.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Rumor, Kecemburuan Murid Dalam, dan Penolakan Tantangan Paling Hemat Energ
Akademi Kekaisaran mungkin merupakan tempat suci bagi para pemburu keabadian, tetapi dalam hal penyebaran gosip, kecepatan lidah para kultivator jauh melampaui kecepatan pedang terbang tercepat sekalipun.
Hanya dalam waktu beberapa jam sejak matahari terbit, sebuah rumor liar telah bermutasi di sepanjang koridor Sayap Barat. Berita awal yang menyatakan Mu Ning’er berlari keluar dari kamar Ji Huang pada subuh hari, ditambah dengan kesaksian murid yang melihat gadis itu kabur dari Paviliun No. 01 dengan wajah merah padam dan napas memburu, kini telah berubah menjadi narasi yang sepenuhnya berbeda.
"Kalian sudah dengar?" bisik seorang murid di Aula Utama. "Murid jalur khusus dari klan Huang itu menggunakan teknik hipnotis atau seni pemikat terlarang dari perbatasan barat! Dia berhasil mempermainkan emosi Instruktur Mu hingga gadis itu kehilangan kendali atas akal sehatnya!"
"Sungguh berani! Instruktur Mu adalah bunga suci Aula Formasi kita. Bagaimana bisa serangga pemalas seperti dia menodai reputasinya?!"
Distorsi informasi ini dengan cepat membakar dada para murid dalam, terutama mereka yang tergabung dalam barisan pemuja rahasia Mu Ning’er. Di antara mereka semua, tidak ada yang lebih murka daripada Zhou Yan.
Zhou Yan adalah murid jenius nomor satu di Aula Formasi, seorang kultivator Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-9 yang digadang-gadang akan segera menembus Tingkat Fondasi. Selama dua tahun terakhir, dia selalu bersikap sesempurna mungkin di depan Mu Ning’er, berharap bisa menarik perhatian sang mentor. Mendengar bahwa bunga yang dijaganya telah "diguncang" oleh seorang pemuda pemalas yang bahkan membawa selimut bebek ke asrama VIP, harga diri Zhou Yan runtuh berkeping-keping.
Brak!
Gerbang Hutan Bambu Ungu Paviliun No. 01 kembali menjadi korban kebrutalan untuk kesekian kalinya. Zhou Yan melangkah masuk dengan jubah biru tua yang berkibar, diikuti oleh belasan murid dalam yang membawa aura permusuhan pekat.
Di tengah halaman, Ji Huang sedang berada di puncak ritual tidur siangnya di atas kursi rotan. Selimut bebek rajutan tangan ayahnya menutupi seluruh tubuh hingga batas hidung, menciptakan benteng kedap udara yang damai.
"Ji Huang! Keluar dari selimut bodohmu itu dan hadapi aku!" teriak Zhou Yan, suaranya dipenuhi getaran Qi Lapis ke-9 yang membuat cangkir teh di atas meja batu bergetar.
Ji Huang perlahan menarik turun selimut bebeknya sebatas dagu. Sepasang mata sayunya terbuka setengah, menatap Zhou Yan dengan tingkat kepolosan yang kelewat lempeng, seolah-olah dia sedang melihat seekor lalat yang mendarat di ujung sandalnya.
Zhou Yan menghentakkan lengannya, mengeluarkan sebuah gulungan kain sutra merah menyala dari dalam cincin spasialnya, lalu melemparkannya hingga menancap di atas meja batu di dekat Ji Huang. "Ini adalah Surat Tantangan Resmi Arena Akademi! Aku, Zhou Yan, menantangmu berduel tiga hari lagi di Arena Utama Sayap Barat. Kita akan bertarung di depan seluruh murid untuk membersihkan nama baik Instruktur Mu dan membuktikan bahwa sampah jalur khusus seperti dirimu tidak layak menginjakkan kaki di tanah asrama VIP ini!"
Para murid di belakangnya bersorak, menantikan momen di mana Ji Huang akan gemetar ketakutan atau menerima tantangan demi harga diri klan Huang.
