Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Langkah Pertama
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika Alverion Dastan membuka matanya, dan cahaya pucat yang masuk dari celah dinding hanya cukup untuk mengusir sebagian kegelapan di dalam bangunan tua itu. Udara masih dingin, tetapi tidak lagi menusuk seperti malam sebelumnya, seolah tubuhnya sudah mulai beradaptasi meskipun belum pulih sepenuhnya. Ia tetap berbaring beberapa saat, membiarkan kesadarannya benar-benar stabil sebelum mencoba melakukan apa pun.
Napasnya terasa lebih teratur sekarang, tidak lagi tersendat seperti sebelumnya, meskipun setiap tarikan masih menyisakan sedikit rasa tidak nyaman di dada. Rasa nyeri masih ada, terutama di bagian lengan dan tulang rusuk, tetapi tidak lagi tajam, melainkan tumpul dan lebih mudah ditahan. Perubahan itu kecil, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa kondisi tubuhnya memang membaik.
Ia menatap langit-langit retak di atasnya tanpa fokus yang jelas, membiarkan pikirannya menyusun kembali kejadian semalam dengan lebih rapi. Wajah Kaelen muncul lagi, diikuti oleh perasaan dingin yang bukan berasal dari racun, melainkan dari pengkhianatan yang masih terasa segar. Namun kali ini, ingatan itu tidak membuatnya goyah seperti sebelumnya, hanya menjadi bagian dari kenyataan yang harus ia hadapi.
Alverion mengangkat kepalanya perlahan, gerakan itu masih terasa berat, tetapi tidak lagi mustahil. Tatapannya langsung menyapu udara di depannya, seolah ia sudah tahu apa yang akan ia temukan. Dan benar saja, tampilan tipis itu muncul kembali tanpa perlu dipanggil, melayang dengan tenang di hadapannya.
[Status Pengguna]
Nama: Alverion Dastan
Kondisi: Lemah
Energi: 3
Stabilitas Tubuh: 27%
Ia menatap angka-angka itu lebih lama dari yang ia sadari, mencoba memahami arti dari perubahan kecil tersebut. Energi yang sebelumnya nol kini meningkat, meskipun hanya sedikit, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa sistem itu benar-benar bekerja. Stabilitas tubuhnya juga bertambah, meskipun masih jauh dari kondisi aman.
“Jadi ini bukan mimpi,” gumamnya pelan.
Suaranya terdengar lebih jelas, tidak lagi serak seperti malam sebelumnya, meskipun masih lemah. Ia menggerakkan bahunya perlahan, lalu mencoba duduk dengan hati-hati, menahan napas saat rasa nyeri kembali muncul. Tubuhnya bergetar sesaat, tetapi ia berhasil bersandar pada dinding yang dingin.
Kepalanya sedikit pusing, namun tidak sampai membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan ekspresi yang lebih fokus. Jika sistem ini benar-benar nyata, maka ia tidak punya waktu untuk terus ragu.
“Kalau sistem ini nyata... aku harus bergerak.”
Kalimat itu keluar pelan, tetapi penuh kepastian yang tidak ia miliki sebelumnya. Seolah merespons pikirannya, tampilan di depannya berubah dengan cepat, menampilkan informasi baru yang tidak kalah penting.
[Misi baru tersedia]
Alverion mengerutkan kening, memperhatikan perubahan itu dengan lebih serius. Tulisan berikutnya muncul secara bertahap, seolah memberi waktu baginya untuk memahami setiap bagian.
[Misi: Bertahan dan Berburu]
[Deskripsi: Eliminasi 1 makhluk tingkat rendah atau bertahan selama 6 jam di area liar]
[Hadiah: +1 Energi, Paket Pemulihan Dasar]
Ia membaca semua itu tanpa berkedip, mencoba menimbang pilihan yang ada. Kata berburu terasa berat, terutama dalam kondisi tubuhnya yang belum pulih, tetapi opsi bertahan di area liar juga tidak menjanjikan keselamatan.
“Berburu...” ulangnya pelan.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar melalui celah dinding, di mana hutan kecil di pinggir kota Arvandor mulai terlihat jelas dengan cahaya pagi yang semakin kuat. Dari kejauhan, tempat itu tampak tenang, tetapi ia tahu dari pengalaman bahwa ketenangan seperti itu sering kali menipu.
