Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pedang Kayu
Matahari sore menggantung rendah, membiaskan warna oranye yang tampak seperti darah di atas debu-debu Desa Bambu. Xiao Chen(10 hampir 11 Th) berdiri mematung. Tangannya yang kecil, kasar, dan dipenuhi kapalan karena mencari kayu bakar, memeluk erat sebuah pedang kayu sederhana.
"Hei, Xiao Chen! Kenapa kau terus membawa kayu rongsokan itu? Kau pikir kau terlihat keren?" Feng Lin melompat turun dari tumpukan peti tua. Wajahnya penuh seringai merendahkan.
"Ini bukan kayu rongsokan," bisik Xiao Chen, suaranya parau namun tegas. "Seorang Master pedang memberikannya padaku. Ini adalah janji... bahwa aku akan menjadi pendekar hebat yang berdiri di jajaran legenda."
Hening sejenak. Angin mati. Lalu, tawa meledak memecah kesunyian.
"Legenda? Hahaha! Kau dengar itu, Feng Lin?" Li Yuan terbahak hingga memegangi perutnya. "Anak orang miskin sepertimu, yang makannya saja dari sisa pasar, ingin jadi pendekar?"
Feng Lin mendekat, langkahnya sengaja dibuat mengintimidasi. Ia mencondongkan wajahnya tepat di depan Xiao Chen. "Sadar diri, Xiao Chen. Kau bukan hanya miskin. Ayahmu penjudi payah, pemabuk yang bau araknya tercium sampai ujung desa. Dan ibumu? Semua orang tahu dia mulai menjual dirinya di kedai remang-remang demi sekeping koin."
"Hentikan!" teriak Xiao Chen. Giginya bergemeretak, matanya memanas oleh air mata yang dipaksa tidak jatuh. "Ibuku... dia tidak seperti itu! Dia hanya lelah!"
"Oh, ya? Aku mendengar orang tuaku bicara. Ibumu wanita murahan," ejek Feng Lin lagi, kali ini dengan dorongan keras di bahu Xiao Chen.
Xiao Chen bergetar hebat. Amarah dan malu bercampur menjadi satu di dadanya. Namun, ia tidak menyerang. Ia berbalik, memeluk pedangnya lebih erat. "Kalian boleh menghinaku. Kalian boleh menghajarku. Tapi bermimpi menjadi lebih baik itu lebih terhormat... daripada hanya bisa menghina orang lain!"
"Kau berani mengajariku?!" Feng Lin meledak. Ia berlari dan melayangkan tinju telak ke rahang Xiao Chen.
Bugh!
Xiao Chen tersungkur. Debu jalanan masuk ke mulutnya yang berdarah. Namun, hal pertama yang ia pastikan adalah pedang kayunya tidak patah. Ia segera meringkuk, menjadikan punggungnya sebagai perisai.
"Hajar dia!" perintah Feng Lin.
Li Yuan dan Shen Yue ragu sejenak. Shen Yue menatap Xiao Chen dengan tatapan iba, namun gertakan Feng Lin membuatnya tak punya pilihan. Mereka mulai menginjak-injak tubuh mungil itu. Awalnya ragu, namun perlahan, ada rasa puas yang aneh saat mereka meluapkan rasa muak atas hidup mereka sendiri kepada Xiao Chen.
"Ugh... Argh!" Xiao Chen mengerang, namun ia tidak melepaskan pedangnya. Setiap tendangan yang mendarat di rusuknya ia terima demi memastikan kayu itu tetap utuh.
Setelah merasa puas, Feng Lin meludah ke arah Xiao Chen yang terkapar. "Ingat ini, sampah. Sampai mati pun, kau hanya akan merangkak di tanah!"
Setelah mereka pergi, Xiao Chen mencoba bernapas. Dadanya sesak. Ia perlahan duduk dan memeriksa pedang kayunya. Ada goresan sedikit, tapi masih utuh. Sebuah senyum tulus merekah di wajahnya yang lebam. "Setidaknya kau aman," bisiknya.
Perjalanan pulang adalah siksaan lain. Bisik-bisik warga desa seperti sembilu yang menyayat telinganya.
"Lihat anak si pelacur itu... malang sekali."
"Ayahnya pasti sedang kalah judi lagi hari ini."
Langkah Xiao Chen terhenti di depan gubuk kayu yang miring. Dari dalam, suara benturan barang pecah terdengar.
"Wanita sialan! Beraninya kau menjual diri tanpa seizinku! Mana uangnya?!" suara berat ayahnya menggelegar, diikuti suara tamparan yang keras.
"Aku melakukan ini karena kau sampah!" ibunya berteriak histeris, suaranya pecah oleh tangis. "Aku membencimu! Aku membenci hidup ini! Dan aku membenci anak yang memiliki darahmu!"
