Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.
Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Seharian itu, Dimas tidak bisa berkonsentrasi sedikit pun. Setiap berkas yang dibacanya terasa kabur, setiap instruksi dari rekan kerjanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Pikirannya tertanam kuat pada satu hal saja: Ani. Dan yang lebih menyiksa hatinya, bayangan Ani yang berjalan beriringan dengan Damar, tertawa kecil, dan diperlakukan begitu istimewa.
Di benak Dimas yang penuh kecemburuan dan ego tinggi itu, pemandangan pagi tadi bukanlah tanda kebangkitan mantan istrinya, melainkan sebuah penghinaan besar bagi dirinya sendiri. Ia merasa Ani sengaja datang ke sini, sengaja mendekati Damar, hanya untuk membalas dendam, hanya untuk membuatnya merasa kecil dan bersalah. Pemikiran keliru itu tumbuh subur, disubur oleh rasa tidak terima yang murni berasal dari egonya yang terluka.
Rina, yang sejak pagi merajuk dan marah karena dibentak, kini duduk di kursi tamu di ruangan Dimas. Wanita itu menyilangkan tangan di dada, bibirnya mengerucut kesal, menatap Dimas yang sejak tadi hanya diam menatap kosong ke arah jendela.
"Mas Dimas! Masih saja melamun. Aku bicara sama Mas dari tadi kok tidak dijawab-jawab sih?" seru Rina akhirnya, tak tahan lagi diam. "Memangnya apa sih hebatnya wanita itu? Dia kan sudah jadi masa lalu Mas. Sudah Mas buang. Kenapa masih saja dipikirkan? Sampai-sampai aku dibentak."
Dimas berbalik tajam, menatap Rina dengan pandangan yang penuh emosi campur aduk antara marah, kesal, dan gelisah.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Rina! Diamlah!" bentak Dimas, suaranya rendah namun menggelegar. "Aku tidak memikirkan dia. Aku hanya... aku hanya tidak suka caranya dia. Datang tiba-tiba, masuk ke sini seolah-olah dia punya hak. Dan lebih parah lagi... bergaul akrab sama Pak Damar. Pak Damar itu bosku, orang yang aku hormati. Apa kata orang nanti kalau mereka lihat dia dekat-dekat sama Pak Damar? Apa kata mereka tentang aku?"
Rina tersenyum sinis, bangkit berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Dimas. Ia menyandarkan pinggangnya ke pinggiran meja, menatap Dimas dengan pandangan licik.
"Masalahnya kan dia itu mantan istri Mas, Mas. Orang tahu dia istri Mas dulu. Kalau dia berbuat macam-macam, cari muka sama bos, nanti yang malu juga Mas. Lagian... wanita macam dia, yang dulu rela dibuang, sekarang tiba-tiba muncul dan akrab sama atasan... pasti ada maunya kan, Mas? Mana ada orang tulus begitu saja. Pasti dia mau cari keuntungan, mau naik pangkat dengan cara tidak benar."
Kata-kata Rina itu persis seperti minyak yang dituangkan ke atas bara api. Itu adalah hal terburuk yang bisa didengar Dimas, namun karena hatinya sudah buta oleh rasa tidak terima, ia justru merasa kalimat itu benar adanya. Ia percaya sepenuhnya bahwa Ani wanita yang ia kenal lembut dan jujur dulu telah berubah menjadi wanita licik yang mau berbuat apa saja demi kemewahan. Padahal, dialah yang mengajarkan Ani arti rasa sakit, pengkhianatan, dan kepahitan hidup.
"Iya... kamu benar. Dia pasti ada maunya," gumam Dimas, tangannya mengepal kuat di atas meja hingga urat-urat lengannya menonjol. "Dia mau mempermalukanku. Dia mau menunjukkan bahwa dia bisa lebih sukses dariku, bisa dekat dengan orang yang lebih hebat dariku. Dia mau membuatku cemburu dan menyesal. Dasar wanita pendendam!"
"Nah, kan? Mas sudah paham," Rina tersenyum puas, lalu menundukkan wajahnya mendekat ke arah Dimas, nadanya berubah menjadi bisikan yang penuh racun. "Terus Mas mau diam saja? Biarkan saja dia berbuat semau dia di sini? Biarkan saja dia jadi buah bibir kantor, katanya mantan istri Mas yang sekarang jadi kesayangan bos? Nanti Mas yang dianggap tidak berguna, lho. Katanya dulu Mas yang buang dia, eh sekarang dia malah lebih hebat dari Mas."
Kalimat terakhir itu menusuk tepat ke titik paling lemah Dimas: harga dirinya. Itu adalah hal yang paling tidak bisa ia terima. Menjadi lebih rendah dari Ani? Dilihat sebelah mata karena Ani lebih dihargai? Itu adalah mimpi buruk baginya.
"Jangan harap!" geram Dimas keras. "Aku tidak akan membiarkan dia bersinar di sini. Aku tidak akan membiarkan dia menginjak-injak harga diriku. Dia pikir dengan datang ke sini dan ditaruh Pak Damar, dia sudah jadi siapa-siapa? Dia lupa, aku sudah bertahun-tahun di sini. Aku tahu seluk-beluk kantor ini. Aku punya jabatan. Aku punya pengaruh. Dia baru masuk, dia anak baru, dia tidak tahu apa-apa."
Dimas berdiri tegak, matanya berkilat penuh ambisi jahat. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka direktori nama-nama karyawan, dan mulai berpikir keras.
"Rina, dengar aku. Mulai hari ini, kita awasi dia. Kamu punya teman di bagian administrasi kan? Suruh mereka cari tahu posisi apa yang dipegang Ani sekarang, di lantai berapa, dan apa saja tugasnya. Aku ingin tahu gerak-geriknya dia setiap saat. Aku harus tahu kelemahannya."
