NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: KAKI YANG MENDADAK MATI RASA

Bab 28: Kaki Yang Mendadak Mati Rasa

"Mik! Mana kanebonya? Malah ngelamun di dalem lo! Ini airnya keburu mengering, ntar jadi bercak putih di bodi motor gue!"

Suara teriakan Revan berkumandang renyah dari arah teras depan. Cowok itu berdiri sembari memegang selang air, memandangi motor matic kesayangannya yang kini tampak mengilat bersih. Rantai dan gir baru yang dipasangnya tadi pagi seolah memantulkan cahaya matahari dengan begitu sempurna, lambang dari kemenangan kecil atas kemandirian jalanan yang selalu ia agung-agungkan belakangan ini. Revan tersenyum puas, merasa berada di atas angin.

Namun, senyuman itu perlahan memudar ketika pintu rumah kayu milik Miko terbuka dengan sentakan yang terasa ganjil.

Miko melangkah keluar ke teras. Langkah kakinya tidak seperti biasa; sangat lambat, goyah, dan tidak bersemangat. Lap kanebo berwarna kuning yang diminta Revan hanya tergenggam lungset di tangan kanannya yang bergetar hebat. Wajah Miko seputih kertas, tanpa ada sedikit pun rona darah yang tersisa, dan sepasang matanya menatap lurus ke arah Revan dengan binar yang dipenuhi oleh rasa takut sekaligus duka yang amat sangat pekat.

Revan mengernyitkan dahi, mematikan kran selang airnya hingga suara gemercik air mereda sepi. "Lo kenapa, Mik? Muka lo kayak abis ngeliat setan di dalem rumah. Nyokap lo marah gara-gara gue numpang kelamaan?"

Miko tidak langsung menjawab. Ia menelan ludahnya berkali-kali, seolah ada sebongkah batu besar yang menyumbat tenggorokannya hingga membuatnya kesulitan untuk sekadar mengeluarkan satu patah kata.

"Van..." suara Miko keluar dengan sangat parau, nyaris berbisik.

"Apaan? Ngomong yang jelas deh, gak usah bikin gue bingung," sahut Revan, kekehannya terdengar agak dipaksakan karena atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.

Miko melangkah maju dua langkah, mendekati Revan, lalu mencengkeram kedua bahu sahabatnya itu dengan sangat erat. Sepasang mata Miko mendadak berkaca-kaca, menahan bendungan air mata yang siap pecah. "Van... barusan... barusan Kak Arka telepon gue pake nomor rumah lo."

Mendengar nama Arka disebut, garis wajah Revan seketika mengeras. Ia langsung mendengus sinis, menepis tangan Miko dari bahunya dengan gerakan kasar. "Halah, si anak emas lagi? Males banget gue. Kenapa lagi dia? Mau ngadu kalau sup ayamnya kurang asin? Atau mau pura-pura pingsan lagi biar gue disuruh pulang terus disalah-salahin lagi sama orang tua gue? Bilang sama dia, gue gak peduli!"

"Ayah lo meninggal, Revan!!"

Teriakan Miko memotong kalimat Revan bagai sebilah pisau yang menebas keheningan pagi. Suara Miko pecah, melengking tinggi beradu dengan isakan tangis yang akhirnya lolos dari pertahanannya. Air mata Miko mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.

Revan terpaku di tempatnya berdiri. Selang air di tangannya terlepas, jatuh ke atas lantai teras yang basah, mengeluarkan sisa air yang mengalir sia-sia di atas ubin. Otak remaja Revan mendadak mengalami blank total selama beberapa detik. Kalimat Miko barusan terdengar seperti bahasa asing yang tidak mampu diterjemahkan oleh logikanya.

Sedetik, dua detik, Revan justru kembali memaksakan sebuah tawa hambar. Tawa yang terdengar sangat garing, kosong, dan dipenuhi oleh kepanikan yang tersembunyi di balik penyangkalannya.

"Lo... lo kalau mau bercanda jangan kelewatan deh, Mik. Sumpah, gak lucu banget," Revan menggeleng-gelengkan kepalanya, melangkah mundur satu langkah sembari menunjuk wajah Miko. "Ayah gue meninggal? Hahaha! Gak mungkin lah! Dua malam yang lalu gue bahkan liat dia sehat-sehat aja naik mobil minibusnya di lampu merah. Lo jangan mau dibohongin sama trik busuk orang rumah, Mik. Itu pasti aktingnya si Arka sama Ibu buat nipu lo, biar lo kasihan, terus lo maksa gue pulang ke rumah sialan itu kan? Iya kan?!"

