NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Sarang Singa

Bab 23 – Kembali ke Sarang Singa

“Mereka membawanya langsung ke mansion Lorenzo sekarang.”

Dunia Alya seakan berhenti berputar seketika.

“Ibuku…” bisiknya pelan, lalu tanpa sadar tubuhnya langsung bergerak ingin lari keluar menuju mobil.

Namun sebelum sempat melangkah, tangan kuat Kael sudah menangkap pergelangan tangannya erat-erat.

“Tunggu.”

“AKU NGGAK BISA TUNGGU!” Alya berusaha melepaskan diri panik. “Itu ibuku! Dia dalam bahaya!”

“Kau harus berpikir jernih dulu!”

“AKU SUDAH SELESAI BERPIKIR!”

Kael menariknya mendekat dengan satu gerakan cepat dan kuat. Sekejap saja tubuh mereka kini nyaris menempel, dada bidangnya menghalangi langkah gadis itu.

“Dan kalau kau masuk ke rumah itu dalam keadaan emosi dan panik seperti ini… kau akan kalah bahkan sebelum sempat bicara sepatah kata pun,” ucap Kael rendah dan tegas tepat di wajahnya.

Napas Alya tercekat.

Tatapan pria itu begitu dekat, begitu tajam… dan sangat menyebalkan karena apa yang dikatakannya masuk akal sekali.

Alya mendengus kesal, menundukkan wajah. “Aku benci saat kamu benar.”

“Aku tahu,” jawab Kael singkat, tapi ada nada lembut di sana.

Di samping mereka, Serena memutar bola matanya bosan.

“Wah, romantis sekali. Kalau kalian sudah selesai saling tatap dan mengakui kesalahan, ingatlah bahwa waktu kita sedang berjalan dan kita tidak punya banyak waktu.”

Kael menoleh dingin ke arah Serena. “Kau ikut dengan kami.”

Serena membelalak. “Maaf? Aku mau ikut kemana?”

“Kau tahu jalur belakang dan lorong rahasia mansion itu kan? Bimbing kami.”

“Dan kenapa aku harus repot-repot membantu kalian?” tanya Serena sinis.

Kael menatapnya datar tanpa ekspresi. “Karena kalau Ayahku yang menang dan berhasil menguasai situasi sepenuhnya… kau tahu kan nasibmu bagaimana? Dia akan menikahkanmu dengan pria tua gemuk kaya raya sebagai alat politik persekutuan.”

Serena terdiam dua detik, rahangnya mengeras.

“…Oke. Aku ikut. Aku benci saat kau benar juga,” gerutunya kesal.

Alya menatap mereka bergantian. “Keluarga dan teman-temanmu semua menjengkelkan ya Tuhan.”

 

Dua mobil hitam melaju kencang membelah malam menuju arah mansion Lorenzo.

Suasana di dalam mobil sangat tegang. Di kursi belakang, Alya duduk gelisah, jari-jarinya terus menggigit kuku karena cemas memikirkan keadaan ibunya.

Kael yang duduk di sampingnya langsung menangkap tangan kecil itu dan menahannya agar tidak terus menggigit kuku.

“Jangan.”

“Aku stres,” jawab Alya pelan.

“Kau jelek saat menggigit kuku.”

“Aku juga jelek saat marah,” balas Alya ketus.

“Tidak,” jawab Kael singkat dan tegas.

DUG!

Jantung Alya berdetak kencang tak karuan mendengar jawaban itu. Ia buru-buru menarik tangannya kembali dan memalingkan wajah ke jendela agar Kael tidak melihat pipinya yang memerah.

“Kamu nggak bisa serius lima menit tanpa bikin aku kesal dan baper ya?!”

“Aku sedang menenangkanmu.”

“Metodenyu aneh sekali!”

Dari kursi depan, Serena yang menyetir menghela napas panjang dramatis.

“Aduh, aku merasa ikut bulan madu beracun deh ini. Bisa nggak kalian berhenti mesra-mesraan sedikit?”

“DIAM!” seru Alya dan Kael secara bersamaan tanpa saling pandang.

Serena tersenyum miring menatap kaca spion. “Cocok sekali kalian berdua. Sama-sama keras kepala.”

 

Mansion Lorenzo terlihat jauh lebih megah namun jauh lebih menyeramkan di bawah cahaya lampu sorot malam itu. Penjaga bersenjata berdiri tegak di setiap sudut gerbang dan tembok.

Gerbang utama tertutup rapat dan dijaga ketat.

Serena membelokkan mobil ke jalan setapak kecil di samping taman yang gelap.

“Lewat sini. Ini lorong servis lama yang jarang dipakai orang. Masih ada pintu kecil masuk ke dapur belakang,” tunjuknya.

Kael mengangguk. “Kau dan Alya ikut aku. Riko, awasi mobil dan siaga di sini.”

