NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang Mengubah Segalanya

Sejak hari itu, segalanya berubah. Berita tentang hubungan Giovanni dan Ayunda menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru sekolah, dan tentu saja menimbulkan kegemparan yang luar biasa. Tidak ada satu pun orang yang menyangka bahwa dua orang yang dulunya seperti air dan minyak, yang selalu bertengkar di mana pun dan kapan pun, ternyata menjalin hubungan cinta yang begitu manis dan romantis.

Banyak yang merasa heran, banyak yang tidak percaya, dan tentu saja masih ada yang merasa tidak suka dan iri hati. Namun, Giovanni dan Ayunda tidak peduli dengan apa kata orang lain. Bagi mereka, yang terpenting adalah perasaan mereka satu sama lain dan janji yang sudah mereka ikrarkan di bawah langit senja itu.

Perubahan sikap mereka pun terlihat sangat jelas. Giovanni yang dulunya dingin, kaku, dan serius sepanjang waktu, kini berubah menjadi sosok yang jauh lebih ceria, lebih ramah, dan sering kali terlihat tersenyum sendiri tanpa alasan. Senyum itu tentu saja senyum yang tercipta karena memikirkan gadis yang kini menjadi kekasihnya. Dia tidak lagi mengejek atau menghina Ayunda. Sebaliknya, dia selalu membela, melindungi, dan memanjakan Ayunda di mana pun mereka berada.

Sedangkan Ayunda... perubahannya bahkan jauh lebih menakjubkan. Gadis yang dulunya dikenal sebagai siswi paling nakal, kasar, dan liar di sekolah itu, kini perlahan mulai mengubah sikapnya. Dia masih berani, dia masih tegas, tapi dia tidak lagi menyelesaikan masalah dengan kekerasan atau kata-kata kasar. Dia mulai mendengarkan nasihat Giovanni, mulai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, dan mulai berusaha memperbaiki diri. Bukan karena Giovanni menyuruhnya atau memaksanya, tapi karena dia sadar, dia ingin menjadi wanita yang pantas berdiri di samping pria sebaik dan sehebat Giovanni.

Suatu sore di perpustakaan sekolah, Giovanni dan Ayunda duduk bersebelahan di sudut ruangan yang agak sepi. Di meja mereka terbuka banyak buku pelajaran dan lembaran kertas. Ayunda sedang mengerutkan keningnya dengan bingung menatap soal matematika yang terasa sangat rumit baginya. Wajahnya terlihat frustrasi dan lelah.

"Susah banget sih soal ini... pusing tau gak," gerutunya pelan sambil mencoret-coret kertasnya dengan pulpen.

Giovanni yang duduk di sebelahnya tersenyum gemas melihat tingkah kekasihnya itu. Dia mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut menghapus kerutan di kening Ayunda dengan jarinya.

"Kalau susah, tanya gue dong. Kenapa malah dicoret-coret gitu? Nanti makin gak bener jawabannya," goda Giovanni dengan nada lembutnya.

Ayunda mendengus kesal, menatap Giovanni dengan tatapan cemberut namun manja.

"Lo mah pinter, lo mah gampang. Gue kan otak udang kayak yang sering lo bilang dulu," jawabnya ketus namun tidak ada rasa marah sedikitpun di dalamnya.

Giovanni tertawa renyah. Dia menangkup pipi Ayunda dengan kedua tangannya, menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan penuh cinta.

"Siapa yang bilang otak udang? Mulut jahat gue dulu kan. Jangan didengerin ya. Cewek gue tuh pinter banget, cuma belum diarahkan aja. Sekarang sini, biar gue ajarin pelan-pelan. Gak bakal susah kok kalau ada gue," ucap Giovanni meyakinkan.

Giovanni pun mulai menjelaskan materi itu dengan sabar dan telaten. Dia tidak pernah marah meskipun Ayunda sering bertanya hal yang sama berulang kali atau masih bingung meskipun sudah dijelaskan berkali-kali. Dia selalu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan selalu menyemangati Ayunda agar tidak putus asa.

Dan di saat-saat seperti itulah Ayunda semakin sadar betapa beruntungnya dia memiliki Giovanni. Di saat dia merasa bodoh dan tidak berguna, Giovanni selalu ada untuk mengangkat semangatnya dan meyakinkannya bahwa dia berh dan mampu melakukan apa saja.