"GUE GAK BERCANDA, REVANZA!" Miko mencengkeram kerah kaos hitam Revan dengan sangat emosional, mengguncang tubuh sahabatnya itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kak Arka telepon gue sambil nangis histeris sampai sesak napas! Dia bilang Ayah lo kolaps di meja kantornya jam dua subuh tadi karena serangan jantung! Rekan kerja Ayah lo yang nemuin jasadnya pagi ini! Sekarang ambulans lagi jalan bawa jenazah Ayah lo pulang ke rumah! Nyokap lo pingsan di ruang tengah! Lo denger gue gak, hah?! Bokap lo udah gak ada, Van! Om Dirga udah meninggal!!"

DEG.

Dada Revan mendadak terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar hingga seluruh sisa pasokan udara di paru-parunya terpompa keluar tanpa sisa. Cengkeraman tangan Miko di kerah bajunya perlahan terlepas, namun Revan tidak bergeming. Sepasang matanya melebar sempurna, menatap kosong ke arah jalanan di depan rumah Miko yang tampak mulai berputar-putar di penglihatannya.

Jam dua subuh...?

Sebuah memori instan mendadak melesat masuk ke dalam kepala Revan. Ia teringat bagaimana semalam—tepat pada jam dua subuh lewat sedikit—ia mendadak terbangun dengan tubuh yang bersimbah keringat dingin dan jantung yang berdegup gila-gilaan tanpa alasan yang jelas. Firasat aneh yang semalam ia abaikan dan ia anggap angin lalu, kini mendadak menjelma menjadi sebuah kebenaran berdarah yang mengerikan.

"Nggak... gak mungkin..." gumam Revan lirih, suaranya mulai bergetar hebat. "Gue... gue harus liat sendiri. Ini pasti bohong... Orang rumah pasti cuma mau nge-prank gue..."

Tanpa memakai helm, tanpa mematikan mesin motor matic-nya yang masih menyala sejak tadi, Revan langsung melompat ke atas sadel. Ia menarik tuas gas motornya dengan sangat dalam dan kasar, membuat ban belakang motornya berdecit nyaring di atas aspal teras sebelum akhirnya melesat pergi membelah jalanan komplek dengan kecepatan di luar kendali.

Miko yang panik langsung berlari mengejar dari belakang, berteriak memanggil nama sahabatnya, namun sosok Revan sudah terlanjur menjauh, hilang di balik tikungan jalan.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer, pikiran Revan benar-benar hancur berantakan. Angin pagi yang berembus kencang menerpa wajahnya yang pucat, membuat sepasang matanya terasa perih dan mulai digenangi air mata panas. Di dalam kepalanya, benteng penyangkalan itu masih mencoba berdiri kokoh dengan sangat egois.

Gak mungkin... Ayah itu orangnya kuat. Ayah gak pernah sakit. Ayah selalu bentak gue pake suara yang menggelegar. Orang sekeras Ayah gak bakal mati secepat ini! Ini pasti akting! Ini pasti taktik si Arka pemicu masalah itu biar gue kelihatan bersalah lagi! Awas aja lo kalau sampe bohong, Arka! Gue gak bakal lepasin lo!

Revan memacu motornya semakin gila, melompati marka jalan dan menyalip beberapa kendaraan dengan ugal-ugalan. Sumpah serapah dan amarah palsu sengaja ia sebar di dalam hatinya untuk menutupi rasa takut yang teramat sangat besar yang mulai mencengkeram ulu hatinya. Ia takut... ia teramat sangat takut jika apa yang dikatakan Miko adalah sebuah kebenaran nyata.

Setelah beberapa menit yang terasa bagai siksaan neraka yang panjang, rute jalan menuju komplek perumahan lamanya mulai terlihat. Motor Revan berbelok tajam di gerbang utama komplek, melaju menyusuri deretan rumah-rumah tetangga yang tampak sepi.

Hingga akhirnya, dari jarak sekitar lima puluh meter di depan, pandangan mata Revan menangkap siluet rumahnya.

Citttt!!!

