Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Datang lagi
Terdiam seribu bahasa Pak Seno ketika ustadz Toni sudah sangat yakin mengatakan bahwa ini memang adalah sebuah santet kiriman, ada yang ingin menyakiti Aina dengan cara halus sehingga tidak berani secara terang-terangan dan justru menggunakan cara licik dan kejam seperti itu agar Aina merasa sangat tersiksa dengan hidup ini.
Pak Seno tentu saja langsung berpikir bahwa itu semua jelas ulah dari Darno yang merasa sakit hati akibat perceraian ini, sebab ketika Aina baru saja pulang dan langsung mengalami hal seperti itu sehingga jelas semua orang akan beranggapan bahwa dharma memang adalah pelaku kejahatan yang sudah di alami oleh Aina ini.
Bingung dan juga marah pasti pak Seno rasakan sekarang karena dia juga masih harus fokus mencari kesembuhan untuk Aina, ustadz Toni mengatakan bahwa sebaiknya Pak Seno fokus saja agar bisa mencari kesembuhan untuk Aina itu sendiri dari pada harus membalas dendam kepada Darno yang memang berhati jahat dan tidak akan pernah bisa berubah baik lagi.
Sebab bila nanti Pak Seno terlalu fokus ingin membalas Darno maka justru Aina yang akan lama mendapat kesembuhan, jadi lebih baik bila mereka fokus aja mencari obat untuk Aina ini dan mencari dukun yang lebih pintar bila memang Pak Seno ingin menggunakan jasa seorang dukun.
Ustadz Toni sendiri mengatakan bahwa dia tidak akan pernah bisa sanggup menghadapi santet itu sendirian, melihat dari gelombang energi yang dia rasakan tadi maka ustadz Toni sudah bisa tahu bahwa pengirim santan itu memiliki kekuatan yang cukup besar dan tidak bisa dianggap remeh, justru nanti yang ada bila dia tidak meminta pertolongan orang lain maka Aina yang akan celaka.
Nyawa Aina sedang dipertaruhkan saat ini sehingga mereka tidak boleh bersikap sembrono seperti itu, ini saja mereka harus menyembunyikan penyakit Aina karena tidak mungkin nanti mereka mengatakan kepada semua orang bahwa Aina telah terkena santet, tentu banyak orang yang tidak akan percaya dengan hal itu dan justru akan menuduh dengan kata lain.
"Haaaa jadi Aina menjerit tadi karena kesakitan dan pasti karena dia mendapat karma." Marni mendadak saja muncul di ambang pintu rumah Pak Seno bersama dengan rombongan para wanita.
"Astagfirullah." Ustad Toni agak kaget dan dia segera berdiri di depan pintu.
"Kami mendengar sendiri bahwa Aina di dalam sana sedang kesakitan dan itu pasti karena karma setelah berselingkuh!" Dinda berkata dengan sangat lantang.
"Ya, apa saat ini dia sedang kesakitan pada kemaluan karena sudah berselingkuh dengan orang lain?!" tanya Marni tanpa ada rasa iba.
"Wah ternyata apa yang diucapkan oleh Darno itu benar ya bahwa Aina telah berselingkuh dengan orang lain." Dinda juga sangat pintar menjadi kompor.
"Iya, sekarang sudah terbukti kalau dia memang tukang selingkuh sehingga menjadi penyakit yang seperti ini." ujar Marni kembali.
"Ibu Ibu, tolong jangan berbicara seperti itu dan hargai privasi orang." ustaz Toni berusaha untuk menghentikan mereka semua.
"Ah pokoknya kami tidak mau tinggal sekampung dengan wanita hina seperti dia, tapi dia saat ini kena penyakit HIV karena suka selingkuh dengan banyak pria!" Marni berkata dengan sangat lantang.
"TUTUP MULUT KALIAN SEMUA!"