Namun, Ji Huang hanya melirik sutra merah itu sekilas, lalu menguap panjang tanpa mengubah posisi berbaringnya.
"Kakak Senior Zhou," ucap Ji Huang dengan nada suara yang lambat, mengantuk, dan teramat tenang. "Bertarung di arena utama membutuhkan persiapan mental, berjalan kaki dari paviliun ini ke arena membutuhkan setidaknya beberapa ratus langkah, dan bertukar jurus denganmu kemungkinan besar akan menghabiskan minimal lima ratus gerakan. Tindakan itu akan menguras sekitar delapan puluh persen cadangan energi tubuhku, memicu keluarnya keringat yang tidak perlu, dan memaksaku untuk mandi lagi sebelum jadwal tidur sore. Itu adalah sebuah pemborosan kalori jangka pendek yang sangat tidak masuk akal bagi kesehatan tulang belakangku."
Ji Huang memiringkan kepalanya sedikit, menatap Zhou Yan dengan wajah sedatar papan kayu. "Lagipula, secara kalkulasi ekonomi, duel ini tidak efisien. Jika aku menang, pihak akademi tidak akan memberiku bonus batu spiritual tambahan atau kasur baru. Jika aku kalah, aku hanya akan kehilangan waktu tidur berhargaku dan mungkin menderita memar yang merusak kenyamanan posisi tidur miringku. Tidak ada keuntungan apa pun di dalamnya. Jadi, aku menolak."
Zhou Yan tertegun. Dia telah menyiapkan berbagai argumen untuk mematahkan kesombongan Ji Huang, namun dia sama sekali tidak siap menghadapi penolakan yang didasari oleh hitungan matematika kemalasan.
"Menolak?!" wajah Zhou Yan memerah karena merasa diremehkan. "Kamu tidak bisa menolak begitu saja! Di Akademi Kekaisaran, menolak tantangan berarti kamu mengakui dirimu sebagai seorang pengecut sejati yang tidak memiliki tulang punggung pejuang! Kamu akan menjadi bahan tertawaan di seluruh papan pengumuman akademi!"
Mendengar kata 'pengecut', sepasang mata Ji Huang justru berbinar samar dengan binar kebahagiaan yang tulus.
"Kakak Senior Zhou, jika dengan mengaku sebagai pengecut bisa membuatmu mengambil kembali kain sutra merah bising ini dan pergi dari halamanku, maka aku akan mengatakannya sekarang dengan senang hati," jawab Ji Huang polos, wajahnya bersih dari rasa bersalah. "Kamu benar sekali. Aku memang seorang pengecut legendaris yang sangat mengutamakan kesehatan sendi dan kedamaian waktu istirahat. Silakan pergi ke papan pengumuman akademi sekarang, dan tulislah dengan tinta paling besar bahwa kamu, Zhou Yan, telah menang telak tanpa bertarung melawanku. Tolong pastikan namamu ditulis dengan gelar yang sangat megah agar kamu merasa puas."
"Kamu... kamu benar-benar tidak punya harga diri?!" Zhou Yan hampir saja memuntahkan darah karena frustrasi. Provokasi tingkat tingginya mental begitu saja di hadapan tembok kemalasan Ji Huang.
"Zhou Yan! Hentikan tindakan bodohmu ini!"
Sebuah teriakan nyaring yang sarat akan kepanikan memotong perdebatan absurd tersebut. Mu Ning’er tiba di halaman paviliun dengan napas sedikit terengah-engah, rambut kuncir kudanya sedikit berantakan karena dia berlari dari Aula Formasi begitu mendengar rumor tentang surat tantangan.
Tujuan utama Mu Ning’er datang sebenarnya adalah untuk menyelamatkan Zhou Yan dan reputasi Aula Formasi. Dia tahu betul, dari insiden penguncian kakinya semalam, bahwa Ji Huang menyembunyikan kekuatan pasif yang mengerikan. Jika Zhou Yan yang merupakan murid terbaiknya sampai kalah memalukan dari seorang pemuda yang bertarung sambil memakai selimut bebek, maka Aula Formasi akan kehilangan seluruh mukanya di akademi.
