Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ruang Kuliah siang itu terasa menjemukan. Suara monoton dosen dan dinginnya AC sukses membuat kelas senyap oleh rasa kantuk. Luca pun sudah kehilangan fokus sejak satu jam lalu; pikirannya justru tertuju pada saldo dompet digital pemberian Brant yang ingin segera ia belanjakan.
Bak mendapat durian runtuh, sang dosen mendadak izin keluar karena urusan mendesak. Begitu suasana aman, Luca langsung merogoh ponselnya dan mengetik pesan untuk ketiga sahabatnya: Vin, Rose, dan Elena.
“Selesai kuliah nanti, kalian bertiga jangan pulang dulu ya! Aku mau traktir makan, pokoknya jangan ada yang menolak! Saldo Poundsterling-ku lagi banyak banget nih, hehehe…”
Begitu memastikan tanda centang berubah menjadi terbaca, Luca langsung mendongak. Elena, yang duduk tepat di depannya, spontan membalikkan badan dengan raut wajah penuh selidik dan sangsi. Seolah mata Elena bertanya, 'Beneran nih? Nggak bohong kan?'
Mendapat tatapan begitu, Luca justru membalasnya dengan senyuman lebar yang terkesan pamer, lengkap dengan acungan jempol yang mantap.
Ruangan yang semula hening seketika berubah menjadi riuh dan bising oleh suara seretan kursi serta ritsleting tas. Rose dan Vin segera menggeser langkah, mendekati meja Luca di mana Elena sudah lebih dulu menunggu dengan melipat tangan.
"Lu beneran punya banyak uang Poundsterling, Ca? Dapat dari mana coba?" tanya Rose, langsung menodong dengan rasa penasaran yang menggebu.
"Iya, gue juga curiga. Jangan-jangan ini kiriman dari Kak Brant ya?" sambung Elena menerka-nerka dengan mata menyipit tajam.
Luca yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas hanya memberikan cengiran khasnya yang menggemaskan. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi dompet digitalnya, dan memamerkannya dengan dada membusung bangga. "Iya dong, benar! Kak Brant yang kirim uang buat aku. Lihat nih... banyak banget kan?"
Di layar ponsel itu, sebuah notifikasi mutasi rekening digital terpampang nyata:
[Transfer Masuk: Rp500.000 dari BRANT WILLEY]
Elena rasanya ingin membelah otak mungil sahabatnya itu saat itu juga. Ia menepuk jidatnya sendiri, gemas tak habis pikir dengan tingkat kepintaran Luca.
"Luca! Ya ampun, mata lu minus apa gimana? Itu jelas-jelas tertulis Rupiah, bukan Poundsterling!" seru Elena dengan suara tertahan, menunjuk-nunjuk layar HP Luca.
Vin, yang sejak tadi menyimak dengan wajah lempengnya, akhirnya ikut bersuara dengan nada malas namun berusaha menjelaskan sejelas mungkin. "Luca, dengerin gue. Kalau Kak Brant ngirimnya ke rekening valas khusus lu, baru saldonya tetap berbentuk Poundsterling asli. Jangan bego-bego amatlah dengan berpikir kalau uang ditransfer dari London, otomatis mata uang fisiknya terbang menembus benua dan mendarat di HP lu dengan jenis yang sama."
"Ohhh... Hehehe..." Luca hanya bisa menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ia baru tersadar sekarang. Pantas saja selama hampir seminggu ini ia menyayangkan uang tersebut dan tidak berani membelanjakannya. Pikirannya yang polos mengira bahwa nilai mata uang asing itu terlalu mahal dan sayang jika ditukar di Indonesia.
"Sudah, ah! Jadi kita mau makan di mana nih? Perut gue udah demo," potong Rose yang memang sudah kelaparan.
"Makan bakso aja, ya?" tawar Luca. Namun, melihat perubahan ekspresi dari Rose dan Elena yang tampak kurang bersemangat—karena mengira akan diajak makan di kafe kekinian anak muda—Luca dengan cepat menambahkan penawaran, "Nanti ditambah boba yang ukuran large spesial dengan double topping deh! Gimana?"
Mendengar kata boba dengan porsi jumbo, mata kedua gadis itu langsung berbinar kembali.
"Ya udah, ayo cepat keburu sore di jalan," ajak Vin sambil memutar kunci mobil di jarinya dan berjalan duluan menuju area parkir, yang segera diikuti oleh Luca, Rose, dan Elena di belakangnya.