Xiao Chen membeku di ambang pintu. Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari tendangan Feng Lin.
Ia memilih duduk di luar, di atas tanah dingin, memeluk lututnya sampai pintu terbanting terbuka. Ibunya keluar dengan pakaian acak-acakan dan wajah sembab.
Wanita itu menatap Xiao Chen sekejap, bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan kebencian murni sebelum berlari pergi entah ke mana.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Xiao Chen tidak tidur. Ia pergi ke kebun belakang, mengayunkan pedang kayunya meniru gerakan pendekar dalam dongeng.
Wush! Wush!
Ia terjatuh karena lemas. Saat ia terduduk, ia melihat sebuah ranting tua yang dihantam angin kencang. Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Xiao Chen terdiam. Matanya berbinar.
"Pedang bukan hanya soal kekuatan atau tajamnya besi," gumamnya pelan, sebuah pemikiran yang terlalu dewasa untuk usianya. "Pedang yang kuat... adalah pedang yang tidak pernah menyerah meskipun dunia mencoba mematahkannya."
Keesokan paginya, Xiao Chen memikul bungkusan kayu kering yang berat. Ia harus menjualnya untuk membeli sedikit bakpao, atau setidaknya agar ayahnya tidak memukulinya lagi. Namun, di tikungan jalan, tiga bayangan menghalangi jalannya.
"Berhenti! Berikan uangmu!" Feng Lin menghadang dengan wajah masih kesal karena kejadian kemarin.
"Aku tidak punya uang. Minggirlah, aku harus bekerja," ucap Xiao Chen dingin.
Feng Lin tidak bicara lagi. Ia menendang tumpukan kayu di punggung Xiao Chen hingga Xiao Chen jatuh tersungkur. Kayu-kayu yang dikumpulkan sejak subuh itu berhamburan.
"Kau keras kepala ya?" Feng Lin menyambar pedang kayu yang terselip di pinggang Xiao Chen.
"Jangan! Jangan sentuh itu!" Xiao Chen berteriak, mencoba merangkak maju.
Feng Lin tertawa jahat. Ia meletakkan pedang kayu itu di atas sebuah batu besar. "Kau ingin jadi pendekar dengan mainan ini?"
Krak!
Feng Lin menginjak kayu itu dengan segenap kekuatannya. Pedang kayu pemberian sang Master pedang itu patah menjadi dua. Belum puas, Feng Lin mengambil salah satu potongannya dan memukul-mukulnya ke batu sampai kayu itu hancur menjadi serpihan kecil tak berbentuk.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Xiao Chen. Sesuatu di dalam dadanya meledak. Ia bangkit dengan kecepatan yang tidak terduga, melayangkan tinju dengan seluruh berat badannya ke arah wajah Feng Lin.
Bugh!
Feng Lin terpelanting, hidungnya berdarah. "Kau... kau berani?!"
"Kau boleh menghajarku sampai mati, tapi kau tidak punya hak menghancurkan mimpiku!" Xiao Chen menerjang seperti serigala terluka.
Namun, kekuatan satu anak lapar tidak sebanding dengan tiga anak lainnya. Xiao Chen segera diringkus, ditekan ke tanah, dan dihajar habis-habisan.
Kali ini lebih brutal. Feng Lin mengambil uang recehan dari saku Xiao Chen, uang hasil kerja kerasnya kemarin dan membuangnya ke tanah sebelum menginjak tangan Xiao Chen.
"Mimpi? Sampah sepertimu tidak boleh punya mimpi."
Setelah mereka pergi, Xiao Chen merangkak mendekati serpihan kayunya. Ia memunguti potongan-potongan kecil itu dengan tangan gemetar. Air mata yang sejak kemarin ia tahan, kini tumpah membasahi debu.
"Maaf... Tuan pendekar... aku tidak bisa menjaganya," isaknya pelan.
Dengan langkah gontai dan tubuh yang bersimbah darah kering, ia berjalan menjauh dari desa, menuju tepian hutan yang sunyi. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang penuh kebencian.
Di bawah pohon tua, saat sinar matahari terakhir menyentuh bumi, ia melihat sesuatu yang ganjil. Setengah terkubur di bawah akar pohon, ada sebuah benda panjang yang berbalut kain lusuh. Di sampingnya, terdapat sebuah buku tua dengan sampul yang sudah menguning.
Xiao Chen mendekat, perlahan menyibak kain itu. Sebuah pedang besi yang hitam dan berkarat, namun memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Di sampul buku itu, tertulis huruf kuno yang seolah bergetar saat ia menyentuhnya.
Xiao Chen tidak tahu... bahwa di titik nadir kehancurannya, dunia baru saja membuka pintu menuju jalan pedang yang sesungguhnya.