Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 – Darah Keluarga Han
Suasana rumah langsung berubah mencekam.
Ayah Raka berdiri di ambang pintu, pandangannya dingin dan kini terasa jauh lebih menekan dari sebelumnya.
Kali ini—
Pria itu tidak lagi memandang Alya sebagai orang asing.
Ia melihatnya sebagai bagian dari rahasia besar keluarga mereka.
Pandangan tajamnya beralih dari surat di tangan Alya, ke foto lama di atas meja, dan akhirnya— terfokus pada Raka.
“Kalian sudah tahu.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Raka berdiri perlahan. Ia secara otomatis bergeser sedikit ke depan Alya, melindunginya.
Seperti biasa.
“Ayah sudah tahu sejak kapan?” tanyanya dingin.
Pria tua itu melangkah masuk perlahan.
“Sejak saya mulai menyelidiki latar belakangnya,” jawabnya.
Alya menatapnya, sedikit bergetar.
“Jadi… semua ini benar?”
Hening sejenak.
Lalu pria itu menjawab dengan tenang—
“Ya.”
Satu kata itu terasa seperti palu yang kembali menghantam dada Alya.
Meskipun ia sudah membaca surat ibunya,
mendengar pengakuan langsung tetap terasa berbeda.
Lebih nyata.
Lebih menyakitkan.
“Ayah.” Suara Raka mulai menegang. “Apa sebenarnya yang terjadi dulu?”
Pria tua itu terdiam beberapa saat, seolah menimbang seberapa banyak yang ingin ia sampaikan.
Akhirnya ia berkata—
“Adik saya adalah pria bodoh.”
Nada suaranya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan saat membicarakan adiknya.
“Dia jatuh cinta pada wanita biasa.”
Pandangan Alya langsung tertunduk perlahan.
Wanita itu adalah ibunya.
“Namun keluarga menolak hubungan mereka,” lanjut pria itu, menyandarkan tubuh sebentar di kursi. “Dan dia memilih untuk pergi.”
“Ayah tidak pernah mencari dia?” tanya Raka tajam.
“Kami mencarinya.”
“Tapi?”
Pandangan pria tua itu sedikit mengeras.
“Dia meninggal sebelum sempat kembali.”
Ruangan mendadak sunyi.
Napas Alya langsung tercekat.
“Meninggal…?”
Pria itu mengangguk kecil.
“Kecelakaan.”
Dunia Alya terasa kembali hancur.
Karena bahkan sebelum ia mengenal ayah kandungnya—
Pria itu ternyata sudah tiada.
Dan yang lebih menyakitkan—
Ia tidak pernah tahu Alya telah lahir.
Air mata Alya kembali menetes tanpa suara.
Raka segera menoleh padanya.
Ekspresi pria itu berubah pilu.
Namun sebelum ia sempat mendekat—
Ayahnya kembali bicara.
“Saya tidak pernah tahu wanita itu hamil.”
Pandangan Alya perlahan terangkat.
“Kalau begitu… kenapa sekarang mencari saya?”
Hening sejenak.
Dan untuk pertama kalinya—
Pandangan pria tua itu sedikit berubah.
Tidak lagi hanya dingin.
Melainkan terlihat rumit.
“Karena kamu darah keluarga Han.”
Kalimat itu membuat Alya langsung membeku.
“Apa?”
“Kamu memiliki hak.”
“Saya tidak mau hak apa pun,” jawab Alya cepat, secara refleks.
Karena semua ini terasa terlalu berat baginya.
Namun pria tua itu tetap tenang.
“Itu bukan sesuatu yang bisa kamu tolak begitu saja.”
Raka langsung melangkah maju.
“Cukup.”
Pandangan ayahnya beralih padanya.
“Dia tidak akan terlibat dalam urusan keluarga ini.”
“Dia sudah terlibat sejak lahir,” balas Raka.
Nada suara pria tua itu kini lebih tajam,
dan suasana kembali menegang.
“Sebenarnya, apa yang Ayah inginkan?” tanya Raka dingin.
Hening.
Lalu perlahan ia melanjutkan—
“Saya ingin dia pindah ke kediaman utama keluarga Han.”
