Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Menyadari ada konsekuensi fatal di balik keputusan impulsif tersebut, Hank memberanikan diri untuk kembali bersuara. Kali ini, dengan tingkat kehati-hatian yang maksimal.
“Tapi, Tuan…” Hank menjeda sejenak, menjaga agar nada bicaranya tetap tenang dan tidak terkesan mendikte. “Bagaimana dengan Steven Gu? Pertemuan Anda dengannya dijadwalkan tiga puluh menit lagi.”
Hank menelan ludah, mengumpulkan sisa keberanian sebelum menyampaikan poin paling krusial. “Jika malam ini kita membatalkan janji atau datang terlambat tanpa alasan yang jelas, Steven Gu akan menganggapnya sebagai penghinaan. Pria itu tidak akan ragu untuk mengangkat senjata melawan kita.”
Taruhannya terlalu besar. Steven Gu bukanlah musuh sepele. Membatalkan pertemuan terkait barang yang belum di terima Steven Gu secara sepihak sama saja dengan menyulut perang terbuka di wilayah kekuasaan mereka.
Hank menahan napas, menunggu respons sang tuan dengan dada berdebar kencang.
“Biarkan saja,” sahut Aragon dingin.
Hank tertegun. “Maaf, Tuan?”
“Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau,” ucap Aragon datar, tanpa mengalihkan pandangan. “Jika dia ingin mengangkat senjata dan memicu perang, kita tinggal meladeninya.”
“Kau takut?” tanya Aragon, tatapannya terkunci pada Hank.
Pertanyaan itu justru memantik tawa geli yang tertahan di tenggorokan Hank.
Takut? Kata itu terdengar asing di telinganya.
Ketakutan terbesarnya hanya pada sosok yang sedang bertanya padanya. Lagi pula Tuannya tahu betul siapa dirinya.
Hank adalah monster yang selalu berdiri di garis depan, menghadapi kepungan musuh tanpa secuil pun rasa gentar. Bersama Aragon, ia telah melewati berbagai pembantaian besar yang meluluhlantakkan lawan.
Membunuh, menusuk, mencabik, itulah candu yang mengalir dalam darahnya. Bagi Hank, amis darah segar adalah seni, dan kematian musuhnya adalah keindahan bagi matanya.
“Anda lebih tahu apa yang selalu saya dambakan, Tuan,” jawab Hank, matanya berkilat penuh antisipasi.
Sudut bibir Aragon terangkat tipis. Senyum seringai yang menegaskan bahwa ia sangat mengenali kebrutalan pengawal pribadinya itu, tangan kanan yang berfungsi ganda sebagai perisai sekaligus senjata paling mematikan miliknya.
Namun, jika Hank adalah monster yang haus darah, maka pria yang duduk di hadapannya adalah sosok yang menciptakan monster tersebut.
Jika Hank adalah iblisnya, maka Aragon adalah penguasa neraka itu sendiri, dimana sang iblis tunduk pada kekuasaan Aragon.
“Kerahkan barisan mobil besar,” perintah Aragon dingin kepada Hank sesaat sebelum mereka tiba. “Biarkan mereka langsung tahu siapa yang datang.”
Hank mengangguk patuh, jemarinya dengan cepat mengetikkan perintah di ponsel. “Baik, Tuan. Unit pengawal terdekat akan langsung merapat ke lokasi menggunakan armada besar.”
Iring-iringan mobil hitam itu akhirnya berputar arah, melaju membelah jalan menuju panti asuhan milik Aurora.
Perjalanan ke sana tidak memakan waktu lama. Beberapa menit sebelumnya, mereka bahkan baru saja melewati kawasan tersebut saat hendak menemui Steven Gu, janji temu yang akhirnya dilanggar begitu saja oleh Aragon.
Sementara itu, di depan bangunan panti, Aurora masih berdiri kaku di ambang gerbang. Gadis itu tampak putus asa, kepalanya dipenuhi tekanan hingga sulit berpikir jernih. Ia sudah kehabisan cara dan tak lagi mampu menemukan jalan keluar.
“CEPAT!!!” bentak Bulldog. “Kalau kau terus diam dan tidak membuat keputusan, aku akan memerintahkan mereka menghancurkan tempat ini sekarang juga!”
Aurora mengepalkan tangannya yang gemetar. Ia tidak sanggup melihat panti itu dihancurkan, tetapi di sisi lain, ia tidak memiliki pilihan. Keheningan gadis itu justru menyulut amarah lawan.
“BAIKLAH!” teriak Bulldog dengan wajah memerah. “HANCURKAN ATAPNYA!”
BRRRAAAKKK!!!
Suara hantaman keras mengguncang area panti. Alat berat mulai menghantam dan merobohkan bagian atap bangunan, membuat puing-puing beton beterbangan ke segala arah.
“JANGANNNN!!!”
Jeritan ketakutan anak-anak seketika memenuhi udara.
Para suster menangis histeris melihat tempat bernaung mereka mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Aurora terpaku di tempatnya. Matanya terasa panas, tubuhnya lemas, dan kepalanya seolah mau pecah.
