NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GSS

"Lalu sekarang apa lagi?" tanya Ella, sembari membolak-balikkan sepatu kacanya. Saat itulah hag dari salah satu sepatu kaca mengeluarkan flashdisk. Ella terperanjat. "Apa ini yang dimaksud Ayah?" Ella menatap flashdisk itu, apa isinya sehingga ia harus menemukannya?

Ella bergegas keluar kamar. Ia ingin mencari tahu isi dari flashdisk ini. Tetapi baru keluar dari lemari tua yang menjadi pintu ke kamar gudang barang-barangnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan ketukan yang lebih mirip gedoran.

"Ella ... Ella ... buka pintunya!" suara gedoran itu semakin lama semakin

Suara itu diikuti teriakan yang tak sabar, memanggil namanya berulang kali. Ella sempat melirik layar ponselnya, pesan terakhir dari ayahnya masih tertera jelas di sana, sebelum beranjak membuka pintu, Ella dengan cepat menghapusnya, seolah kata-kata itu terlalu berbahaya untuk dibiarkan berada disana terlalu lama.

Ia berjalan ke pintu dan baru saja memutar kunci ketika dorongan dari luar membuat pintu itu terbuka lebih lebar, dan Sisil langsung masuk tanpa menunggu izin.

Perempuan bertubuh jangkung itu berdiri tegak di tengah kamar, napasnya sedikit berat, matanya tajam menatap Ella dengan campuran kesal dan tidak sabar. “Kamu ngapain lama banget?” tanyanya langsung, nadanya menekan, seolah Ella memang bersalah.

Ella mengerutkan kening, menahan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. “Dari kamar mandi,” jawabnya singkat, berusaha terdengar biasa. “Memangnya orang lagi di kamar mandi harus buru-buru?”

Sisil mendecak pelan, jelas tidak puas, tapi ia tidak memperpanjang. Tangannya disilangkan di dada, lalu ia berkata cepat, seolah hanya ingin menyampaikan satu hal penting. “Turun ke bawah. Ada polisi nyari kamu.”

Kalimat itu membuat Ella sejenak kehilangan pijakan. Ia tidak langsung bergerak, hanya menatap Sisil, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. Polisi. Mencarinya. Di tengah semua kekacauan ini.

Sisil membalas tatapan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, bukan cemas, bukan juga panik, lebih seperti mengamati. “Katanya penting,” tambahnya singkat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban, melangkah keluar kamar dengan langkah panjang dan pasti.

Pintu dibiarkan terbuka. Ella tetap berdiri di tempatnya beberapa detik, pikirannya kembali berputar, menghubungkan semua yang terjadi sejak pagi, kecelakaan, tuduhan korupsi, pesan ayahnya, dan sekarang polisi yang datang mencarinya. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ini bukan lagi kebetulan. Sesuatu sedang bergerak, dan ia sudah ada di dalamnya, entah sejak kapan.

***

Ella menuruni tangga dengan langkah yang berusaha ia jaga tetap tenang, meski pikirannya masih berputar sejak Sisil mengatakan ada polisi yang mencarinya.

Di ruang tamu, Bu Vero sudah duduk berhadapan dengan dua orang polisi, berbicara pelan dengan sikap yang terlihat dikendalikan, meski ketegangan jelas tergambar di wajahnya. Percakapan itu terhenti begitu Ella muncul di anak tangga terakhir. Sejenak, tidak ada yang berbicara. Semua mata beralih padanya, membuat langkahnya terasa lebih berat dari seharusnya.

“Ella?” tanya salah satu polisi, memastikan.

Ia mengangguk pelan, lalu mendekat. Polisi itu mulai menanyakan beberapa hal, jam berangkat ayahnya, apakah ada yang tidak biasa, apakah Pak Tanto sempat mengatakan sesuatu sebelum pergi.

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cara mereka memperhatikannya membuat Ella merasa setiap jawabannya sedang ditimbang. Ia menjawab seperlunya, hati-hati memilih kata, menahan diri untuk tidak menyebut pesan terakhir yang masih tersimpan di ponselnya.