Ruangan itu langsung membeku total.
Alya bahkan merasa dirinya salah dengar.
“Apa?”
“Ayah serius?” Suara Raka langsung berubah sangat dingin.
“Dia cucu keluarga Han.”
“Dia istri saya.”
Pandangan ayah dan anak itu saling beradu tajam.
Alya dapat merasakan dengan jelas—
Pertarungan ini jauh lebih besar dari dirinya.
“Hubungan kalian harus diakhiri.”
Kalimat itu akhirnya terucap.
Dingin.
Tegas.
Dan menghantam tepat ke dada Alya.
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat.
Karena semua orang tahu—
Kalimat itu akan terucap cepat atau lambat.
Namun mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.
“Ayah.” Suara Raka sangat rendah sekarang. “Jangan mulai.”
“Kalian terikat oleh darah keluarga.”
“Kami bukan saudara kandung.”
“Tetap saja tidak pantas.”
Pandangan Raka langsung mengeras sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya benar-benar melihat kemarahan yang mendalam di mata pria itu.
“Saya tidak peduli.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Ayahnya menyipitkan mata tipis.
“Apa katamu?”
“Saya tidak peduli.”
Raka mengulanginya lebih jelas kali ini.
Nada suaranya tegas.
Pasti.
Dan tanpa sedikit pun keraguan.
Jantung Alya langsung berdetak kacau.
Karena pria ini—
Benar-benar memilih dirinya.
Bahkan sekarang.
“Hubungan ini sudah terlalu jauh,” lanjut Raka dingin. “Dan saya tidak akan meninggalkannya.”
“Ayah bisa menghancurkan segalanya.”
“Anda dipersilakan mencoba.”
Suasana terasa begitu panas hingga Alya kesulitan bernapas.
Karena kedua pria itu benar-benar sedang berseteru.
Dan pusat dari segalanya—
Adalah dirinya.
“Berhenti…” bisik Alya pelan.
Namun tidak ada yang mendengar.
“Kamu mempertaruhkan nama baik keluarga hanya demi seorang wanita?” tanya ayah Raka tajam.
Dan jawaban Raka datang tanpa sedikit pun keraguan.
“Dia bukan sekadar wanita.”
Napas Alya langsung tertahan.
Pandangan Raka perlahan beralih padanya.
Lembut.
Namun penuh ketegasan.
“Dia orang yang saya cintai.”
Dunia Alya benar-benar berhenti sejenak.
Karena itu pertama kalinya.
Pertama kalinya Raka mengatakannya secara langsung.
Bukan tersirat.
Bukan setengah-setengah.
Melainkan jelas.
Nyata.
Dan di depan semua orang.
“Astaga…” gumam Arga pelan dari sudut ruangan.
Namun Alya sendiri sudah terlalu kalut untuk memperhatikan hal lain lagi.
Air matanya kembali menetes tanpa bisa dicegah.
Karena kalimat itu—
Adalah hal yang paling ingin ia dengar sekaligus paling ia takuti.
Pandangan ayah Raka langsung berubah dingin.
“Kamu sudah kehilangan akal.”
“Mungkin.” Raka tetap tenang. “Tapi saya tetap tidak akan melepaskannya.”
Keheningan panjang memenuhi rumah.
Lalu perlahan—
Ayah Raka menghela napas dingin.
Pandangannya kembali pada Alya.
“Kamu dengar sendiri.”
Nada suaranya lebih rendah sekarang.
“Selama kamu tetap di sisinya, hidupnya tidak akan tenang.”
Dada Alya langsung terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia mulai menyadari sesuatu.
Raka mungkin siap melawan segalanya demi dirinya,
Namun berapa harga yang harus dibayar pria itu nanti?
“Aku…”
Suara Alya melemah.
Pandangan Raka langsung berubah cepat.
“Alya.”
Namun kali ini—
Alya tidak sanggup menatapnya.
Karena di tengah semua kekacauan ini—
Satu pikiran mulai muncul perlahan di benaknya.
Bagaimana jika…
Cara terbaik untuk melindungi Raka justru dengan meninggalkannya?