Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VISUM DAN VIDEO CALL
Ah Me jatuh.
Bukan pingsan. Tapi lemas — tubuhnya seperti kehabisan tenaga. Eng Sok tidak berpikir. Ilmu meringankan tubuh — yang dulu ia gunakan di medan perang — bergerak sendiri.
Tangannya menangkap bahu Ah Me. Menahan. Menuntun ke ranjang — pelan, tidak terburu-buru.
"Ah Me... duduk dulu."
Ah Me duduk. Matanya kosong. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya kosong.
Ah Chio muncul dari kamar. Tangannya membawa plastik belanjaan — bubur tiga bungkus, masih hangat. Ia meletakkan di meja.
"Gua bikin teh dulu, Koh!"
Ia pergi ke dapur. Memanaskan air. Teh manis — tiga gelas.
---
Eng Sok berdiri di samping Ah Me. Tidak tahu harus berkata apa.
Otaknya tidak nyambung.
Ah Chio naik ke lantai dua. Membawa mangkuk, sendok, teh.
"Ah Me, minum—"
"Ah Me gak butuh penjelasan!"
Ah Me teriak. Ah Chio membeku. Mangkuk di tangannya hampir jatuh — tapi ia pegang erat.
Eng Sok melongo. Tidak bergerak. Tidak bisa bergerak.
Ah Me mengambil HP. Menekan tombol video call.
Tauke Hok mengangkat. Wajahnya masih kusut — baru bangun tidur.
"Tauke, liat anak lu!" Ah Me mengarahkan kamera ke Ah Chio. "Di kamar semalam sama anak gua! Lu jadi orang tua gak jaga anak!"
Tauke Hok mengerjap. Belum paham.
Tapi Nyonya Hok — yang ada di samping suaminya — tidak terima.
Ia merebut HP. Wajahnya merah.
"Anak lu laki gatel! Anak gue rentan dimanfaatin laki-laki! Diperawanin!"
Ah Me meledak.
"GATEL?! ANAK GUE? ANAK GUE GAK PERNAH—"
"SIAPA YANG BUKTIKAN?!"
"SIAPA YANG TAU—"
"LU YANG JAGA ANAK GUE!"
"YANG JAGA ANAK LU ANAK GUE!"
Batre HP Tauke Hok habis.
Tut.
Sunyi.
---
HP Eng Sok berdering.
Dari nomor tidak dikenal. Ia mengangkat — suara perempuan, rapi, profesional.
"Bapak Sioh Bu? Dari Universitas Hiang Hok. Acara sarasehan kami undur sampai jam 2 siang. Maaf atas perubahan jadwalnya."
Eng Sok mengangguk. "Baik. Terima kasih."
Ia mematikan telepon.
---
Belum sempat bernapas — suara mobil di depan rumah.
Tauke Hok datang. Langsung masuk — tidak mengetuk. Wajah merah, napas tersengal.
Tetangga mulai berkerumun di pagar.
"Kenapa?"
"Sioh Bu bawa perempuan!"
"Haaa?"
"Paling perempuan itu maksa Sioh Bu!"
"Yang laki-laki kan Sioh Bu!"
Ribut.
---
Eng Sok menatap Tauke Hok.
"Tauke, saya—"
"DIAM." Tauke Hok menoleh ke Ah Chio. "Kamu ikut gua. Sekarang."
Ah Chio tidak bergerak. Matanya ke Eng Sok.
Eng Sok menghela napas. Membuka HP. Browsing.
Mengetik: "klinik obgyn terdekat"
Alamat muncul — Dokter Shih. Di ujung gang. Agak mahal, kata review.
Ia berdiri.
"Tauke, ikut saya."
Tauke Hok mengerjap. "Ke mana?"
"Klinik."
---
Mereka berlima — Eng Sok, Ah Chio, Tauke Hok, Nyonya Hok (yang ikut dari mobil), dan Ah Me (yang memaksakan diri) — berjalan ke ujung gang.
Tetangga mengikuti. Tidak dekat. Tidak jauh. Cukup untuk mendengar.
---
Klinik Dokter Shih — kecil, bersih, dinding putih. Dokter Shih sendiri — wanita berambut pendek, kacamata tebal, suara tegas.
Eng Sok langsung bicara.
"Dokter, minta visum."
Dokter Shih mengerjap. "Visum? Untuk apa?"
"Mereka bilang saya menganiaya Nona ini." Eng Sok menunjuk Ah Chio. "Padahal kami kemarin kena musibah. Kebakaran di ruko. Rumah saya kosong. Kami ketiduran di kontrakan."
Dokter Shih tidak banyak bertanya. Ia memeriksa Ah Chio — tangan, leher, wajah.
"Tidak ada tanda kekerasan," katanya. "Tapi saya tetap ambil sampel darah. Untuk jaga-jaga."
Eng Sok mengangguk. "Biaya berapa?"
"Agak mahal."
"Gak apa."
---
Eng sok membayar. Lunas.
Alamat bokek seminggu. Demi harga diri, batin Eng Sok.
Sioh Bu melayang di samping — ngomel.
"Semalam gua udah ingetin lu! Tapi gak didengerin!"
Eng Sok tidak mendengar. Tidak bisa mendengar — karena Sioh Bu tidak bersuara. Tapi ia tahu. Hanya bisa diam.
---
Tetangga curi-curi dengar di luar jendela.
"Visum?"
"Sioh Bu?"
"Berapa bayarnya?"
"Mahal katanya."
Petugas lab — keluarga Dokter Shih — mengambil sampel darah Ah Chio. Masuk ke ruang sebelah.
Setengah jam kemudian — hasil keluar.
Dokter Shih membaca kertas. Matanya beralih ke Ah Chio. Lalu ke Eng Sok. Lalu ke Tauke Hok dan Nyonya Hok.
"Tidak ada cedera internal. Tidak ada tanda penganiayaan."
Nyonya Hok mau bicara — tapi Dokter Shih belum selesai.
"Tapi di dalam darah... terkandung obat anti-depresan. Untuk psikiatri."
Sunyi.
Tetangga di luar — kecewa.
"Haaa?"
"Cuma itu?"
"Bukan kabar seru artis?"
"Yaelah."
Mereka bubar. Satu per satu pulang — tidak ada yang menarik.
---
Dokter Shih melepas kacamata. Menatap Eng Sok.
"Pasien ini dalam perawatan psikiatri?"
Eng Sok mengangguk. "Ya. Baru keluar RS beberapa minggu lalu."
"Obatnya diminum rutin?"
"Tadi malam diminum," potong Ah Chio. Suaranya pelan. "Sebelum tidur."
Dokter Shih mengangguk. "Baik. Selesai."
---
Mereka keluar dari klinik.
Ah Me masih diam. Tidak bicara. Tapi kagetnya sudah reda.
Tauke Hok menghela napas. "Siau Heng... maaf."
Eng Sok tidak menjawab. Ia hanya menatap Ah Chio — yang berdiri di sampingnya, muka masih merah, tapi tenang.
"Pulang," kata Eng Sok. "Ah Me belum sarapan."
---
BERSAMBUNG
---
Visum tidak menemukan apa-apa.
Obat psikiatri — yang diminum rutin — menjadi bukti.
Tetangga kecewa — bukan skandal artis.
Eng Sok tidak marah.
Hanya lelah.