“Aku bisa jalan sendiri kok, nggak perlu digandeng,” protes Alya.

Namun Kael langsung meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.

“Buktinya sekarang kau ikut tanganku. Jangan sampai lepas.”

Alya ingin marah dan melepaskan… tapi entah kenapa tangannya justru membalas menggenggam sedikit lebih kuat. Ia butuh pegangan.

Mereka bertiga menyusup pelan-pelan lewat lorong batu kecil yang ditumbuhi tanaman rambat di sisi taman belakang. Suasana gelap dan sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang tertahan.

Sesampainya di dekat pintu belakang dapur, Serena berhenti dan bersandar di tembok.

“Aku cuma sampai sini.”

Alya mengernyit. “Kamu nggak ikut masuk?”

Serena menatapnya lama, wajahnya terlihat serius untuk pertama kalinya tanpa nada sinis.

“Aku menolongmu karena janji, Alya. Tapi masuk ke sarang singa saat singanya sedang marah… itu bukan keberanian, itu bunuh diri. Aku masih mau hidup lama.”

Lalu ia melirik Kael tajam. “Dan kau… kalau kau berani menyakiti hati gadis ini sedikit saja, aku janji akan tampar kau lagi sampai pingsan. Mengerti?”

Kael menjawab datar. “Antri saja sana. Banyak yang mau.”

Serena mendecakkan lidah kesal lalu segera menghilang kembali ke dalam kegelapan malam.

Alya diam memandang kepergian wanita itu. “Aneh.”

“Apa yang aneh?” tanya Kael sambil membuka pintu kayu tua itu pelan-pelan.

“Aku rasa… aku mulai suka dia sedikit. Dia nggak sejahat yang aku kira.”

Kael meliriknya sekilas. “Itu perasaan sementara. Nanti juga akan hilang kalau dia mulai jahat lagi.”

 

Mereka masuk ke dalam mansion dengan hati-hati, berjalan menyusuri lorong gelap menuju aula utama.

Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba suara tepukan tangan terdengar jelas memecah keheningan.

Clap. Clap. Clap.

Alya dan Kael langsung terhenti kaku.

Di ujung tangga besar yang megah, Tuan Besar Lorenzo berdiri tegak dengan wajah tenang namun dingin. Di sekelilingnya sudah berjaga puluhan bodyguard bersenjata lengkap. Mereka sudah dikepung.

“Aku tahu kau tidak akan pernah masuk lewat pintu depan, Kael. Sifat keras kepalamu itu sama persis seperti dulu,” ucap pria tua itu pelan.

Kael langsung bergerak reflek berdiri di depan tubuh Alya, melindunginya dari pandangan dan ancaman.

“Di mana Mira? Jangan main-main,” desis Kael tajam.

Pria tua itu menatap lurus ke arah Alya yang bersembunyi di balik punggung putranya.

“Dia ada di tempat yang aman dan nyaman. Jangan khawatir.”

“AKU MAU KETEMU IBUKU SEKARANG JUGA!!!” bentak Alya memberanikan diri keluar dari balik tubuh Kael.

Tuan Besar turun satu anak tangga perlahan, menatap Alya lekat-lekat.

“Kau sangat mirip sekali dengannya… terutama saat sedang marah. Sama-sama api.”

“Aku nggak butuh nostalgia dan puji-pujian! Aku mau lihat Ibu!”

Beberapa penjaga di belakang bahkan menahan senyum tipis, berani sekali gadis ini melawan bos besar mereka.

Kael menyipitkan matanya waspada. “Jangan berbelit-belit, Ayah. Apa yang kau mau sebenarnya?”

“Aku sedang sangat serius,” jawab pria tua itu tenang.

Ia mengangkat satu tangannya ke atas.

Seketika dua orang pelayan wanita berjalan mendekat membawa nampan perak yang berkilau.

Di atas masing-masing nampan itu, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal.

Alya mengernyitkan dahi bingung. “Apa itu semua?”

Tuan Besar tersenyum tipis, senyum yang sulit dimengerti.

“Itu adalah… Pilihan.”

Ia menunjuk amplop yang ada di nampan sebelah kiri.

“Di dalam amplop ini… tertulis alamat lengkap dan ruangan di mana ibumu sekarang berada.”

Lalu jarinya beralih menunjuk amplop di sebelah kanan.

“Dan di dalam amplop ini… ada hasil tes DNA lengkap yang dulu kau minta, Kael. Jawaban atas pertanyaan kalian tentang siapa Alya sebenarnya dan apa hubungan kalian berdua.”

Tubuh Kael menegang kaku.

Alya menahan napasnya kuat-kuat. Jantungnya rasanya mau meledak.

Pria tua itu kembali bersuara, pelan namun tegas:

“Dan peraturannya sederhana malam ini… Kau hanya boleh memilih SATU.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!