Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Karma Pak Rehan
Pak Rehan membulatkan mata. Jemari pria itu yang tadi menggenggam erat lembaran uang, perlahan gemetar ketika teksturnya berubah kasar dan mudah retak. Warna merah di angka seratus ribu yang dia banggakan sekarang memudar sedikit demi sedikit, berganti menjadi hijau muda dan cokelat kusam seperti daun kering.
"Kok berubah gini?" tanya Pak Rehan panik sambil membolak-balikan benda yang ada di tangannya.
Jantungnya berdesir dan matanya memicing menatap tak percaya uang yang berubah jadi daun di tangannya itu. Karena geli, pria itu segera melempar dedaunan itu di lantai.
Naja melihat itu tertawa terbahak-bahak, dia melipatkan kedua tangannya di depan dada. "Katanya sudah hitung biaya dengan baik." ucapnya pelan dan terdengar sinis. Dia melirik Pak Rehan yang gugup.
"Lha, kok duitmu berubah jadi daun?" sindir Naja.
Pak Rehan menghela napas. Dia berusaha menahan sisa uang yang ada di sebelah tangannya itu. Pria itu membalas tatapan Naja dengan tajam. Rahangnya sedikit mengeras dan alisnya mengerut.
"Mungkin itu karena ulahmu, kau kan punya kekuatan untuk memanipulasi ini semua," tuduh Pak Rehan, suaranya keras. Dia berusaha menyerang Naja balik secara tidak langsung.
Naja tidak langsung tersinggung dengan perkataan Pak Rehan. Dia justru tersenyum sambil terkekeh pelan. Sosok itu menyipitkan mata menatap Pak Rehan.
"Oh ya? Berarti aku keren dong? Kalau gitu mending kamu yang kuubah jadi keledai, daripada uang ini jadi daun. HAHAHA” Tertawa Naja sedikit membuat Rehan gemetar. Lalu Naja melanjutkan kalimatnya. “Nah, pak tua botak, apa kamu beneran lupa nih tentang perbuatan kamu?!" tanya Naja membuat Pak Rehan mengerutkan kening.
"Aku tidak mengerti maksudmu," lirih Pak Rehan.
Naja tersenyum, dia tahu Pak Rehan tidak akan sejujur itu padanya, persis seperti orang-orang yang dia adili sebelum ini. Dia pun mengeluarkan remot dari kekuatannya dan menyalakan ke layar proyektor. Di sana, terlihat jelas rekaman bagaimana Pak Rehan diam-diam menggelapkan dana bantuan yang diberikan pemerintah.
Jantung Pak Rehan langsung berdebar melihat itu. Keringat dingin mengucur membasahi kening. Kedua matanya membesar dengan pupil yang gemetar. Rahang pria itu mengeras, dia menatap Naja dengan tajam.
"Bagaimana kamu bisa tahu ini semua?" tanya Pak Rehan tidak percaya.
Naja membalas pertanyaan itu dengan senyuman sinis. "Aku tahu semua yang kamu lakukan. Jadi, jangan main-main denganku.." jawabnya dengan tegas.
Pak Rehan menghela napas mencoba mencari ketenangan. Tubuhnya gemetar dan mulai melemas. Tanpa sadar, dia kehilangan keseimbangan dan tersungkur keras ke ke lantai hingga jantungnya seperti mau copot saking kaget.
"Aku tidak bersalah. Ini hanya salah paham," ucap Pak Rehan berusaha membela diri.
Naja terkekeh. "Salah paham? Baiklah, aku berikan kamu ketenangan sejenak. Jika uang yang kamu pegang itu tetap uang aku akan mengampuni.." tegas sosok itu. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melirik sisa uang yang digenggam erat oleh Pak Rehan.
Benar saja, setiap ucapan Naja seperti mantra yang mudah dijadikan kenyataan. Uang yang ada digenggaman Pak Rehan pelan-pelan berubah menjadi daun kering yang murah rapuh. Warnanya cokelat layu seperti hati Pak Rehan yang sudah membusuk karena kerakusan.
"Ini semua palsu!" ucap Pak Rehan sambil meremas daun yang dia genggam, membuatnya rapuh dengan cepat.
"Sama seperti kamu," balas Naja.
Sosok itu berubah makin menyeramkan. Tatapan matanya tidak lagi sinis tapi tajam. Senyum yang ada di wajahnya juga memudar. Dia mendekat ke arah Pak Rehan dengan secepat cahaya.