Alverion menarik napas panjang, membiarkan pikirannya mempertimbangkan semua kemungkinan. Bangunan ini tidak aman untuk ditinggali terlalu lama, dan menunggu tanpa melakukan apa pun hanya akan memperburuk keadaannya. Sementara itu, sistem menawarkan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.
“Tidak ada pilihan lain,” ucapnya pelan.
Dengan susah payah, ia mendorong tubuhnya berdiri, menggunakan dinding sebagai penopang. Kakinya gemetar saat pertama kali menapak lantai, hampir membuatnya jatuh kembali, tetapi ia segera menahan diri. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, namun kali ini ia tidak membiarkannya menghentikan langkahnya.
Langkah pertama terasa berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat. Langkah kedua sedikit lebih stabil, meskipun masih jauh dari kata normal. Ia bergerak perlahan menuju pintu bangunan yang setengah runtuh, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan setiap gerakan.
Saat ia akhirnya keluar, udara pagi menyambutnya dengan dingin yang lebih ringan dibanding malam sebelumnya. Hutan di depannya terlihat lebih jelas sekarang, dengan pepohonan yang tidak terlalu rapat namun cukup untuk menyembunyikan banyak hal.
Alverion melangkah masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya diperhitungkan agar tidak menimbulkan suara berlebihan. Dedaunan kering di bawah kakinya sesekali berderak, membuatnya langsung berhenti dan memperhatikan sekeliling.
Ia bersandar pada batang pohon untuk sesaat, mengatur napas yang mulai sedikit tidak teratur. Tubuhnya belum sepenuhnya siap untuk aktivitas seperti ini, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain memaksakannya.
“Makhluk tingkat rendah...” gumamnya.
Ia mencoba mengingat kembali pengetahuannya tentang makhluk di sekitar wilayah ini. Biasanya, yang termasuk kategori itu adalah hewan kecil yang terpengaruh energi liar, cukup berbahaya bagi orang biasa, tetapi masih bisa ditangani jika berhati-hati.
Suara gesekan tiba-tiba terdengar dari semak di depannya, membuat tubuh Alverion langsung menegang. Ia menahan napas, memusatkan perhatian pada sumber suara itu, mencoba memastikan apa yang bergerak di balik dedaunan.
Suara itu muncul lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Ia perlahan meraih batu kecil di tanah, menggenggamnya erat tanpa mengalihkan pandangan. Jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi pikirannya tetap fokus.
Beberapa detik kemudian, makhluk itu muncul.
Bentuknya menyerupai tikus, tetapi ukurannya lebih besar dari biasanya, dengan mata merah redup yang tampak tidak wajar. Gerakannya gesit, dan cara ia mengendus udara menunjukkan bahwa ia bukan sekadar hewan biasa.
Alverion menyipitkan mata, mencoba menilai situasi dengan cepat. Makhluk itu belum menyadarinya sepenuhnya, yang berarti ia masih punya sedikit waktu untuk mengambil tindakan.
Ia bergerak perlahan, menjaga jarak sambil mencari posisi yang lebih menguntungkan. Namun suara kecil dari langkahnya cukup untuk menarik perhatian makhluk itu.
Kepala makhluk itu langsung menoleh, dan mata merahnya mengunci pada Alverion tanpa ragu. Dalam sekejap, tubuh kecil itu melompat ke arahnya dengan kecepatan yang mengejutkan.
Alverion bereaksi secepat mungkin, melempar batu yang ia pegang ke arah makhluk itu. Lemparannya mengenai tubuh makhluk tersebut, membuat lintasannya sedikit berubah, tetapi tidak cukup untuk menghentikannya.
Makhluk itu tetap menyerang, dan Alverion mundur cepat, hampir kehilangan keseimbangan saat kakinya terpeleset di tanah lembap. Ia jatuh setengah terduduk, dan situasi itu langsung membuatnya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Makhluk itu tidak memberi waktu, melompat lagi dengan arah yang lebih tepat. Alverion mengangkat tangannya secara refleks, merasakan hembusan napas makhluk itu yang nyaris mengenai kulitnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong makhluk itu menjauh. Tubuh kecil itu terlempar sedikit, tetapi segera bangkit kembali dengan gerakan yang lebih agresif.
“Cepat sekali...” gumamnya.
