NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Benjamin Pengkhianat

Atlas kini berada di titik menyerah. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah pria di depannya akan menerima tawarannya untuk menyelamatkan Alicia.

"Bawa gadis ini pergi dan berikan perawatan yang dia butuhkan. Tidak seorang pun boleh menyentuhnya, apalagi memperlakukannya dengan buruk. Ingat itu!"

Pria tinggi itu menoleh kepada para anggotanya dan menunjuk lima pria yang berdiri di samping mereka. Seketika, lima pria itu menurunkan senjata mereka dan mendekati Alicia. Salah satu dari mereka meraih Alicia dengan kasar, membuat adik Atlas itu berteriak kesakitan.

"Hei! Berani-beraninya kau menyentuh adikku! Aku tidak akan mengampunimu!" Atlas menangkap tangan pria itu dan memutarnya dengan paksa, menyebabkan suara tulang retak terdengar.

"Tenanglah, Tuan Atlas, mereka tidak akan melakukan hal bodoh." Dengan ekspresi dingin, pria itu menghadap pria yang tangannya masih dalam cengkeraman Atlas dan menamparnya hingga terjatuh. "Aku bilang jangan sentuh dia! Kau tidak dengar itu, bodoh?!"

"Hei! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melepaskan pelacur itu?" Brian berteriak, protesnya meningkat saat mendengar keputusan pria tinggi itu.

Pria tinggi itu hanya menyipitkan matanya sinis ke arah Brian, tidak menanggapi kata-kata pria yang tergeletak di lantai itu.

"Nona Alicia, pergilah. Aku jamin mereka tidak akan melakukan hal berbahaya."

Alicia menggelengkan kepala dan mempererat pelukannya pada Atlas. "Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku ingin tetap di sini bersama Atlas. Biarkan aku pergi bersama kakakku jika kau ingin membunuhnya!"

"Alicia! Berhenti melawanku! Tidak bisakah kau diam dan mengikuti apa yang sudah kulakukan untukmu?! Jangan menambah bebanku dengan tetap di sini!"

Air mata Alicia berhenti saat Atlas membentaknya. Dia terlihat sangat marah, matanya menatap tajam adiknya. Seketika, Alicia melepaskan pelukannya dari Atlas dan berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya.

Lima pria yang dikirim oleh pria tinggi itu mengikuti Alicia dari belakang. Sementara itu, Atlas menundukkan pandangannya dan menarik napas dalam-dalam, menyesali apa yang telah dia lakukan pada adiknya.

"Aku menghargai keputusanmu. Aku yakin kau melakukannya demi kebaikan kelompok ini. Kita bisa menggunakan tubuh pelacur itu setelah bajingan di depanmu mati. Aku dan Tuan Stevan akan menjadi yang pertama menyentuhnya, bukan begitu, Tuan Stevan?" Brian kembali berbicara, menoleh ke arah Stevan. Namun, Stevan tetap tidak bergerak, menatap kosong ke arah Brian.

"Brian diam dan biarkan aku menangani semuanya. Jika kau terus memprotes keputusanku, aku akan memastikan peluru masuk ke kepalamu."

Untuk pertama kalinya, pria tinggi itu menanggapi kata-kata Brian. Meskipun dia tidak meninggikan suaranya, ucapannya cukup membuat Brian gemetar ketakutan.

"Tuan Atlas, tunggu di ruangan sebelah. Aku perlu berbicara dengan Brian. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir tentang Alicia, dia akan aman." Pria tinggi itu melirik ke arah para anggotanya. "Bawa dia pergi."

Atlas hanya bisa menanggapi kata-kata itu dengan tatapan tajam. Dia tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan, pikirannya hanya tertuju pada Alicia. Meskipun Alicia telah diamankan, dia masih belum sepenuhnya mempercayai semua orang di ruangan itu, dan kemarahan terhadap Benjamin mulai tumbuh dalam dirinya.

Sementara itu, pria tinggi itu mendekati Brian, membanting pintu ruangan dengan keras hingga dinding bergetar. Ketakutan terlihat di wajah Stevan saat dia memaksa dirinya untuk duduk.

"Brian, apa yang telah kau lakukan!" Tatapan pria tinggi itu kemudian beralih ke Stevan yang menghindari kontak mata, gemetar. Dia membuka pintu dan berkata, "Hei! Bawa dia keluar!"

