Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Kata-Kata yang Membekas
Delapan belas tahun lalu.
Kediaman keluarga Sadipta siang itu terlihat sangat ramai.
Mobil-mobil mewah berjajar di halaman depan mansion besar milik Mahatma Akash Sadipta dan Lilika Ayana Sadipta. Di dalam rumah, suara tawa para sosialita bercampur dentingan sendok teh memenuhi ruangan megah bernuansa emas tersebut.
Hari itu Lilika sedang mengadakan acara arisan bersama teman-teman elitnya.
Dan seperti biasa, Lavanya Anasera Raespati datang memenuhi undangan sambil membawa dua anak kecil.
Dhiajeng Kaluna Raespati yang masih balita dalam gendongan suster.
Dan Dariela Atlanna Zavira Raespati yang saat itu baru berumur sembilan tahun.
Ela kecil duduk diam di sudut sofa sambil menggambar di buku sketsanya. Rambut hitam panjangnya dikepang sederhana, mengenakan dress putih polos yang dipilihkan Mbok Yem pagi tadi.
Anak itu sangat tenang.
Terlalu tenang untuk anak seusianya.
Namun justru itulah yang membuat banyak orang diam-diam memperhatikannya.
Karena Ela kecil memiliki wajah yang sulit diabaikan.
Cantik.
Dan sayangnya… terlalu mirip ibunya.
“Anaknya Alana ya?” bisik salah satu wanita pelan.
“Cantik banget…”
“Tapi kasihan…”
Lavanya yang mendengar beberapa bisikan itu hanya tersenyum kecil canggung sambil mengelus kepala Ajeng kecil.
Saat itu hubungan Lavanya dan Ela sebenarnya belum terlalu buruk.
Wanita itu memang belum bisa menerima Ela sepenuhnya, tetapi setidaknya ia masih memperlakukan anak itu dengan cukup baik di depan orang lain.
“Bunda… Ajeng mau jus…” rengek Ajeng kecil manja.
“Iya sayang bentar ya.”
Lavanya berdiri menuju dapur bersama pengasuh Ajeng.
Dan di saat itulah semuanya mulai berubah.
Lilika Ayana Sadipta berjalan mendekati Ela kecil dengan langkah anggun sambil membawa cangkir teh mahal di tangannya.
Di belakangnya berdiri seorang anak laki-laki seusia Ela.
Sebasta Galen Sadipta.
Anak pertama keluarga Sadipta.
Saat itu Sebasta hanya berdiri diam sambil memainkan rubik kecil di tangannya. Namun matanya terus memperhatikan Ela sejak tadi.
Karena menurutnya… Ela berbeda dari anak perempuan lain.
Ela tidak cerewet.
Tidak manja.
Dan tidak berusaha menarik perhatian siapa pun.
Mungkin sejak kecil itulah Sebasta mulai memperhatikan Dariela tanpa sadar.
Namun sayangnya… cara lingkungan membentuknya justru salah.
“Kamu Dariela ya?” tanya Lilika sambil tersenyum tipis.
Ela langsung berdiri sopan.
“Iya Tante.”
Lilika mengangguk kecil sambil menatap wajah anak itu cukup lama.
“Cantik juga ya…”
Beberapa ibu-ibu mulai memperhatikan arah mereka.
Namun senyum Lilika perlahan berubah tipis.
“Tapi sayang…”
“Kamu anak haram.”
Deg.
Ela langsung membeku.
Rubik di tangan Sebasta ikut berhenti bergerak.
Anak kecil itu belum benar-benar mengerti arti kata tersebut. Namun dari cara semua orang tiba-tiba diam… Ela tahu itu bukan hal baik.
Lilika masih tersenyum santai seolah baru mengatakan sesuatu yang biasa.
“Kamu tau nggak kenapa banyak orang nggak suka sama kamu?”
Ela menunduk perlahan.
“Karena kamu lahir dari kesalahan.”
Suasana ruang tamu langsung terasa canggung.
Beberapa wanita terlihat tidak nyaman, namun tidak ada yang berani menegur Lilika Ayana Sadipta.
Ela kecil mulai menggenggam ujung dress-nya erat.
Matanya perlahan memerah.
Namun anak itu tetap diam.
Dan yang paling menyakitkan…
Sebasta melihat semuanya.
Ia melihat jelas bagaimana bibir Ela bergetar menahan tangis.
Ia melihat mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.
Namun Sebasta tidak bergerak sedikit pun.
Karena di kepalanya terus teringat ucapan sang ibu selama ini.
“Jangan terlalu dekat sama anak itu.”
“Anak haram cuma bawa masalah.”
Dan tanpa sadar… ucapan itu mulai tertanam dalam pikiran Sebasta kecil.
Lilika kembali mendekat sedikit pada Ela.
“Kamu harus tau diri ya…”
“Jangan berharap semua orang bakal nerima kamu.”
Air mata Ela akhirnya jatuh satu.
Cepat sekali sampai hampir tidak terlihat.
Namun Sebasta melihatnya.
Dan entah kenapa… dada anak laki-laki itu terasa sesak.
Saat itu Lavanya kembali dari dapur sambil membawa jus Ajeng.
Langkah wanita itu langsung berhenti melihat suasana aneh di ruang tamu.
Ela berdiri diam dengan mata merah.
Sementara Lilika terlihat santai meminum tehnya.
“Ada apa?” tanya Lavanya bingung.
Namun sebelum siapa pun menjawab, Ela langsung membungkuk kecil sopan.
“Ela izin ke taman belakang ya, Bunda.”
Dan anak kecil itu pergi cepat sebelum tangisnya pecah di depan semua orang.
Sebasta hanya bisa melihat punggung kecil itu menjauh perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasa dirinya sangat pengecut karena hanya diam saat seseorang menyakiti Dariela Atlanna Zavira Raespati tepat di depan matanya.