"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Pagi di Manhattan selalu diawali dengan hiruk-pikuk yang elegan. Cahaya matahari musim semi yang tipis menyinari gedung-gedung beton New York University (NYU), menciptakan bayangan panjang di area parkir khusus mahasiswa yang dipenuhi deretan mobil dengan harga yang bisa menghidupi satu desa kecil selama setahun.
Azeant Apolo-Valerio keluar dari mobil sport-nya dengan gerakan yang tidak lagi sekaku biasanya.
Ada semacam aura baru yang menyelimuti pria itu—sebuah rahasia yang ia simpan rapat di bawah kemeja oxford biru pucat yang ia kenakan. Namun, ketenangannya terusik seketika saat sosok yang sangat ia kenal berdiri bersandar di dekat pilar beton, menunggunya.
Claudia Astor. Gadis itu tampak sempurna seperti biasanya, namun matanya yang sembab menceritakan hal lain.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku semalam, Apolo?" Suara Claudia bergetar, setengah menuntut, setengah memohon. "Aku mengirim puluhan pesan, tapi kau bahkan tidak membacanya. Kamu... kamu benar-benar ingin kita putus?"
Apolo menghela napas, mengunci mobilnya tanpa menatap Claudia. "Menyingkir, Clau. Aku ada kelas pagi ini dan aku tidak ingin terlambat."
"Apolo! Aku bicara padamu!" Claudia menahan lengan Apolo. "Kemarin itu... aku hanya emosi. Kau tahu aku sering seperti itu. Kita tidak bisa berakhir seperti ini hanya karena masalah tanggal."
Apolo berhenti melangkah, menatap Claudia dengan pandangan yang datar namun tegas. "Ingat, Clau. Kamu yang meminta putus kemarin. Di depan semua orang. Di depan teman-temanku. Aku hanya mengabulkan permintaanmu."
Tubuh Claudia menegang. Ia melepaskan pegangannya, wajahnya berubah pucat sebelum kemudian memerah karena amarah yang defensif.
"Jangan-jangan kamu selingkuh? Benar, kan? Itulah alasan kenapa kamu begitu mudah melepaskanku!"
Apolo membalikkan badannya, menatap mantan kekasihnya itu dengan senyum miring yang dingin.
"Drama apa lagi yang kau mainkan, Clau? Kita sudah putus. Jadi, sekalipun aku punya kekasih baru detik ini, itu bukan lagi urusanmu. Berhenti bertingkah seolah aku masih milikmu."
Deg.
Kalimat itu menghantam Claudia tepat di ulu hati. Sebelum gadis itu sempat membalas dengan makian atau tangisan lebih lanjut, Apolo sudah melangkah pergi menuju gedung Fakultas Teknik Elektro, meninggalkan Claudia yang berdiri mematung di tengah parkiran yang mulai ramai.
Di koridor Fakultas Teknik, tawa riuh sudah terdengar dari kejauhan. Di sebuah sudut santai, Sander, Ailen, Dorian, dan Gavin sedang berkumpul. Mereka tampak sedang membahas sesuatu yang sangat lucu hingga Sander hampir tersedak kopinya.
"Sumpah, kau benar-benar psikopat!" seru Sander sambil menunjuk Ailen.
"Apa lagi?" tanya Apolo yang baru bergabung, mencoba bersikap normal meski pikirannya masih melayang pada kejadian semalam.
"Tadi pagi, Ailen menemukan surat cinta di lokernya," Gavin menjelaskan sambil tertawa. "Dari seorang mahasiswi Fakultas Seni. Katanya dia sudah memperhatikan Ailen sejak semester satu."
"Lalu?" Apolo mengangkat alis.
"Masalahnya, di akhir surat itu ada tulisan 'Kiss Brother' dengan bekas lipstik merah menyala," Dorian menimpali dengan wajah geli. "Dan kau tahu apa yang dilakukan si Ailen ini? Dia membakar surat itu di depan loker sebelum sempat membaca isinya. Dia bilang dia takut kena santet atau kutukan keluarga."
"Hahahaha! Kiss Brother? Mungkin dia ingin kau menjadi kakaknya yang posesif, Len!" Apolo ikut tertawa, sebuah tawa lepas yang jarang ia perlihatkan.
Namun, di tengah tawa itu, Apolo merasakan sedikit perih di dadanya. Di balik kemeja mahalnya, ada sebuah tanda kemerahan—sebuah hickey kecil namun tajam yang dibuat oleh 'Vea' semalam. Ia teringat bagaimana wanita itu mencengkeram bahunya dan meninggalkan jejak itu sebagai satu-satunya bukti fisik bahwa malam itu nyata.
Apolo tersenyum dalam hati. Tidak mungkin dia menceritakan hal ini pada teman-temannya yang gila.
Apalagi pada Sander, si biang kerok yang mengunduh aplikasi itu. Jika Sander tahu Apolo benar-benar bertemu dengan seseorang dari SoulBound dan melakukan "itu" semalam, Apolo akan diejek habis-habisan seumur hidupnya.
Tiba-tiba, ponselnya di saku bergetar.
Apolo sedikit menjauh dari kerumunan sahabatnya untuk membuka pesan tersebut. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat nama kontak yang sudah ia ubah semalam.
Vea: Maafkan aku. Tadi pagi aku langsung pergi tanpa membantumu berberes. Apa noda itu tidak masalah?
Apolo menatap layar ponselnya, sebuah senyum tulus yang sangat jarang terlihat muncul di bibirnya.
