NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aksi yang Sempat Tertunda

“Sayang, maaf, ya. Sudah bikin kamu menunggu lama,” kata Sean sambil dia langsung memeluk Vera dari arah belakang. “Kamu kan tahu kalau aku dapat kasus yang bayarannya luar biasa. Kalau aku bisa menyelesaikan kasus itu dan mendapatkan bayarannya, aku janji ke kamu, apa pun yang kamu minta pasti akan aku turuti. Kamu boleh membeli apa pun yang kamu inginkan.”

“Bener, ya? Awas kalau kamu bohongin aku lagi,” sahut Vera manja.

“Iya, Sayang. Nggak mungkinlah aku bohongin kamu. Aku kan sayang banget sama kamu.” Sean meyakinkan kekasihnya itu sambil mencium lehernya dengan lembut. “Kalau nanti aku sudah mendapatkan bayaranku, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan ke Eropa? Kamu sangat ingin pergi ke Paris, kan?”

Vera berputar menghadap Sean sambil berkata, “Dan kita menginap di hotel Ritz untuk bercinta semalaman?”

“Ya. Sesuai yang kamu impikan.” Sean membelai pipi kekasihnya dan menatapnya dalam-dalam.

“Setuju. Jadi, apa yang bisa aku bantu supaya kamu bisa cepat menyelesaikan misimu itu?” sahut Vera penuh antusias.

“Kamu nggak usah repot-repot bantuin aku, Sayang,” kata Sean. “Aku nggak mau kalau kamu sampai terlbat. Maksudku, aku nggak mau kamu mendapat masalah nantinya. Kamu cukup kasih aku semangat saja. Bagaimana, setuju?”

Vera yang tahu apa maksud dari perkataan Sean pun seketika tertawa dan langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Sean. “Kalau itu tanpa kamu minta aku pasti akan melakukannya, Sayang. Karena aku juga membutuhkannya, kita sama-sama membutuhkannya.”

“Jadi, tunggu apalagi? Aku udah nggak tahan nih.” Sean langsung maju untuk mencium Vera.

“Ya ampun, Sayang. Sabar sedikit dong. Pelan-pelan.”

Sean membungkuk ke bawah, dia mencium Vera. Bibirnya menuntut, tegas dan lambat, menyatu dengan Vera. Dia mulai membuka blus yang dikenakan Vera sambil memberi ciuman di rahang, dagu, dan sudut-sudut mulutnya.

“Oh, Vera,” gumam Sean sambil menghela napas. “Kulitmu benar-benar indah, putih dan mulus. Aku jadi ingin mencium setiap inci kulitmu itu. Terutama yang di bawah pusarmu itu, Sayang. Yang nikmat.”

Wajah Vera merah padam mendengar pujian itu. Oh, Tuhan ... sekarang aku benar-benar udah dibuat Sean gila. Aku rela ngelakuin apa pun yang dia mau asal bisa bercinta dengannya. Aku benar-benar jadi perempuan jalang sekarang, batin Vera.

“Aku suka rambutmu, Vera. Halus dan lembut,” bisik Sean, dan tangannya membelai rambut Vera. Ciumannya menuntut, lidah dan bibirnya membujuk. Vera mengerang, dan lidahnya mencoba menerimanya.

Sean meletakkan tangannya melingkar dan menarik Vera ke tubuhnya, sambil meremas erat-erat. Satu tangannya masih di rambut Vera, satunya lagi turun dari punggung ke pinggang dan sampai pinggul.

Tangannya membelai dengan lembut pinggul Vera dan meremasnya dengan lembut. Dia menahan Vera di pinggulnya, dan Vera bisa merasakan ereksinya yang sudah mengeras menyentuh tepat di area sensitifnya, membuatnya berkedut-kedut tak nyaman.

Vera hampir tak dapat menguasai perasaan liar di dalam dirinya yang meronta-ronta minta dibebaskan. Dengan satu gerakan cepat Sean melepaskan rok yang dikenakan Vera, membiarkannya jatuh ke lantai.

Lalu, dia membimbing Vera untuk berjalan mundur sambil terus berciuman dan mendekap Vera, Sean mendorongnya ke atas tempat tidur berseprai putih kusam.

