NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua jam perjalanan lagi

​"Semuanya jadi empat puluh lima ribu, Kak," ucap penjaga kasir dengan ramah.

​Kanaya segera mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya. Sambil menunggu uang kembalian dan barang-barangnya dimasukkan ke dalam kantong belanja, matanya sekilas melirik ke arah lorong tempat ia berdiri tadi melalui pantulan kaca besar di depan kasir. Arman tidak mengikutinya sampai ke depan, laki-laki itu tampaknya tahu diri untuk tetap tinggal di belakang.

​"Ini kembalian dan barangnya, Kak. Terima kasih, selamat berbelanja kembali."

​"Terima kasih," sahut Kanaya cepat.

​Ia menyambar kantong belanjanya, lalu melangkah keluar dari Alfamart dengan tergesa. Embusan angin luar rest area langsung menyambut wajahnya. Kanaya menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang sisa-sisa sesak akibat interaksi singkatnya dengan Arman tadi, lalu berjalan kembali menuju bus kecil tempat teman-teman kelompoknya berkumpul.

Saat Kanaya melangkah masuk kembali ke dalam bus kecil yang sejuk oleh embusan AC, suasana di dalam kabin sudah tidak sepi tadi. Beberapa anggota kelompok tampak sudah kembali ke kursi mereka masing-masing, meluruskan kaki atau sekadar memainkan ponsel setelah kenyang mengisi perut.

​Termasuk Wisnu. Sang ketua kelompok itu sudah duduk manis di kursinya yang berada di sebelah kursi Kanaya. Begitu melihat sosok Kanaya muncul di pintu bus, wajah Wisnu langsung cerah dan sebuah senyuman hangat terkembang di bibirnya.

​"Eh, Kanaya, udah belanjanya?" tanya Wisnu ramah, matanya melirik kantong plastik Alfamart yang dijinjing Kanaya. Ia dengan sigap menggeser posisi duduknya agar memberikan ruang yang lebih luas bagi Kanaya untuk masuk ke baris kursi mereka.

​"Udah, Kak," jawab Kanaya sambil membalas senyuman Wisnu, mencoba bersikap senormal mungkin seolah tidak terjadi apa-apa di minimarket tadi.

​"Beli camilan apa aja? Sini, kalau repot kantongnya ditaruh di bawah deket kaki aku aja nggak apa-apa, biar kursi kamu nggak sempit," tawar Wisnu perhatian, menunjukkan sikapnya yang selalu peka sebagai seorang ketua sekaligus laki-laki yang sedang berusaha mengambil hati Kanaya.

​Kanaya agak sungkan, namun perhatian kecil dari Wisnu entah bagaimana sedikit mengobati rasa kesalnya akibat ulah Arman tadi. "Nggak apa-apa, Kak, ditaruh di pangkuan aku aja muat kok."

​Kanaya pun kembali duduk di dekat jendela, memasang sebelah earphone-nya, dan bersiap menghadapi sisa dua jam perjalanan ke depan. Di dalam hatinya, ia berharap sisa perjalanan ini bisa berlalu dengan cepat tanpa ada gangguan lagi.

Tak lama setelah Kanaya duduk, Arman dan beberapa anggota laki-laki lainnya melangkah naik ke dalam bus. Arman berjalan menunduk, melewati barisan kursi depan tanpa berani melirik ke arah jendela tempat Kanaya dan Wisnu duduk. Laki-laki itu langsung mengambil tempatnya kembali di bangku paling belakang, tenggelam dalam sunyinya sendiri.

​Melihat seluruh anggotanya sudah kembali ke dalam kabin, Wisnu bangkit dari kursinya. Ia berdiri menghadap ke belakang sambil memegang papan jalan berisi daftar nama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

​"Oke, teman-teman, sebelum kita lanjut jalan, saya absen dulu ya," seru Wisnu lantang, memastikan suaranya terdengar sampai barisan belakang.

​Satu per satu nama dipanggil. "Dika? Hadir. Rara? Hadir. Kanaya? Hadir..." Wisnu sempat melemparkan senyum kecil saat Kanaya menyahut. Hingga akhirnya nama terakhir dipanggil, "... Arman? Hadir."

​"Hadir," sahut Arman lirih dari pojok belakang.

​"Oke, lengkap dua belas orang!" Wisnu mengetuk pintu pembatas sopir, memberikan isyarat bahwa mereka sudah siap. "Pak, silakan jalan. Semuanya lengkap."

​Bus kecil itu kembali bergerak, perlahan meninggalkan area pom bensin dan melaju membelah sisa dua jam perjalanan menuju lokasi KKN. Di dalam kabin yang mulai tenang karena beberapa anggota mulai mengantuk, roda kendaraan terus berputar, membawa dua masa lalu yang renggang itu semakin dekat ke tempat pengabdian mereka.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!