Noda yang dimaksud Vea mungkin adalah bercak merah di seprai putihnya semalam—bukti kesucian yang baru saja ia serahkan pada Apolo.
Apolo sudah mencucinya tadi pagi, membereskan kamar, dan mengganti seprai dengan tangannya sendiri sebelum berangkat ke kampus. Rasanya aneh, pangeran Valerio yang biasa dilayani pelayan, kini dengan senang hati membereskan jejak-jejak percintaan rahasianya.
Azeant: Bukan masalah. Aku sudah membereskannya. Kau... kau baik-baik saja?
Ia menunggu balasan sambil bersandar di dinding koridor, mengabaikan teman-temannya yang masih meributkan soal surat cinta Ailen.
Di sisi lain kampus, tepatnya di gedung Fakultas Manajemen, suasana tidak sehangat di Fakultas Teknik.
Di dalam salah satu ruang kelas tingkat dua, bisik-bisik beracun mulai terdengar dari barisan kursi belakang yang diduduki oleh para gadis populer.
"Kenapa si anak beasiswa itu nggak dikeluarkan saja dari kelas kita?" bisik seorang gadis berambut pirang dengan tas bermerek internasional di atas mejanya. "Dia merusak pemandangan prestise kelas ini."
"Namanya juga orang miskin, sifatnya seperti lintah. Menempel terus di universitas elit ini hanya karena bantuan dana," sahut temannya dengan nada merendahkan.
"Sumpah, dua tahun berada satu kelas dengannya membuatku muak. Dia hanya anak panti asuhan yang sial, dan syukur saja dia pintar hingga universitas mau menampungnya," timpal yang lain lagi dengan tawa sinis.
Veronica Brooklyn, yang duduk di barisan depan, mendengar setiap kata itu dengan sangat jelas. Ia tidak memakai earphone, ia tidak menutup telinganya. Ia hanya memutar bola matanya malas sambil terus mencatat materi manajemen strategi dari buku tebal di depannya.
Gadis-gadis manja itu... mereka sombong hanya karena aset orang tua mereka yang belum tentu bisa mereka kelola sendiri.
Dikatakan miskin? Memang benar. Veronica tidak punya rumah mewah di Upper East Side.
Lintah? Salah besar. Dia tidak menghisap harta siapa pun. Dia tinggal di asrama sederhana, biaya kuliahnya ditutup penuh oleh beasiswa berkat otaknya yang tajam dan prestasinya yang selalu berada di peringkat teratas fakultas.
Anak sial? Mungkin. Tapi dia lebih suka menyebut dirinya penyintas. Besar di panti asuhan New York membuatnya memiliki kulit yang lebih tebal dari siapa pun di ruangan ini.
Di Fakultas Manajemen, tidak ada yang tidak mengenal Veronica. Dia bukan hanya si anak beasiswa yang percaya diri; dia adalah mahasiswi yang handal. Saat dia berbicara di podium dalam seminar fakultas, para dosen bahkan akan berhenti bernapas untuk mendengarkan argumennya yang tajam.
Theana, sahabat setianya yang duduk di sampingnya, menyenggol lengan Veronica.
"Aku benar-benar suka gayamu, Vea! Tetap tenang di tengah badai sampah seperti mereka," bisik Theana kagum.
Veronica tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kirinya dan memberikan jari tengah ke arah belakang tanpa menoleh, membuat bisik-bisik itu sempat terhenti karena kaget.
Theana terkekeh pelan. "Itu baru sahabatku." Theana kemudian mendekat ke telinga Veronica, suaranya berubah menjadi bisikan mesum. "Jadi... bagaimana dengan aplikasi SoulBound itu? Kau benar-benar melakukannya semalam?"
Veronica terdiam sejenak. Rasa nyeri yang samar di antara kedua kakinya masih terasa setiap kali ia bergerak, mengingatkannya pada kegilaan semalam. Ia teringat suara berat pria itu, Azeant, yang memanggil namanya dengan penuh pemujaan dalam kegelapan.
"Hanya sekali, Thea. Dan jangan bahas itu di sini," jawab Veronica ketus, meski wajahnya sedikit menghangat.
Veronica tidak pernah iri pada anak-anak orang kaya di kelasnya. Bagi dia, aset terbesar adalah otak pintarnya dan kemandirian yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis yang hanya tahu cara menggesek kartu kredit ayah mereka.
Ponselnya bergetar di dalam saku jaket kulitnya. Sebuah pesan masuk.
Azeant: Bukan masalah. Aku sudah membereskannya. Kau... kau baik-baik saja?
Veronica menatap layar itu lama. Ia merasa aneh. Ada semacam kehangatan yang merambat di dadanya, sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan dalam hubungan tanpa status seperti ini.
Vea: Aku baik-baik saja. Fokuslah pada urusan mu, Azeant.
Ia meletakkan ponselnya kembali. Di koridor kampus yang luas ini, ribuan orang berlalu-lalang.
Azeant Apolo-Valerio berada di gedung Teknik, dan Veronica Brooklyn berada di gedung Manajemen. Mereka berada di bawah langit New York yang sama, menginjak aspal universitas yang sama, namun mereka tetaplah dua orang asing yang hanya terikat oleh rahasia di balik lampu tidur yang remang.
Veronica belum siap untuk bertemu dengan "wajah" di balik suara itu, dan Apolo pun masih terlalu terpukau oleh "bayangan" yang baru saja ia miliki.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu, bahwa takdir sedang tertawa melihat bagaimana pangeran elit dan gadis panti asuhan itu mulai terjalin dalam satu benang merah yang sama.