NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : DELAPAN KAPAL DAN SATU ARAH

"Ayahku adalah orang yang paling tidak mau mengakui kesalahannya, dan mungkin itulah yang membuatnya mati. Long Yuan membesarkanku dengan tembok-tembok tinggi dan koridor-koridor yang selalu berbau perang yang belum selesai. Ibuku mencintaiku dengan cara yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun selain aku, dan itu justru membuatku takut, takut suatu hari aku menjadi alasan baginya untuk melunak terhadap dunia yang tidak pernah melunak kepadanya. Lalu soal Pedang Samudera yang sekarang ada di punggungku masih saja terkunci, karena aku tahu aku belum layak dan lebih baik mengakui itu daripada pura-pura mampu seperti yang dilakukan ayahku terlalu lama. Meski tanpa bisa menguasai teknik pedang sekalipun, keputusanku sudah bulat sejak hari kompas Dao-ku berhenti berputar dan menunjuk ke satu arah yang tidak ada dalam peta mana pun. Sekarang giliranku. Meski satu-satunya masalah adalah karena kakakku ikut, padahal pelayaran ini seharusnya menjadi petualangan pertamaku tanpa bergantung pada siapa pun, dan ternyata Wei Qinghan tidak mengenal kata 'tidak' dalam kamus hidupnya."

Hari kedelapan di laut, Qinghan akhirnya naik ke dek.

Gadis yang menduduki posisi sebagai Panglima Perang Kekaisaran Long Yuan itu berjalan dengan langkah yang lebih hati-hati dari biasanya, satu tangan di railing, wajahnya pucat dengan semburat kehijauan yang sangat tidak cocok dengan baju besi peraknya yang selalu sempurna. Sedangkan Wei Haifeng menatapnya dari dek kemudi dengan ekspresi yang sangat berhati-hati untuk tidak terlihat seperti sedang menahan tawa.

"Kakak sudah lebih baikan?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja," kata Qinghan, tidak menyisakan ruang untuk diskusi.

"Tentu saja." Adiknya pun menoleh kembali ke laut. "Kelihatannya juga baik-baik saja."

Qinghan tidak menjawab. Tapi dia berdiri di dek atas selama beberapa menit, menghirup udara laut dalam-dalam, sebelum turun kembali ke bawah dengan langkah yang masih terlalu hati-hati untuk seseorang yang mengaku baik-baik saja.

Sementara Haifeng kembali mengangkat teropong perunggu di satu tangan dan kompas Dao di tangan lainnya. Laut di depan mereka hari itu berwarna biru gelap dengan riak-riak kecil yang bergerak dari arah barat laut, dan dia membaca pola itu dengan cara yang sama seperti orang membaca kalimat di atas kertas. Delapan kapal armada Long Yuan bergerak dalam formasi, kapal-kapal yang lebih kecil mengapit kanan dan kiri kapal utama dengan layar penuh angin.

Jika ditinjau dari atas dek kemudi, seluruh kapal terlihat seperti peta manusia yang bergerak.

Zhao Feng dan Sun Li berjongkok di dekat tiang layar tengah, menghitung sesuatu di atas kertas dengan ekspresi dua orang yang sudah memutuskan bahwa petualangan ini harus menghasilkan keuntungan yang sepadan atau tidak ada gunanya dilanjutkan. Ma Chao duduk di dekat mereka, lebih banyak diam, mengikuti arah angin percakapan seperti biasa. Sedikit lebih jauh, Wang Bi sedang bercerita sesuatu kepada Liu Mao yang tertawa terlalu keras untuk sebuah lelucon yang kemungkinan tidak terlalu lucu. Chen Mo berdiri di dekat tangga menuju dek bawah, diam, tegak, matanya menyapu dek dengan datar. Adapun Kakek Hua Yuan duduk di bangku lipat dekat buritan, menutup matanya, mungkin tidur atau mungkin sedang bermeditasi, sementara cucunya Hua Ling duduk di lantai dekat kakinya sambil membaca gulungan yang sepertinya bukan gulungan pengobatan.

Bai Mei berdiri di railing sisi kanan, rambut panjangnya melambai, dengan ekspresi seseorang yang sedang menikmati pemandangan tapi telinganya tidak pernah berhenti mendengarkan.

Begitu pula Zhao Feng yang pertama berjalan mendekat, diikuti Sun Li dua langkah di belakang.

"Kapten agung kita sudah dapat tanda apa hari ini?" tanya Zhao Feng dengan nada yang terlalu manis untuk ukuran pertanyaan biasa. "Kompas ajaibnya pasti sudah tunjukkan sesuatu yang istimewa."

Sun Li menimpali dengan senyuman yang tidak hangat. "Benar sekali. Beliau kan sudah studi bertahun-tahun. Kita ini hanya pengikut yang tidak perlu khawatir tentang arah."

Pada saat itu juga Haifeng menurunkan teropongnya dan menatap keduanya sebentar dengan ekspresi yang datar.

Kemudian wanita cantik bernama Bai Mei datang dari arah railing dengan langkah anggun sebelum menyentuh lengan Zhao Feng dengan ujung jarinya. "Sudahlah, jangan bicara begitu. Kapten Haifeng sudah bekerja keras. Kalian bisa lihat sendiri kan, dia hampir tidak pernah tidur."

