Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Sepakat
"Atlas! Atlas!"
Teriakan Alicia dan ketukan di pintu membangunkan Atlas. Atlas, yang tertidur di meja, merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Dia tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam, memikirkan cara untuk menyembuhkan Benjamin secepat mungkin.
"Atlas! Bukankah kau sudah bangun? Ada kabar penting!" Alicia terus mendesak.
"Aku datang!" Atlas menggerutu dan dengan enggan berjalan menuju pintu. Wajahnya berkerut, kesal karena dibangunkan dari tidur dua jamnya yang singkat. "Apa yang kau inginkan, Alicia?!"
"Maaf jika aku mengganggumu, aku pikir kau sudah bangun. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."
Alicia menyerahkan ponselnya kepada Atlas, menunjukkan sebuah video klarifikasi dari Roger, ayah Stevan, di salah satu halaman portal berita.
Mata Atlas langsung membesar, dan dia mengambil ponsel adiknya. Tangannya dengan cepat memutar video tersebut.
"Selamat pagi, semuanya. Aku, Gerard Roger, pada saat ini menyampaikan permintaan maaf kepada Atlas. Aku ingin mengakui kesalahan yang dilakukan oleh putraku, Stevan. Dia menyebarkan berita palsu tentangmu. Hal itu telah merusak reputasi perusahaan kami, dan siapa pun yang terlibat, aku tidak akan mendukung hal yang salah. Jika kau telah melihat video ini, Atlas, aku berharap kita bisa bertemu di kantorku. Sekali lagi, aku meminta maaf atas kesalahan ini."
Video berdurasi satu menit itu telah ditonton oleh lebih dari seribu orang dan diunggah satu jam yang lalu. Atlas melihat Alicia. "Dia melakukannya."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan, Atlas? Apakah kau akan menemuinya?"
"Aku–"
"Tuan Atlas, apakah kau sudah bangun?"
Suara pelayan itu memotong kalimat Atlas. Dia berdiri dan membuka pintu. "Ya, ada apa?"
"Tuan Benjamin menunggumu di ruangannya untuk sarapan. Dia sudah menunggu selama setengah jam. Dia memintaku untuk memeriksa apakah kau sudah bangun atau belum."
"Mengerti, aku akan segera ke sana."
Atlas melihat kembali ke arah Alicia saat pelayan itu pergi dan melanjutkan percakapan yang tertunda. "Sepertinya aku akan menemui Roger. Aku pikir ada beberapa hal yang bisa aku lakukan terkait semua kesalahan Stevan. Aku ingin memanfaatkan situasi ini untuk membuatnya tunduk padaku."
Pikiran Atlas melayang ke sebuah halaman dalam buku panduan yang menyebutkan kekuatan kalung di dalam dirinya, yang mampu membuat seseorang tunduk. Meskipun dia hanya membaca bagian itu sekilas, Atlas cukup yakin untuk mencobanya.
"Apakah kau yakin, Atlas? Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan? Sejujurnya, aku memiliki beberapa keraguan. Kita selalu perlu mencari tahu apa rencana mereka selanjutnya. Bagaimana jika dia memanggilmu untuk melakukan kejahatan? Akan lebih baik jika kau tidak terlibat dalam konflik itu lagi. Sudah cukup, aku ingin kau fokus memenuhi keinginan Tuan Benjamin dan pergi dari sini.”
Mata Alicia dipenuhi air mata. Trauma masih terlihat di matanya. Atlas dengan lembut mengusap wajah adiknya dan berkata, "Percayalah padaku, aku akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki hidup kita, Alicia. Aku berjanji tidak akan ada lagi pertengkaran atau pertumpahan darah seperti kemarin."
Atlas memeluk adiknya, tetapi Alicia meragukan keputusan Atlas untuk menemui Roger. Pikirannya masih memikirkan cara untuk menghentikan niat Atlas.
"Baiklah, mari kita menemui Benjamin." Atlas melepaskan pelukannya dan merangkul adiknya. Mereka berjalan keluar dari kamar menuju lift.
Benjamin sedang menggigit saladnya ketika kedua saudara itu tiba. Senyum hangatnya menyambut Atlas dengan sempurna. "Selamat pagi, ayo, cepat duduk dan makan. Aku sudah lapar menunggumu."
