Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pagi Yang Tak Lagi sepi
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah jendela kamar lamaku. Aku mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak terbangun dengan rasa sesak atau dorongan untuk segera mengecek tumpukan dokumen kantor.
Namun, saat aku melangkah keluar kamar, keheningan yang biasanya menyambutku di kost Kota J sama sekali tidak ada di sini.
Ruang tengah Tante Nita tampak "penuh". Di atas karpet bulu yang digelar di depan TV, aku melihat Om Angga masih tertidur pulas dengan bantal sofa, sementara Valerie meringkuk di sampingnya menggunakan selimut tebal. Di sudut lain, Tante Anin terlihat sedang membantu Tante Nita merapikan mukena setelah salat Subuh.
Mereka benar-benar menginap. Mereka benar-benar tidak beranjak, seolah-olah jika mereka pulang ke rumah masing-masing, kehadiranku di sini hanya akan dianggap sebagai mimpi buruk yang berakhir saat mereka bangun.
"Eh, sudah bangun, Sayang?" sapa Tante Anin dengan suara rendah agar tidak membangunkan Om Angga dan Valerie. Ia mendekat, lalu mengusap lenganku lembut. "Tidurmu nyenyak semalam?"
Aku mengangguk pelan, masih sedikit canggung melihat pemandangan ini. "Nyenyak, Tan. Tapi... Om Angga sama Valerie kenapa nggak tidur di kamar tamu saja? Kasihan kalau badannya pegal semua tidur di lantai."
Tante Nita yang baru muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat tersenyum tipis ke arahku. "Tante sudah suruh, tapi Om-mu itu keras kepala. Katanya, dia mau jadi orang pertama yang lihat kamu pas kamu buka pintu kamar pagi ini. Dia takut kamu tiba-tiba pergi lewat jendela atau semacamnya."
Hatiku mencelos. Rasa bersalah kembali mencubit pelan, namun kali ini rasa harunya jauh lebih besar. Ternyata, ketertutupanku selama enam tahun ini telah menciptakan trauma tersendiri bagi mereka. Mereka menjaga pintuku seolah sedang menjaga harta yang paling berharga agar tidak dicuri lagi oleh kesunyian.
"Zal," panggil Valerie yang ternyata sudah terbangun, suaranya khas orang bangun tidur. Ia duduk sambil meregangkan tangannya. "Lo nggak bakal kabur kan hari ini? Gue udah rencana mau ngajak lo keliling kota, makan bakso Pak Kumis yang dulu sering kita datangi."
Aku tertawa kecil, benar-benar tertawa. "Enggak, Val. Aku di sini."
Di tengah suasana hangat itu, mataku tak sengaja melirik ponselku yang masih tergeletak di atas bufet kayu masih dalam keadaan mati sejak kemarin. Ada dorongan kuat untuk menyalakannya, mencari tahu apakah pria di Kota J itu bisa tidur nyenyak setelah tahu aku sudah "aman" di pelukan keluargaku.
Namun, sebelum aku sempat meraihnya, Om Angga menggeliat bangun dan langsung menatapku dengan binar mata yang lega. "Pagi, Azzalia. Syukurlah, kamu masih di sini."
Hari Minggu ini benar-benar dimulai dengan cara yang berbeda. Tidak ada tuntutan, tidak ada zirah, hanya ada keluarga yang rela tidur di lantai demi memastikan aku tidak merasa sendirian lagi.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Niatku untuk menghirup udara pagi yang segar seketika menguap begitu kakiku melangkah ke teras. Di depan pagar, sebuah mobil hitam yang sangat kukenal terparkir rapi di bawah pohon rindang.
Pria itu. Dia ada di sana.
Laki-laki itu benar-benar masih sama seperti dulu; keras kepala dan tidak pernah mau mendengar keinginanku. Padahal baru kemarin melalui Valerie aku meminta ruang, meminta waktu untuk tenang tanpa bayang-bayangnya. Namun sepertinya bagi Danendra, kata "tidak" adalah sebuah tantangan yang harus ia langgar.
"Nekat," gumamku lirih dengan perasaan campur aduk antara marah dan... entahlah, ada rasa hangat yang diam-diam menyelinap tanpa permisi.
