Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Peninggalan Pak Jaya dan sedikit petunjuk
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian itu. Garis polisi yang sebelumnya melintang di depan toko "Sumber Makmur" kini sudah dilepas, meninggalkan sisa-sisa lem isolasi yang mulai mengering di beberapa pintu. Aris berdiri di depan toko, memegang kunci cadangan yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Dengan napas panjang, ia memutar kunci dan mengangkat rolling door tersebut. Krieeet. Suara yang memecah kedamaian pagi saat itu.
Debu beterbangan di bawah sinar matahari. Toko itu berantakan, beberapa laci terbuka bekas olah TKP kepolisian dan jejak kapur putih di lantai masih samar terlihat seperti pengingat bisu di mana Pak Jaya mengembuskan napas terakhirnya.
Aris mulai bergerak. Ia tidak ingin tenggelam dalam suasana. Ia mengambil sapu, menyingkirkan kardus-kardus yang berserakan, dan menyusun kembali kunci-kunci pipa serta baut-baut ke raknya.
Gerakannya mekanis, mencoba mengalihkan pikiran dari bayangan video CCTV yang terus berputar di kepalanya.
"Aris? Sudah buka toh?"
Seorang pria paruh baya yang tinggal tepat di sebelah toko, melongokkan kepalanya. Tak lama, beberapa tetangga lain ikut mendekat.
"Iya, Pak. Cuma mau bersih-bersih dulu," jawab Aris sambil menyeka debu di meja kasir.
"Sabar ya, Ris. Pak Jaya itu orang baik, sayang dia tidak punya keluarga sama sekali. Hidup sebatang kara sampai tua," ucap tetangganya sambil menghela napas. "Tapi menurut kami, kamu itu beruntung, Ris. Pak Jaya seperti sudah percaya padamu. Jangan biarkan toko ini tutup. Teruskan usaha ini, setidaknya supaya nama Pak Jaya tetap diingat lewat toko ini."
Aris hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Meneruskan usaha ini? Ia bahkan tidak tahu apakah ia sanggup menatap lantai toko ini setiap hari tanpa teringat kejadian itu. Namun, ucapan para tetangga ada benarnya kalau toko ini adalah satu-satunya peninggalan Pak Jaya yang tersisa.
Setelah beberapa jam berkutat dengan debu, suara mesin mobil yang akrab terdengar berhenti di depan toko. Liora turun dengan membawa bungkusan plastik kecil yang mengeluarkan aroma gurih.
"Sudah kuduga kamu ada di sini," ucap Liora sambil masuk ke dalam. Ia meletakkan dua bungkus nasi uduk di atas meja kayu yang sudah bersih. "Aris. Aku bawakan nasi, kebetulan aku juga belum makan."
"Liora. Duduk dulu, sebentar lagi aku menyusul." ujar Aris.
Mereka berdua akhirnya duduk di kursi plastik di depan toko, menghadap jalanan yang mulai sibuk. Suasana terasa jauh lebih manusiawi dibandingkan beberapa hari terakhir.
"Nasi uduknya enak, Terima kasih," gumam Aris sambil menyantap makanannya.
"Sama-sama," jawab Liora. Ia menatap ke arah dalam toko, lalu kembali ke Aris. "Tetangga bilang apa tadi?"
"Mereka suruh saya teruskan toko ini. Katanya Pak Jaya sebatang kara, jadi tidak ada yang mewarisi."
Liora mengangguk kecil. "Itu ide bagus. Terlihat normal, Aris. Tapi setelah kejadian Pak Jaya terus rekaman CCTV yang kita lihat, aku merasa seperti ada beberapa orang yang memperhatikan kita kalau kita itu tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Padahal kita juga bingung."
Aris terdiam, mengunyah nasi uduknya perlahan. Matanya menatap ke arah trotoar, di mana sebuah tutup drainase saluran air terlihat sedikit bergeser.
Ia teringat tetesan air di wastafel Pak Jaya.
"Liora," bisik Aris. "masalah video itu... menurutmu, Dokter Ferdi benar-benar tidak tahu apa-apa? Gerakannya di CCTV itu sangat.... Bagaimana ya?. Seperti dia bukan mencari tanda pembunuhan."
Liora berhenti menyuap, pandangannya berubah serius. "Itu yang sedang aku pikirkan juga. Kita harus menunggu kabar darinya, tapi kita juga tidak boleh percaya sepenuhnya."
"Ris, aku pergi dulu ada yang harus aku kerjakan." Liora menyimpan nasi yang belum habis di meja lalu pergi menaiki mobilnya.
"terima kasih nasi nya.." ucap Aris.
Sore itu, di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak tahu apa-apa, ada rahasia yang belum mereka fahami.
...****************...
Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat oranye yang masuk lewat sela-sela pintu toko yang sudah setengah tertutup. Aris akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hari pertamanya menjaga toko sendirian. Namun, setelah suara gembok besar terpasang, ia tidak langsung pergi. Ia justru berdiri diam di tengah ruangan yang remang-remang, membiarkan matanya menyisir setiap sudut rak besi yang kini terasa sangat sunyi tanpa suara gumaman Pak Jaya.
Langkahnya membawanya kembali ke dapur kecil di belakang. Di sana, suara tik... tik... tik... dari keran wastafel terasa memekakkan telinga di tengah kesunyian. Aris menatap wastafel itu dengan perasaan campur aduk.
"Harus diperbaiki," gumamnya pelan. Ia tidak ingin melihat dan mendengar tetesan itu lagi.
Aris mengambil kunci pipa dari rak dan mendekat ke wastafel. Saat ia hendak memegang tuas keran, gerakannya terhenti. Seekor kecoa sedang terlentang di dasar wastafel, kakinya bergerak-gerak lemah mencoba membalikkan tubuh. Tepat saat itu, satu tetes air jatuh dari mulut keran dan mendarat telak di atas perut kecoa tersebut.
