Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback—18
Hening.
Pelukan hangat Pak Adinata di ruang kerja itu perlahan merenggang. Aletha menyeka sisa air mata di pipinya dengan gerakan cepat. Ingatan tentang kematian mamanya dua tahun lalu perlahan memudar, digantikan oleh realita di hadapannya sekarang—ayahnya yang rapuh kini ada di depannya, menggenggam tangannya dengan utuh.
Danny yang sejak tadi menyimak dalam diam, kini mengerti sepenuhnya. Di balik sifat liar, dingin, dan manipulatif Aletha yang suka mengontrol hal di sekitarnya, gadis ini menyimpan duka sedalam palung laut yang tak tersentuh.
Danny menarik napas dalam-dalam. Skenario nikah kontrak ini sudah berjalan terlalu jauh, melampaui batas bisnis yang ia tetapkan di awal. Namun, melihat retakan di dalam hidup Aletha yang perlahan mulai menyatu kembali berkat rencana ini, Danny tahu... dia tidak akan pernah bisa mundur lagi.
Setelah suasana emosional di ruang kerja Adinata Energy berangsur tenang, Danny dan Aletha akhirnya berpamitan untuk pulang. Pak Adinata mengantar mereka sampai ke pintu lift dengan senyuman hangat yang sudah lama tidak terukir di wajahnya.
Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam Porsche milik Danny, atmosfer di dalam kabin mobil langsung berubah senyap. Aletha mendadak mengunci mulutnya rapat-rapat. Pandangannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang bergerak mundur.
Kejujuran papanya hari ini tidak hanya meruntuhkan benteng pertahanannya, tetapi juga secara paksa membuka kembali kotak pandora memori kelam dua tahun lalu yang selama ini ia kunci rapat di sudut otaknya. Pikiran Aletha ditarik mundur secara brutal ke hari di mana ia dipaksa mundur dari tepi pantai oleh bentakan papanya.
Flashback itu berputar kembali seperti film usang di kepala Aletha...
Sore itu, dua tahun lalu, Aletha berjalan memasuki rumah besarnya dengan tubuh yang gemetar. Kalimat papanya yang menyuruhnya berhenti menangis dan melihat air laut terus terngiang-ngiang, memutus satu-satunya harapan yang ia punya.
Dengan langkah kaku tanpa ekspresi, Aletha berjalan lurus menuju kamar mandinya. Tanpa melepas pakaian atau sepatunya, ia langsung menyalakan shower dengan tekanan paling tinggi. Air dingin seketika mengguyur seluruh tubuhnya, membasahi rambut dan pakaiannya hingga melekat erat di kulit.
Aletha merosot jatuh ke atas lantai kamar mandi yang dingin. Di bawah guyuran air yang menderu, bungkaman di mulutnya runtuh. Rasa sakit, rindu, dan frustrasi yang bertumpuk menjadi satu meledak begitu saja.
Aletha menangis sekencang-kencangnya. Ia berteriak pilu, sebuah jeritan lara yang begitu menyayat hati, menggema di antara dinding-dinding marmer kamar mandi. Suara tangisannya beradu dengan bunyi air, menciptakan harmoni kedukaan yang luar biasa kacau.
Suara teriakan pilu itu begitu keras hingga menembus koridor luar, sampai ke telinga Om Pramoedya yang kebetulan baru saja datang ke rumah untuk mengurus berkas keluarga.
Mendengar jeritan keputusasaan keponakannya, Om Pramoedya langsung berlari kencang menaiki tangga dan mendobrak pintu kamar Aletha. Pria paruh baya itu terengah-engah, dan jantungnya mencelos begitu melihat pintu kamar mandi yang terbuka menampilkan sosok Aletha yang sudah hancur lebur di bawah kucuran air.
Om Pramoedya—pria yang sejatinya tidak memiliki anak karena sang istri tidak bisa mengandung—selama ini selalu menganggap Aletha seperti putri kandungnya sendiri. Melihat Aletha dalam kondisi semiris itu, Om Pramoedya tidak peduli lagi dengan pakaian kerjanya yang mahal.
Pria itu langsung menerobos masuk ke bawah pancuran shower, menjatuhkan lututnya di lantai yang basah, dan merengkuh tubuh Aletha yang basah kuyup ke dalam pelukannya yang kokoh.
"Aletha! Tenang, Nak! Om Pram di sini..." bisik Om Pramoedya dengan suara bergetar, memeluk erat tubuh keponakannya yang menggigil hebat.
Di dalam pelukan Om Pramoedya, Aletha mencengkeram kemeja sang paman dengan sisa tenaganya. Wajahnya yang pucat mendongak di bawah terpaan air shower.