Danendra keluar dari mobil begitu melihatku berdiri di teras. Ia tidak lagi memakai kemeja kantor yang kaku. Hanya kaos polos dan celana jeans, tapi auranya tetap saja mendominasi suasana pagi yang tenang ini. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah pagar, menatapku dengan sorot mata yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena telah melanggar janjinya pada Valerie.
"Aku nggak akan masuk kalau kamu nggak izinkan, Zal," ucapnya dari balik pagar, suaranya parau suara orang yang menempuh perjalanan jauh di tengah malam. "Aku cuma mau memastikan kalau 'rumah' yang kamu maksud itu benar-benar membuat kamu nyaman pagi ini."
"Kamu nggak pernah dengar kata-kataku, Nen. Aku bilang aku mau tenang," sahutku datar, meski sebenarnya zirahku sudah terlalu lelah untuk dipasang kembali dengan sempurna.
"Tenanglah, Zal. Aku nggak akan mengusik," ia menyandarkan lengannya di pagar besi, menatapku lurus. "Aku cuma mau duduk di sini. Di Kota J aku nggak bisa tidur karena jarak lima jam itu terasa seperti ribuan kilometer. Tapi di sini, meskipun cuma terhalang pagar ini, aku merasa napasku jauh lebih ringan."
Aku terdiam, meremas pinggiran bajuku. Sifat keras kepalanya yang dulu sangat kubenci karena terasa seperti kekangan, kini justru terasa seperti jangkar yang menjagaku agar tidak hanyut lagi. Aku membencinya karena dia terlalu tahu cara membuatku merasa diinginkan, bahkan saat aku merasa menjadi orang yang paling tidak layak di dunia ini.
Kamu tuh kenapa sih? Ah, sudahlah. Terserah kamu mau ngapain, terserah!" ketusku, membuang muka agar dia tidak melihat pertahananku yang mulai goyah.
Aku baru saja hendak memutar badan untuk masuk kembali ke dalam rumah, saat Om Angga muncul dari balik pintu. Langkahnya terhenti seketika, matanya memicing menatap sosok pria yang berdiri di balik pagar.
"Danendra?" Om Angga berseru kaget. "Kamu... sejak kapan di situ?"
Mendengar seruan Om Angga, Tante Anin dan Tante Nita pun menyusul keluar karena penasaran. Begitu melihat Danendra yang masih berdiri mematung di luar dengan wajah lelahnya, mereka berdua langsung heboh.
"Lho, Nak Danendra! Kok nggak langsung masuk?" tanya Tante Nita panik. Ia segera menghampiri gerbang dan membukanya lebar-lebar. "Ayo masuk, Nak. Nggak enak dilihat tetangga kalau cuma berdiri di luar begini, nanti dikira ada apa-apa."
"Iya, Nak. Masuk dulu, sarapan bareng kita. Kamu pasti belum makan kan kalau jalan dari Kota J subuh-subuh begini?" tambah Tante Anin dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Danendra sempat melirikku sejenak, seolah meminta izin—atau mungkin lebih tepatnya, mengejekku dengan tatapan 'tuh kan, keluarga kamu yang suruh aku masuk'. Dengan langkah yang sengaja dibuat sesopan mungkin, ia melewati pagar itu.
"Terima kasih, Tante, Om. Maaf kalau saya mengganggu waktu keluarga kalian," ucapnya rendah.
Aku hanya bisa mendengus kesal dan masuk lebih dulu ke ruang makan. Sifat keras kepalanya benar-benar didukung oleh seluruh keluargaku. Di dalam sana, Valerie yang baru saja mencuci muka hanya bisa melongo melihat Danendra tiba-tiba sudah ada di depan matanya.
"Gila lo, Nen. Gue bilang jangan disusul, lo malah udah nyampe sini aja," bisik Valerie yang masih bisa kudengar jelas.
Danendra tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis dan duduk di kursi yang tepat berada di depanku. Suasana ruang makan yang tadinya damai karena hanya ada keluarga, kini kembali terasa "panas" bagiku. Aku sibuk menatap piring nasi gorengku, berusaha mengabaikan keberadaan pria yang baru saja menempuh perjalanan lima jam hanya untuk memastikan aku tidak hilang lagi.