Revan menarik rem motornya dengan sangat mendadak hingga ban motornya terseret di atas aspal, meninggalkan goresan hitam yang panjang. Motor matic itu berhenti bergetar di tengah jalan, namun Revan tidak kunjung turun dari atas sadel.

Seluruh persendian di tubuh Revan seketika membeku. Darah di dalam nadinya seolah-olah berhenti mengalir, menyisakan sensasi dingin yang teramat sangat pekat menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepasang matanya menatap lurus ke arah pagar besi rumahnya dengan pandangan yang kosong, melebar, dan dipenuhi oleh horor yang luar biasa dahsyat.

Di sana, di tiang lampu jalanan tepat di sebelah kanan pagar rumahnya... sepotong kain kuning berbentuk bendera persegi panjang tampak terikat longgar, berkibar-kibar dengan lambat dihempas oleh angin pagi.

Warna kuningnya begitu mencolok di bawah terik matahari pagi. Warna yang menjadi simbol mutlak bagi siapa saja di negeri ini bahwa ada seonggok nyawa yang baru saja tercabut pergi dari bawah atap rumah tersebut.

Tidak jauh dari bendera kuning itu, sebuah mobil ambulans putih dengan logo rumah sakit daerah tampak terparkir diam di depan pagar, lampu rotatornya yang berwarna biru masih menyala berputar-putar tanpa suara, memantulkan cahaya visual yang ganjil di dinding rumah. Beberapa tetangga sekitar yang mengenakan pakaian bernuansa gelap tampak mulai berdatangan, berdiri berbisik-bisik di depan halaman dengan wajah yang dirundung duka.

Bruk.

Motor matic Revan perlahan miring ke samping, jatuh tergeletak begitu saja di atas aspal jalanan karena pemiliknya tidak lagi memiliki kekuatan untuk sekadar menurunkan standar motor. Mesin motor itu mati seketika, menyisakan keheningan yang luar biasa mencekik.

Revan berdiri di samping motornya yang roboh. Kedua tangannya menggantung lemas di sisi tubuh, bergetar hebat di luar kendali biologisnya. Ia mencoba melangkahkan kaki kanannya ke depan, berniat untuk berjalan mendekati pagar rumah, namun realita kejam yang menghantam jiwanya saat melihat bendera kuning itu terasa terlalu masif untuk ditanggung oleh mental remajanya.

Kedua lutut Revan mendadak mati rasa. Sendi-sendinya terasa kosong, seolah-olah seluruh tulang penyangga di kakinya telah mencair hilang tanpa sisa.

Gubrak.

Tubuh tegap Revanza ambruk, terjatuh berlutut di atas kasarnya aspal jalanan komplek yang panas. Kedua telapak tangannya menumpu di atas tanah, mencengkeram kerikil-kerikil kecil dengan sangat erat hingga ujung jarinya memutih. Napasnya mendadak menjadi sangat pendek dan putus-putus, dadanya naik-turun dengan cepat laksana seorang pria yang sedang dicekik oleh sepasang tangan tak kasat mata.

"N-nggak... Ayah..." bisik Revan lirih, suaranya tercekat di dalam tenggorokan.

Rasa bangga, ego tinggi, kesombongan jalanan, dan amarah yang selama tiga minggu ini ia pupuk dengan sangat rapi di dalam dadanya... hancur lebur, runtuh menjadi abu yang tak berharga hanya dalam waktu satu detik setelah melihat potongan kain kuning tersebut.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah tanpa mampu ia bendung lagi, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, menetes jatuh di atas keringnya aspal jalanan. Revan merasakan dadanya mendadak terasa sangat perih dan panas, sebuah rasa sakit emosional yang teramat dahsyat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ia teringat bagaimana dua malam lalu ia menolak untuk menyapa Ayahnya di lampu merah, bagaimana ia mengutuk pria tua itu di dalam hati, dan bagaimana ia menepis tangan Ibunya dengan kasar di bengkel sore kemarin. Semua kesombongan remajanya kini berbalik menjadi cambuk berduri yang memukul telak batinnya, meninggalkan rasa penyesalan yang teramat sangat pekat yang mulai mengunci takdir hidupnya ke dalam kegelapan.

Revanza Dirgantara akhirnya pulang ke rumahnya, namun ia pulang di saat pintu maaf dari sang Ayah telah resmi tertutup rapat oleh dinginnya sekat kematian.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!