Kantin gerobak bakso langganan mereka siang itu terhitung cukup lengang. Hanya ada beberapa pengunjung yang tampak menikmati mangkuk mereka di sudut ruangan. Rose langsung mengambil alih tugas memesan, sebab ia berniat menambahkan banyak gorengan dan tetelan sebagai pelengkap baksonya. Tak butuh waktu lama, empat mangkuk bakso spesial mengepul hangat beserta sepiring penuh gorengan garing tersaji di meja mereka.
"Wah, kalau lauknya lengkap begini, bakso gerobakan pun rasanya jadi kelihatan mewah," puji Rose dengan mata berbinar. "Hmm, selamat makan semuanya!"
Luca menikmati baksonya dengan perlahan. Fokusnya terbagi karena matanya sesekali melirik ke arah layar ponsel yang sedang menampilkan drama seri yang sedang ia ikuti beberapa hari ini. Saat mangkuk mereka sudah tersisa separuh, Elena mendadak menghentikan kunyahannya, merasa tenggorokannya mulai serat.
"Cha, beli bobanya sekarang dong. Leher gue rasanya kesat dan berminyak banget nih habis makan yang gurih-gurih," tagih Elena, mengingatkan janji Luca.
"Oh iya, tunggu ya!" Luca yang kebetulan sudah menyisakan sedikit kuah baksonya langsung berdiri dengan patuh. Ia melangkah keluar dari kantin menuju booth boba yang kebetulan letaknya sangat dekat, hanya berjarak sekitar dua lapak dari tempat mereka makan.
Begitu sampai di depan stan, Luca sedikit menghela napas melihat antrean yang lumayan mengular. Namun karena sudah terlanjur berjanji, ia tetap ikut berdiri di barisan paling belakang. Rasa kenyang setelah makan bakso membuat fokus Luca perlahan memudar; ia berdiri diam dengan tatapan kosong ke depan, melamunkan sesuatu yang acak.
Luca terlalu tenggelam dalam lamunannya ia tidak menyadari ada seseorang yang baru saja ikut mengantre tepat di belakangnya. Orang itu adalah Vania. Dengan senyum sinis, Vania memperhatikan punggung Luca yang tampak diam melamun, mengira bahwa pemuda itu tengah merana karena ditinggal pergi oleh Brant.
"Gue turut prihatin ya, dengar kabar kalau lu udah pisah sama Kak Brant," bisik Vania tiba-tiba, tepat di dekat telinga Luca.
Luca tersentak kaget. Ia refleks membalikkan badannya untuk melihat siapa pemilik suara menyebalkan itu. Begitu mengenali wajah Vania, raut terkejut Luca langsung berganti datar. Ia kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Vania, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Kita nggak pisah kok," jawab Luca ketus namun tetap berusaha tenang.
Vania terkekeh sinis, ada nada meremehkan yang sengaja ia tekankan. "Oh, iya, maaf. Maksud gue... pisah jarak yang... jauuuhh banget. Tapi lu tahu kan, risiko pisah jarak itu biasanya berujung pada pisah hubungan juga? Hubungan jarak jauh itu godaannya gede, lho."
Luca memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan kalimat beracun itu dan memfokuskan matanya pada papan menu stan boba. Beruntung, pelayanan di stan tersebut tergolong cepat. Begitu tiba gilirannya, Luca langsung memesan empat gelas boba. memindai kode QRIS di meja kasir dengan ponselnya, lalu segera berbalik pergi tanpa sudi melirik sedikit pun pada wajah sombong Vania.
Di luar kantin, ternyata Vin, Elena, dan Rose sudah berdiri menunggu di dekat mobil. Ketiganya sempat menangkap basah interaksi antara Vania dan Luca dari kejauhan.
"Aduh, maaf ya, antreannya panjang banget tadi makanya agak lama," ucap Luca begitu menyadari raut wajah ketiga sahabatnya yang tampak tidak senang dan sedikit geram. Padahal itu bukan karna Luca.
"Itu si cewek ular ngomong apa aja sama lu, Ca? Gesturnya kelihatan sok dekat tapi mencurigakan banget," tanya Elena to the point, matanya melirik tajam ke arah stan boba di belakang Luca.
"Hah? Nggak kok. Dia cuma ngajak ngobrol basa-basi aja tadi," bohong Luca, suaranya sedikit mencicit karena ia berusaha menenangkan Elena agar tidak memicu keributan.
"Bilang sama gue kalau si centil keganjenan itu berani ganggu lu, Ca. Biar gue labrak langsung mukanya sekarang juga!" sambung Rose berapi-api.
Sejak tadi, Rose yang memperhatikan dari jauh sudah menyadari ketidaknyamanan dari gerak-gerik Luca saat didekati Vania. Ia bahkan hampir saja menyusul Luca kalau saja lengannya tidak ditahan oleh Vin. Elena pun sebenarnya sempat terpancing emosi.
