Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Tak Mau Dianggap Lemah
Toilet belakang akhirnya kembali sunyi setelah Geng Violet pergi terburu-buru. Masih tersisa bau air pel dan ketegangan yang menggantung di udara.
Marsya langsung berlari mendekati Maya dengan wajah panik. “Ya ampun, Maya!” serunya sambil memegang lengan Maya. “Lo nggak apa-apa?!”
Maya menoleh sekilas. Dia tak menjawab. Raut wajahnya justru tampak kesal.
“Kok diam aja sih?” timpal Marsya hampir frustrasi.
Sementara itu Axel berdiri beberapa langkah dari mereka sambil memperhatikan Maya diam-diam. Tatapannya penuh khawatir.
Seragam putih Maya basah kuyup sampai menempel di kulit. Rambut hitamnya juga masih meneteskan air.
Axel menghela napas pelan. “Maya,” katanya hati-hati. “Lo harus lapor ke guru.”
Maya langsung menatapnya datar. “Nggak perlu.”
Axel mengernyit. “Mereka udah kelewatan.”
Maya mendecakkan lidah kecil. Tatapan Axel yang terlalu khawatir itu justru membuat Priska merasa jengah. Karena di dunia lamanya dulu, cowok yang datang dengan wajah “pahlawan” biasanya menganggap perempuan lemah. Perlu diselamatkan, dan Priska paling benci dipandang seperti itu.
“Axel,” ucap Maya dingin.
Cowok itu sedikit tersentak karena nada suaranya berubah.
“Jangan ikut campur lagi.”
Marsya langsung bengong. “Hah?”
Axel juga tampak kaget. “Apa?”
Maya menyilangkan tangan santai walau tubuhnya masih basah kuyup. “Gue bisa urus masalah gue sendiri.”
Axel langsung menggeleng pelan. “Ini bukan soal bisa atau nggak.”
“Terus?”
“Orang normal nggak seharusnya ngalamin beginian sendirian.”
Maya malah tersenyum tipis. “Sayangnya gue nggak normal.”
Kalimat itu membuat Axel diam sesaat.
Marsya buru-buru menyela. “Tapi kita kan cuma khawatir—”
“Nggak usah repot-repot!” Kali ini suara Maya lebih tegas.
Marsya langsung terdiam.
Maya memandang mereka bergantian. “Aku nggak suka dikasihani,” katanya datar.
Tatapan Axel sedikit berubah. Entah kenapa Maya sekarang terasa seperti sedang membangun tembok besar di sekeliling dirinya, dan itu membuat dadanya nggak nyaman.
“Maya…” ujar Axel pelan. “Nggak semua orang yang bantu itu kasihan sama lo.”
Maya menatap lurus ke matanya. “Di hidup gue,” katanya dingin, “kalau seseorang tiba-tiba sok nolongin, biasanya ada maksudnya.”
Axel membeku. Marsya juga ikut melongo. Karena ucapan itu terlalu pahit untuk keluar dari anak SMA enam belas tahun. Namun Maya sudah terlanjur kesal pada dirinya sendiri. Priska memang tidak terbiasa menerima perhatian. Perhatian membuatnya tidak nyaman. Karena perhatian berarti keterikatan, dan keterikatan selalu berbahaya.
Maya akhirnya menghela napas kasar. “Pokoknya jangan ikut campur lagi. Gue nggak mau kalian ikut kena imbasnya."
Marsya tampak sedih. “Lo marah sama gue juga?”
Maya diam beberapa detik. Lalu menjawab tanpa ekspresi, “Gue cuma nggak butuh dijagain.”
Setelah itu dia langsung berjalan keluar toilet begitu saja.
“Maya!” panggil Marsya.
Namun Maya tak berhenti.
Axel hanya bisa memandangi punggung gadis itu menjauh.
Marsya menoleh kesal ke arah Axel. “Tuh kan! Gara-gara lo terlalu serius!”
Axel langsung bingung. “Lah kok jadi gue?”
“Lo tadi mukanya kayak polisi interogasi!”
“Kan gue khawatir!”
Marsya menghela napas frustrasi. “Dia tuh aneh sekarang.”
