift ku ma!”
“Eh, udah mau berangkat nak?”
“Iya, ma. Aku titip Bayu ya. Mas Dipta nggak pulang malam ini, harus jaga di rumah sakit.” Ujarnya
“Iya, Bayu serahin ke mama. Titip salam buat Nala, ya!”
“Siap!”
“Om, tante, kakek, nenek, Arsyad, Agas dan Kak Arya, aku pamit dulu haru ke rumah sakit.”
“Iya, nak hati-hati ya.” Para orang tua melepaskan Maya begitu saja. Mereka tau profesi Maya yang seorang dokter yang harus datang sewaktu-waktu.
“Hati-hati, May!” ujar Agas dan Arsyad
Agas dan Arsyad yang baru saja menyadari tidak adanya Dipta menjadi terheran-heran. Dan Nala pun tampak tak hadir.
“Om Fajar, Tante Ayu, Bang Dipta kemana? Agas baru sadar kalau Bang Dipta nggak ada.”
“Oh, Dipta lagi di rumah sakit. Adiknya lagi drop. Kemarin malam dia harus di rawat di rumah sakit karena demam tinggi.”
“Nala sakit om, tante?” tanya Arsyad yang baru tau mengenai hal itu.
“Pantas saja tak nampak, lagi sakit toh!”
“Nala!” batin seseorang terkejut saat mendengar nama Nala disebutkan.
“Loh, nak Agas dan nak Arsyad kenal Nala?” tanya Fitri, ibu panti tempat Zara dan Citra tumbuh.
“Eh, siapa Nala?” tanya Gandari
“Itu ma, adiknya Bang Dipta. Dia baru aja pulang dari luar negeri. Baru dua hari ini disini.” jelas Agas
“Oh adiknya Dipta toh. Dipta itu temanmu kan Arya?” ujar Hanifah, ibu dari Arya
“Iya bunda,”
“Kamu kenal Nala? Kan kamu udah kenal lama sama Dipta.”
“Arya kurang tau soal Nala, adik Dipta. Arya cuma tau kalau Dipta memang punya adik yang lagi belajar di luar negeri. Hanya sebatas itu.”
Arya tau bahwa sang bunda mengorek-ngorek informasi dengan niat tertentu. Dan Arya sangat tau niat terselebung bundanya ke arah mana.
“Yah, kirain Arya kenal!”
Arya memilih diam. Dirinya juga tak berminat untuk mengenal atau mencari tau soal adiknya Dipta. Di hatinya sudah tertanam satu nama. Nama yang begitu membekas di hatinya. Nama dari mantan kekasihnya. Kekasih yang menghilang begitu saja. Tanpa adanya kejelasan tanpa pamit. Namun, Arya masih sangat mencintainya dan masih mencarinya secara diam-diam.
“Mbak, mau jodohin Arya sama Nala?” bisik Gandari saat melihat kakak iparnya terlihat antusias awalnya saat mendengar nama Nala disebutkan.
“Iya, sapa tau jodoh kan. Capek banget aku belum dapat mantu, sedangkan kau udah dapat. Dua lagi!” rajuknya dan hal itu di dengar oleh semua orang. Arya menggelengkan kepalanya melihat rajukan ibunya. Arif, selaku suami Hanifah langsung merangkul istrinya untuk menenangkannya. Kemudian, melirik ke arah sang anak yang tampak biasa saja, tak terpengaruh dengan sindiran dari ibunya.
“Lihat, bundamu sudah merajuk kan? Cepat cari pacar, lalu kenalkan pada kami!”
Melihat ayahnya ikut turun tangan, Arya yang tadinya menyuapkan makanan langsung meletakkan sendoknya.
“Pa, kalau mau aku carikan sekarang. Tapi jangan protes kalau itu tak sesuai dengan kriteria kalian. Bagaimana?”
“Heh!” Hanifah sangat kesal melihat anaknya yang tak menanggapi serius permintaannya. Anak semata wayang yang sangat keras kepala.
“Sudahlah, Hani. Biarkan Arya yang mencari jodohnya dengan tenang.” ujar Gatot membela cucunya laki-lakinya.
“Ayah, dia sudah mau kepala 4, masa belum dapat jodoh. Lihat si kembar, baru mau kepala 3 udah mau nikah.”
“Tenang saja, jodoh Arya pasti sudah dekat. Dia akan datang dengan cara yang paling indah nantinya.” Nasihat Gatot membuat Hanifah mau tidak mau menahan keinginannya untuk mencecar sang anak.
Arya kembali memakan makanannya. Melihat bundanya jauh lebih tenang setelah mendengar nasihat dari kakeknya. Itu adalah bantuan yang sangat ia butuhkan. Hatinya masih terpaku dengan gadis itu.
Gadis yang ia cintai saat menjadi taruna dan menemaninya semasa dirinya mengejar mimpinya menjadi seorang polisi. Gadis yang ia benci karena meninggalkannya tanpa kabar ataupun pesan, namun hatinya masih saja menyimpan rasa tanpa syarat. Memikirkan itu, membuatnya marah namun juga rindu.
“Tapi Arya, kau harus ingat. Pasangan itu dicari. Meskipun mungkin dia akan datang di saat waktu yang tepat menurut takdir, namun kau sendiri yang harus mencarinya. Kau yang merasakannya maka kau juga yang harus menemukannya. Usaha. Ingat?”
“Ingat kakek. Tenang saja, akan aku usahakan untuk mencarinya. Jika sudah cocok pasti akan aku kenalkan.”
“Atau mau coba dengan Nala?” tawar Gandari. Dia memang belum bertemu secara langsung dengan Nala, namun mendengar cerita dari kedua calon menantunya, Gandari cukup menyukainya.
“Tante kan belum bertemu dengannya, kenapa mengajukannya?” Arya tampak suka dengan usulan itu. Nama orang itu mengingatkannya dengan masa lalu.
“Ya siapa tau cocok. Boleh kan Pak Fajar, Bu Ayu?”
“Tentu saja boleh Bu Gandari. Hanya saja, tanya dulu sama Dipta. Dia yang lebih berhak karena dia kakak kandungnya.” ujar Ayu dengan sedikit tak enak hati. Kemudian perbincangan soal pernikahan kembali dibahas. Meninggalkan Arya yang menjadi penasaran dengan sosok Nala yang sejak dibahas.