NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Marsha merenung sejenak sambil menatap kartu hitam di atas meja. Ia sangat menyadari perbedaan mencolok antara dua dunia yang kini memeluknya.

Di satu sisi, ada Keluarga Halvard. Sebuah dinasti bisnis di mana uang hanyalah deretan angka yang tidak pernah habis. Kasih sayang mereka bersifat protektif dan material—sebuah upaya kompensasi atas waktu yang terampas. Mereka adalah badai yang kuat, yang siap meruntuhkan apa pun demi melindunginya.

Di sisi lain, ada Erlan Dominic dan Shafira, Mereka adalah bukti nyata dari ketekunan dan kerja keras. Erlan, yang memulai segalanya dari nol hingga menjadi dokter bedah jantung senior, memberikan Marsha lebih dari sekadar fasilitas. Ia memberikan teladan. Kehidupan mereka di luar negeri memang sangat stabil dengan gaji dan tunjangan senior, namun yang paling berharga bagi Marsha adalah bagaimana Erlan dan Shafira melatih kemandiriannya tanpa pernah melepas bimbingan mereka.

"Terima kasih, Kak Xabiru, Kak Archio," ucap Marsha akhirnya, suaranya tenang dan dewasa. Ia memasukkan kartu itu ke dalam tasnya, bukan karena ia membutuhkannya, tapi sebagai bentuk penghormatan atas cara kakaknya mencintai.

Archio mendongak dari tabletnya, tersenyum tipis. "Gunakan sesukamu, Marsha. Jangan merasa terbebani. Kami hanya ingin kamu tahu bahwa di belakangmu ada 'benteng' yang tidak akan goyah."

Marsha tersenyum kecil. Ia teringat bagaimana Erlan Dominic selalu mengajarkannya untuk menghargai setiap sen yang ia hasilkan sendiri dari meja operasi. Kemandirian yang diajarkan Erlan-lah yang membuatnya menjadi dokter bedah yang disegani di usia muda, sementara cinta dari Andreas-lah yang kini memberinya rasa aman yang tak tergoyahkan.

Andreas mengantar Marsha hingga ke depan pintu mobil. Ia menatap putrinya dengan bangga. "Papah bangga melihatmu tumbuh menjadi wanita sehebat ini. Erlan Dominic... dia melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik dariku dalam menjagamu."

"Daddy Erlan adalah kompas bagiku, Pah," jawab Marsha jujur. "Tapi Papah... Papah adalah akar yang baru saja kutemukan kembali."

Andreas mencium kening Marsha cukup lama, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki. "Pergilah. Bekerjalah dengan baik. Jika merindukan bubur ayam atau sate, pintu rumah ini dan dapur Papah selalu terbuka untukmu."

Saat mobil melaju meninggalkan kediaman Halvard menuju rumah sakit, Marsha menarik napas panjang. Ia membuka ponselnya dan mengirim pesan singkat ke grup keluarga kecilnya bersama Erlan dan Shafira.

Marsha: "Daddy, Mommy... Marsha dalam perjalanan ke RS. Malam ini Marsha pulang ke rumah. Marsha kangen masakan Mommy."*

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

Erlan Dominic: "Hati-hati di jalan, Dokter. Daddy sudah siapkan kopi favoritmu di rumah."

Shafira: "Mami masak sayur kesukaanmu, Sayang. Pulanglah, tangki cinta di rumah sudah siap diisi ulang!"

Marsha tersenyum lebar. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ia memiliki Andreas yang siap membelikan dunia untuknya, dan ia memiliki Erlan yang telah mengajarinya cara menaklukkan dunia itu dengan tangannya sendiri.

Kebencian level sembilan pada Valerina mungkin masih ada, tapi cahaya dari dua sosok ayah di hidupnya kini jauh lebih terang daripada kegelapan masa lalunya. Hari ini, Marsha melangkah masuk ke rumah sakit bukan hanya sebagai seorang dokter, tapi sebagai seorang putri yang telah menemukan kembali seluruh kepingan dirinya.

Suasana di Unit Gawat Darurat (UGD) mendadak tegang. Aroma darah segar bercampur dengan ketegangan yang memuncak saat pria itu terus menepis tangan perawat yang mencoba mendekat. Jas hitamnya sudah basah oleh darah yang mengalir dari pelipisnya, namun keangkuhannya jauh lebih menonjol daripada lukanya. "Aku bilang cari dokter bedah senior! Aku tidak mau ditangani dokter jaga atau asisten ingusan!" bentak pria itu, suaranya parau namun penuh ancaman.

Marsha, yang baru saja masuk ke area UGD setelah melepas tasnya, menghentikan langkah. Ia menarik napas panjang, menetralkan emosi sisa pertemuannya dengan keluarga Halvard, lalu, Ia melangkah mendekat dengan langkah yang berirama tegas di atas lantai porselen.