Pak Seno membentak marah karena dia sangat tidak terima Aina di hina seperti itu oleh Marni dan juga Dinda, siapa yang akan terima bila anak di hina sedemikian rupa tanpa ada bukti sama sekali bahwa Aina memang telah berselingkuh dengan banyak pria, itu semua hanya keluar dari mulut yang tidak bertanggung jawab dan sekarang mereka justru mendesak semakin kuat seolah bukti yang ada di tangan mereka sudah sangat valid.
"Aku akan menuntut kalian semua karena telah menyebar fitnah atas anak ku!" Pak Seno sangat marah kepada mereka semua.
"Kami berbicara fakta bahwa saat ini Aina pasti sedang sakit kelamin karena dia telah selingkuh!" Marni tidak mau kalah.
"Benar, dia rela meninggalkan suami hanya karena ingin bersenang-senang dengan pria lain." Dinda berkata penuh semangat.
"Tolong berhenti dan jangan membuat fitnah seperti itu, kalian tidak tahu apa yang terjadi." Ustad Toni masih dengan sabar menghentikan mereka.
"Kami tau, kami tahu semua tingkah buruk Aina itu dan tidak ingin bersama dengan dia di kampung ini." teriak Dinda.
Braaaaaaak.
Pak Seno mengambil pot bunga dan membanting tepat di hadapan Marni dan juga Dinda Karena dia sudah tidak kuasa menahan emosi ini, menghadapi mulut para wanita membuat Dia sangat stress dan tidak sanggup untuk menahan rasa emosi yang ada di dalam diri, sehingga dia langsung mengambil pot bunga yang cukup besar dan membanting di hadapan mereka semua.
"Sudah aku katakan kepada kalian semua bahwa ini adalah urusan keluarga kami, kalian tidak punya hak untuk menghakimi." Pak Seno menatap mereka dengan pandangan tajam.
"Istigfar dulu, Pak." Ustad Toni mendekati Pak Seno yang sudah diliputi oleh emosi besar.
"Aku sudah sangat sabar menghadapi mulut mereka ini, tapi dasar mereka yang kurang ajar dan tidak pernah bisa menghargai orang lain." geram Pak Seno.
"Ibu ibu, sebaiknya kalian bubar terlebih dahulu dari tempat ini dan jangan ikut campur urusan orang lagi." ucap Ustad Toni.
"Pergi kalian semua atau saat ini juga aku akan membuat kalian terluka!" ancam Pak Seno tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Huuuuu dasar anaknya saja yang jalang masih terus dilindungi seperti itu." Marni berteriak mengejek sambil berlalu pergi.
"Tunggu saja sebentar lagi, Aina pasti akan mati dengan kemaluan membusuk." Dinda juga ikut mengejek sehingga Pak Seno semakin tidak terkendali.
Untung nya Ustad Toni sigap memegangi pria itu ketika tadi dia ingin mengejar dua wanita tersebut, bila Ustad Toni tidak memegang maka sudah pasti pak Seno akan berlari dan membacok mereka berdua Karena dia sudah gelap mata dan tidak sanggup menahan emosi yang ada di dalam diri ini.
Terlebih lagi mereka memang begitu keterlaluan dan tidak pernah bisa berhenti untuk ikut campur dalam urusan orang lain, ingin rasanya mereka itu masuk ke dalam rumah dan melihat sendiri bagaimana keadaan Aina, sebab tadi mereka hanya mendengar saja suara jerit pekik mulut Aina yang sedang kesakitan sehingga tanpa berpikir dua kali langsung mendatangi rumah ini.
"Istigfar, Pak." Ustad Toni terus mengusap punggung Pak Seno.
Sebab pria ini sudah terlanjur emosi dan bila tidak segera dihentikan maka dia bisa melakukan apa saja, itu semua karena pikiran Pak Seno sedang kacau dan dia juga kebingungan untuk mencari obat bagi Aina yang sedang sakit keras itu.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
g