Awalnya Vera berpikir jika Sean akan langsung menindihnya, tapi ternyata tidak. Dia melepaskan Vera, tiba-tiba dia berlutut. Dia meraih pinggul Vera dengan kedua tangannya dan lidahnya berjalan di sekitar pusar, menggelitik beberapa saat, kemudian dengan lembut menggigit sepanjang pinggulku, perut lalu di sisi pinggul yang lain dan terus turun ke bawah.

“Ah!” Vera mengerang.

Sean melepas pakaian dalam Vera, dia membungkuk ke depan, mencium ke puncak di antara kedua paha wanita itu lalu menghisapnya dengan rakus. Di sana, di area sensitif itu. Meski ini bukan kali pertama Sean melakukan hal demikian, namun, Vera tidak bisa tidak menggeliat dan mengerang.

“Baumu wangi sekali, Sayang. Seperti aroma surgawi,” bisik Sean sambil menutup matanya. Ekspresi kenikmatan sangat jelas di wajahnya. “Aku sangat suka baumu, Vera. Wangi yang manis.”

Masih sambil berlutut Sean mencengkeram kaki Vera, sekali lagi dia mencium sepanjang punggung kaki Vera dan kemudian menggigitnya.

“Kamu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui. Aku jadi nggak sabar ingin cepat-cepat berada di dalammu.” Kata-kata Sean begitu menggoda. Dia mengambil napas panjang. “Jangan bergerak,” bisiknya lagi. Lalu dia membungkuk dan mencium bagian dalam paha Vera, jalur ciuman ke atas, sampai puncak antara kedua paha Vera yang sensitif dan dia mulai menjulurkan lidahnya.

Kulit Vera seketika terbakar saat Sean masuk dengan lidahnya dan membuat gerakan memutar. Permainan Sean terlalu panas, terlalu dingin, dan Vera mencakar seprei di bawahnya. “Uh! Pelan-pelan, Sayang. Nggak usah buru-buru. Kita punya cukup banyak waktu.”

Puas bermain dengan lidahnya Sean lalu berbaring di samping Vera, dan tangannya meraba naik dari pinggul, ke pinggang, dan sampai payudara Vera dan dengan lembut menangkup payudaranya lalu meremas dan memainkan puncaknya yang sensitif.

“Payudaramu pas sekali di tanganku. Sepertinya kamu memang terlahir untuk jadi pasanganku,” bisik Sean terus merayu.

“Kamu memang paling pintar gombal, Sean,” balas Vera sambil menggeliat. “Laki-laki semuanya memang paling pintar merayu kalau dia mau sesuatu.”

“Tapi kamu menyukainya kan?”

“Sialnya iitu benar.”

Tanpa mengatakan satu patah kata pun lagi Sean kemudian menggigit halus sekeliling puncak payudara Vera dan ibu jari dan jarinya menarik keras, jauh lebih keras dari yang pernah dia lakukan sebelumnya. Tubuh Vera seketika kejang-kejang dan hancur menjadi ribuan keping.

“Ah!”

“Kamu selalu begitu nikmat dan basah. Ya Tuhan ... rasanya aku benar-benar tidak pernah merasa puas saat bercinta denganmu.” Sean mendorong jarinya dalam diri Vera, bukan dua jari seperti biasnya, tapi, tiga jari sekaligus.

Membuat Vera menjerit dan melengkung olehnya. Dan jeritan Vera membuat Sean menjadi lebih terangsang lagi. Dia mendorong lebih keras dan lebih keras lagi. Membuat gerakan keluar masuk dengan iramanya.

“Uh! Tuhan ... kamu memang paling tahu cara memuaskan aku, Sayang.”

“Tentu saja, Sayangku. Tentu saja aku yang paling tahu bagaimana caranya memuaskanmu.”

Vera menahan napas saat Sean menambah kecepatan tangannya, keluar masuk ke dalam dirinya. Kepalanya menyentak ke belakang. Jari-jari Sean seolah tahu jika sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatan terus bergerak.

“Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa,” bisik Sean saat telapak tangannya melakukan itu. “Ayo, Sayang. Sedikit lagi.

Vera hanya bisa mengerang.

“Sayang, buka mulutmu. Cepat buka mulutmu,” perintah Sean sambil dia mengambil napas.

Vera pun membuka mulutnya lebih lebar sambil terangah-engah saat dia mencapai puncak kenikmatan.

“Bagus.” Sean lalu memasukkan jari jemarinya yang berlumuran cairan putih kental. “Bagaimana rasanya, Sayang? Nikmat?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!