Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Perkenalan dengan tamu
Pagi itu terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya.
Jam dinding di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul sembilan, tapi rumah besar itu sudah kembali sunyi. Mobil keluarga sudah lama pergi. Pintu utama tertutup rapat, hanya suara angin pelan dari taman depan yang sesekali terdengar. Langit Jakarta cerah.
Aurel berdiri di dekat pintu samping rumah, memegang sapu panjang. Hari ini ia mendapat tugas membersihkan area luar yaitu teras, halaman depan, dan sedikit bagian taman. Ia menarik napas panjang.
“Lumayan, nggak di dalam terus,” gumamnya pelan. Ia mulai menyapu perlahan, gerakannya masih hati-hati. Ia tidak ingin terlihat ceroboh.
Beberapa daun kering dikumpulkan, debu disapu ke sudut. Semuanya terasa tenang.
Sampai ada suara langkah kaki terdengar dari arah gerbang. Aurel mendongak melihat seorang wanita berdiri di sana.
Wanita itu terlihat sangat berbeda dari siapa pun yang pernah Aurel lihat di rumah ini. Penampilannya rapi, elegan. Terlalu rapi bahkan untuk sekadar berkunjung pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, bajunya mahal, tas yang dibawanya terlihat mewah dan di tangannya ada beberapa kantong belanja.
Aurel langsung berhenti menyapu. Ia sedikit ragu tapi tetap berjalan mendekat.
Di sisi lain, satpam Satrio sudah lebih dulu membuka gerbang sedikit. “Selamat pagi, Mbak Erika,” sapa Satrio.
Nama itu Langsung membuat Aurel terdiam sesaat. Erika? Nama itu pernah disebut, oleh siapa?
Aurel mencoba mengingat, lalu samar-samar Ibunya pernah menyebutnya Erika itu Pacar kontraknya Arvano.
Aurel menelan ludah kecil. Wanita itu Erika, kemudian aurel tersenyum tipis.
“Pagi, Pak Satrio. Mereka sudah berangkat kerja?” Ucap Erika sambil tersenyum tipis.
“Iya, Mbak. Tadi pagi berangkatnya.” Sahut Satrio.
Erika mengangguk pelan. “Hmm… begitu ya.” Nada suaranya terdengar biasa saja tapi, entah kenapa ada sesuatu yang terasa dingin.
Aurel berdiri tidak jauh dari situ. Ia Ragu, harus menyapa atau tidak? Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, matanya bertemu dengan Erika.
Tatapan Erika itu tajam. Seolah sedang mengukur sesuatu.
Aurel langsung menunduk sedikit. “Permisi,”
Ia memberanikan diri melangkah mendekat.
“Saya Aurel, baru kerja di sini.”
Erika mengangkat alis sedikit. “Oh?” Tatapannya beralih dari atas sampai bawah dengan pelan. Sangat pelan. Seolah menilai setiap detail.
“Aurel?” ulangnya Erika.
“Iya.” sahut Aurel sambil tersenyum lebar.
Aurel merasa tidak nyaman. Tapi tetap mencoba tersenyum. “Kalau ingin masuk, silakan, Mbak. Saya temenin sampai semuanya datang kerja.”
Erika langsung menggeleng. “Tidak perlu.” Jawabannya dengan cepat. Terlalu cepat.
Aurel sedikit kaget. “Ooh… iya.”
Erika mengangkat sedikit kantong di tangannya. “Aku cuma mau titip ini—.” Nada suaranya berubah sedikit lebih ringan. “—Buat keluarga di sini.”
Aurel mengangguk. “Oh, baik nanti saya sampaikan.”
Erika tersenyum tipis. Tapi, senyum itu tidak sampai ke matanya. “Ya. Bilang saja dari aku.”
Aurel mengangguk lagi.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh. Erika sudah berbalik langsung. Tanpa masuk, tanpa menoleh lagi. Langkahnya yang cepat, seolah tidak ingin berlama-lama.
Aurel berdiri di tempat. Sedikit bingung.
“Cepat banget.” gumamnya pelan.
Satrio mendekat. “Titip ke kamu saja ya, Rel?”
“Iya, Pak." Aurel menerima kantong itu, lumayan berat.
Ia menatap ke arah gerbang yang sudah kembali tertutup dan entah kenapa ada rasa aneh yang muncul seperti ada sesuatu yang tidak beres.
Saat kembali ke dalam rumah, Aurel masih memikirkan pertemuan itu. Wanita itu cantik. Sangat cantik. Tapi, tatapannya tadi. Cara dia melihat Aurel, seperti tidak suka. Padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Aurel menghela napas pelan. “Mungkin aku yang kepikiran.” Ia mencoba mengabaikan, Terus membawa kantong itu ke dapur.
“Bibi Feni.”
Feni menoleh. “Iya?”
“Tadi ada tamu, Mbak Erika.”
Feni langsung berhenti sejenak. “Oh?”