"Nah, gitu kan udah bener. Lihat? Gue bilang juga apa, cewek gue pinter kok," puji Giovanni saat Ayunda akhirnya berhasil menyelesaikan satu soal dengan benar. Dia tersenyum bangga, lalu dengan cepat mengecup pipi Ayunda sekilas.

Ayunda tersipu malu, wajahnya memerah padam, namun hatinya terasa sangat bahagia. Dia menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan senyum lebar yang tak mampu ia tahan. Rasanya setiap kali Giovanni memujinya atau memberinya perhatian kecil seperti itu, jantungnya selalu berdegup kencang seolah mereka baru saja jatuh cinta kemarin.

"Ih... apaan sih! Tiba-tiba cium gitu, orang liat lho!" omel Ayunda dengan nada manja, matanya melirik ke sekeliling perpustakaan yang ternyata masih cukup ramai oleh siswa lain. Meski begitu, tidak ada satu pun yang berani mengganggu atau melirik mereka dengan tidak sopan. Semua orang sudah tahu betapa protektifnya Giovanni terhadap Ayunda, dan betapa mereka berdua kini menjadi pasangan yang disegani, meski awalnya tak ada yang menyangka hal itu akan terjadi.

"Biar diliat, kenapa?" jawab Giovanni santai, sambil tersenyum miring menatap wajah Ayunda yang merah merona. Dia merapikan anak rambut Ayunda yang sedikit berantakan ke belakang telinga dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang. "Biarpun seluruh dunia ngeliat, gue gak malu. Justru gue bangga bisa nunjukin kalau lo itu milik gue, dan gue milik lo. Gak ada yang bisa ngubah itu."

Ayunda menatap Giovanni lekat-lekat. Di mata pemuda itu, dia melihat ketulusan dan kesungguhan yang begitu dalam. Rasanya dia masih sulit percaya bahwa cowok yang dulu paling dia benci, yang dulu sering memandangnya dengan tatapan meremehkan, kini menatapnya seolah dia adalah benda paling berharga di seluruh alam semesta.

"Gio..." panggil Ayunda lirih.

"Ya?"

"Lo tau gak? Kadang gue masih suka bingung," ucap Ayunda pelan, matanya menatap manik mata cokelat kekasihnya itu. "Dulu kita benci banget kan? Dulu kita selalu berantem, selalu nyari kesalahan satu sama lain. Siapa yang nyangka sekarang kita bakal duduk sebelahan gini, belajar bareng, dan... saling cinta kayak gini. Rasanya kayak mimpi aja."

Giovanni tersenyum lembut, lalu meraih tangan Ayunda dan menggenggamnya erat di atas meja buku. Jari-jarinya menyelip di sela jari-jari mungil gadis itu, seolah menyatukan dua kepingan teka-teki yang akhirnya menemukan pasangannya.

"Gue juga sering mikir gitu, Yunda," jawab Giovanni jujur. "Dulu gue pikir lo itu sumber masalah terbesar di hidup gue. Gue pikir keberadaan lo cuma bikin rusak ketenangan dan keteraturan hidup gue. Tapi ternyata... gue salah besar. Keberadaan lo bukan cuma ngubah hidup gue, tapi lo jadi alasan kenapa hidup gue jadi berwarna dan berarti. Kalau gak ada lo, mungkin gue bakal tetep jadi cowok kaku yang hidupnya datar aja kayak garis lurus. Tapi lo dateng... lo bikin semuanya jadi hidup, jadi seru, jadi indah."

Giovanni mengangkat tangan Ayunda, lalu mencium punggung tangannya dengan lembut dan penuh rasa hormat.

"Dan gue bersyukur banget... kalau pun harus mengulang waktu dari awal, gue tetep bakal milih ketemu lo. Gue tetep bakal milih jatuh cinta sama lo, meskipun jalannya harus melewati rasa benci dan pertengkaran dulu. Karena gue tau, di ujungnya bakal ada kebahagiaan seindah ini."

Mendengar kata-kata itu, mata Ayunda kembali berkaca-kaca. Namun kali ini bukan karena sedih atau sakit hati, melainkan karena rasa haru yang meluap-luap. Air mata bahagia menetes perlahan di pipinya.

"Gio... lo bikin gue mau nangis terus tau gak!" seru Ayunda sambil memukul pelan lengan Giovanni, tapi pukulan itu terasa begitu lembut dan penuh kasih sayang. "Kenapa mulut lo jadi manis banget sih sekarang?! Dulu kan tajem banget kayak silet!"