"Om... Ale mau ikut Mama, Om... Panggil Mama, Om... Ale mau ikut..." racau Aletha dengan suara yang parau, nyaris habis akibat terlalu banyak berteriak. "Bawa Ale ke tempat Mama, Om..."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Aletha, Om Pramoedya ikut menitikkan air mata. Ia mempererat pelukannya, menyembunyikan wajah Aletha di dadanya agar gadis itu berhenti menatap air. "Nggak, Nak... Nggak boleh. Kamu harus kuat. Ada Om di sini, Om nggak akan pernah tinggalin kamu..."
Hari itu, di bawah guyuran air kamar mandi, Aletha bener-bener berada di titik paling hancur dalam hidupnya.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil dari arah luar seketika membuyarkan lamunan masa lalu Aletha.
Ia tersentak kecil, menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam Porsche milik Danny yang sedang berhenti di lampu merah kawasan industri. Aletha menarik napas dalam-dalam secara perlahan, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Tangannya yang berada di atas pangkuan tampak sedikit bergetar.
Danny yang sejak tadi mengemudi diam-diam terus memperhatikan gerak-gerik Aletha lewat ekor matanya. Ia bisa merasakan perubahan aura gadis di sampingnya—dari yang biasanya angkuh dan penuh percaya diri, kini memancarkan kesunyian yang teramat dalam.
Lampu berubah hijau. Danny menginjak pedal gasnya perlahan, lalu tanpa suara, tangan kirinya bergerak melepas genggaman dari setir dan beralih menggenggam jemari tangan Aletha yang sedang bergetar di atas pangkuannya.
Sentuhan tangan Danny terasa hangat dan kokoh. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan, namun genggaman eratnya seolah mengirimkan pesan tak kasat mata kepada Aletha—Gue ada di sini. Lo nggak sendirian lagi.
Aletha tertegun melihat tangan Danny yang mengunci jemarinya. Ia tidak menolak. Di tengah sisa-sisa duka masa lalu yang menghantunya, kehangatan dari tangan Danny yang kaku ini perlahan memberikan rasa aman yang aneh di hatinya. Permainan ini mungkin diawali dengan kepalsuan, namun pelindung yang kini berdiri di sampingnya terasa sangat nyata.
Setelah kejadian tragis di bawah guyuran shower hari itu, kehidupan Aletha berubah total menjadi hitam putih. Kamar besarnya yang megah terasa seperti penjara tak kasat mata.
Bukan hanya suasana hatinya yang mati, namun seluruh penampilannya ikut meredup. Selama berbulan-bulan setelah kepergian ibunya, hari-hari Aletha dilewati dengan selalu mengenakan pakaian berwarna hitam. Kaus hitam, dress hitam, hingga outer hitam. Baginya, pakaian serba hitam itu adalah pelindung sekaligus lambang bahwa dirinya masih berada di masa duka yang teramat dalam—duka yang menolak untuk pergi.
Setiap kali Om Pramoedya atau pelayan rumah membawakannya pakaian berwarna cerah, Aletha selalu menolaknya dalam diam. Ia merasa bersalah jika harus terlihat bahagia di saat ibunya bersemayam di tempat paling dingin dan gelap di dasar palung sana.
Sampai pada akhirnya, waktu membawanya masuk ke gerbang perkuliahan di Universitas Pelita Bangsa.
Di sanalah, di tengah koridor kampus yang bising, Aletha bertemu dengan tiga orang yang mengubah ritme hidupnya. Chelsea, Angelina, dan Electra. Mereka bertiga datang tanpa tahu apa-apa tentang duka sedalam palung yang dipendam Aletha. Mereka datang membawa kehebohan, gosip konyol, tawa yang meledak-ledak, dan energi hidup yang sangat berisik.
Pelan-pelan, pertahanan Aletha goyah oleh kehadiran mereka. Saat Chelsea mulai mengomel tentang cowok-cowok kampus yang sok tahu, saat Angelina menariknya paksa untuk mencoba shade lipstik baru, dan saat Electra bertingkah konyol demi memperebutkan camilan di kantin, Aletha sadar... udara di sekitarnya mulai terasa hangat lagi.
Tawa yang awalnya ia paksakan, lama-kelamaan berubah menjadi tawa lepas yang jujur. Senyuman yang semula mati, kini mulai hidup kembali.
Melalui sirkel pertemanan itulah, Aletha pelan-pelan mulai menata kembali serpihan dirinya yang hancur. Dia mulai melepaskan pakaian hitamnya satu per satu, menggantinya dengan warna-warna baru yang lebih berani. Dia memutuskan untuk menjalani hari-harinya tanpa kesedihan lagi. Dia memilih menjadi wanita yang tangguh, angkuh, dan memegang kendali penuh atas hidupnya, bersumpah tidak akan membiarkan masa lalu menyeretnya kembali ke dalam kegelapan.