Axel terdiam. Tatapannya masih mengarah ke lorong tempat Maya pergi.
“Aneh…” gumamnya. “Tapi gue malah makin pengen ngerti dia.”
Marsya langsung melotot. “Nah kan! Lo suka!”
Axel spontan panik. “Hah?! Nggak usah teriak-teriak!”
“Wajah lo merah tuh!”
“Itu panas!”
“Dih! Boong!”
Sementara itu, Maya berjalan santai menyusuri lorong sekolah sambil meneteskan air di sepanjang jalan. Beberapa murid langsung menoleh bingung.
“Anjir kenapa tuh?”
“Kecemplung kolam?”
“Maya habis berantem?”
Namun Maya tak peduli. Dia malah terus berjalan menuju ruang guru.
Tok tok.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk,” terdengar suara Pak Kemal dari dalam.
Begitu Maya membuka pintu, suasana ruang guru langsung hening beberapa detik. Semua guru menoleh dan semuanya langsung melongo melihat kondisi Maya.
Basah kuyup. Rambut acak-acakan. Seragam menempel karena air.
Pak Kemal sampai berdiri cepat dari kursinya. “YA AMPUN!”
Bu Fitri juga langsung panik. “Maya?! Kamu kenapa?!”
Maya tetap santai. “Pak,” katanya sambil menunjuk seragamnya. “Saya mau hutang seragam baru.”
Pak Kemal berkedip bingung. “Hah?”
“Seragam saya rusak.”
“Bukan itu poinnya!” pekik Bu Fitri. “Kamu kenapa bisa begini?!”
Maya berpikir cepat beberapa detik. Kalau bilang habis diguyur air sama geng pembully, pasti bakal ribet.
Akhirnya dia menjawab santai, “Kran toilet jebol.”
Semua guru langsung bengong.
“Kran?” ulang Pak Kemal.
Maya mengangguk mantap. “Iya.”
“Terus?”
“Nyembur.”
“Tapi tenang,” lanjut Maya santai. “Udah saya benerin.”
Ruangan langsung hening total. Pak guru olahraga sampai menurunkan koran perlahan.
Bu Fitri berkedip beberapa kali. “Kamu… benerin kran?”
Maya mengangguk lagi. “Pakai apa?” tanya Pak Kemal curiga.
“Tendangan.”
“APA?!”
Maya baru sadar salah ngomong. “Eh maksud saya…” dia berdeham kecil. “Diputer.”
Pak Kemal memijat pelipis. Entah kenapa dia sama sekali nggak percaya. Apalagi melihat ekspresi Maya yang terlalu tenang.
“Kamu habis berantem ya?” tanya Bu Fitri hati-hati.
“Enggak.”
“Yakin?”
“Kalau berantem harusnya saya berdarah.”
Semua guru langsung diam. Pak Kemal menatap Maya lama sekali. Semakin hari dia makin merasa gadis ini berubah terlalu drastis. Namun sebelum dia sempat bertanya lagi, Maya sudah kembali ke topik awal.
“Jadi…” katanya sambil menunjuk bajunya. “Seragamnya bisa hutang dulu nggak?”
Pak Kemal refleks menghela napas. “Ya ampun, Maya…”
Bu Fitri langsung berdiri membuka lemari kecil di pojok ruangan. “Kebetulan ada seragam cadangan UKS.”
Mata Maya sedikit berbinar. “Gratis?”
“Dipinjamkan.”
“Oh.”
“Kamu kecewa ya?”
“Sedikit..."
Beberapa guru sampai terkekeh kecil mendengar jawabannya.
Bu Fitri menyerahkan satu set seragam olahraga sekolah dan handuk kecil. “Nih. Ganti dulu di UKS.”
Maya menerimanya pelan. Untuk sesaat dia terlihat ragu. Lalu akhirnya berkata pelan, “…makasih.”
Suasana ruang guru langsung mendadak sunyi lagi. Karena itu pertama kalinya mereka mendengar Maya mengucapkan terima kasih dengan tulus. Bu Fitri bahkan sampai tersenyum hangat.
Pak Kemal ikut menghela napas lega kecil. Mungkin di balik semua perubahan aneh ini, Maya sebenarnya sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