NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Gema Langkah di Lantai Kayu dan Topeng yang Retak

​Suara deru baling-baling helikopter yang tadinya memekakkan telinga perlahan mereda, digantikan oleh suara dengung mesin yang menjauh saat burung besi itu mendarat di lapangan perkebunan teh di bawah vila. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa jauh lebih mencekik. Itu adalah jenis keheningan yang biasa dirasakan sebelum guntur meledak di tengah badai—berat, statis, dan dipenuhi oleh partikel ketakutan yang menyesakkan paru-paru.

​Aku berdiri di tengah ruang tamu, menatap pantulan diriku di cermin besar berkulit kayu oak. Aku mengenakan gaun katun sederhana yang disediakan di vila, namun sorot mataku bukan lagi milik gadis yang bingung dan rapuh. Aku meraba liontin di leherku, memastikan flashdisk kecil di dalamnya masih ada di sana. Itulah nyawaku. Itulah nyawa Devan.

​Di bawah kakiku, di balik lantai kayu yang sedikit berderit, Devan sedang bersembunyi di dalam bunker anggur tua bersama salah satu petugas intelejen Satria. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri beradu dengan bayangan kehadirannya di bawah sana. Bertahanlah, Van. Kali ini aku yang akan menjadi dindingmu.

​Langkah kaki mulai terdengar di teras depan. Bukan satu, melainkan beberapa pasang sepatu pantofel mahal yang berderap dengan ritme yang angkuh.

​Pintu vila tidak didobrak. Ia dibuka dengan perlahan, nyaris sopan, namun memiliki aura dominasi yang mengerikan. Di ambang pintu, bersandar pada cahaya kabut yang pucat, berdirilah Bima Dirgantara.

​Ia terlihat seperti baru saja keluar dari sampul majalah bisnis. Setelan jas slim-fit berwarna biru navy, rambut yang tertata rapi tanpa cela, dan senyum tipis yang memancarkan kepercayaan diri seorang pria yang merasa dunia ada di telapak tangannya. Di belakangnya, berdiri empat orang pria berbadan tegap dengan setelan hitam dan earpiece—tim keamanan profesional Dirgantara Group.

​"Anya, Sayang," suara Bima mengalun lembut, bergema di ruangan yang luas itu. Ia melangkah masuk, mengabaikan debu yang menempel di sepatunya seolah ia sedang berjalan di catwalk. "Lihatlah dirimu. Di tempat yang kumuh dan terpencil begini, kau masih terlihat seperti berlian yang tersesat."

​Aku tidak bergerak. Aku tidak tersenyum. Aku menatapnya dengan tatapan datar yang selama ini kugunakan untuk mengobservasi orang asing di kampus.

​"Kau melanggar prosedur, Bima," suaraku keluar dengan ketenangan yang bahkan mengejutkan diriku sendiri. "Jaksa Satria bilang kau tidak seharusnya datang sampai tiga hari lagi."

​Bima tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak memiliki emosi di dalamnya. Ia berhenti sekitar tiga meter di depanku. "Prosedur? Anya, prosedur dibuat untuk orang-orang yang tidak memiliki nama belakang Dirgantara. Ayahmu sudah jatuh. Kerajaannya sedang dijarah oleh para oportunis. Dan aku di sini untuk menjemput 'investasi' ayahku yang paling berharga sebelum orang lain menyentuhnya."

​Ia menoleh ke sekeliling ruangan dengan jijik. "Di mana si anak montir itu? Aku mencium bau oli dan kemiskinan di sini. Apakah dia sedang bersembunyi di bawah kolong meja?"

​"Devan sedang tidak ada," aku berbohong dengan lancar. "Dia pergi mencari bantuan medis di desa bawah. Dia luka parah karena orang-orangmu di pelabuhan."

​Wajah Bima berubah sedikit. Senyumnya menghilang, digantikan oleh kilat amarah yang tertahan. "Jangan membelanya di depanku, Anya! Tiga tahun aku menunggumu bangun dari tidurmu! Tiga tahun aku membiarkan ayahmu mencuci otakmu agar kau bisa mencintaiku tanpa hambatan! Dan sekarang, kau malah lari dengan sampah yang seharusnya sudah mati di selokan tiga tahun lalu?"

​Ia melangkah maju satu langkah besar, mengintimidasi ruang personalku. "Kau tahu apa yang ayahmu lakukan padanya malam kecelakaan itu? Dia ingin Devan lenyap. Dan akulah yang menyelamatkan anak itu. Aku yang membayar sipir agar dia tidak dibunuh di dalam penjara. Aku membutuhkannya tetap hidup agar suatu hari nanti, jika kau bangun, aku bisa menggunakannya sebagai sandera untuk kepatuhanmu."