Stevan membelalakkan matanya dan semakin panik, bayangan kematian terlintas di pikirannya. Terlebih saat tangannya mulai ditarik oleh dua pria lain.

"Lepaskan aku! Aku bersumpah akan melaporkan semua tindakan kalian pada ayahku, dan aku akan memastikan kalian hancur sepenuhnya!" Stevan berusaha melawan tangan dua pria yang hendak membawanya pergi.

Brian mendekati Stevan dan berbisik, "Aku juga bekerja untuk ayahmu. Jika bukan karena aku mempertimbangkan kebaikan ayahmu padaku, mungkin aku sudah membiarkanmu mati! Ikuti saja perintahku, kau mengerti?"

Stevan menelan ludah, mengangguk, dan segera berdiri, meninggalkan ruangan bersama dua pria itu.

"Ke mana kau membawa Stevan? Aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya. Dia telah membayar kita dengan mahal."

Pria tinggi itu menatap tajam Brian, lalu berjongkok dan mencengkeram wajahnya. "Tindakanmu sangat bodoh, Brian! Kau tidak tahu bahwa Atlas adalah bagian dari rencana Benjamin? Kau sedang menghancurkan hidupmu sendiri! Bukankah Benjamin sudah memberi peringatan untuk tidak ikut campur dengan Atlas?"

Brian tertawa, memiringkan kepalanya untuk melepaskan diri dari cengkeraman pria tinggi itu. Dia lalu mengulurkan tangannya dan berkata, "Bantu aku duduk."

Pria tinggi itu menarik tangan Brian dan menyandarkannya di tepi tempat tidur.

"Tapi bukankah Benjamin ingin Atlas mati? Aku tahu rahasia tersembunyi itu, jadi aku menerima tawaran Stevan. Atlas adalah target besar bagi setiap kelompok di bawah Benjamin, siapa pun yang bisa menjatuhkannya akan mendapatkan kekayaan besar. Aku tahu itu, Buzz."

"Apa? Dari mana kau mendapatkan informasi tidak berguna itu? Kau jelas tidak tahu apa-apa, Brian! Kau sedang menempatkan dirimu dalam bahaya. Benjamin belum memberikan perintah lebih lanjut mengenai Atlas. Kau telah membuat kesalahan!"

Buzz, pria tinggi itu, menerima panggilan telepon, dan nada deringnya terdengar. Dia lalu menunjukkan layar ponsel itu kepada Brian, itu adalah panggilan dari Benjamin.

"Aku yakin Benjamin ingin menyelamatkanku dan memuji tindakanku yang tepat," Brian tertawa.

Buzz mengabaikannya, berdiri, dan menjawab panggilan itu.

"Halo, Tuan."

"Buzz, aku ingin kau membunuh Brian dan mengatakan pada Atlas bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Pastikan dia percaya bahwa semua ini tidak ada hubungannya denganku. Tolong beri dia alasan bahwa kita ingin melindunginya dan bahwa Brian telah mengkhianati kita. Mengerti?"

Buzz melirik Brian, lalu berkata, "Mengerti, Tuan."

Panggilan berakhir, dan Brian, yang masih menyeringai, terlihat penasaran dan bertanya, "Apa? Apa yang dikatakan Benjamin?"

Buzz tidak menjawab pertanyaannya. Dia membuka pintu dan memerintahkan anggota lain untuk menjaga Brian. Buzz kemudian masuk ke ruangan tempat Atlas berada. Atlas duduk di sudut, kepalanya tertutup oleh kedua tangannya.

"Tuan Atlas.”

Atlas mengangkat kepalanya dan berkata, "Apa? Apakah ini saatnya aku dibunuh?"

"Tidak, Tuan Atlas. Aku datang untuk memberitahumu bahwa Brian yang akan dibunuh. Kami sudah lama ingin menghancurkan kelompoknya, dan malam ini adalah waktu yang tepat. Dia tidak mengikuti perintah Tuan Benjamin untuk melindungimu, uang telah membutakannya. Tuan Benjamin sangat marah atas apa yang terjadi padamu, Tuan Atlas."

Atlas menyeringai. Entah bagaimana, nama Benjamin terdengar seperti lelucon baginya. "Jadi, Benjamin punya sesuatu yang direncanakan untukku, ya? Aku tidak percaya dengan alasan yang kau berikan. Dia jelas merencanakan semuanya. Aku tahu itu.”

1
Was pray
Alicia kok menjengkelkan sih Thor? jadi sisi negatif novel
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!