Rina mengangguk antusias, wajahnya bersinar penuh kebencian yang sama. Ia iri melihat ketenangan dan keanggunan Ani pagi tadi. Baginya, selama Ani masih ada di gedung ini, selama Ani masih ada di dekat Dimas atau Damar, posisinya selalu terancam.
"Siap, Mas. Aku akan suruh teman-teman awasi dia. Kalau ada sedikit saja kesalahan, kalau ada sedikit saja kelalaian, kami akan laporkan. Kami akan buat dia tidak betah. Kami akan buat dia sadar diri, bahwa tempatnya bukan di sini. Tempatnya itu di kampung, meratapi nasibnya, bukan di sini bersanding sama orang-orang hebat," ucap Rina penuh kebencian.
Dimas tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak mencerminkan wajah seorang pemimpin perusahaan yang berpendidikan, melainkan wajah seorang laki-laki yang hatinya telah gelap oleh ego dan kecemburuan.
"Benar. Kita harus buat dia mengerti posisinya. Biar dia tahu, meski Pak Damar mendukungnya, dunia kantor ini keras. Kalau dia mau main-main sama aku, dia salah alamat. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya karena berani-berani datang ke sini dan membuatku tidak nyaman. Aku akan buat dia menangis lagi, persis seperti dulu saat dia minta aku jangan pergi."
Namun di sudut hati Dimas yang paling dalam, terselip rasa takut yang tak mau ia akui. Rasa takut itu bukan karena Ani berbuat jahat, melainkan rasa takut melihat kenyataan bahwa Ani hari ini jauh lebih menarik, jauh lebih berwibawa, dan jauh lebih berharga daripada Ani yang ia kenal dulu. Dan hal itu membuatnya sadar satu hal yang paling menyakitkan: Bahwa nilai diri Ani bukanlah karena dirinya, melainkan karena diri Ani sendiri. Dan Dimas takut... semakin Ani bersinar, semakin jelas terlihat betapa bodohnya dia telah membuang permata seberharga itu.
Sementara itu, di lantai atas, di ruangan yang luas dan nyaman, Ani justru sedang tenggelam dalam kebahagiaan dan semangatnya. Ia duduk di meja kerjanya yang rapi, dikelilingi berkas-berkas yang sedang ia pelajari dengan tekun. Damar menempatkannya di bagian perencanaan dan administrasi, posisi yang sangat cocok dengan keahlian dan kecerdasan Ani.
Damar sengaja menempatkannya di sana bukan karena rasa kasihan, melainkan karena ia tahu kemampuan Ani yang sesungguhnya. Dulu saat kuliah, Ani adalah mahasiswa berprestasi, cerdas, teliti, dan sangat terorganisir. Keahlian itu sempat tertidur saat ia menjadi ibu rumah tangga yang penuh pengorbanan, namun kini bakat itu kembali mekar segar.
Ani bekerja dengan ketelitian luar biasa. Setiap angka ia periksa berkali-kali, setiap kalimat ia susun dengan rapi dan jelas. Ia tersenyum bahagia, merasa berguna, merasa dihargai. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa di lantai bawah, mantan suaminya dan wanita ketiga itu sedang merancang rencana jahat untuk menjatuhkannya. Ia tidak tahu, bahwa kebahagiaannya dan kesuksesannya justru menjadi dosa besar di mata mereka berdua.
Sore itu, saat jam kerja berakhir, Ani berjalan keluar gedung dengan langkah ringan. Ia berhenti sejenak di depan lobi, menghirup udara sore yang segar, membiarkan angin kota menerpa wajahnya. Ia merasa sangat bersyukur. Ia merasa berada di jalan yang benar.
Dari kejauhan, di balik jendela mobil mewah yang terparkir gelap, Dimas dan Rina melihatnya. Melihat senyum bahagia itu, melihat kepercayaan diri itu, melihat bagaimana beberapa karyawan lain menyapa Ani dengan hormat dan ramah... hati Dimas makin terbakar api cemburu.
"Lihat dia, Mas. Sudah berlagak jadi nyonya besar," cibir Rina penuh kebencian.
Dimas mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
"Tunggu saja, Rina. Nikmati saja senyumnya itu sekarang. Tidak lama lagi... aku pastikan senyum itu akan hilang selamanya. Aku akan pastikan dia pergi dari sini dengan kepala tertunduk, sama seperti saat dia pergi dari hidupku dulu. Dan saat itu terjadi, baru dia akan sadar... bahwa dia tidak akan pernah bisa mengalahkan aku, dalam hal apa pun."
Mobil itu pun melaju kencang, membawa dua hati yang gelap dan penuh dendam, sementara Ani berjalan santai menuju apartemennya, membawa pulang kebahagiaan dan rasa syukur yang murni, belum menyadari bahwa badai besar sedang bersiap menghadangnya, badai yang lahir bukan dari kebencian musuh, melainkan dari ketidakberdayaan dan ego orang yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Namun Ani juga tidak sadar satu hal penting: Kali ini, ia tidak berjalan sendirian. Ia punya kemampuan, ia punya harga diri, ia punya Damar, ia punya doa orang tua, dan yang paling utama... ia punya kekuatan hati yang telah ditempa oleh rasa sakit terdahulu. Badai apa pun yang datang, ia sudah bukan lagi Ani yang akan runtuh hanya karena tiupan angin kecil. Ia telah menjadi pohon besar yang akarnya tertanam kuat. Dan itu adalah hal yang sama sekali belum dipahami oleh Dimas.
bersambung ,,,,