Suaranya manis. Tapi matanya justru sedang menilai sesuatu.

Haifeng tahu betul bahwa jika kakak perempuannya ada di sini, tidak satu pun dari mereka akan membuka mulut lebih dari keperluan. Kesal itu ada, tapi dia simpan di tempat yang rapi dan tidak terlihat. Alih-alih menanggapi, dia kembali mengangkat teropongnya dan mengarahkan pandangan ke cakrawala.

Semua itu sampai hari berganti hari.

Minggu pertama berlalu dengan angin yang cukup baik dan kru yang masih mau berdisiplin. Minggu kedua mulai terasa lebih berat. Air bersih dibagi dengan porsi yang semakin dikurangi. Persediaan makanan kering dihitung ulang setiap pagi oleh Hua Yuan yang tidak pernah memberikan laporan dengan ekspresi yang menyenangkan. Beberapa orang dari kapal-kapal lain pun mengirim pesan lewat lonceng, bukan kabar baik, hanya konfirmasi bahwa mereka masih ada dan kondisi mereka tidak jauh berbeda.

Intinya mereka mulai terlihat lebih lelah. Kulit mengering oleh garam dan angin. Mata mulai menatap cakrawala dengan campuran harapan dan keengganan yang semakin seimbang.

Sementara laut tidak pernah berhenti bergerak, tapi semakin lama terasa semakin sama dari hari ke hari.

Hingga keluhan pertama keluar dari mulut Wang Bi, meski dengan nada yang masih setengah bercanda.

"Kalau pulau itu hanyalah dongeng, setidaknya beri tahu kita sekarang supaya kita bisa balik dan mati di darat."

Liu Mao yang biasanya tertawa malah diam. Itu sendiri sudah cukup mengatakan sesuatu.

Zhao Feng tidak bercanda sama sekali. Suaranya pelan tapi cukup untuk didengar oleh siapa pun yang ada di dek. "Bayaran dari Kaisar tetap cair kalau kita balik hidup-hidup. Pulau atau tidak, uangnya sudah dijanjikan."

Sun Li menambahkan. ”Atau jangan-jangan... peta yang dipegang Tuan Muda Haifeng mungkin hanya salinan ulang dari catatan tetua yang sudah terbukti menjual omong kosong? Semoga saja aku yang salah.”

Semua suara itu berhenti ketika langkah kaki berat baju besi perak terdengar dari tangga dek.

Qinghan naik dengan wajah yang masih agak pucat tapi matanya sudah kembali ke ketajamannya yang biasa. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya berdiri di antara mereka, tangan kiri jatuh santai di samping tubuhnya, dekat gagang pedangnya. Pandangannya bergerak pelan dari satu wajah ke wajah lain.

Tidak ada yang meneruskan kalimatnya. Persis seperti yang Haifeng katakan sebelumnya.

Setelah semua orang memilih untuk tiba-tiba sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Qinghan berjalan mendekati adiknya di dek kemudi.

"Seberapa jauh lagi?"

Haifeng tidak mengangkat mata dari kompas Dao-nya. Jarum itu diam, teguh, menunjuk ke depan. "Arahnya benar."

"Aku tidak tanya arahnya."

"Aku juga tidak tahu jaraknya." Haifeng akhirnya menatap kakaknya. "Tapi arahnya benar, Kak. Aku yakin... sangat yakin."

Qinghan menatapnya selama beberapa detik. Kemudian berbalik, kembali ke posisinya menghadap laut.

Sampai seekor burung hinggap di ujung tiang layar kapal utama pada pagi hari ketika kabut masih belum sepenuhnya terangkat.

Bukan burung laut biasa. Bulunya putih keabuan, paruhnya kuning cerah, dan ia hinggap di sana dengan santai seperti sedang memilih tempat peristirahatan yang sudah lama dikenalnya. Hua Ling yang pertama melihatnya dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik, hanya menatap.

Sementara Haifeng menurunkan teropongnya perlahan.

Itu jelas burung darat, bukan burung laut. Ini artinya daratan ada dalam jarak terbang burung itu, dan burung itu tidak terbang dari tempat yang jauh.

Lonceng dari kapal kedua pun berbunyi. Lalu kapal ketiga. Lalu semua tujuh kapal lain bergantian, memukul lonceng mereka dalam irama yang tidak direncanakan tapi terasa seperti paduan suara.

"Ada daratan!" Haifeng berseru, suaranya naik lebih tinggi dari biasanya. "Di depan kita! Ada daratan di depan kita!"

Dek yang tadi setengah lesu itu lantas mendadak bergerak. Orang-orang berlari ke railing, teropong-teropong diangkat, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, suara di kapal terdengar seperti manusia yang masih punya harapan.

Akan tetapi, tidak ada yang langsung melihatnya.

Yang terlihat pertama kali, jauh di cakrawala tepat di arah yang selama ini ditunjuk kompas Dao, adalah gumpalan awan hitam yang bergulung turun dari langit seperti tembok raksasa yang sedang menutup jalan. Gelap pekat, berputar di dalamnya sendiri, dan di bawahnya permukaan laut berubah warna menjadi abu-abu kehijauan yang tidak wajar.

Itu bukan awan biasa, melainkan badai besar.

Hukum langit Shenzhou sedang rusak, dan rupanya lautan juga merasakannya.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!