NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: JEBAKAN HUKUM DI ATAS REKREASI KEMENANGAN

JEBAKAN HUKUM DI ATAS REKREASI KEMENANGAN

​Udara di restoran mewah lantai teratas gedung perbankan itu mendadak terasa membeku. Kehangatan kopi yang baru saja dituang seolah menguap dalam sekejap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

​Pak Januar, kepala divisi kredit yang semenit lalu melempar senyum ramah, kini menatap layar tablet kerjanya dengan mata menyipit tajam. Gurat-gurat profesionalisme yang dingin langsung mengambil alih wajah paruh bayanya. Ia mendongak, menatap Aris dan Lista bergantian dengan pandangan yang tak lagi bersahabat.

​"Pak Aris, Sekretaris Lista... Mohon maaf sekali," suara Pak Januar terdengar datar, namun berwibawa menekan. "Baru saja sistem kepatuhan (compliance) pusat kami mengeluarkan perintah penahanan dana darurat. Rekening operasional Snack Pratama untuk dana ekspansi lima miliar rupiah yang baru saja cair... saat ini resmi statusnya ditangguhkan atau frozen."

​"Apa?!" Aris langsung berdiri dari kursinya hingga kaki meja bergeser kasar membentur lantai marmer. Wajahnya merah padam, bercampur antara rasa malu di depan kolega dan kepanikan yang luar biasa. "Pak Januar, ini tidak bisa sepihak! Berkas jaminan fisik sudah sah, istri saya sudah tanda tangan di atas materai sepuluh ribu pagi tadi! Anda sendiri yang bilang semuanya lolos verifikasi manual!"

​Lista yang duduk di samping Aris merasa seolah jantungnya baru saja merosot ke perut. Tangannya yang memegang saputangan bergetar hebat. Sial! Surat dari pengacara tua itu benar-benar bekerja secepat ini?! Teror foto USG dua garis merah milik Amira yang ia terima di ponselnya pagi tadi kini bertransformasi menjadi hantaman nyata yang siap menghancurkan reputasinya.

​"Betul, Pak Januar," Lista mencoba menyela, menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan meski suaranya terdengar bergetar panik. "Semua prosedur sudah kami penuhi. Tidak ada cacat hukum dalam dokumen yang kami serahkan."

​Pak Januar tidak membalas senyuman Lista. Ia justru memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada dua orang petugas keamanan bank berseragam safari gelap dan seorang staf legalitas berperawakan tegas yang baru saja tiba di samping meja mereka.

​"Secara administrasi awal memang tidak ada cacat, Sekretaris Lista," ujar staf legalitas bank yang baru datang, selembar surat tuntutan digital berkop kantor hukum Pak Sanusi ditunjukkan melalui layar gawai kepada Aris. "Namun, kami menerima laporan resmi beserta lampiran otentik visum et repertum dari Rumah Sakit Medika atas nama Ibu Amira Shinta. Di dalam dokumen tersebut, dinyatakan bahwa penjamin—yaitu istri Anda, Pak Aris—berada di bawah tekanan fisik berat dan ancaman kekerasan saat dokumen ini diproses sejak kemarin siang."

​Staf legalitas itu memperbaiki letak kacamata minusnya, menatap Aris dengan pandangan mengadili. "Hukum perbankan internasional dan undang-undang tindak pidana pencucian uang sangat ketat, Pak. Kami tidak bisa mencairkan dana sepeser pun jika jaminan aset didasarkan pada unsur KDRT atau pemaksaan fisik. Dana lima miliar ini akan ditahan di rekening penampungan bank sampai sidang sengketa pidana Anda selesai."

​"Anj**g!" umpat Aris tanpa sadar, melupakan seluruh tata krama bisnisnya. Dada bidangnya naik turun memburu napas amarah. Ia menoleh ke arah Lista, menuntut penjelasan dengan mata yang melotot. "Lis! Bagaimana bisa perempuan kusam itu pergi ke rumah sakit dan membuat visum?! Bukankah kamu bilang dia mengunci diri di kamar bawah tanah?!"

​Lista menggelengkan kepala dengan cepat, matanya mulai berkaca-kaca dengan sempurna—akting andalannya saat tersudut. "Mas... demi Allah, Lista tidak tahu. Mbak Amira tadi pagi bilang cuma mau ke apotek depan kompleks... Lista tidak menyangka kalau Mbak Amira sejahat ini mau menjatuhkan bisnis suaminya sendiri..."

​"Sudah, Pak Aris, mohon tidak membuat keributan di area privat bank kami," potong petugas keamanan dengan tegas, memotong perdebatan domestik tersebut. "Pihak bank meminta Anda berdua meninggalkan ruangan ini sekarang. Dan sebagai catatan, tim hukum Ibu Amira juga sudah meneruskan berkas visum ini ke Polres Metro Jakarta Selatan. Surat panggilan kepolisian mungkin sudah dikirim ke rumah Anda."