"Jika tidak mau ditangani, pergilah dari rumah sakit ini. Anda tidak bisa melihat semua dokter tengah sibuk?" Suara Marsha memotong keributan itu seperti pisau bedah. Dingin, tajam, dan tanpa kompromi. Ia berdiri di depan brankar pria itu dengan tangan bersedekap, menatap langsung ke mata si pasien yang mulai menyipit karena amarah dan mungkin juga karena pusing akibat kehilangan darah.

"Apa kau bilang?" Pria itu mencoba bangkit, namun ringisannya tidak bisa disembunyikan.

"Tuan... tolong, tidak masalah siapa dokternya, yang penting diobati dulu. Wajah Anda sudah sangat pucat," bujuk pria di sebelahnya, rekannya yang sudah lebih dulu mendapatkan perban di lengannya. Ia menatap Marsha dengan tatapan memohon maaf atas kelakuan bosnya.

Marsha tidak bergeming. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Dua menit," ucap Marsha datar. "Dalam dua menit, jika pendarahan di arteri temporalis Anda tidak segera dihentikan, Anda akan kehilangan kesadaran karena hypovolemic shock. Dan saat itu terjadi, saya tidak akan bertanya lagi. Saya akan melakukan prosedur darurat sesuai protokol, atau membiarkan petugas keamanan menyeret Anda keluar agar tidak menghalangi pasien lain yang lebih menghargai nyawa."

Pria arogan itu tertegun. Biasanya, orang-orang akan gemetar melihat tatapannya, tapi dokter wanita di depannya ini justru menatapnya seolah ia hanyalah seonggok daging yang perlu dijahit. "Siapa namamu?" desis pria itu, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.

"Dokter Marsha," jawabnya singkat sambil meraih sarung tangan lateks dari kotak di dinding dan mengenakannya dengan gerakan yang sangat profesional. "Sekarang, berbaring atau keluar?"

Pria itu terdiam sejenak, menatap tag nama Marsha yang berkilau di bawah lampu neon, akhirnya, dengan geraman pelan, ia merebahkan kepalanya kembali ke bantal brankar.

"Lakukan dengan benar. Jika ada bekas luka di wajahku, aku akan menuntutmu," ancamnya lemah.

Marsha tidak menanggapi ancaman kosong itu. Ia segera mengambil suction dan peralatan jahit. "Diamlah jika Anda masih ingin memiliki wajah untuk dipamerkan." Sambil mulai membersihkan luka itu dengan saksama, pikiran Marsha sekilas teringat pada Andreas ayahya dan kakaknya.

Jika mereka melihatnya sekarang, mereka mungkin akan menyadari dari mana ketegasan ini berasal. Erlan Dominic telah melatihnya untuk tidak takut pada siapapun, terutama pada mereka yang merasa uang bisa membeli waktu seorang dokter yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa.

Di bawah tangannya yang stabil, Marsha mulai bekerja. Arogan atau tidak, di atas meja tindakan, pria ini hanyalah pasien yang butuh pertolongan dan Marsha tidak akan membiarkan kematian menjemput siapapun di bawah pengawasannya.

Keheningan yang dingin menyelimuti area tindakan saat Marsha mulai bekerja. Jemarinya bergerak dengan presisi yang membuat perawat di sampingnya terpaku cepat, efisien, dan tanpa keraguan sedikitpun.

Pria itu, yang tadinya terus memaki, kini terdiam. Ia bisa merasakan aura otoritas yang terpancar dari dokter wanita di hadapannya. Setiap kali ia mencoba meringis atau bergerak, tekanan tangan Marsha di sekitar lukanya terasa tegas, seolah memberi peringatan tanpa kata.

"Anestesi lokal masuk," ucap Marsha datar.

"Tunggu, kau tidak memakai obat penenang? Aku merasa kepalaku seperti mau pecah," protes pria itu lagi, meski suaranya sudah tidak selantang tadi.

Marsha tidak berhenti. "Obat penenang akan mengaburkan observasi neurologis saya terhadap Anda. Mengingat Anda cukup arogan untuk berteriak, saya asumsikan fungsi kognitif Anda masih bekerja terlalu baik. Tahan sebentar."

Pria di sampingnya, sang asisten, hanya bisa meringis melihat bosnya "dijinakkan" oleh Marsha. "Maafkan beliau, Dok. Kami baru saja mengalami kecelakaan beruntun saat menuju pertemuan penting. Beliau memang, sulit dikendalikan jika sedang tertekan."

Marsha mulai menjahit, satu demi satu simpul terbentuk dengan sangat rapi. "Pertemuan penting tidak akan ada gunanya jika pelakunya sudah berada di kamar mayat. Sampaikan itu pada bos Anda."

Tepat saat Marsha menyelesaikan jahitan terakhir dan menutupnya dengan kasa steril, langkah kaki berat terdengar mendekat ke area UGD. Suaranya bergema, membuat beberapa perawat menoleh dengan wajah cemas. "Di mana dia?" sebuah suara berat yang sangat familiar bagi Marsha terdengar.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!