Aris mematung. Matanya melebar saat melihat reaksi yang terjadi.
Kecoa itu tiba-tiba berhenti bergerak. Dalam hitungan detik, tubuhnya bergetar hebat. Aris bisa melihat cangkang kecoa yang tadinya cokelat mengkilap perlahan berubah menjadi kusam dan mengeras seperti kerikil abu-abu. Cairan gelap merembes keluar dari celah-celah tubuh hewan kecil itu, persis seperti letupan yang ia lihat di punggung Pak Jaya melalui rekaman CCTV.
"Ya Tuhan..." Aris berbisik ngeri sambil mundur menjaga jarak.
Lantas ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel pemberian Liora. Ia segera menyalakan kamera dan mulai merekam. Jantungnya berdegup sedikit kencang saat melihat hewan kecil itu akhirnya diam sepenuhnya, berubah menjadi sebongkah mineral kecil yang tampak mati dan tidak alami.
Aris tidak menunggu lama lagi. Dengan jari yang masih gemetar, ia mencari kontak Liora dan menekan tombol panggil. Begitu panggilan diangkat, suara Aris terdengar mendesak.
"Liora, tolong ke toko sekarang!. Bawa laptop nya juga."
"Ada apa, Ris?" sahut Liora di ujung telepon.
"Saya melihatnya sendiri. Cepat ke sini, saya tunggu di pintu belakang."
Aris menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia menatap layar ponselnya yang masih menampilkan video kecoa tadi. Rasa takut kini bercampur dengan amarah yang dingin. Jika air ini bisa membunuh seekor kecoa dalam hitungan detik dan merusak tubuh manusia sehebat itu, maka setiap orang di kota ini sedang berada di ujung tanduk tanpa mereka sadari.
Aris berdiri menyandar di dinding dapur yang lembap, menjauh dari wastafel itu seolah-olah tetesan air berikutnya bisa melompat dan menerkamnya. Sekarang ia tahu, musuh yang mereka hadapi tidak punya wajah, tidak punya suara, tapi mengalir di setiap urat nadi kota ini.
Liora datang dalam waktu kurang dari lima belas menit. Ia masuk lewat pintu belakang, langsung meletakkan tas laptopnya di atas meja kayu dapur yang berdebu. "ada apa?" Liora bertanya penasaran.
Aris menyodorkan ponselnya. "Lihat ini!"
Liora terdiam saat melihat rekaman video berdurasi singkat itu. Wajahnya yang biasanya tenang berubah pias. Ia memutar video itu berulang kali, memperbesar bagian di mana cangkang kecoa itu mengeras dan meletupkan cairan gelap.
"Aris?!," bisik Liora sambil menatap wastafel yang masih menetes.
"Pak Jaya meninggal mungkin karena dia minum air ini, Liora," suara Aris terdengar berat, menekan amarah yang mulai meluap. "Kecoa ini cuma butuh satu tetes di punggungnya. Bayangkan kalau ini sampai ke pemandian umum atau instalasi air di sekolah-sekolah. Kamu masih ada denah kota ini kan?" tanya Aris.
Liora segera membuka laptopnya, jemarinya menari di atas keyboard untuk memunculkan denah digital yang sempat ia tunjukkan sebelumnya. "Aku sudah memetakannya. Lihat ini."
Aris mendekat, memperhatikan garis-garis rumit yang saling silang di layar. "Toko ini berada tepat di atas jalur pipa distribusi lama yang seharusnya sudah dinonaktifkan sepuluh tahun lalu. Tapi ternyata, pipa ini masih dialiri dan air ini terhubung ke hampir setiap sudut pemukiman warga di sektor ini."
Aris menunjuk ke sebuah titik di mana banyak garis pipa bertemu, menyerupai simpul saraf yang rumit. "Kabel-kabel yang aku lihat... mereka sejajar dengan jalur pipa ini, menuju ke satu arah yang sama."
Ia terdiam sejenak.
"Liora, kita tidak bisa cuma duduk di sini sambil menebak-nebak," ucap Aris tegas. "Denah ini cuma gambar. Kita harus melihat apa yang sebenarnya ada di bawah sana."
Liora mendongak, matanya membelalak. "Maksud kamu... masuk ke saluran bawah kota? Itu berbahaya, Aris. Kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana, apalagi dengan kondisi air seperti ini kalau memang benar air ini masalahnya."
"Harusnya ini pekerjaan ku, Liora. Aku mungkin tahu celah mana yang bisa dilewati tanpa harus menyentuh airnya," Aris mengambil senter besar dan tak lupa jaket tebal yang tergantung di dinding dia ambil dan memberikan ke Liora untuk di pakai.
"Kalau kita ingin tahu ada apa, kita harus mengikuti aliran airnya. Dan satu-satunya cara adalah lewat bawah."
Liora menatap denah di layar laptopnya, lalu beralih menatap Aris. Ia tahu pemuda di depannya ini mungkin benar. Menunggu pihak berwenang hanya akan membuang waktu, sementara air itu terus mengalir di bawah kaki para warga.
"Baiklah," Liora menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Tapi aku ikut.."
Aris mengangguk pelan. "pakai jaket nya." Lalu Aris berjalan keluar, melihat sekeliling takut ada orang yang melihat. Lalu Aris pun membuka lubang penutup gorong-gorong di trotoar depan toko. Kegelapan yang lembap menyambut mereka, membawa aroma besi yang kini mereka rasa.
"Aku turun dulu Liora, jangan sampai ada satu tetes pun air di bawah sana yang menyentuh kulitmu."
...****************...