"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Begitu roda Rolls-Royce Phantom berhenti sempurna di pelataran megah istana Dirgantara, Mahendra langsung turun tanpa menunggu pintu dibukakan oleh pengawal.
Langkah kakinya yang lebar dan tegap berderap tegas membelah ruang utama, mengabaikan Emma dan Mila yang sempat melirik dari arah ruang tengah dengan tatapan penuh tanya.
Mahendra terus melangkah lurus menuju lantai atas, tempat ruang kerja pribadinya berada.
Luna berjalan setengah berlari di belakangnya, mencoba menyusul langkah sang suami dengan napas yang mulai memburu. Namun, begitu tiba di depan pintu kayu ek hitam yang kokoh, Mahendra masuk dan langsung menutup pintu itu dengan bantingan pelan namun sarat akan penolakan.
Ceklek!.
Suara pintu yang berputar dari dalam seketika menghantam dada Luna laksana hantaman godam.
Pria itu menutup diri, mengabaikan keberadaannya sepenuhnya seolah-olah Luna hanyalah embusan angin yang tidak kasat mata.
Luna berdiri terpaku di depan pintu, meremas jemarinya yang mendadak sedingin es.
Kegelisahan yang hebat menggerogoti seluruh akal sehatnya.
Di dalam sana, ia bisa mendengar sayup-sayup suara lembaran berkas yang dibalik dengan kasar.
Mahendra sedang menenggelamkan diri dalam pekerjaan, membentengi egonya yang terluka di balik tumpukan dokumen bisnis.
Tidak tahan dengan siksaan keheningan ini, Luna melangkah maju.
Ia mengetuk pintu kayu itu dengan pelan dan ragu.
"Mas Mahendra," panggil Luna, suaranya bergetar menahan luapan rasa bersalah yang kian membubung.
"Mas, buka pintunya sebentar. Aku mau bicara, Mas. Aku mau minta maaf atas kelancanganku di food court tadi."
Tidak ada jawaban selama beberapa saat, hingga akhirnya suara bariton Mahendra yang berat terdengar dari balik pintu—begitu datar, tanpa emosi, dan sedingin es yang membekukan.
"Tidurlah lebih dulu, Luna. Aku masih harus memeriksa berkas audit Dirgantara Holdings sampai larut malam. Jangan menggangguku."
Mendengar penolakan verbal itu, setetes air mata yang sejak tadi ditahan Luna akhirnya luruh membasahi pipinya.
Jawaban itu membuktikan bahwa kata-kata "tua" dan sindiran lancangnya tadi siang telah benar-benar melukai ego maskulin seorang Mahendra Dirgantara.
Bagi pria berusia 50 tahun yang selalu menjaga fisik prima, wibawa, dan dominasi absolutnya, kalimat Luna adalah sebuah penghinaan terhadap harga diri tertingginya sebagai seorang laki-laki.
Luna melangkah mundur menuju kamar utama mereka dengan tubuh lemas.
Ia duduk di tepi ranjang king size yang terasa begitu luas dan dingin tanpa kehadiran suaminya.
Tatapan mata Luna mendadak jatuh pada sebuah
paper bag mewah dari butik mall tadi yang tergeletak di atas sofa kamar.
Di dalamnya, terdapat gaun tidur sutra merah marun tipis berpunggung terbuka pilihan Mahendra yang sempat didebatnya karena dianggap terlalu vulgar.
Menyadari bahwa ia telah berutang perlindungan dan kehormatan pada pria paruh baya yang perkasa itu, seberkas keberanian yang nekat mendadak muncul di benak Luna.
Ego maskulin yang terluka hanya bisa disembuhkan dengan penyerahan diri yang mutlak.
Luna menghapus sisa air matanya, bangkit dengan dada yang berdegup kencang.
Ia memutuskan untuk mengambil tindakan ekstrem yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya: memakai gaun tidur sutra tipis itu, dan menyerahkan seluruh dirinya malam ini untuk menyembuhkan amarah sang Titan Bisnis.
Luna berdiri di depan cermin besar kamar utama dengan jantung yang bertalu-talu laksana tabuh genderang perang.
Dengan jemari yang gemetar hebat, ia membongkar paper bag mewah dari butik mall tadi, lalu perlahan menanggalkan pakaian kerja formalnya.
Kain sutra merah marun pilihan Mahendra itu merosot mulus melewati lekuk tubuhnya.
Begitu melekat sempurna, Luna menahan napas. Slip dress itu benar-benar super tipis, menerawang, dan menyisakan punggungnya yang terbuka lebar.
Warna merah marun yang pekat membuat kulit putih bersih Luna tampak begitu kontras dan berkilau di bawah temaram lampu kamar.
Demi melancarkan aksi penebusan dosanya, Luna menyisir rambut panjangnya hingga terurai bebas, menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanila manis yang memabukkan, dan melangkah ke dapur kecil di lantai atas.
Ia menyeduh secangkir teh herbal hangat sebagai alasan untuk menembus benteng pertahanan suaminya.
Luna berjalan perlahan menuju ruang kerja pribadi Mahendra.