​Aku merasakan darahku mendidih. Jadi, selama ini Devan hanyalah pion di tangan Bima juga? Pria di depanku ini bukan sekadar predator; ia adalah penenun jaring yang menjerat kami berdua.

​"Kau salah, Bima," ujarku sambil tersenyum pahit. "Kau meremehkanku. Kau pikir aku masih Anya yang malang, si 'kaset rusak' yang tidak tahu apa-apa."

​Aku melangkah ke meja kayu, mengambil laptop perak milik Devan yang sengaja kutinggalkan di sana, namun layarnya sudah tertutup.

​"Aku sudah membuka folder 'Red-Alpha', Bima," lanjutku. "Aku tahu tentang draf hotel G-Azure di Bali. Aku tahu tentang 15% saham atas namaku yang kau butuhkan untuk melegalkan pendanaan bankmu. Tanpa tanda tanganku, proyek triliunan itu adalah tumpukan kertas sampah."

​Langkah Bima terhenti. Matanya membelalak. Topeng kesempurnaannya retak untuk pertama kalinya. "Dari mana kau... Ayahmu bilang dokumen itu sudah dibersihkan!"

​"Ayahku terlalu fokus pada Devan hingga ia lupa bahwa putrinya adalah seorang pengamat yang teliti," aku mengangkat liontin di leherku. "Seluruh data aliran dana gelap Dirgantara ke perusahaan cangkang Ayah untuk menyuap audit Proyek Sudirman... semuanya ada di sini. Dan satu salinannya sudah berada di tangan Jaksa Satria di Jakarta lewat jalur terenkripsi lima menit sebelum kau mendarat."

​Bima terdiam. Ruangan itu seketika menjadi sangat dingin. Para pengawalnya di belakang mulai bergerak gelisah, tangan mereka merapat ke pinggang, di mana senjata mereka berada.

​"Kau menggertak," desis Bima. Wajahnya kini merah padam. "Anya yang kukenal tidak akan berani melakukan ini."

​"Anya yang kau kenal sudah mati disuntik oleh Dokter Frans, Bima," balasku tajam. "Anya yang sekarang adalah wanita yang melihat Devan Mahendra dipukuli dan dihina selama tiga tahun, dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi."

​Bima tiba-tiba menerjang maju. Ia mencengkeram bahuku dengan kekuatan yang menyakitkan, menarikku hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Matanya liar, penuh dengan kegilaan yang selama ini ia sembunyikan di balik jas mahalnya.

​"Berikan flashdisk itu, Anya! Berikan atau aku akan menyuruh orang-orangku membakar seluruh bukit ini bersama anak montir itu!" raungnya.

​Aku menatapnya tanpa kedip. "Tembak saja, Bima. Jika aku mati atau terluka, Jaksa Satria memiliki perintah otomatis untuk merilis dokumen itu ke media nasional dalam waktu satu jam. Bayangkan apa yang akan terjadi pada harga saham Dirgantara Group besok pagi. Kau akan menjadi orang miskin yang paling dibenci di negeri ini sebelum matahari terbenam."

​Bima membeku. Genggamannya pada bahuku perlahan mengendur. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi berhadapan dengan boneka porselen. Ia sedang berhadapan dengan bom waktu yang ia ciptakan sendiri.

​"Kau... kau benar-benar mencintainya?" tanya Bima dengan nada yang hampir terdengar seperti isakan frustrasi. "Apa yang dia punya yang tidak kupunya? Aku memberimu dunia, Anya! Aku memberimu kekuasaan!"

​"Dia memberiku ingatanku kembali, Bima," bisikku pelan. "Dia memberiku kebenaran, seburuk apa pun itu. Sementara kau dan Ayah... kalian hanya memberiku aroma lavender dan kebohongan."

​Tiba-tiba, dari arah luar vila, terdengar raungan sirene yang sangat nyaring. Bukan satu, melainkan puluhan. Sorot lampu merah dan biru mulai membelah kabut pegunungan, mengepung vila dari segala penjuru.

​Bima terperanjat, ia melepaskanku sepenuhnya dan berlari ke jendela. "Sialan! Polisi Militer?!"

​"Bukan polisi militer, Bima," aku berdiri tegak di tengah ruangan. "Itu adalah tim Satuan Khusus dari Kejaksaan Agung Pusat. Jaksa Satria tidak sedang di Jakarta. Dia ada di luar sana sejak tadi, menungguku memberikan sinyal."

​Aku menekan sebuah tombol di jam tanganku—sebuah pemancar sinyal darurat yang diberikan Satria semalam.

​Pintu vila didobrak terbuka. Pasukan taktis dengan seragam lengkap dan senjata laras panjang menyerbu masuk. "JANGAN BERGERAK! JATUHKAN SENJATA!"

​Jaksa Satria melangkah masuk di tengah kerumunan pasukan, wajahnya sekeras batu karang. Ia menatap Bima dengan tatapan menghina. "Bima Dirgantara, Anda ditahan atas dugaan menghalangi penyidikan, suap terhadap pejabat negara, dan keterlibatan dalam konspirasi korupsi Proyek Sudirman. Bawa dia."

​Bima mencoba memberontak, namun pengawal pribadinya sudah lebih dulu menyerah di bawah moncong senjata pasukan taktis. Bima diseret keluar, setelan jas mahalnya kini kusut, dan wajahnya dipenuhi ketakutan yang absolut. Saat ia melewati ambang pintu, ia menoleh padaku untuk terakhir kalinya, namun aku memalingkan wajah.

​Setelah Bima dibawa pergi, ruangan kembali sunyi. Satria menghampiriku, ia mengangguk pelan sebagai tanda hormat. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Anya. Kau lebih berani daripada seluruh tim intelejenku."

​"Di mana Devan?" tanyanya kemudian.

​Aku bergegas menuju karpet besar di tengah ruangan, menyibaknya, dan membuka pintu rahasia bunker.

​Devan keluar dari sana dengan langkah yang masih sedikit pincang, namun wajahnya memancarkan kelegaan yang luar biasa. Ia langsung berlari ke arahku, merengkuhku ke dalam pelukannya tanpa memedulikan kehadiran Satria atau pasukan lainnya.

​"Aku mendengarmu, Nya... aku mendengar semuanya," bisik Devan di telingaku, suaranya bergetar hebat. "Kau menyelamatkanku."

​"Kita menyelamatkan satu sama lain, Devan," balasku, membenamkan wajahku di pundaknya yang kini terasa begitu aman.

​ARC 1 telah berakhir. Sangkar emas itu bukan lagi sekadar retak; ia telah hancur berkeping-keping. Ayahku di penjara, Bima sudah diringkus, dan ingatanku telah utuh. Namun, saat aku menatap mata Devan di bawah cahaya lampu vila yang berkedip, aku tahu ini bukanlah akhir dari cerita kami. Ini hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk merakit kembali hidup kami yang sempat hancur.

​Kaset rusak di kepalaku kini telah berganti dengan rekaman baru yang penuh warna. Dan saat aku memejamkan mata, sebuah memori terakhir dari masa SMA—memori yang menjadi alasan mengapa aku begitu yakin pada Devan—muncul untuk menutup babak penderitaan ini.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​EXT. ATAP GEDUNG SEKOLAH - MALAM HARI (MASA LALU)

​Langit malam dipenuhi bintang. ANYA (16 tahun) dan DEVAN (17 tahun) sedang duduk di tepi atap, kaki mereka berayun di ketinggian. Mereka baru saja selesai mengerjakan tugas sastra bersama. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara angin yang berhembus pelan.

​ANYA

"Devan, kalau suatu saat aku menghilang... atau kalau suatu saat duniaku menjadi gelap... apa yang akan kamu lakukan?"

​Devan berhenti memainkan korek api Zippo-nya. Ia menoleh menatap Anya dengan tatapan yang sangat serius, tatapan yang melampaui usianya.

​DEVAN

"Aku akan mencarimu, Anya. Biarpun aku harus menggeledah setiap sudut kota ini, biarpun aku harus masuk ke tempat paling kotor sekalipun. Aku tidak akan membiarkan kegelapan memilikimu sendirian."

​Anya tersenyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan.

​ANYA

"Janji?"

​Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil tangan kiri Anya, lalu dengan lembut ia mencium pergelangan tangan gadis itu—tepat di tempat ia nantinya akan menuliskan namanya dengan tinta.

​DEVAN

"Aku berjanji pada jiwaku sendiri, Anya. Kau adalah satu-satunya bagian dari hidupku yang membuatku merasa berharga. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

​Kamera fokus pada wajah Devan yang penuh determinasi, sementara Anya menutup matanya dengan rasa damai yang tak terlukiskan. Cahaya bulan menyinari mereka, menciptakan siluet yang abadi di atas atap sekolah itu.

​ANYA (V.O)

(Suaranya bergema penuh keharuan)

"Janji itu... janji yang dibuat di atas atap sekolah tiga tahun lalu... ternyata lebih kuat dari bahan kimia apa pun yang disuntikkan Dokter Frans. Ia adalah benih yang tetap hidup di bawah timbunan amnesia, menunggu fajar keadilan menyiramnya kembali."

​Layar perlahan memudar menjadi warna putih bersih, diiringi suara deburan ombak laut yang menandakan awal dari kehidupan baru mereka.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!