NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Apa pada akhirnya semangat bertarung mereka sudah pudar?"

Solomon melipat tangan depan dada saat mengunjungi lantai sepuluh. Tidak lagi tercium aroma darah apalagi jejak-jejak pertarungan, para tahanan yang tersisa benar-benar tenang menikmati makanan.

Terutama si paling muda yang telah bertambah umur. Rambutnya tidak lagi panjang, dia memangkasnya sebatas leher setahun lalu, penampilan dan pembawaannya sangat berbeda saat pertama kali menginjakkan kaki di Dakrossa.

Dia terlihat santai berbincang bersama tahanan berusia empat puluh tahunan, tertawa dan melontarkan gurauan khas orang tua. Yah, wajar jika dia punya sisi unik itu karena di lantai sepuluh hampir semuanya adalah orang dewasa di atas usia 30 tahunan.

"Oh!"

Menyadari kehadiran Solomon, si paling muda yang dimaksud kepala sipir itu segera terenyak dari kursi. Buru-buru menghampiri Solomon, dia tersenyum tipis seraya bertanya, "Apa Anda baru saja kembali dari Tyraven?"

Ilyar Justina Valgard, itulah si paling muda yang dimaksud Solomon. Sudah tiga tahun berlalu sejak gadis itu diasingkan ke Dakross. Bukannya terpuruk, dia malah jauh lebih hidup dari waktu ke waktu.

"Ayahmu masih terbaring," jawab Solomon.

Senyum Ilyar agak memudar. "Belum ada tanda-tanda dia akan siuman?"

"Belum."

"Siapa yang selalu di sisinya? Aku khawatir seseorang diam-diam memperburuk kondisinya."

"Tenang saja. Menthia yang menangani semuanya, masalah berjaga " Solomon agak menjeda kalimatnya sehingga Ilyar mengangkat sebelah alis.

"Siapa?"

"Anak bungsunya."

"Iselda?"

Ilyar terdiam. Iselda Valgard adalah anak bungsu raja Tyraven sekaligus korban yang disebutkan dalam tuduhan palsu Ilyar pada hari itu. Iselda seorang anak seorang selir bangsawan jatuh, keberadaannya sebagai putri Agor jauh lebih buruk ketimbang Ilyar, ah, atau tidak pantas dibandingkan.

Ibu Iselda meninggal karena sebuah penyakit sehingga gadis kecil tersebut hidup dengan sulit di istana. Pertama kali bertemu, Ilyar mendapati bocah itu sangat kurus dan dirundung oleh pelayan di kediaman sendiri. Lantas, dia melaporkan hal itu pada pengurus istana sehingga kehidupan suram Iselda perlahan membaik.

Gadis kecil itu akhirnya selalu berkeliaran di sekitar Ilyar, memanggilnya dengan sebutan kakak. Kedekatan tersebut seharusnya berbuah manis, tapi siapa sangka justru jadi bumerang.

Pelayan yang ditunjuk oleh Ilyar untuk menjadi pelayan pribadi Iselda diam-diam melakukan penganiayaan dengan mengatasnamakan Ilyar. Katanya, Ilyar sengaja menolong Iselda agar citranya di kalangan publik kian meningkat.

Memikirkan itu lagi membuat kepala Ilyar agak berdenyut. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Ilyar, nyaris berbisik.

"Dia menanyakan hal sama padaku tentangmu," jawab Solomon.

"Aku menjawab bahwa kamu menjadi gila," lanjut Solomon, membuat raut wajah Ilyar sedikit masam.

Yah, memang jawaban apalagi yang pas untuk pertanyaan Iselda? Selama setahun terakhir, Ilyar telah menunjukkan perkembangan pesat.

Penyebab utama para tahanan terlihat lebih tenang karena Ilyar telah membuktikan diri sebagai salah satu tahanan terkuat di sana, setidaknya dia berada dalam posisi kedua.

"Akhir-akhir ini Kak Graven tidak terlihat. Apa yang salah dengannya?" Ilyar bertanya seraya melirik kursi yang biasa ditempati oleh Graven.

"Panggilanmu jadi sedikit lebih sopan padanya," komentar Solomon.

Ilyar mengembuskan napas. "Dia membantuku dalam banyak hal dengan sikap menyebalkannya. Meski begitu dia adalah guruku sekaligus murid kesayangan ayah." Pada bagian 'murid kesayangan ayah', nada bicara Ilyar sedikit menyimpan kecemburuan.

Solomon tertawa agak pelan lalu berkata, "Tapi kamu satu-satunya murid yang dia miliki. Sama seperti dia yang menjadi satu-satunya orang yang dilatih ayahmu."

Ilyar tersenyum tipis. "Ya, Anda benar. Kuharap dia baik-baik saja."

Solomon mengangguk, tapi sorot matanya menatap jauh ke depan, memikirkan apa yang dilakukan Graven di luar Dakrossa sebelum kembali menatap Ilyar. "Memang kamu tidak tahu?"

"Ya?" Ilyar mengerutkan dahi.