Giovanni tertawa renyah, suaranya terdengar begitu bahagia dan menular. Dia menghapus air mata di pipi Ayunda dengan ibu jarinya dengan sangat hati-hati.

"Itu dulu, Sayang. Dulu gue bodoh, gue gak ngerti perasaan gue sendiri. Gue kira benci, ternyata itu cara gue nutupin rasa suka gue yang terlalu besar. Makanya gue nyerang lo terus, biar lo selalu inget sama gue," canda Giovanni, lalu kembali menatap Ayunda dengan serius. "Tapi sekarang gue udah sadar. Gue gak mau buang-buang waktu lagi buat hal yang gak penting. Gue mau habisin sisa waktu gue cuma buat bikin lo bahagia."

Ayunda tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan indah yang pernah dia miliki seumur hidupnya. Dia bersandar bahunya ke lengan Giovanni, merasakan rasa aman dan nyaman yang luar biasa.

"Makasih, Gio... makasih udah sabar sama gue. Makasih udah mau terima gue apa adanya, dengan segala kekurangan dan masa lalu gue yang berantakan ini," bisik Ayunda pelan. "Gue janji... gue bakal berusaha jadi cewek yang baik buat lo. Gue bakal berusaha ubah kebiasaan buruk gue, biar gue pantas ada di sebelah lo."

Giovanni menggeleng cepat, menatap Ayunda dengan tatapan tegas namun lembut.

"Dengerin gue baik-baik, Ayunda. Gue jatuh cinta sama lo karena lo adalah lo. Gue suka sifat lo yang pemberani, gue suka kejujuran lo, gue suka cara lo nglawan dunia sendirian. Gak usah ubah diri lo cuma demi gue. Jadilah diri lo sendiri. Tetep jadi cewek yang keras kepala, tetep jadi cewek yang berapi-api, tetep jadi Ayunda yang gue kenal. Karena kalau lo berubah jadi orang lain, bukan lo yang gue cintai lagi," ucap Giovanni sungguh-sungguh. "Cukup satu hal aja yang lo ubah... mulai sekarang, jangan pernah nanggung beban sendirian lagi. Apa pun yang terjadi, bagi sama gue. Gue temen lo, gue pasangan lo, gue rumah lo. Gue ada di sini buat lo selamanya."

Ayunda mengangguk pelan, air matanya mengalir makin deras, tapi kali ini dia tidak berusaha menyekanya. Dia membiarkannya jatuh, membiarkan semua rasa bahagia dan rasa syukurnya tumpah ruah.

"Janji ya?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Janji," jawab Giovanni tegas tanpa keraguan sedikitpun.

 

Hari-hari mereka berlalu dengan begitu indah dan bahagia. Hubungan mereka bukan hanya sekadar cinta remaja biasa, tapi hubungan yang saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling menyembuhkan luka masa lalu. Giovanni mengajarkan Ayunda tentang ketertiban, kesabaran, dan percaya diri. Sebaliknya, Ayunda mengajarkan Giovanni tentang kebebasan, keberanian, dan makna kebahagiaan yang sederhana.

Perubahan diri Ayunda memang terlihat nyata, tapi bukan karena dia menjadi orang lain, melainkan karena dia akhirnya bisa menjadi dirinya yang sebenarnya—seorang gadis yang cerdas, baik hati, dan penuh kasih sayang, yang selama ini tertutup oleh tembok pertahanan diri yang ia bangun tinggi-tinggi karena rasa takut dan kesepian. Dia tidak lagi terlibat perkelahian, dia tidak lagi membuat masalah di sekolah, dan nilainya perlahan mulai membaik. Semua guru kagum melihat perubahan drastis pada diri Ayunda, dan semua siswa pun mulai menghormatinya.

Namun, meskipun Ayunda sudah berubah menjadi lebih baik, sifat garang dan pemberaninya tidak hilang sepenuhnya. Itu masih ada, tapi kini dia gunakan untuk hal-hal yang positif, seperti membela teman yang dijahati atau menegur ketidakadilan. Dan hal itu justru membuat Giovanni semakin mencintainya. Baginya, Ayunda adalah permata yang kini bersinar terang setelah selama ini tertutup debu dan kotoran.