Namun sebelum percakapan itu berlanjut lebih jauh, langkah cepat terdengar dari arah tangga. Sisil muncul. Di tangannya ada ponsel Ella. “Kamu nyari ini, kan?” katanya, nada suaranya datar tapi cukup keras untuk menarik perhatian semua orang.

Ella langsung menegang.

“Aku tadi lihat di atas. Sekalian aku cek,” lanjut Sisil tanpa diminta, lalu menoleh ke arah polisi. “Nggak ada pesan dari ayahnya.”

Dunia seolah berhenti sepersekian detik. Ella menatap Sisil, tidak percaya. “Kamu ngapain buka HP aku?” Nada suaranya tajam, tidak lagi bisa ditahan.

Sisil mengangkat bahu, seolah itu hal biasa. “Mereka butuh informasi.”

Polisi yang lebih tua segera menyela, suaranya tetap tenang namun tegas. “Ini bagian dari proses lanjutan, Mbak. Kami hanya memastikan apakah ada komunikasi terakhir yang relevan.”

Ella mengepalkan tangannya. Dadanya terasa panasbukan karena takut, tapi karena marah. Sisil sudah lancang, memeriksa ponselnya tanpa seizin Ella. Tetapi kejadian ini juga menyadarkan Ella agar ia bertindak secepat mungkin.

Ella menatap ponsel itu di tangan Sisil, lalu ke arah polisi. Ia sangat yakin gak akan ada sesuatu hal yang berharga yang bisa ditemukan di sana sebab Ella sudah menghapusnya.

“Kalau tidak ada lagi,” lanjut polisi itu, seolah menutup bagian itu, “kami akan melanjutkan dengan penggeledahan.”

Tanpa menunggu respon, mereka mulai bergerak. Laci dibuka. Lemari diperiksa. Rak buku disentuh satu per satu. Gerakan mereka rapi, sistematis, seperti tahu apa yang sedang dicari. Dan itu membuat perasaan Ella semakin tidak nyaman. Karena ia punya firasat kuat mereka mencari sesuatu yang sama. Sepatu kaca.

Tangannya tanpa sadar menyentuh saku bajunya. Benda kecil itu masih ada di sana. Aman. Setidaknya untuk sekarang.

Ia menahan napas perlahan, berusaha tetap terlihat biasa, meski jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali polisi bergerak mendekati area lain di rumah.

“Untuk sementara,” kata polisi itu lagi, menoleh ke arah Bu Vero dan Ella, “rumah ini harus dikosongkan. Kami perlu melakukan penggeledahan lebih lanjut tanpa gangguan.”

“Dikosongkan?” ulang Bu Vero, sedikit terkejut.

“Iya. Hanya sementara. Kami akan beri kabar setelah selesai.”

Sunyi kembali jatuh. Ella berdiri diam. Rumah ini yang sejak tadi sudah terasa asing kini benar-benar akan diambil alih. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar apa pun yang sedang terjadi, ia sudah tidak lagi punya tempat yang benar-benar aman.

"Kita harus patuh!" tiba-tiba saja Bu Vero memberikan instruksi pada Sisil dan Ella untuk meninggalkan rumah ini. Diikuti oleh khadimat yang bekerja disini.

"Tapi kita mau kemana? Berapa lama?" Ella tak ingin pergi. Ini rumahnya dan ia tak mau meninggalkan tempat ini sebab ia tak punya tempat lain.

"Ella, berhentilah untuk banyak bertanya. Yang jelas sekarang ikut " Bu Vero bicara pelan namun tegas.

"Tapi Bu, kita mau kemana?" Ella masih menolak.

"Ke rumah saya!" tegasnya.

"Hah, ke rumah kita? Maksudnya ke rumah .... ? Kenapa? Mama bilang kita tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Aku nggak mau, Ma!" Sisil langsung protes.

Tetapi Bu Vero bersikap yang sama, ia menegaskan Sisil untuk nurut saja. Mereka akan kembali ke rumah lamanya yang Ella sendiri tidak tahu kenapa saudara tirinya itu seperti keberatan untuk pulang.

"Tidak. Aku tidak mau pergi." Ella juga bersikeras akan tetap tinggal. "Setahu aku, saat penggeledahan penghuni rumah berhak mengetahui dasar hukum penggeledahan dan ikut mendampingi." ungkap Ella.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!