​Aris merasa dunianya runtuh dalam semalam. Dengan langkah gontai dan wajah yang menanggung malu luar biasa di bawah tatapan mata para pengunjung restoran mewah lainnya, ia menyambar jas dan tas kerjanya, lalu melangkah lebar menuju lift diikuti oleh Lista yang terus berjalan setengah berlari di belakangnya.

​Sementara itu, sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek Mercedes-Benz melaju dengan sangat tenang membelah padatnya jalanan protokol ibu kota. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma terapi lavender yang menenangkan, Amira duduk anggun di kursi penumpang belakang.

​Ia tak lagi mengenakan daster katun pudar yang longgar. Siang ini, atas pilihan dari tim Pak Sanusi, Amira mengenakan setelan blazer satin berwarna hijau zamrud yang mewah, berpotongan tegas di bagian bahu, memberikan kesan wanita karier yang berwibawa dan berkelas. Rambutnya disanggul rapi ke belakang, mengekspos leher jenjangnya. Meskipun pipi kanannya masih dilapisi plester medis tipis sewarna kulit untuk menutupi sisa memar tamparan Aris, aura kelemahan dan ketertindasan dari dirinya telah menguap sepenuhnya.

​Di sampingnya, Pak Sanusi duduk sambil membolak-balik berkas somasi asli yang sudah ditandatangani. Pria tua itu tersenyum puas.

​"Tembakan pertama kita tepat sasaran, Nduk Amira," ujar Pak Sanusi dengan nada suara baritonnya yang mantap. "Dana lima miliar itu sudah dikunci oleh pihak bank. Si Aris dan sekretaris ularnya itu tidak akan bisa menyentuh uang itu untuk proyek Jawa Timur mereka. Malah sekarang, mereka harus memikirkan bagaimana caranya agar Aris tidak langsung mengenakan rompi oranye karena laporan KDRT."

​Amira menatap ke luar jendela mobil, menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Jemari tangan kirinya perlahan bergerak mengusap perutnya dengan kelembutan seorang ibu.

​"Ini baru permulaan, Pak Sanusi," jawab Amira, suaranya terdengar sangat tenang, dingin, namun penuh dengan ketetapan hati yang absolut. "Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya memiliki segalanya di atas kertas, tapi tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Biarkan Aris sibuk berurusan dengan polisi minggu ini."

​"Lalu, bagaimana dengan rumah itu? Kamu benar-benar tidak mau kembali ke sana?" tanya Pak Sanusi.

​Amira menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Rumah itu sudah menjadi sarang ular, Pak. Aku sudah memindahkan seluruh barang penting milik almarhum Ayah tadi subuh sebelum Ibu Ratna bangun. Sekarang... aku ingin melihat bagaimana reaksi Ibu mertuaku yang terhormat saat menyadari menantu yang selalu dia hina mandul, pergi membawa aset terbesar yang paling dia dambakan di dunia ini."

​Mobil sedan mewah itu terus melaju menuju sebuah apartemen penthouse privat di kawasan elit yang sudah disiapkan Pak Sanusi atas nama perusahaan mendiang ayah Amira. Sebuah takhta baru yang sengaja dibangun untuk menyambut kelahiran sang penerus sah.

​Di saat yang sama, suasana di dalam kediaman mewah Pratama berubah menjadi neraka fajar yang sunyi namun mencekam.

​Ibu Ratna baru saja selesai mandi dan mengenakan perhiasan emas tebalnya di pergelangan tangan, bersiap untuk pergi ke acara arisan sosialita kompleks siang ini. Dengan gaya angkuhnya yang biasa, ia melangkah turun menuju dapur lantai bawah, berniat memaki Amira karena meja makan siang belum juga disiapkan.

​"AMIRA! Keluar kamu! Jam segini belum masak siang?! Benar-benar menantu malas, pantas saja rahimmu dikutuk kering!" teriak Ibu Ratna sambil berkacak pinggang di depan tangga dapur bawah.

​Namun, tidak ada sahutan. Kesunyian yang aneh menyambut teriakannya.

​Ibu Ratna mendengus jengkel, lalu melangkah menuruni tangga menuju kamar pembantu tempat Amira diasingkan. Ia mendorong pintu kayu kamar itu dengan kasar. "Amira! Kamu tuli ya—"

​Kalimat Ibu Ratna terhenti di udara. Matanya membelalak menatap isi kamar berukuran tiga kali tiga meter itu.

​Kosong.