Namun, karena panik dan terburu-buru, kata-kata yang keluar dari mulut Ning’er justru memicu bencana kesalahpahaman yang jauh lebih besar.
"Jangan menyentuh Ji Huang!" seru Mu Ning’er sembari berdiri di antara Zhou Yan dan kursi rotan Ji Huang. "Urusan apa pun yang terjadi di dalam Paviliun No. 01 ini... adalah urusan pribadiku dengannya! Siapa pun dari kalian tidak berhak ikut campur atau membawanya ke arena!"
Urusan pribadi.
Dua kata itu menggantung di udara Hutan Bambu Ungu seperti petir di siang bolong.
Zhou Yan merasakan jantungnya seperti dihantam oleh gada besi raksasa. Wajahnya seketika memucat, dan surat tantangan di tangannya perlahan merosot jatuh ke tanah. Kalimat "urusan pribadi" yang keluar langsung dari mulut sang bunga suci akademi seolah-olah menjadi konfirmasi mutlak bahwa semua rumor liar yang beredar sejak subuh tadi adalah seratus persen kebenaran yang tak terbantahkan.
"In-Instruktur Mu... Anda... urusan pribadi dengan dia?" suara Zhou Yan bergetar hebat, matanya menatap Ning’er dengan pandangan patah hati yang teramat mendalam.
Belasan murid dalam di belakangnya juga ikut terperangah, menatap Ji Huang dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa hormat yang aneh bercampur rasa benci yang ekstrem. Mereka tidak menyangka bahwa sang parasit pemalas benar-benar telah menaklukkan sang Instruktur Muda gila kerja dalam waktu kurang dari dua hari.
"Bukan! Maksudku bukan begitu! Ini tentang formasi rahasia—" Mu Ning’er baru menyadari kesalahannya dan mencoba menjelaskan dengan wajah yang kembali memerah padam karena panik.
Namun, Zhou Yan yang sudah terlanjur hancur secara emosional tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Dia membalikkan tubuhnya dengan gerakan kaku, memegangi dadanya yang sesak. "Aku mengerti... Aku mengerti... Maafkan kelancanganku, Instruktur Mu."
Dengan langkah gontai seperti jiwa yang telah melayang keluar dari tubuhnya, Zhou Yan berjalan pergi meninggalkan paviliun, diikuti oleh rombongannya yang ikut tertunduk lesu menyaksikan runtuhnya idola mereka.
Mu Ning’er menatap kepergian muridnya dengan perasaan frustrasi yang memuncak, lalu berbalik menatap Ji Huang yang kini sudah menarik kembali selimut bebeknya hingga menutupi seluruh wajah untuk menghindari silau matahari siang.
"Ji Huang! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada reputasiku!" jerit Ning’er kesal.
Dari balik selimut bebek yang jelek, terdengar suara gumaman malas Ji Huang yang teredam kain. "Nona... pilihan katamu tadi sungguh menguras banyak drama yang tidak perlu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya mereka sudah pergi."
Ji Huang melambaikan tangan fanya dari balik selimut ke arah pelayannya yang baru keluar membawa nampan teh. "Xiao Mei... tolong ambil papan kayu bekas di belakang dapur. Tuliskan kalimat: 'Menerima segala jenis klaim kemenangan gratis demi ketenangan tidur siang', lalu gantung di depan gerbang bambu. Aku tidak ingin ada orang patah hati lainnya yang datang dan merusak jam istirahat soreku."
"Baik, Tuan Muda," jawab Xiao Mei dengan senyum geli, membiarkan tuannya kembali tenggelam ke dalam keheningan total di bawah perlindungan selimut bebek, sementara Mu Ning’er hanya bisa berdiri menghentakkan kaki menahan dongkol yang tak berujung.