Feni mendekat. “Dia ke sini?”
“Iya, tapi cuma sebentar. Nggak mau masuk.”
Feni mengerutkan kening. “Tumben.”
Aurel menyerahkan kantong itu. “Ini titipan buat keluarganya.”
Feni melihat isinya sekilas. “Hmm, ya sudah, nanti saja kita kasih ke Bu Indah.”
Aurel mengangguk. Tapi, pikirannya masih belum tenang.
Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa, sore mulai datang. Langit berubah warna. Rumah yang tadi sunyi perlahan mulai terasa hidup kembali. Suara mobil terdengar dari luar.
Aurel yang sedang menyapu ruang tengah langsung menoleh. “Mereka sudah pulang,”
Feni keluar dari dapur. “Iya.”
Pintu terbuka. Indah masuk lebih dulu. Di belakangnya, Bagaskara dan Arvano. Seperti biasa, Aura mereka langsung memenuhi ruangan.
Aurel menunduk sopan. “Selamat sore, Buk… Pak…”
Indah tersenyum. “Sore, Aurel.”
Bagaskara hanya mengangguk singkat.
Arvano, tidak berkata apa-apa.
Seperti biasa, Arvano langsung berjalan ke atas bersama Bagaskara. Langkah mereka cepat, tegas dan dalam hitungan detik, sudah menghilang dari pandangan. Tinggal Indah di ruang bawah.
Aurel berdiri sebentar, lalu teringat sesuatu.
“Oh, iyaa” Ia langsung berjalan ke dapur. Mengambil kantong tadi, lLalu kembali ke ruang tengah. “Bu,”
Indah menoleh. “Iya?”
Aurel mendekat. “Tadi ada Mbak Erika datang.”
Indah langsung diam. Ekspresinya berubah sedikit.
“Erika?” Ucap Indah dengan mengulangnya.
“Iya, Bu. Mbak Erika, titip ini.” Aurel menyerahkan kantong itu.
Indah menerimanya. Membuka sedikit, kemudian menutupnya lagi. Wajahnya datar tapi, matanya tidak menunjukkan kehangatan. “Hanya itu yang dia bilang?”
Aurel mengangguk. “Iya, Bu. Mbak Erika, nggak mau masuk.”
Indah terdiam beberapa detik kemudian tersenyum tipis. “Baiklah.”
Indah menoleh ke arah dapur. “Feni!”
“Iya, Bu!” Sahut Feni sambil mendekatinya.
“Ini buat kalian saja.” Ucap Indah.
Aurel kaget. “Hah… Bu,?”
Indah menyodorkan kantong itu kembali. “Ambil saja, Kamu sama Feni.”
Aurel bingung. “Tapi ini kan—”
“Tidak apa-apa.” Sahut Indah dengan nada suara lembut tapi, tegas.
Aurel tidak berani membantah. “Iya, Bu.”
Saat Aurel kembali ke dapur, pikirannya penuh pertanyaan. Kenapa oleh-oleh dari Erika malah diberikan ke mereka? Bukannya, seharusnya untuk keluarga?
Feni melihat wajahnya. “Kamu bingung ya?”
Aurel mengangguk pelan. “Iya, Bi.”
Feni tersenyum tipis. “Terlalu cepat buat kamu ngerti semuanya.”
“Maksudnya, Bi.?” Sahut Aurel Tidak mengerti.
Feni menggeleng. “Sudah, nanti juga kamu tahu sendiri.”
Kalimat itu membuat Aurel semakin penasaran.
Malam mulai turun. Rumah kembali tenang tapi, di salah satu kamar di lantai atas Arvano berdiri di dekat jendela. Tatapannya kosong.
Indah masuk perlahan. “Arvano.”
Pria itu tidak menoleh. “Ada apa, Ma?”
Indah berjalan mendekat. “Erika tadi datang.”
Hening. Beberapa detik.
Kemudian Arvano menjawab singkat. “Untuk apa?”
“Titip oleh-oleh.” Sahut Indah.
Arvano tertawa kecil yang datar tanpa humor.
“Dia tidak akan datang tanpa alasan.”
Indah menatapnya. “Kamu masih mau pura-pura tidak tahu?”
Arvano akhirnya menoleh dengan tatapannya dingin. “Selama dia tidak mengganggu, aku tidak peduli.”
Indah menghela napas. “Tapi kalau dia mulai menyentuh orang di rumah ini?”
Ucapan itu membuat suasana berubah.
Arvano sedikit menyipitkan mata. “Siapa maksud Mama?”
Indah tidak langsung menjawab. Hanya berkata pelan, “Hati-hati saja.” Indah langsung keluar dari kamar.
Arvano berdiri diam, Pikirannya berputar. Kemudian tanpa sadar. Wajah yang muncul di benaknya bukan Erika tapi, Aurel.
Gadis desa yang baru beberapa hari di rumah itu yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya mungkin sudah masuk ke dalam masalah yang jauh lebih besar.