"Sudah, yang penting cewek itu nggak sampai ngapa-ngapain Luca secara fisik. Yuk, balik," potong Vin sambil menarik pelan pundak Luca yang sempat terdiam melamun. Ucapan Rose dan Elena rupanya membuat Luca kembali terngiang-ngiang akan kalimat beracun Vania tentang risiko LDR tadi.
Namun, tepat di depan pintu kemudi mobilnya, Vin mendadak menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang, menatap lurus ke arah Vania yang masih berdiri di samping stan boba, lalu beralih menatap Luca dengan tatapan yang sangat serius.
"Tapi, Ca... kalau lu rasa omongan atau tingkah cewek itu sudah kelewatan... gas aja. Lawan balik, kasih paham ke dia kalau lu bukan orang yang bisa diinjak-injak," ucap Vin tegas.
Luca langsung mendongak, menatap Vin dengan binar mata yang kembali penuh keyakinan. Ia mengangguk mantap sambil mengulas senyum tipis. Luca merasa seolah baru saja disuntikkan kekuatan besar oleh Vin—pria yang biasanya terkenal dingin, cuek, dan paling malas berurusan dengan drama perempuan, namun ternyata sangat pasang badan jika itu menyangkut ketenangan sahabatnya. Rose dan Elena pun ikut mengangguk setuju dengan pemikiran Vin.
Akhirnya, dengan perut yang sudah kenyang dan bonus boba ukuran jumbo di tangan masing-masing, Vin kembali menjalankan tugas utamanya: mengantar ketiga sahabatnya itu pulang ke rumah mereka satu per satu. Nasib berteman dengan geng ini, memang hanya Vin yang sudah bisa menyetir dan memiliki mobil sendiri, sementara yang lainnya hanya bisa nebeng atau naik nojek.
•
•
•
Jarum jam dinding di salah satu mansion megah di sudut kota London telah lama melewati angka sebelas malam. Keheningan yang pekat dan mencekam seolah merayap, menelan setiap sudut ruangan yang luas dan dingin itu.
Tuan Lodrik Willey sudah lama terlelap di balik selimut tebalnya, membiarkan sisi lain tempat tidur besarnya kosong tak berpenghuni.
Di ruang kamar yang temaram itu, Nyonya Sofia masih terduduk kaku di atas sofa kulit di samping jendela besar. Tatapannya kosong, lurus menembus kegelapan malam London yang berkabut. Di balik keanggunan wajahnya yang biasa dipuja orang, malam ini ada gumpalan luka, kekecewaan, dan rasa terpukul yang begitu hebat yang sedang ia kunci rapat-rapat di dalam dadanya.
Ada sebuah kebenaran yang begitu mengerikan, sebuah rahasia besar yang baru saja ia ketahui, yang rasanya sanggup meremukkan seluruh dinding pertahanannya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Rasa sakit itu begitu nyata, menyiksa fisiknya hingga ia harus meremas dadanya sendiri agar tidak meledak dalam tangis yang histeris.
Nyonya Sofia tahu, ia tidak boleh bersuara. Jangankan berteriak, mengembuskan napas terlalu berat pun pantang ia lakukan. Ia harus tetap terlihat sempurna, tenang, dan baik-baik saja di hadapan suaminya—dan yang paling utama, di depan putra sulungnya, Brant.
Cukup dirinya yang menanggung beban berdarah ini. Nyonya Sofia tidak akan membiarkan rahasia kelam ini sampai ke telinga Brant. Ia tahu betul bagaimana watak putra sulungnya itu. Brant adalah anak yang tenang, berwibawa, dan penurut. Namun, jika kabut hitam ini tersingkap, semuanya akan hancur menjadi abu.
"Aku hanya takut putraku berubah..." gumam Nyonya Sofia, suaranya nyaris berupa bisikan sarat keputusasaan yang langsung hilang ditelan kesunyian malam.
Pikirannya melayang pada sosok Brant yang kini sedang berjuang keras di perusahaan demi masa depannya. Nyonya Sofia mencengkeram jubah tidurnya dengan erat saat sebuah ketakutan terbesar terlintas di kepalanya. Jika Brant sampai mengetahui kebenaran menjijikkan ini, sisi hangat dan tenang dalam diri pemuda itu akan mati seketika. Brant akan hancur, lalu bangkit kembali sebagai sosok asing yang dipenuhi kemarahan.
Kira-kira... rahasia mengerikan apa yang sebenarnya diketahui oleh Nyonya Sofia sampai membuat beliau sehancur itu? Dan apa hubungannya dengan masa depan Brant dan Luca? 🤔