Suatu sore, saat jam pulang sekolah, mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Tangan mereka saling bergandengan erat, seolah tidak mau terpisahkan sedetik pun. Siswa-siswa lain yang melewati mereka tersenyum melihat pemandangan itu. Pasangan yang dulu selalu menebarkan ketegangan, kini menjadi pasangan paling manis dan serasi di sekolah.

Saat mereka sampai di gerbang, tiba-tiba Ayunda berhenti melangkah. Dia menatap wajah Giovanni yang tampan di hadapannya, lalu tersenyum nakal.

"Gio..." panggilnya.

"Apa, Sayang?" jawab Giovanni lembut.

"Lo inget gak hari pertama kita ketemu di gerbang ini?" tanya Ayunda sambil menunjuk gerbang sekolah di depan mereka. "Waktu itu lo nahan tangan gue pas gue mau mukul orang, terus lo bilang gue cewek gak tau aturan, sampah, dan malu-maluin sekolah. Lo inget gak?"

Giovanni tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia ingat betul kejadian itu. Dia ingat betapa marahnya dia saat itu, dan betapa bencinya dia pada gadis di hadapannya ini.

"Inget dong. Gimana bisa gue lupa? Itu momen di mana gue pertama kali ngeliat lo dan langsung pengen ngejauhin lo sejauh mungkin," jawab Giovanni sambil tersenyum miring.

Ayunda mendengus kesal, melepaskan tangannya dan memukul lengan Giovanni dengan pelan.

"Ih! Jahat banget sih! Padahal gue cantik lho dari dulu!" seru Ayunda cemberut, tapi matanya tersenyum geli.

Giovanni menangkap tangan Ayunda yang baru saja memukulnya, lalu menarik tubuh gadis itu mendekat hingga jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan matanya berubah menjadi lembut dan penuh cinta yang mendalam.

"Iya, lo cantik dari dulu. Bahkan saat lo lagi marah-marah, saat lo lagi teriak-teriak, atau saat lo lagi mukul orang... lo tetep cantik di mata gue," bisik Giovanni lembut. "Cuma dulu gue bodoh, gak sadar. Gue kira itu benci, padahal itu awal mula gue jatuh cinta."

Ayunda tersipu malu lagi, menundukkan wajahnya.

"Terus... kalau kita bisa ulang hari itu, apa yang bakal lo lakuin beda?" tanyanya penasaran.

Giovanni terdiam sejenak, seolah memikirkan jawabannya dengan serius. Lalu dia mengangkat dagu Ayunda dengan jarinya agar menatapnya kembali.

"Kalau gue bisa ulang waktu ke hari itu... gue tetep bakal nahan tangan lo," jawab Giovanni. "Cuma bedanya, gue gak bakal ngatain lo jahat. Gue bakal bilang... 'Hai, cewek pemberani. Kenalin, gue Giovanni. Dan sepertinya lo bakal jadi orang paling penting di hidup gue.'"

Ayunda tertegun mendengar jawaban itu, lalu senyum lebar dan bahagia merekah di bibirnya. Dia tidak bisa menahan diri lagi, dia melompat dan memeluk leher Giovanni dengan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher kekasihnya itu.

"Gila... Gio lo beneran bikin gue jatuh cinta berkali-kali setiap hari tau gak!" seru Ayunda dengan suara ceria.

Giovanni memeluk pinggang Ayunda erat-erat, membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang. Dia mencium puncak kepala Ayunda dengan lembut.

"Gue juga, Sayang. Gue juga jatuh cinta sama lo berkali-kali, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Dan gue yakin... gue bakal tetep jatuh cinta sama lo sampe rambut kita memutih nanti."

Di gerbang sekolah yang sama dengan tempat di mana permusuhan mereka dimulai, kini berdiri dua sejoli yang saling mencintai dengan segenap jiwa dan raga mereka. Tempat yang dulunya penuh amarah dan bentakan, kini menjadi saksi bisu dari kisah cinta yang begitu indah dan mengharukan.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada yang tahu rintangan apa yang akan menghadang mereka nanti. Tapi satu hal yang mereka yakini dengan sepenuh hati: selama mereka saling bergandengan tangan, selama hati mereka tetap saling terhubung, tidak ada yang mustahil bagi mereka.

Karena cinta mereka bukanlah cinta biasa. Cinta mereka adalah cinta yang tumbuh dari api permusuhan, ditempa oleh kesalahpahaman, dan diuji oleh waktu. Dan cinta sekuat itu... tidak akan pernah pudar, tidak akan pernah rusak, dan akan abadi selamanya.

