Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Malam harinya, suasana di dalam rumah kontrakan kecil mereka terasa sangat tenang dan hangat. Hembusan angin malam yang sejuk menerpa jendela, bercampur dengan suara dengkuran halus dari Arfan yang sudah terlelap pulas di atas kasur.
Arka dan Aluna masih duduk di ruang tengah, menikmati waktu berdua setelah hari yang begitu melelahkan namun penuh kejutan.
Mereka masih sibuk mengatur napas, mencoba mencerna semua kemudahan yang baru saja Tuhan berikan lewat pertemuan dengan Sarah siang tadi.
Aluna bersandar nyaman di dada bidang suaminya, sementara tangan Arka terus membelai rambut panjang istrinya dengan penuh kasih sayang. Namun, ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di benak Aluna dan membuatnya terus berpikir.
Dengan perlahan, Aluna mengangkat wajahnya dan menatap manik mata suaminya yang teduh.
"Tuan..." panggil Aluna pelan, suaranya lembut terdengar di keheningan malam.
"Hmm? Ada apa sayang?" tanya Arka cepat, ia menatap balik istrinya dengan senyum tipis yang menenangkan.
"Aluna boleh nanya sesuatu nggak?" ucap Aluna ragu-ragu, jarinya memainkan kancing baju suaminya dengan gugup.
"Boleh dong, sayang. Tanya apa saja. Kenapa memangnya?" sahut Arka mendorong Aluna untuk bicara.
Aluna menarik napas pelan lalu melontarkan pertanyaannya.
"Tadi siang Aluna jadi mikir-mikir terus. Kenapa ya Tuan beda sikapnya? Dulu waktu Kenzi nawarin bantuan modal, Tuan kan nolak keras banget. Tuan bilang nggak mau terima bantuan uang dari orang lain, Tuan mau usaha sendiri."
"Tapi hari ini... pas Sarah nawarin hal yang hampir sama, Tuan malah terima dengan senang hati. Apa bedanya sih Tuan? Kenapa Tuan setuju banget sama tawaran Sarah?" tanya Aluna dengan tatapan penasaran yang dalam.
Arka tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia mengerti kenapa istrinya bertanya begitu. Ia pun menggeser posisinya agar lebih nyaman, lalu mulai menjelaskan dengan nada bijak dan tenang.
"Oh, jadi itu yang bikin kamu penasaran?" kata Arka pelan sambil tersenyum.
"Jawabannya sederhana kok sayang, tapi memang penting banget buat kamu tahu supaya kita sama-sama paham posisi kita di mana."
Arka pun mulai menjelaskan satu per satu.
"Dulu saat Kenzi nawarin bantuan, posisinya itu beda jauh sayang. Kenzi itu kan pengusaha besar, orang yang sudah mapan dan sukses luar biasa. Dia nawarin uang itu karena dia lihat kita lagi susah, lagi jatuh. Rasanya kalau aku terima uang sebesar itu dari dia, itu bukan kerjasama, tapi itu rasanya kayak aku lagi 'minta tolong', kayak aku nggak bisa berdiri sendiri."
"Posisi kita bakal ada di bawah dia sayang. Kita bakal merasa terus-terusan berhutang budi sama dia. Aku nggak mau mimpi kamu, kesuksesan kita, rasanya kayak 'diberi' atau 'dibeli' sama orang lain. Aku mau kita bangkit dengan kaki sendiri, dengan harga diri yang tegak lurus. Makanya waktu itu aku tolak."
Arka berhenti sejenak, menatap mata istrinya untuk memastikan ia mengerti.
"Terus kalau sama Sarah kenapa diterima Tuan?" potong Aluna cepat, matanya masih menatap tak berkedip.
"Nah, ini beda ceritanya sayang," jawab Arka tegas namun lembut.
"Sarah itu kan masih muda. Dia punya uang, dia punya hobi, dia punya bakat juga sama kayak kamu. Tapi dia jujur banget kan tadi? Dia bilang dia nggak paham bisnis, dia takut rugi, dia butuh orang yang bisa bantu arahin."