“KAU MASIH TIDAK MAU MEMBUAT KEPUTUSAN?!” bentak Bulldog lagi. “BAIK! ANGGAP SAJA KAU MEMILIH TIDUR DI JALANAN!”
Pria itu berbalik, menunjuk ke arah anak-anak panti sambil tertawa sinis. “DENGAR ITU BAIK-BAIK! Kakak kalian ini lebih memilih egonya daripada menyelamatkan panti asuhan ini! Ingat itu selalu! Dia bukan wanita baik, dia hanya gadis munafik yang egois! ROBOHKAN SEMUANYA!!!”
“Tunggu…” Suara Aurora akhirnya lolos, terdengar lirih namun menghentikan gerakan alat berat.
Bulldog langsung menoleh cepat. “Apa?” tanyanya tidak sabar. “Tunggu apa? Katakan dengan jelas!”
“Aurora jangan, Nak…” Para suster meratap di sela tangis mereka. “Jangan menikah dengan Bulldog… Kita pasti bisa mencari jalan lain…”
Aurora menoleh, menyunggingkan senyum pahit yang menyayat hati. “Ke mana lagi, Suster?” bisiknya parau. “Sudah tidak ada jalan lain…”
Mendengar kepasrahan itu, tawa puas Bulldog pecah. Senyum lebar pemenang terukir di wajahnya yang culas.
“Nah, begitu,” katanya menyeringai. “Lanjutkan ucapanmu… atau aku ratakan tempat ini sekarang juga.”
Aurora menundukkan kepala. Bibirnya bergetar hebat saat hendak merelakan masa depannya demi menyelamatkan panti. Bulldog menunggu dengan dada membusung, bersiap menyambut kemenangan mutlaknya.
Namun tepat di detik itu— Deru garang mesin mobil bertenaga besar memotong keheningan dari kejauhan. Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara.
Iring-iringan mobil hitam mewah melaju cepat, memotong jalan, dan langsung mengepung area depan panti asuhan. Kendaraan-kendaraan itu berhenti serentak dengan presisi yang mencengangkan.
Pintu-pintu mobil terbuka hampir bersamaan. Puluhan pengawal berjas hitam turun dengan langkah tegas dan tatapan sedingin es, langsung membentuk perimeter barisan dan mengamankan area. Aura intimidasi yang pekat seketika menyelimuti atmosfer, membuat sisa-sisa tawa Bulldog langsung tertelan kembali di tenggorokannya.
Warga yang sejak tadi berkerumun menyaksikan penggusuran buru-buru mundur ketakutan, membuka jalan luas bagi armada hitam misterius tersebut yang kini mengunci total panti asuhan dari dunia luar.
Ketegangan di depan gerbang panti asuhan mendadak membeku. Bahkan Bulldog, yang beberapa detik lalu berteriak pongah, kini menahan napas saat menyadari salah satu Cadillac Escalade hitam pekat di barisan terdepan berhenti tepat di hadapannya.
Suara mesin yang tadinya menderu garang, mendadak senyap. Sesaat, tidak ada pergerakan. Atmosfer di sekitar tempat itu mendadak turun drastis, menyisakan keheningan yang mencekam.
“Klik!” Pintu penumpang bagian belakang terbuka perlahan.
Hal pertama yang tertangkap oleh mata semua orang adalah ujung sepatu pantofel kulit mewah berwarna hitam legam yang mengilat tanpa cela.
Begitu sepatu itu menapak di atas tanah yang berdebu akibat puing runtuhan, sebuah tekanan tak kasatmata langsung menyebar di udara.
Aragon keluar dari dalam mobil.
Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi dibalut setelan jas hitam mahal yang terpotong rapi, kontras dengan latar belakang panti asuhan yang mulai hancur.
Wajahnya terpahat sempurna, namun ekspresinya benar-benar kosong, sebuah paras tampan tanpa emosi, sedingin es, dan sekejam malaikat maut yang siap mencabut nyawa.
Tatapan matanya yang tajam mengunci lurus ke depan, mengabaikan Bulldog dan puluhan anak buahnya seolah mereka tak lebih dari sekadar kerikil tak berharga.
Aragon mulai melangkah.
Setiap ketukan langkah sepatunya terdengar konstan dan berat, memecah keheningan. Langkah yang begitu tenang, namun membawa aura intimidasi yang luar biasa pekat.
Di belakangnya, Hank menyusul dengan ekspresi geli yang berbahaya, sementara puluhan pengawal bersenjata langsung mengekor dalam formasi yang sempurna.
Warga dan anak buah Bulldog refleks mundur selangkah demi selangkah, memberi jalan secara sukarela karena tubuh mereka gemetar diserang rasa takut yang primitif.
Aragon terus berjalan tanpa ekspresi, membelah kerumunan, langsung menuju ke titik di mana Aurora sedang berdiri terpaku. Di mata pria itu, tidak ada ampun, tidak ada keraguan—hanya ada dominasi mutlak yang siap meratakan siapa saja yang berani menghalangi langkah kakinya.
Bersambung