Ayunda masih memeluk leher Giovanni dengan erat, wajahnya tersembunyi di sana, menyembunyikan rona merah yang makin merona. Di gerbang sekolah yang ramai itu, mereka seolah menjadi pusat perhatian, tapi bagi keduanya, dunia serasa milik berdua saja. Giovanni membalas pelukan itu dengan senyum bahagia yang tak luntur dari bibirnya.

"Udah ah, malu diliatin orang terus," bisik Ayunda pelan, meskipun tangannya masih enggan melepaskan leher pemuda itu.

Giovanni tertawa renyah, lalu perlahan melepaskan pelukannya namun tangannya tetap tidak mau lepas dari pinggang ramping Ayunda. Ia menatap gadisnya dengan tatapan gemas.

"Biarkan mereka liat. Biarkan seluruh dunia tau kalau lo itu milik gue, dan gue milik lo," jawabnya tegas namun lembut. "Yuk, gue antar pulang. Gak aman kalau lo jalan sendiri, apalagi bekas kejadian sama Laras dan temennya kemarin."

Ayunda mengangguk patuh, lalu menggandeng tangan Giovanni erat seolah takut pemuda itu akan hilang begitu saja. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, menelusuri lorong sekolah yang dulu penuh dengan pertengkaran dan tatapan tajam, kini berubah menjadi jalan setapak yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang.

 

Namun, kebahagiaan mereka ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kabar tentang hubungan mereka tidak hanya menyebar di kalangan siswa, tapi sampai juga ke telinga orang tua Giovanni. Dan tentu saja, hal itu tidak diterima dengan baik oleh keluarga Giovanni yang sangat terpandang dan menjunjung tinggi nama baik serta citra sosial.

Suatu sore, saat jam pelajaran usai, Giovanni dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Di sana, ternyata sudah ada kedua orang tuanya yang tampak sangat serius dan wajahnya tidak bersahabat. Giovanni merasa firasat buruk mulai menyelimuti hatinya, namun ia tetap melangkah masuk dengan tenang dan tegap.

"Selamat sore, Pak, Bu," sapa Giovanni sopan, meskipun hatinya mulai gelisah.

Ayah Giovanni menatap putranya dengan tatapan tajam dan dingin, sama persis seperti tatapan yang dulu sering Giovanni gunakan pada Ayunda.

"Duduk, Giovanni. Kami mau bicara serius sama kamu," ucap Ayahnya dengan nada berat dan tegas.

Giovanni duduk di hadapan mereka, menatap kedua orang tuanya dengan tenang namun siap mendengarkan apa pun yang akan dikatakan.

"Kami dengar kabar kalau kamu berpacaran dengan seorang siswi di sekolah ini. Benar tidak?" tanya Ibunya langsung pada intinya, suaranya terdengar dingin dan tidak senang.

Giovanni mengangguk mantap, tanpa rasa takut sedikitpun.

"Benar, Bu. Gue memang pacaran sama dia. Namanya Ayunda," jawab Giovanni tegas.

Mendengar nama itu, wajah Ayah Giovanni semakin menggelap. Ia menatap putranya dengan pandangan tidak setuju yang besar.

"Ayunda? Siswi yang terkenal nakal, sering berkelahi, melanggar aturan, dan berasal dari keluarga yang... tidak jelas itu?!" seru Ayahnya dengan nada tinggi. "Kamu gila apa Giovanni?! Kamu anak kami, pewaris tunggal keluarga besar ini, anak yang kami didik dengan baik dan penuh aturan. Kenapa kamu harus memilih gadis seperti dia?! Dia itu tidak pantas untukmu, Giovanni! Dia hanya akan merusak masa depanmu dan nama baik keluarga kita!"

Hati Giovanni terasa panas mendengar kata-kata ayahnya yang menghina Ayunda. Rasanya ia ingin sekali membentak dan membelanya, tapi ia menahan dirinya. Ia tidak mau terlihat tidak sopan di depan orang tuanya, tapi ia juga tidak akan membiarkan siapa pun—bahkan ayahnya sendiri—menghina gadis yang dicintainya.