Napasnya semakin berat, dan tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ia tahu bahwa jika pertarungan ini berlangsung terlalu lama, ia tidak akan mampu bertahan.
Makhluk itu menyerang lagi tanpa ragu, dan kali ini Alverion memaksa dirinya untuk tetap berdiri. Kakinya masih gemetar, tetapi ia menahan diri agar tidak jatuh lagi.
Saat makhluk itu melompat, ia menggeser tubuhnya ke samping, menghindari serangan dengan gerakan yang tidak sempurna tetapi cukup efektif. Makhluk itu melewatinya, dan di saat itulah Alverion mengambil kesempatan.
Ia mengambil batu lain dan menghantamkannya ke arah kepala makhluk itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Benturan itu cukup keras untuk membuat makhluk itu menjerit, tetapi belum cukup untuk mengakhiri.
Makhluk itu berbalik dengan lebih liar, serangannya menjadi tidak teratur namun lebih berbahaya. Alverion mundur, napasnya kacau, dan pikirannya mulai dipenuhi tekanan.
Jika ia terus bertahan seperti ini, hasilnya sudah jelas.
“Tidak...” gumamnya.
Ia menggenggam batu dengan lebih erat, memaksa dirinya untuk tidak mundur lagi. Saat makhluk itu melompat untuk menyerang, ia tidak menghindar kali ini.
Ia maju.
Batu di tangannya menghantam kepala makhluk itu dengan kekuatan yang lebih besar, didorong oleh sisa tenaga dan keinginan untuk bertahan. Benturan itu menghasilkan suara yang lebih jelas, dan tubuh makhluk itu jatuh ke tanah.
Makhluk itu kejang sesaat sebelum akhirnya diam.
Hutan kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas Alverion yang berat. Ia berdiri di sana tanpa bergerak, mencoba memastikan bahwa ancaman itu benar-benar telah berakhir.
Beberapa detik berlalu sebelum tampilan itu muncul kembali di hadapannya.
[Misi selesai]
Alverion menatapnya dengan mata sedikit melebar, lalu mengalihkan pandangan ke tubuh makhluk di tanah. Ia memastikan sekali lagi bahwa makhluk itu tidak bergerak, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“...hampir saja,” bisiknya.
Ketegangan yang ia tahan perlahan hilang, digantikan oleh rasa lelah yang langsung menyerang tubuhnya. Namun sebelum ia sempat benar-benar rileks, tampilan itu kembali berubah.
[Hadiah diberikan]
[+1 Energi]
[Paket Pemulihan Dasar diaktifkan]
Sensasi hangat muncul lagi di dalam tubuhnya, kali ini lebih terasa dibanding sebelumnya. Aliran itu menyebar ke seluruh tubuh, mengurangi rasa sakit dan membuat ototnya terasa lebih ringan.
Alverion menatap tangannya, merasakan perubahan itu dengan jelas. Gerakan jari-jarinya lebih stabil, dan napasnya tidak lagi seberat sebelumnya.
“Ini...”
Suaranya pelan, tetapi penuh perhatian.
Tampilan di depannya kembali berubah sebelum ia sempat melanjutkan.
[Level meningkat]
[Level 1 tercapai]
[Skill baru diperoleh]
Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang lain. Kata skill memiliki arti yang jelas, dan ia tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menyadari pentingnya hal itu.
[Skill: Aliran Energi Dasar]
[Deskripsi: Mengaktifkan sirkulasi energi dalam tubuh untuk meningkatkan daya tahan sementara]
Alverion menatap tulisan itu lama, membiarkan maknanya benar-benar masuk ke dalam pikirannya. Ia menutup mata sejenak, mencoba merasakan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya.
Hangat itu masih ada, tetapi kini terasa lebih stabil dan lebih mudah dikendalikan. Ia membuka mata kembali, dan tatapannya tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Masih ada kelelahan dan sisa rasa sakit, tetapi di balik itu, ada sesuatu yang mulai terbentuk dengan jelas.
“Jadi ini awalnya...” gumamnya pelan.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah hutan di depannya, tempat yang sebelumnya terasa menekan dan berbahaya. Ancaman itu masih ada, tidak berkurang sedikit pun, tetapi cara ia memandangnya sudah berbeda.
Alverion menghela napas panjang, lalu melangkah maju dengan lebih mantap. Rasa ragu belum sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi cukup kuat untuk menghentikannya.