​Kasur busa tipis di lantai itu sudah rapi, namun kardus-kardus mie instan yang kemarin berisi pakaian Amira sudah tidak ada di tempatnya. Yang tersisa di atas meja kecil di sudut kamar hanyalah sebuah amplop putih bersih yang diletakkan di bawah sebuah benda kecil persegi panjang.

​Ibu Ratna melangkah mendekat dengan dahi berkerut. Rasa penasarannya mengalahkan amarahnya. Ia meraih benda persegi panjang itu terlebih dahulu.

​Itu adalah sebuah alat tes kehamilan (test pack) plastik berwarna putih. Dan di sana, di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang redup, dua garis merah menyala dengan sangat jelas, tegas, dan tak terbantahkan.

​Ibu Ratna seketika membeku. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam gada raksasa. "Dua... dua garis? Amira... hamil?!" bisiknya dengan suara yang mendadak bergetar hebat. Selama tiga tahun ini, ia memaki Amira mandul, mengutuk rahim menantunya itu sebagai pembawa sial karena tak kunjung memberinya cucu sebagai penerus nama besar Pratama. Dan sekarang... bukti kesuburan itu ada di genggaman tangannya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat hingga perhiasan emasnya berdenting, Ibu Ratna membuka amplop putih di samping test pack tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat cetak resmi dari laboratorium forensik Rumah Sakit Medika, lengkap dengan foto USG janin berusia lima minggu dan sebaris kalimat tulisan tangan Amira yang ditulis dengan tinta merah darah:

​"UNTUK IBU RATNA YANG TERHORMAT. INI CUCU PERTAMA YANG SELALU IBU MAKI SEBAGAI JANIN MANDUL DI DALAM RAHIMKU. HARI INI AKU PERGI, DAN AKU MEMBAWA DARAH DAGING PRATAMA YANG SAH BERSAMAKU. NIKMATILAH SISA RUMAH MEWAH INI BERSAMA ULAR PILIHANMU, KARENA SEBENTAR LAGI... AKU YANG AKAN MENGUSIR KALIAN TANPA ALAS KAKI."

​"Aaa... Aa..." Ibu Ratna mencoba berteriak, namun suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Rasa syok yang luar biasa menghantam dadanya hingga ia merasa paruparuhnya kehabisan udara.

​Plastik test pack dan surat itu terlepas dari genggaman tangannya, jatuh berhamburan di atas lantai semen yang dingin. Kepala Ibu Ratna mendadak terasa berputar hebat, pandangannya kabur oleh rasa penyesalan dan ketakutan yang mendalam yang tiba-tiba menyerang seluruh sendi tubuhnya.

​Tepat di saat itu, pintu depan rumah terbuka kasar. Aris dan Lista melangkah masuk dengan wajah yang kusut, frustrasi, dan napas memburu pasca pengusiran dari bank.

​"Ibu! Ibu di mana?!" teriak Aris dari lantai atas dengan suara yang panik. "Kita dalam masalah besar, Bu! Rekening kantor dibekukan polisi karena laporan Amira!"

​Mendengar suara anaknya, Ibu Ratna mencoba melangkah menuju tangga, namun kakinya terasa begitu lemas bagai jeli. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak naik ke lantai utama, wajah keriputnya dipenuhi air mata kepanikan.

​"Aris... Aris... Anakku..." ratih Ibu Ratna histeris begitu melihat sosok Aris di ruang tengah. "Amira, Aris... Amira hamil! Dia hamil anakmu, Aris! Tapi dia sudah pergi membawa cucuku!"

​Aris dan Lista seketika terpaku di tempat, menatap Ibu Ratna yang terduduk lemas di lantai dengan pandangan tak percaya. Bom waktu yang ditanam Amira hari ini resmi meledak di dua tempat sekaligus: menghancurkan finansial mereka di kantor, dan memecahkan mental keluarga Pratama di dalam rumah mereka sendiri.

Aris merebut surat dan foto USG yang dibawa ibunya dari lantai bawah, matanya membaca baris demi baris teks tinta merah dari Amira dengan tubuh yang bergetar hebat antara rasa syok, penyesalan terdalam, dan amarah. Sementara Lista yang berdiri di sampingnya mengepalkan tangan kuat-kuat, menyadari bahwa posisi rahasianya kini telah di ambang kehancuran total karena kedok kehamilan Amira terungkap lebih cepat dari rencananya. Di luar gerbang rumah, suara sirine mobil patroli kepolisian tiba-tiba terdengar meraung-raung mendekat, siap menjemput Aris atas kasus penganiayaan fisik. Pembaca akan dibuat menahan napas, menantikan bagaimana kepanikan histeris Lista saat mencoba melarikan diri dari kepungan polisi, dan taktik kejam apa lagi yang akan dikeluarkan Amira dari atas apartemen mewahnya pada bab selanjutnya.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!