"Jadi posisi kita sama Sarah ini bukan orang miskin yang minta dikasihani. Kita ini mitra yang setara, bahkan kita yang lebih senior. Kita yang punya ide cemerlang, kita yang punya otak bisnis buat ngarahin uang itu supaya berkembang."
"Jadi rasa bangganya tetap di kita sayang. Kita nggak merasa kecil hati. Justru kita merasa bangga karena bakat kamu dihargai dan dibutuhkan banget sama orang lain. Kita kasih nilai lebih buat uang yang dia punya. Itu beda jauh rasanya sama kalau terima dari Kenzi," jelas Arka panjang lebar dengan logika bisnis yang tajam namun mudah dimengerti.
Aluna mengangguk-angguk perlahan, wajahnya tampak semakin mengerti dan lega. Senyum manis pun terukir di bibirnya.
"Oh... gitu ya Tuan. Aluna baru paham maksudnya. Ternyata Tuan mikirnya sejauh itu dan sebijak itu ya. Makasih ya Tuan udah jagain harga diri kita sama baiknya," ucap Aluna takjub.
"Sama-sama sayang. Itu kan tugas suami, melindungi kehormatan istri dan keluarga," jawab Arka lembut sambil mengecup kening istrinya singkat.
"Nah, sekarang karena kesepakatannya sudah jadi, mari kita mulai bicarakan rencana nyatanya," lanjut Arka berubah menjadi serius dan profesional.
Ia bangkit sedikit dan mengambil buku catatan serta pulpen yang ada di atas meja.
"Modal sudah dijamin sama Sarah. Jadi kita nggak perlu pusing lagi soal uang awal yang bikin pusing kemarin."
"Rencananya begini..." Arka mulai menjabarkan strateginya dengan cerdas dan detail.
"Pertama, kita harus tentukan konsep brand-nya dulu. Kita bakal buat nama yang bagus, mudah diingat, dan yang paling penting bisa mencerminkan gaya desain kamu yang elegan, syar'i, tapi tetap modern dan kekinian."
"Kedua, soal tempat. Kita nggak perlu langsung sewa ruko besar yang harganya selangit dan bikin beban di awal. Kita bisa cari tempat yang strategis tapi ukurannya pas, atau mungkin kita mulai dengan sistem home industry dulu di sini atau cari tempat produksi yang murah, baru nanti perlahan buka showroom atau butik yang nyata."
"Ketiga, soal produksi. Karena kamu jago desainnya, kamu yang pegang penuh soal model. Mengenai detail jahitan dan pemilihan bahan bisa dibantu sama Sarah. Aku bantu cari suplier kain yang harga pas tapi kualitas bagus, cari penjahit mitra yang terampil, dan aku yang atur sistem kualitasnya supaya standarnya tetap tinggi dan rapi."
"Keempat, pemasaran dan keuangan. Ini aku yang pegang penuh. Kita bakal promosi lewat media sosial, kita targetkan pasar yang tepat. Dengan pengalaman aku dulu, aku yakin bisa bikin brand ini cepat dikenal dan laris manis."
Aluna mendengarkan dengan mata berbinar-binar. Setiap kata yang keluar dari mulut suaminya terdengar begitu nyata, begitu masuk akal dan begitu meyakinkan.
Mimpi yang dulu hanya ada di atas kertas, yang sempat terkubur karena keterbatasan dana dan konflik keluarga, kini perlahan mulai terbentuk menjadi sebuah rencana kerja yang matang dan solid.
"Wah... hebat sekali Tuan," puji Aluna takjub, suaranya bergetar menahan haru.
"Aluna jadi makin yakin dan semangat nih. Ternyata Tuhan itu baik banget ya Tuan. Menutup satu pintu lewat kejadian kemarin, tapi malah membuka pintu lain yang jauh lebih indah dan mulus lewat Sarah," ucap Aluna dengan mata berbinar.
"Benar sekali sayang." Arka tersenyum lebar, wajahnya tampak berseri-seri.
Malam itu berlalu dengan sangat indah. Rasa lelah dan penat akibat konflik kemarin berganti total menjadi semangat yang membara.
Kini mereka tidak hanya bermimpi, mereka sudah memiliki peta jalan yang jelas menuju kesuksesan yang gemilang.