"Sepertinya dia memang suka membuatmu sebal," jawab Solomon diakhiri senyuman.

Kerutan di dahi Ilyar semakin kentara. Dia segera mencekal pergelangan tangan Solomon yang tiba-tiba berbalik hendak meninggalkan lantai sepuluh.

"Di mana sebenarnya dia?"

"Dia sudah terbebas."

Hah?

Kepala Ilyar mendadak bergelenyar. Sudut bibir berkedut menahan sumpah serapah, matanya terpejam seiring dahi berkerut dan alis menukik, sementara sebelah tangannya memijat pelipis dengan jengkel.

Solomon menelan ludah dan segera menarik diri dari sana. Tidak lama tubuh Ilyar yang tampak layu segera tegap kembali bersamaan kepala mendongak ke atas dan kedua tangan berkacak pinggang. Dia memandangi langit-langit ruang lantai sepuluh dan menyeringai jengkel, membayangkan rauat wajah menyebalkan Graven.

Tidak ada kata perpisahan dan dia tahu dari Solomon? Rasanya sangat menjengkelkan, tapi dia tidak tahu harus melampiaskannya ke siapa sampai seorang narapidana baru dibawa masuk oleh dua orang petugas.

Leher narapidana itu sampai tidak kelihatan sangking gemuknya. Kini, semua perhatian berpusat pada di pendatang baru. Dia terlihat angkuh, memandang seluruh tahanan dengan kepala terangkat tinggi padahal lemak-lemak di dagunya bergelantungan.

"Aku dengar jika yang terkuat akan memimpin di lantai ini. Siapa yang terkuat di antara kalian?" tanyanya tanpa basa-basi.

Semua tahanan segera menoleh ke arah Ilyar.

Pendatang baru menaikkan sebelah alis dan mengikuti arah pandang mereka. Saat itu pula, perhatiannya jatuh pada gadis berambut merah dan bertubuh ramping yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

Seorang gadis?

Ilyar melempar pandang pada sipir seraya menekan telunjuk pada perut buncit Ommur yang agak berguncang di depannya. "Apa masalahnnya?"

Si penjaga menjawab, "Dia Ommur, pemimpin serikat perdagangan budak."

Bukannya merasa bersalah, Ommur menyunggingkan senyum dan membusungkan dada. Sangat bangga pada identitas dan kasus yang menjerat hidupnya.

"Aku suka bermain agak keras dengan anak-anak. Berapa usiamu, Gadis manis?" tanya Ommur, lidahnya terjulur membasahi bibir bagian atas.

Saat itu pula kepala Ilyar tertunduk seiring bahu bergetar sebelum akhirnya mendongak untuk menyambut keangkuhan Ommur.

"21 tahun, usia yang tepat untuk bermain dengan babi sepertimu," jawab Ilyar seraya menunjukkan senyum paling ramah dan satu uppercut dari tangan kanannya.

Para tahanan yang sudah mengenal Ilyar hanya diam, menanti makanan mereka datang sambil menyaksikan hiburan.

Ommur yang malang. Itulah akibat yang didapat dari meremehkan lawan. Suara berdebum terdengar berentet dari kepalan tangan kecil Ilyar yang menghajar wajah tebal Ommur secara bertubi-tubi.

Ommur mungkin punya kemampuan, tapi borgol tahanan membuatnya melemah. Sementara Ilyar telah berlatih dan memperkuat diri selama tiga tahun terakhir tanpa mengandalkan kemampuan khusus yang biasa dibentuk atau didapat dari energi spiritual dalam ener.

Di sisi lain pada waktu bersamaan, tepatnya pada wilayah Utara kekaisaran Eldrath. Kepulangan Graven disambut hangat oleh penghuni kediaman, tapi membuat pihak tertentu meradang.

"Apa yang lucu, Pangeran?" tanya Haldrin, ajudan Graven.

"Ya?" Graven menatap pria berusia 40 tahunan yang sejak tadi berdiri di samping meja kerja, memperhatikannya.

"Anda terlihat menahan tawa sejak tadi."

"Aku?"

Haldrin mengangguk mantap. "Ya."

Graven diam sebentar lalu benar-benar mengeluarkan tawa, sampai membuat pengawal pribadi yang berdiri di depan pintu menatapnya dengan keterkejutannya.

"Aku hanya membayangkan kemarahan seseorang. Itu saja," jawabnya.

"Seseorang?"

Graven mengembuskan napas, mengibaskan tangan sebagai tanda agar Haldrin tidak perlu memikirkan hal tersebut dengan serius.

"Aku ingin kalian menyelidiki kasus keracunan yang dialami masterku," kata Graven.

"Ya, kami akan segera bergerak, Pangeran," jawab si Pengawal.

"Tapi sebelum itu aku harus pergi ke Istana kekaisaran, menyapa mereka," ucap Graven seraya menyambar jubah bangsawan khas pangeran kekaisaran. Senyumnya terlukis angkuh, penasaran reaksi apa yang akan ditunjukkan musuhnya.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!