"Terima kasih, Tuan Benjamin. Aku merasa terhormat atas perhatianmu. Kau seharusnya sarapan tanpa menunggu kami." Atlas duduk di seberang Benjamin, matanya mengamati pria tua itu dengan hati-hati. Pikirannya melayang, membayangkan keberhasilannya dalam menyembuhkan Benjamin.
"Atlas, kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah?"
Atlas terkejut dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Tuan Benjamin."
"Ngomong-ngomong, aku sudah melihat video yang beredar. Aku dengar kau meminta dia untuk membuat klarifikasi itu. Itu ide yang brilian, Atlas. Dan mengenai hal itu, aku sudah memikirkan sebuah rencana."
"Rencana apa itu, Tuan Benjamin?"
Benjamin meletakkan garpunya dan menyeringai. "Sebuah rencana untuk menjatuhkan mereka. Aku ingin kau menemui Roger, tetapi bukan di kantornya. Meskipun mereka jauh di bawahku, salah satu perusahaan mereka adalah satu-satunya bisnis perhiasan yang sukses, dan ini adalah kesempatanku untuk mengambil alihnya."
"Apakah kau mengatakan kau menginginkan perusahaan Roger?"
"Ya, jika aku bisa mengendalikannya, aku akan secara resmi menjadi taipan bisnis yang menguasai berbagai jenis industri. Tentu saja, aku akan menjadikanmu salah satu manajer, kau tidak perlu khawatir. Kita berdua menang jika kita membuat Roger melepaskan perusahaan itu."
Atlas tertawa kecil. "Kedengarannya menarik, tetapi itu lebih menguntungkan bagimu. Maksudku, jika kita berbicara tentang kerugian, aku yang paling banyak menderita dari mereka. Mulai dari dipecat, adikku diculik, dan tubuhku terluka. Mungkin akan lebih menyenangkan jika kita mengelola dan membagi keuntungannya secara adil bersama."
Ucapan Atlas justru membuat Benjamin tertawa terbahak-bahak. Atlas melihat Alicia dengan bingung, kesal dengan keserakahan Benjamin yang tampak dan pemanfaatannya terhadap Atlas untuk merebut kekayaan Roger.
"Ayolah, Atlas! Tolong jangan berbicara kepadaku tentang untung dan rugi. Aku tidak ingin menyinggungmu, tetapi biar aku mengingatkanmu tentang apa yang telah terjadi. Jika bukan karena orang-orangku yang menyelamatkanmu, Atlas, aku yakin kau sudah mati. Hal yang sama berlaku untuk adikmu, Alicia. Dia kemungkinan besar sudah menjadi santapan Brian dan kelompoknya. Jadi, memanfaatkan situasi ini untuk menguras kekayaan Roger itu wajar. Anggap saja itu sebagai rasa terima kasihmu kepadaku. Selain itu, aku tetap akan memberimu posisi tinggi di perusahaan nanti. Aku tahu kau sedang kesulitan dalam hidup, tetapi kau harus selalu ingat posisimu, Atlas."
Atlas terdiam, hatinya dipenuhi amarah. Kata-kata Benjamin terasa merendahkannya. Atlas melirik Alicia, yang menggelengkan kepalanya dengan ekspresi khawatir.
Dia dengan enggan menyingkirkan amarah yang menumpuk di dadanya. Dia memahami bahwa melawan Benjamin kemungkinan besar akan berujung pada kekalahannya. Meskipun dia memiliki kekuatan, Atlas masih tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk tetap tenang. Dia sering melemah ketika musuhnya menggunakan adiknya sebagai umpan.
"Baiklah, Tuan Benjamin. Aku mengerti. Aku terlalu terobsesi untuk membalas dendam pada mereka. Tetapi aku ingin menawarkan sesuatu. Jika aku berhasil menyembuhkanmu, bagaimana jika hadiahnya adalah kepemilikan perusahaan Roger? Kau akan memberikan apa pun yang aku inginkan, bukan?"
Benjamin berhenti makan, sebuah senyum miring muncul, dan dia mengangguk perlahan. Dia menatap Atlas dengan tajam dan berkata, "Baik, sepakat. Aku menerima tawaran itu.”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