"Ayah salah," kata Giovanni perlahan namun tegas, matanya menatap lurus ke manik mata ayahnya. "Ayunda itu bukan gadis buruk seperti yang Ayah dengar. Dia gadis yang baik, pemberani, dan tulus. Dia mungkin kasar di luar, tapi hatinya sangat lembut dan murni. Dia cuma kurang kasih sayang dan perhatian, makanya dia bertindak seperti itu. Dan Ayah tidak berhak menilai dia hanya dari gosip atau pandangan sepihak. Ayah tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya."

"Terserah apa katamu! Tapi keputusan kami sudah bulat," potong Ibunya dengan nada keras. "Kami tidak setuju kamu berhubungan dengan gadis itu. Putuskan hubunganmu dengannya, Giovanni! Atau jangan salahkan kami jika kami bertindak lebih jauh untuk memisahkan kalian."

Giovanni terkejut mendengar ancaman itu. Ia menatap kedua orang tuanya dengan rasa kecewa yang mendalam.

"Kenapa, Bu? Kenapa? Apa salah dia? Cuma karena dia tidak kaya? Cuma karena dia tidak berasal dari keluarga terpandang? Cuma karena dia tidak secerdas atau selembut gadis-gadis yang kalian harapkan? Bu, Ayah... Gue cinta sama dia. Gue gak bisa hidup tanpa dia. Kalau kalian memaksa gue memilih, kalian tau apa yang bakal gue pilih, kan?" ancam Giovanni balik, suaranya rendah namun penuh tekad yang kuat.

"Kamu berani mengancam kami?!" bentak Ayahnya marah. "Baiklah kalau begitu. Ingat kata-katamu ini, Giovanni. Mulai hari ini, kami melarang kamu bertemu, berbicara, atau berhubungan dengan gadis itu. Kalau kamu nekat melanggar, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya."

Setelah mengatakan itu, orang tua Giovanni pergi meninggalkan ruangan dengan wajah marah dan kecewa. Giovanni duduk diam di kursinya, menunduk dalam. Ia meremas tangannya kuat-kuat, menahan amarah dan rasa sedih yang meluap-luap. Kenapa semuanya menjadi serumit ini? Kenapa orang-orang selalu saja menghakimi Ayunda? Kenapa mereka tidak bisa melihat betapa berharganya gadis itu?

 

Sementara itu, Ayunda yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah cukup lama mulai merasa gelisah. Biasanya Giovanni tidak akan membiarkannya menunggu selama ini. Dengan perasaan cemas, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam sekolah dan mencari keberadaan kekasihnya.

Saat ia melewati ruang Kepala Sekolah yang pintunya sedikit terbuka, ia mendengar suara yang sangat ia kenal—suara Giovanni yang terdengar marah dan suara orang tua yang terdengar keras. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan mereka. Dan seketika, darahnya serasa berhenti mengalir saat mendengar isi pembicaraan itu.

...Gadis itu tidak pantas untukmu...

...Putuskan hubunganmu dengannya...

...Dia hanya akan merusak masa depanmu...

Setiap kata yang terdengar dari mulut orang tua Giovanni terasa seperti pisau tajam yang menusuk tepat di jantungnya. Ayunda mundur perlahan dengan langkah gontai, wajahnya pucat pasi. Rasanya dunianya runtuh seketika. Ia sadar betul siapa dirinya dan siapa Giovanni. Giovanni adalah anak orang kaya, terpandang, masa depannya cerah. Sedangkan dirinya? Hanyalah gadis miskin, nakal, yang tidak punya apa-apa dan berasal dari latar belakang yang kacau balau.

Mereka memang saling mencintai, tapi kenyataan sosial dan perbedaan status itu terlalu besar untuk diabaikan. Ayunda sadar, kalau ia terus bersama Giovanni, ia hanya akan menjadi penghalang dan sumber masalah bagi pemuda itu. Ia hanya akan merusak nama baiknya dan membuatnya bertengkar dengan keluarganya.

Air mata menetes deras di pipi Ayunda. Ia berlari kecil menjauh dari sana, tidak mau bertemu dengan Giovanni. Ia tidak sanggup melihat wajah kekasihnya saat ini. Ia tidak sanggup mendengar penolakan itu secara langsung. Hatinya hancur lebur, tapi ia tahu... ia harus melakukan sesuatu. Demi kebaikan Giovanni. Demi masa depan Giovanni.

 

Beberapa saat kemudian, Giovanni keluar dari ruangan Kepala Sekolah dengan wajah murung dan pikiran yang kacau. Ia berjalan menuju gerbang sekolah untuk menemui Ayunda, berniat menceritakan semuanya dan meyakinkan gadisnya bahwa ia tidak akan peduli dengan ucapan orang tuanya. Apapun yang terjadi, ia akan tetap bersama Ayunda.

Namun, saat ia sampai di tempat mereka biasanya bertemu, Ayunda tidak ada di sana. Giovanni mengerutkan keningnya bingung. Ia mencari ke mana-mana, bertanya pada teman-teman mereka, tapi tidak ada yang melihat keberadaan Ayunda. Giovanni mulai merasa cemas. Biasanya Ayunda selalu menunggunya di sini, tidak pernah pergi duluan tanpa pamit.

Dengan hati yang gelisah, Giovanni memutuskan untuk pergi ke rumah Ayunda. Ia harus menemui gadis itu dan meyakinkannya.

Sesampainya di depan rumah kecil yang sederhana tempat tinggal Ayunda, Giovanni melihat Ayunda sedang duduk di tangga depan rumah dengan wajah tertunduk. Hatinya lega melihat gadisnya ada di sana. Ia segera berjalan mendekat dengan senyum lega.

"Ayunda! Kenapa lo pulang duluan gak pamit? Gue nyariin tau gak!" seru Giovanni lembut, lalu ia duduk di samping Ayunda.

Namun, respon Ayunda tidak seperti biasanya. Gadis itu mendongak menatap Giovanni dengan wajah dingin dan mata yang sembab karena habis menangis. Tatapan itu membuat hati Giovanni seketika berdebar kencang karena firasat buruk.

"Ada apa, Sayang? Kenapa mata lo bengkak? Lo nangis?" tanya Giovanni cemas, ia hendak menyentuh wajah Ayunda, tapi gadis itu dengan cepat menepis tangannya dengan kasar.

Jantung Giovanni serasa berhenti berdetak. Ia menatap Ayunda dengan bingung dan kaget.

"Ayunda...?"

"Jangan sentuh gue," ucap Ayunda dengan suara dingin dan tajam, suaranya bergetar menahan tangis dan rasa sakit yang luar biasa. "Mulai sekarang... jangan pernah sentuh gue, jangan deketin gue, dan jangan cari gue lagi."

Giovanni terbelalak kaget, wajahnya pucat seketika.

"Lo ngomong apa sih, Yunda? Kenapa tiba-tiba kayak gini? Apa yang terjadi?" tanyanya panik. "Apa ada orang yang ngomongin sesuatu ke lo? Ceritain ke gue, biar gue selesain."

Ayunda tertawa sinis, namun tawanya terdengar sangat menyakitkan dan menyedihkan. Ia menatap Giovanni dengan tatapan yang penuh rasa sakit, namun berusaha terlihat benci.

"Gak ada apa-apa. Gue cuma sadar aja," jawab Ayunda ketus. "Gue sadar kalau kita emang gak pantas bareng-bareng. Lo itu Giovanni, anak orang kaya, terpandang, masa depan cerah. Sedangkan gue? Gue cuma sampah, gadis miskin, nakal, dan gak berguna. Orang tua lo bener. Gue emang gak pantas buat lo. Gue cuma bakal bikin hidup lo hancur dan malu."

"Jangan dengerin omongan mereka, Ayunda! Gak gitu kenyataannya! Bagi gue, lo itu segalanya!" potong Giovanni cepat, suaranya terdengar putus asa. Ia mencoba meraih tangan Ayunda lagi, tapi lagi-lagi gadis itu menepisnya dengan keras.

"Diem, Gio! Diem aja!" bentak Ayunda dengan suara keras, air matanya jatuh kembali deras, tapi ia berusaha menutupinya dengan ekspresi marah. "Gue udah capek ngurusin hubungan tolol ini! Awalnya gue pikir seru pacaran sama lo, tapi lama-lama gue muak juga! Gue muak dibilang gak pantas, gue muak dibilang perusak, gue muak disalahkan terus-terusan! Dan jujur aja... gue sebenernya nyesel pernah jadian sama lo. Gue sebenernya gak se-tulus yang lo kira. Gue cuma penasaran aja sama lo, Gio. Cuma pengen buktiin kalau gue bisa dapetin cowok paling sempurna di sekolah ini. Dan sekarang gue udah dapet, udah buktiin... gue udah gak butuh lo lagi."

