NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.

Lalu pandangan Maura beralih menatap ke arah ayahnya, untuk meminta bantuan. Tapi ayahnya tidak melihat ke arahnya, ia masih saja terlihat fokus berbicara dengan Papihnya.

"Tanya anaknya saja!" sahut Stela ketus.

Tak berselang lama Soka juga terlihat turun dari tangga.

"Loh Dek! Kok malah berdiri seperti patung, ayo sarapan dulu! Biar kuat tenaganya!" ajak Soka, ia terlihat menepuk bahu adiknya itu pelan. Itu memang kebiasaan yang di lakukan oleh Soka.

"Arggh!"

Sontak Maura pun meringis kesakitan, bahkan air mata terlihat luruh dari ke dua pelupuk matanya.

Soka lantas menoleh, "Dek maaf, Kakak tidak tahu!"

Saat Soka ingin kembali berjalan menuju ke arah adiknya, tiba tiba Stela menarik tangan anaknya itu.

"Ayo kamu buruan makan! Gak usah urusin adikmu itu, dia itu mau makan di rumah Mamih nya!"

"Tapi Mah, Soka yang salah!"

"Ingat sayang, apa pun yang kamu lakukan! Kamu tidak pernah berbuat salah pada adikmu itu, jadi tolong jangan suka meminta maaf padanya."

Stela terus menarik tangan anaknya, sang anak pun memilih pasrah dan tidak memperpanjang urusan ini.

Cherly yang melihat gelagat aneh pada anak angkat nya buru buru mendekat.

"Sayang, apa Kakak mu itu menyakitimu? Padahal yang Mamih lihat itu tepukannya tadi pelan."

"Gak Mih! Kak Soka tidak menyakiti ku, ayo buruan kita pergi ke rumah Mamih! Aku gak sabar ingin sarapan dan makan masakan Mamih," kata Maura sembari menghapus air mata yang tadi membasahi ke dua pipinya.

Maura tersenyum lalu memeluk pinggang Mamihnya.

Cherly hanya bisa tersenyum seraya mengelus elus pucuk kepala anaknya.

"Ayo Mih, buruan kita pergi ke rumah Mamih! Maura udah kelaparan hebat," kata Maura sembari menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sangat manis sembari menenggelamkan wajahnya di dada Mamih nya itu.

Sebisa mungkin Maura menahan semua rasa sakit yang ia rasakan sekarang ini.

"Ayo Pih, kita pulang sekarang! Maura kecil kita lapar! Perbincangan dengan Lian lanjutin saja di kantor!" ajak Cherly pada suaminya.

"Iya mih!"

"Lian kalau begitu aku pamit dulu, kita lanjut bahas hak asuh anak di kantor!"

****

**

Sekarang rombongan Maura, Cherly dan juga Aron berada di dalam mobil. Dan mobil yang mereka kendarai sudah berhenti di dekat area sekolah.

"Maura sayang, sekolah yang pintar ya!" Cherly terlihat mengelus elus pucuk kepala anaknya.

Maura tersenyum riang sembari mengangguk anggukkan kepalanya.

"Kalau begitu Maura berangkat dulu Pih!" Maura terlihat pamit pada Papihnya, ia terlihat mencium punggung tangan Papihnya.

Lalu Maura beralih mencium punggung tangan Mamih nya.

"Ini hape barunya buat Maura! Di situ sudah ada nomor telepon Mamih!" Cherly terlihat menyerahkan hape baru pada anaknya.

Maura terlihat sangat senang, karna selama ini Stela tidak pernah memperbolehkannya untuk memegang hape.

"Tapi Mih! Kalau aku di marahin sama Mamah Stela lagi gimana?"

"Memangnya kapan kamu itu di marahi sama Stela sayang? Jangan bilang kalau semalam —." Ucapan Cherly terhenti kala Maura tiba tiba memeluk dirinya.

"Tenang Mih! Udah lama Mamah Stela itu tidak marah padaku. Bahkan sudah lama aku itu tidak pernah mendapatkan hukuman darinya. Tolong Mamih jangan emosi dan khawatir berlebih kepadaku sekarang," kata Maura bohong, bahkan ia terlihat mengeluarkan senyuman getir.

"Ya udah Mamih percaya pada mu sayang," sahut Cherly sembari mengelus elus pundak anaknya.

Naura merasa tubuhnya nyeri. Dia tak mampu menahan rasa sakit yang melanda tubuhnya akibat hukuman yang dilakukan oleh Cherly, ibu angkatnya, semalam. Namun, Naura berusaha keras untuk tetap tersenyum, menahan pilunya demi orang tua angkatnya, Cherly dan Aron. Karena Maura tidak ingin jika ke dua orang tua angkatnya itu ikut sedih.

"Pipi kamu kok panas, Maura! Apa kamu demam? Kok pipi kamu panas sekali! Bahkan dahi kamu juga!" Cherly menggumam pelan, seraya memegang dahi Naura dengan tangan kanannya.

Perasaan khawatir mulai mendalaminya saat dia merasakan kedinginan pergelangan tangan anak angkatnya.

"Gak Mih! Mungkin aku kepanasan saja, kelamaan di mobil," ujarnya berusaha berusaha mengesankan kesan kuat. "Kalau begitu, aku pergi ke sekolah dulu ya. Ini kan hari pertama aku masuk sekolah!"

"Ta-tapi sayang, kalau sakit, libur dulu saja!" Cherly menyahut, suaranya bergetar karena khawatir.

Akan tetapi, Naura mengepal tangan, menguatkan diri dan menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Mih, jangan khawatir," jawabnya dengan suara parau, berusaha keras untuk menutupi rasa sakit yang menderanya.

Sementara itu, Aron tampaknya lebih fokus pada ponsel yang ada di tangannya, tak sadar betapa dalam luka yang dialami anak angkatnya.

Maura akhirnya bisa turun dari mobil yang ditumpanginya, ia menghela nafas panjang, merasa lega dan waswas sekaligus. Ia menatap ke arah mobil orang tua angkatnya yang mulai meninggalkan area sekolah.

"Semoga hari ini berjalan lancar," batinnya. Lantas Maura melangkahkan kakinya dengan berat hati, melewati koridor demi koridor kelas. Ia merasa begitu asing dan cemas di sekolah barunya ini. Siapa tahu ada teman atau guru yang tidak ramah padanya?

Tanpa Maura sadari, Vince sang guru, sejak tadi sudah mengikuti langkah kakinya. "Anak baru ini terlihat sangat polos dan begitu mirip dengan Naura, bagaimana sebenarnya latar belakangnya?" pikir Vince dengan perasaan penasaran dan kebingungan.

Beberapa murid laki-laki yang berdiri di koridor sekolah nampak menggoda Maura.

Namun para murid laki laki itu terlihat mendapatkan tatapan tajam dari Vince.

Vince sendiri merasa wajib untuk melindungi Maura, walau sebenarnya ia sendiri masih belum mengenal gadis itu.

Vince juga masih penasaran dengan hubungan antara Maura dan Cherly.

Saat itu juga, Maura tiba tiba merasa pusing dan kesadarannya menghilang. Bahkan pandangannya mulai menggelap.

"Kenapa... kenapa rasanya dunia ini berputar?" batin Maura, seraya mencoba berpegangan pada dinding yang ada di sampingnya.

Namun sayangnya, upayanya itu tak cukup untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Brakk!

Maura pun pingsan

di koridor sekolah yang ramai itu, dan seketika itu pula Vince bergegas ke sisi Maura untuk membantunya.

"Gadis ini, kenapa tiba-tiba pingsan begini?" batin Vince, merasa khawatir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!