Dipeluk oleh rasa nekat yang amat sangat, ia mengetuk pintu sekali, lalu langsung memutar knop pintu ruang kerja suaminya.
Ceklek!.
Di balik meja kerja ek jati yang megah, Mahendra masih duduk tegap dengan kacamata baca bertengger di hidungnya.
Sorot mata tajam sang Titan Bisnis langsung teralih dari tumpukan berkas begitu mencium aroma vanila yang familier.
Tatapannya seketika menggelap dan mengunci penuh pada sosok Luna yang melangkah mendekat dengan nampan di tangannya.
Pandangan Mahendra menyapu setiap senti tubuh ranum istri kecilnya yang terbungkus sutra menerawang pilihan pribadinya.
Luna meletakkan cangkir teh itu di sudut meja kerja dengan tangan yang sedikit bergetar.
Alih-alih mundur, ia mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya.
Dengan gerakan yang berani, Luna melangkah memutari meja dan langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan kekar Mahendra.
Mahendra membeku, namun ia tidak menjauhkan tubuhnya.
Kacamata bacanya dilepas dengan gerakan lambat, menyisakan tatapan mata sedingin es yang kini justru memancarkan kilat gairah yang tertahan.
Luna melingkarkan kedua lengan lentiknya di leher kokoh Mahendra.
Ia merundukkan wajahnya, mengikis jarak hingga napas hangatnya berembus manja di ceruk leher dan telinga suaminya.
"Mas, aku minta maaf," bisik Luna dengan nada suara yang sengaja dibuat manja dan mendayu, mengakui kesalahannya yang telah lancang.
"Aku tahu aku salah. Jangan diamkan aku seperti ini..."
Melihat Mahendra yang masih bergeming dengan rahang mengetat, Luna memberikan pukulan terakhir yang mematikan.
Jemari lentiknya bergerak berani, mengusap dada bidang di balik kemeja suaminya, lalu turun menyentuh rahang tegas pria paruh baya itu.
"Apa, Mas marah karena kalimatku di food court tadi? Kalau begitu, kenapa Mas tidak membuktikannya saja sekarang padaku? Biar aku tahu, apakah tuduhan Mila tentang Mas yang sudah tua dan tidak bisa 'bangun' itu benar, atau justru salah?" goda Luna berani, menantang langsung ego maskulin tertinggi milik sang Don Juan legendaris.
Deg!
Diamnya Mahendra yang sedingin es seketika pecah berantakan.
Detik itu juga, runtuh sudah seluruh sisa pengendalian diri yang dimiliki oleh pria berusia setengah abad itu.
Sudut bibir tegasnya terangkat, membentuk seulas seringai serigala yang begitu lapar, berbahaya, dan penuh kemenangan.
"Kamu sengaja membangunkan harimau yang sedang tidur, Nyonya Mahendra," geram Mahendra dengan suara baritonnya yang mendadak berubah serak dan berat karena gairah yang meletup hebat.
Tanpa memberikan celah bagi Luna untuk menarik kembali kata-katanya, lengan kekar Mahendra langsung bergerak kilat mengunci pinggang ramping Luna.
Dengan satu sentakan yang sangat dominan, ia membalikkan keadaan.
Mahendra bangkit, menyapu bersih dokumen di atas meja kerja hingga berhamburan ke lantai, lalu membaringkan tubuh Luna di atas meja jati yang luas itu dengan posisi mengurungnya mutlak dari atas.
Jemari kekar Mahendra bergerak ke bawah meja, menekan tombol otomatis untuk mengunci pintu ruang kerja rapat-rapat dari jarak jauh.
Tatapan matanya yang membara mengunci netra bening Luna yang kini mulai panik karena menyadari ia telah sukses membangunkan sisi paling buas dari suaminya yang perkasa.
"Malam ini, aku akan memastikan kamu tidak akan bisa berjalan dengan normal besok pagi, Sayang. Mari kita lihat siapa yang tidak bisa bangun," bisik Mahendra rendah tepat di depan bibir Luna, sebelum akhirnya merunduk dan melumat bibir istrinya dengan ciuman yang begitu menuntut, panas, dan penuh dominasi mutlak.
Malam pembuktian yang membara pun dimulai di balik pintu yang terkunci rapat.
Sementara itu, di koridor luar yang sunyi, Fauzan sedang berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya setelah menenggak segelas air dari lantai bawah.
Langkah kakinya seketika terhenti tepat di depan pintu ruang kerja pribadi ayahnya yang ada di dalam kamar.
Kedua bola mata Fauzan membelalak sempurna, rahangnya jatuh, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku laksana patung.
Dari balik celah pintu kayu yang tebal namun menyisakan sedikit celah suara, ia tidak sengaja mendengar suara desahan berat penuh gairah dari ayahnya, berpadu manis dengan suara erangan manja dan pasrah dari Luna.
Dada Fauzan seketika bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa cemburu, penyesalan, dan rasa sakit yang luar biasa menyiksa menyadari bahwa wanita yang pernah menjadi miliknya kini sedang direnggut sepenuhnya oleh kegagahan ayahnya sendiri.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi