NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari

Pagi hari di desa itu seharusnya dimulai dengan kicauan burung dan aroma embun, namun bagi Kris, pagi ini berubah menjadi mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Ia baru saja menyalakan kompor untuk merebus air ketika suara decit rem yang tajam membelah kesunyian kontrakan.

​Dua buah mobil SUV berwarna hitam pekat, dengan kaca film yang begitu gelap hingga tak terlihat isi di dalamnya, berhenti tepat di depan pintu kontrakan. Debu mengepul di udara. Belum sempat Kris berpikir siapa tamunya, pintu depan kontrakan yang terbuat dari kayu lapuk itu didobrak dengan satu tendangan keras hingga engselnya lepas.

​"Mas Alan!" teriak Kris, reflek melempar gayung yang dipegangnya ke lantai.

​Alan, yang saat itu sedang memakai sepatunya, mendongak kaget. Sebelum ia sempat berdiri tegak, tiga pria berbadan tegap dengan setelan hitam-hitam—tipe pengawal yang sering dilihat Alan di mansion Monique—sudah menyergapnya.

​"Lepasin! Apa-apaan ini!" teriak Alan sambil meronta, mencoba memberikan perlawanan.

​"Diam, atau kami buat kamu tidak bisa jalan sampai Jakarta," geram salah satu pria dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Kris meremang.

​"Alan! Woy, lepasin bos gue!" Kris mencoba menerjang, namun dengan sekali dorongan kasar, Kris terhempas ke sudut ruangan, jatuh tersungkur di atas tumpukan koran bekas.

​Kejadian itu berlangsung kurang dari satu menit. Alan diseret keluar, kepalanya ditekan ke bawah, lalu dimasukkan ke dalam mobil SUV yang paling depan. Pintu mobil terbanting tertutup. Mobil-mobil itu langsung tancap gas, melesat meninggalkan jejak asap hitam yang menyesakkan dada, menyisakan Kris yang terengah-engah dan terpaku di lantai kayu.

​Kris bangkit dengan gemetar. "Mas Alan... ya Tuhan, Mas Alan dibawa mereka!"

​Pikirannya kalut. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus lapor polisi? Tapi siapa yang akan percaya jika orang-orang berjas hitam itu datang menculik seseorang yang bahkan tidak punya bukti identitas kuat sebagai warga lokal? Kris berlari keluar, menatap jalanan kosong yang tadi dilewati mobil-mobil tersebut. Hening. Hanya ada suara ayam berkokok yang justru terdengar seperti ejekan atas ketidakberdayaannya.

​Di dalam mobil yang melaju kencang menuju Jakarta, Alan duduk terhimpit di antara dua pria bertubuh kekar. Pergelangan tangannya diikat dengan cable ties yang kencang. Ia menoleh ke luar jendela, melihat pepohonan dan rumah-rumah desa yang perlahan berganti menjadi pemandangan tol yang membosankan.

​"Kalian mau bawa aku ke mana? Monique yang suruh, kan?" tanya Alan dengan suara serak.

​Pria di sebelah kirinya hanya melirik sekilas, lalu membuang muka. "Nyonya hanya ingin bicara, Alan. Kamu tahu sendiri Nyonya tidak suka kalau barang miliknya mencoba kabur."

​"Aku bukan barang! Aku manusia!" sentak Alan.

​"Bagi Nyonya, semua orang bisa dibeli. Dan kamu... sudah dibeli lima tahun lalu. Jangan sok suci," sahut pria itu lagi.

​Alan menghela napas, berusaha tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia harus mencari cara. Ia tidak bisa kembali ke kehidupan lamanya yang terkekang. Bayangan wajah Xarena dan Ciara tiba-tiba muncul di benaknya. Apakah mereka akan baik-baik saja? Apakah Riko atau orang suruhan Monique yang lain akan mendatangi mereka setelah ini? Ketakutan itu jauh lebih besar daripada rasa sakit akibat ikatan di tangannya.

​Sementara itu, di desa, suasana hati Xarena sedang cerah-cerahnya. Ia baru saja selesai menata toples-toples kue keringnya saat Satria datang dengan wajah sumringah.

​"Mbak Xarena! Ada kabar bagus, pesanan kita yang kemarin sudah sold out lewat jalur online!" seru Satria sambil menunjukkan ponselnya.

​Xarena tertawa lebar, rasa bahagianya memuncak. "Serius, Sat? Wah, nggak nyangka banget! Makasih banyak ya udah dibantu promosiin."

​"Iya, Mbak. Lagian kue bikinan Mbak ini emang enak, bukan karena saya teman Mbak ya, tapi beneran nagih!" Satria terkekeh. "Oh ya, tadi saya lewat kontrakan Alan, kok pintunya kebuka lebar ya? Ada suara keributan nggak tadi pagi? Kayaknya ada mobil mewah berhenti di sana."

​Xarena yang sedang tersenyum seketika membeku. Senyumnya pudar perlahan. "Mobil mewah? Di kontrakan Alan?"

​"Iya, Mbak. Tadi pas saya lewat mau ke sini, saya liat debu-debu masih melayang. Tapi saya pikir mungkin itu tamu Mas Alan."

​Jantung Xarena tiba-tiba berdegup tidak karuan. Ada perasaan tidak enak yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Sat, ayo kita ke sana sekarang."

​"Lho? Kenapa Mbak? Mau nemuin Alan?"

​"Firasatku nggak enak, Sat. Ayo!"

​Dengan tergopoh-gopoh, mereka berdua berjalan menuju kontrakan Alan yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Sesampainya di sana, pemandangan yang terlihat benar-benar mengerikan. Pintu depan kontrakan yang hancur, perabotan yang berserakan, dan Kris yang sedang duduk di lantai dengan wajah pucat pasi.

​"Kris!" seru Xarena.

​Kris mendongak, matanya berkaca-kaca. "Mbak Xarena... Mas Alan... Mas Alan dibawa paksa sama orang-orang berbaju hitam tadi."

​Xarena merasa dunia seakan berhenti berputar. "Apa? Siapa mereka? Kenapa mereka bawa Alan?"

​"Saya nggak tahu, Mbak. Tapi mobil mereka ke arah Jakarta. Saya takut banget, Mas Alan dipukulin di dalam mobil tadi," suara Kris bergetar hebat.

​Xarena menoleh ke arah Satria, wajahnya tampak pucat. "Sat... ini pasti gara-gara Monique. Aku harus gimana?"

​Satria yang biasanya tenang, kini terlihat ikut marah. "Monique bener-bener keterlaluan! Kalau dia berani main kasar, kita juga nggak boleh diam aja, Mbak."

​Xarena memegang dadanya yang sesak. Ia baru saja ingin melangkah maju, ingin memulai hidup baru, tapi seolah-olah masa lalu tidak ingin melepaskannya. Apakah ini harga yang harus dibayar karena Alan mencoba untuk kembali?

​"Kris, tenang dulu," ujar Satria sambil memegang pundak Kris. "Coba jelasin pelan-pelan. Ada plat nomor mobilnya nggak?"

​Kris menggeleng pelan. "Semuanya serba cepat, Mas Sat. Saya cuma bisa liat mobil SUV hitam. Mereka profesional banget, kayak terlatih."

​Xarena menatap bunga lily pemberian Alan yang kini sudah mulai layu di atas meja kontrakan itu. Ia menyadari, perjuangan Alan bukan sekadar kata-kata manis. Alan benar-benar sedang bertaruh nyawa untuk keluar dari bayang-bayang wanita iblis itu.

​"Dia melakukan ini untuk kami, Sat," bisik Xarena lirih. "Alan mencoba bebas demi aku dan Ciara."

​"Mbak, kita harus cari tahu ke mana mereka membawa Alan. Kalau perlu, saya akan hubungi kenalan saya di Jakarta. Kita nggak boleh membiarkan Alan menderita sendirian setelah dia berusaha keras untuk berubah," tegas Satria.

​Xarena mengangguk mantap, meski hatinya cemas setengah mati. "Iya. Kita harus selamatkan Alan. Dia bukan lagi pria yang meninggalkan kita, Sat. Dia adalah pria yang sedang berjuang untuk pulang."

​Di tengah suasana desa yang mendadak mencekam, Xarena tidak lagi merasa takut. Kemarahan dan rasa sayang yang selama ini terpendam kini menyatu menjadi tekad. Ia akan berjuang, bahkan jika harus menghadapi langsung sang 'Nyonya' besar di Jakarta sana.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!