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepala Giovanni. Ia menatap Ayunda dengan tatapan tidak percaya dan hati yang hancur berkeping-keping. Rasanya napasnya tersumbat, rasanya dadanya sakit sekali seolah ditusuk ribuan pisau.

"Lo... lo serius ngomong gitu?" tanya Giovanni dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Lo cuma manfaatin gue? Selama ini semuanya cuma sandiwara lo aja?"

Ayunda menelan ludahnya dengan susah payah, hatinya menjerit keras. Ia ingin sekali memeluk Giovanni dan berkata bahwa ia berbohong, bahwa ia mencintainya lebih dari nyawanya sendiri. Tapi ia tahu, kalau ia tidak melakukan ini, Giovanni akan semakin tersiksa. Demi kebaikan Giovanni, ia harus menjadi penjahat di mata kekasihnya.

"Iya," jawab Ayunda dengan suara yang dipaksakan setajam mungkin. "Gue serius. Jadi... kita putus, Gio. Anggap aja semuanya gak pernah terjadi. Anggap aja kita tetep jadi musuh kayak dulu. Dan tolong... jangan ganggu hidup gue lagi. Mulai sekarang, jalan kita pisah."

Ayunda berdiri, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya dan membanting pintu dengan keras, mengunci rapat pintu itu agar Giovanni tidak bisa masuk. Begitu pintu tertutup, Ayunda menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menangis sejadi-jadinya, memukul dadanya yang terasa sangat sakit dan hancur.

"Maafin gue, Gio... maafin gue..." isaknya tertahan, suaranya serak dan parau. "Gue ngelakuin ini demi lo... demi kebaikan lo... Gue cinta banget sama lo, tapi gue harus ngelepas lo..."

Di luar sana, Giovanni masih berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat pasi, dan air matanya jatuh perlahan membasahi pipinya yang dingin. Ia menatap pintu tertutup itu dengan tatapan kosong dan hancur.

Ia tidak percaya. Ia benar-benar tidak percaya. Gadis yang kemarin masih mengatakan mencintainya dengan segenap hati, gadis yang kemarin masih menangis bahagia dalam pelukannya, tiba-tiba mengaku hanya memanfaatkannya? Semua kebahagiaan yang mereka bangun ternyata hanyalah kebohongan belaka?

Giovanni meremas tangannya kuat-kuat hingga kuku menancap ke kulitnya sendiri. Rasa sakit di hatinya jauh lebih parah daripada rasa sakit fisik apa pun. Rasa benci yang dulu pernah ia rasakan pada Ayunda kini kembali hadir, tapi kali ini jauh lebih menyakitkan karena bercampur dengan cinta yang begitu dalam dan rasa pengkhianatan yang menghancurkan.

"Baiklah kalau itu mau lo..." bisik Giovanni parau, suaranya terdengar dingin dan penuh kepedihan yang mendalam. "Kalau lo udah gak butuh gue, kalau lo cuma manfaatin gue... gue turutin kemauan lo. Kita putus. Dan mulai sekarang... kita emang musuh lagi. Musuh yang beneran."

Giovanni berbalik dan pergi dari sana dengan langkah gontai dan punggung yang terlihat begitu rapuh dan hancur. Setiap langkahnya terasa berat sekali, seolah ada batu besar yang mengikat kakinya. Hatinya mati rasa. Cintanya hancur. Dan kisah indah mereka seakan berakhir tragis di sini, karena kesalahpahaman yang menyakitkan dan pengorbanan cinta yang besar yang tidak diketahui oleh salah satu pihak.

Mereka berdua sama-sama sakit. Mereka berdua sama-sama mencintai. Tapi keadaan memaksa mereka untuk saling menyakiti dan berpisah, seolah takdir sedang bercanda dengan perasaan mereka yang tulus.

1
Wisnu Mahendra
ooiii...ni cerita ngalor ngidul ya? mereka kan dinikahkan karena dijodohkan? gimana sih? kok jadi sepupuan...dan baru kenalan dengan ortu masing2...pantesan yg like dan komen jutaan...ceritanya asal2an
Wisnu Mahendra
nggak ngerti ceritanya, diawal bilang sudah nikah sudah tidur bareng, trus bilang pacaran, skrg baru kenalan sama ortunya yunda...ini gimana ceritanya?
Wisnu Mahendra
kok pacaran? bukannya udah nikah?
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!