"Ini akibat karena kerakusan kamu selama ini!" tegas Naja dengan sedikit berteriak. Karena amarah, dia juga mengeluarkan bola api dari mulutnya membuat ruangan mewah yang dimiliki Pak Rehan hancur menjadi debu.
Bahkan Pak Rehan yang terkena tiupan angin itu seketika ikut gosong. Dia beruntung karena Naja tidak langsung menyerang nyawanya. Namun, pria itu masih merasa kesakitan karena badannya tiba-tiba saja kaku untuk digerakkan.
"Ini juga akibat karena kamu suka merampas hak orang!" ucap Naja sekali lagi dengan suara tinggi. Dia mengeluarkan kekuatannya dan menyerang pada pak Rehan, membuat tangan pria itu seketika buntung sebelah.
Jantung Pak Rehan berdebar-debar, dia ingin berusaha melawan tapi kondisinya seperti lumpuh. Tangan kanannya mengepal dan rahangnya mengeras.
"Aku tidak merampas, mereka yang tidak bisa mengatur keuangan!" tuduh Pak Rehan.
Seketika badannya seperti ditampar oleh sesuatu yang sangat keras hingga tubuhnya tersungkur tapi dia berusaha menahan sisa keseimbangan.
Sesaat, Naja terdiam. Dia tidak langsung menyerang korbannya bertubi-tubi tapi memberikan kesempatan sedikit untuk pria itu bernapas. Tanpa izin dari Pak Rehan, Naja diam-diam membuka pintu ruangan dan mempersilahkan banyak orang masuk ke dalam ruangan itu.
Melihat banyak orang datang ke rumahnya dengan berkerumun, membuat mata Pak Rehan terbelalak. Rasa kesalnya makin dalam saat orang-orang datang juga membawa dompet serta spanduk bertuliskan minta hak mereka.
"Siapa yang suruh kalian masuk?" tanya Pak Rehan, suaranya lirih karena dia juga menahan rasa sakit di tubuhnya.
Mereka tidak menjawab justru berteriak. "Tidak perlu kepo! Serahkan hak-hak kami atau kami bakar gedung ini," ancam salah satu tukang yang tadi belum mendapat upah secara adil. Dia berteriak sangat kencang membuat telinga Pak Rehan seperti mau lepas.
Merasa tahu bahwa Pak Reman tidak akan memberikan uang itu secara cuma-cuma, Naja pun inisiatif membuka koper yang ada di atas meja. Koper itu masih berisi uang yang sangat banyak Dia tersenyum melihat orang-orang.
"Bapak-bapak sekalian, kalian tidak perlu bingung soal upah kalian. Ambil saja di dalam koper ini. Ambil sepuas kalian, anggap itu bonus dari kepala sekolah culas ini!" ucap Naja lembut dan ramah pada orang-orang. Dia tidak berhenti tersenyum pada mereka.
Perlahan satu per satu orang maju mengambil uang yang ada di dalam koper. Sementara, Pak Rehan melihat kejadian itu dengan geram. Dia mengepalkan tangan dan tatapan matanya tajam. Pria itu hendak bersuara tapi tiba-tiba...
CRACK
Mulut Pak Rehan tiba-tiba saja robek separuh, dia tidak sengaja memuntahkan darah segar ke lantai dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Pak Rehan mengepalkan tangan, dia membuka mulut tapi rasanya ngilu dan retakan itu terus terjadi di mulut dan lidahnya. Darah segar terus keluar.
"Heh, jangan ambil uang saya. Kembalikan uang itu ke koper!" perintah Pak Rehan, suaranya pelan terbata-bata. Namun, semakin dia berusaha mengatakan sesuatu, sesuatu seperti merobek mulutnya dari dalam membuat lidahnya kelu seperti terkena duri yang tajam.
Naja tidak berhenti sampai disitu, dia tersenyum menatap orang-orang yang sudah mendapatkan upah mereka. Tangannya terangkat melambai ke arah mereka.
"Perhatian semua, saya juga ada hadiah kecil untuk kalian," ucap Naja melirik Pak Rehan yang berlumuran darah.
Mata para tukang itu berbinar. "Apa?"
"Kalian bebas mau memukul pria ini sesuka hati. Anggap ini impas dengan sikap dia yang suka makan uang kalian," ujar Naja sambil tersenyum sok manis.
Mendengar itu, Pak Rehan melotot. Dia berusaha menghindar tapi badannya kaku. Ingin bicara pun mulutnya juga sudah rusak.
Pria itu hanya bisa diam sambil mengeluarkan banyak darah karena luka di mulut dan di tangannya. Sekarang, para tukang itu juga menghantam dirinya hingga dia menjadi lumpuh total.